
Hari itu Hara hanya diam.
“Apa ada masalah Hara?” Tanya Piter.
“Tidak Om, aku hanya tidak bersemangat”
Piter menutup laptop di depannya dan ia membalikkan tubuhnya menatap Hara.
“Apa pemotretan besok kita batalkan, saja ?”
“Tidak, ayo kita lanjutkan, shift ku sebentar lagi habis dari sini dan kita pulang "
“Baiklah, aku menunggumu di mobil, setelah kamu absen temui aku di mobil, mataku lelah rasanya ngantuk banget, aku ingin istirahat sebentar,” ujar Piter ia menenteng laptop menuju mobil.
Ia sedikit memberi kelonggaran pada Hara hari ini, karena Hilda mengatakan padanya, Leon ke Surabaya bersama Zidan dan Ken. Ia tidak tahu kalau ada Leon ada di hotel sedang mengintainya. Bahkan ia merasa mengantuk berat saat itu ... adalah ulah Leon. Ia memasukan obat tidur ke kopi yang dipesan di dapur Hotel.
Mafia kalau sudah berkehendak hal apapun bisa di lakukan, Piter masuk ke dalam mobil dan tertidur pulas di sana.
Hara masuk ke ke ruangan kantor untuk absen, karena shift kerjanya sudah selesai, saat ia masuk tidak ada orang dalam ruangan.
“Oh, pada kemana, orang kantor? Mbak Lidia! Bu Nana!”
Tuuud ….
Lampu mati dan sebuah tangan kokoh menutup mulutnya dengan kain dan menutup matanya, menggendong tubuhnya ke gedung atap.
Hara berontak.
Ia tidak takut, karena pemilik parfum itu sudah pasti Leon, ia mendudukkan tubuh Hara di kursi dan membuka penutup mata itu.
Hara duduk di sebuah meja yang berhiaskan banyak bunga dan tampilannya persis seperti malam itu, saat mereka kehujanan di taman atap.
Tetapi kali ini, Hara sudah menjadi sosok yang sangat berbeda, tatapannya sinis melihat semua dekorasi meja tersebut. Ia bahkan mengalihkan wajahnya ke arah Lain.
“Hara ayo kita makan dari kemarin aku belum makan,” ujar Leon, apa yang ia katakan benar, ia belum makan dari kemarin.
Hara sadar, jika ia menolak Leon akan marah karena ia bisa melihat ekspresi putus asa dari Leon.
“Aku belum lapar Pak Leon … tetapi kalau hal ini bisa memuaskan bapak, saya akan menurutinya,” ujar Hara, ia makan.
Leon tahu Hara melakukan itu karena terpaksa tetapi baginya saat itu. Hal itu tidak penting, bisa bersamanya wanita itu sudah membuat hatinya senang.
Mereka berdua makan dengan diam, sangat berbeda dari minggu lalu di mana Hara saat masih belum membenci dirinya, saat itu Hara bicara banyak hal dan bersikap ceria. Namun, kali ini ia tidak mengatakan sepatah katapun selama mereka makan.
“Saya ingin turun Pak Leon terimakasih atas makanannya,” ujar Hara ingin berdiri.
“Duduklah lagi Nona Hara, makanan penutupnya belum”
“Pak Leon, ada om Piter di bawah menungguku kalau saya tidak datang yang ada ia nanti mencari ke semua sudut hotel”
__ADS_1
“Jangan khawatir dia sudah aku amankan”
“Apa maksudnya?”
“Tergantung kamu Hara … kalau kamu masih bersikap baik padaku hari ini maka lelaki itu juga akan baik- baik saja”
“Apa yang ingin kamu lakukan padanya?” Hara menatap Leon dengan mata melotot.
“Dia akan tidur dengan damai ….”
“Apa kamu akan meleyapkan om Piter?”
“Aku sudah bilang Hara, aku akan berubah kembali jadi monster pembunuh, jika kamu meninggalkanku. Aku berubah lebih baik karena kamu. Maka aku akan jadi iblis kembali kalau kamu meninggalkanku”
Hara hanya bengong tidak bisa berkata-kata lagi pada Leon.
“Jangan lakukan itu, dia orang yang berjasa dalam hidupku”
“Tergantung kebaikan hatimu saat ini Hara, jika kamu baik dan menurut maka lelaki itu akan pulang dengan keadaan bernyawa denganmu. Tetapi jika kamu melihatku dengan tatapan kebencian seperti itu, itu melukai hatiku,” ujar Leon masih dengan sikapnya yang santai.
Hara berdiri dan emosi.
Setelah apa yang kamu perbuat dalam hidupku, apa kamu berharap kita berpelukan seperti Teletubbies saat bertemu? Kamu berharap aku berlari merentangkan tangan dan memelukmu penuh rindu saat kita bertemu?” Tanya Hara emosi.
“Aku tidak terlalu mengharapkan pelukan Teletubbies seperti yang kamu bilang, aku hanya ingin kamu jangan menatapku dengan tatapan kebencian seperti itu”
Hara kembali merasa panas hati.
“Iya,” ujar Leon mengusap mulutnya setelah makanannya habis, ada Hara di bersamanya saat itu, ia mampu menghabiskan isi dalam piringnya, walau wanita itu marah-marah padanya seperti ibu-lbu penagih uang kredit panci.
“Kamu egois …! Aku, ibu, Toni kami sangat menderita”
Leon diam melihat dengan begitu dalam wajah Hara yang sedang marah-marah, bahkan ia tidak mengatakan kalau wajah Toni sudah pulih, ia hanya melihat wajah Hara yang memerah karena meluapkan emosinya padanya.
“Lepaskan Om Piter!”
“Duduklah dan nikmati anggurnya, ini anggur terbaik yang aku pilihkan untukmu”
Ingin rasanya Hara menuangkan wine dalam gelas itu ke wajah Leon, saat ia mengoceh seperti kaset rusak, Leon menatapnya dengan tenang, bahkan melipat tangannya di dada menonton Hara yang berdiri mengomel dan mengerakkan tangannya beberapa kali.
‘Dasar manusia kutub utara, apa dia pikir aku badut ancol? Hingga dia hanya menontonku mengomel'
“Sudah marah- marahnya? Kalau sudah, duduklah kembali, setelah winenya habis baru kita turun,” ujar Leon dengan tenang.
Hara kembali merasa sangat kesal
“Dasar manusia kutub utara!” Hara menyambar gelas itu meneguknya dalam satu tegukan.
“Pelan-pelanlah Hara, kamu mengurangi rasa istimewa dari anggur itu jika kamu meminumnya seperti itu, kamu juga akan mabuk nanti ,” ujar Leon.
__ADS_1
“Rasa anggur akan tetap rasa anggur Pak Leon, walau bagaimana cara menikmatinya mau jungkir balik, mau tiduran atau mau sambil jongkok, rasanya akan tetap rasa anggur,” Ujar Hara sangat marah.
“Kamu ingin ini cepat habis, baiklah." Ia mengambil botolnya dan meneguknya dengan cara bar-bar, ia meminumnya langsung dari botolnya.
Leon berdiri menahan botolnya dari mulut Hara.
“Rasanya akan sangat berbeda Hara .... Jika, dinikmati dengan cara seperti ini." Leon meneguk dari botol dan mengarahkan bibirnya ke mulut Hara. Menumpahkan dari mulutnya ke mulut Hara, tangan Leon menahan belakang kepala wanita cantik itu saat ia menolaknya.
‘Aaaa …. dasar jorok’ Hara membatin, pada akhirnya.
Guk ….!
Ia meminumnya.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Leon melepaskan mulut Hara.
“Auuuh … aku meminumnya terlalu banyak BODOH!" Ujar Hara memegang kepalanya, ia memang sangat muda mabuk, hanya mencium bau alkohol saja Hara kadang bisa mabuk.
Leon menahan tawa saat Hara menyebutnya bodoh dan kini kuping Hara sudah memerah bagai tomat, itu tandanya kalau ia mabuk.
“Aku sudah bilang kamu harus menikmatinya dengan pelan-pelan,” ujar Leon. Hara mengoceh tidak jelas. Leon menyadari kalau Hara sudah mabuk, ia meletakkan ponselnya di pot bunga dan merekam kelakuan Hara, tadinya tidak ada niat sedikitpun membuatnya mabuk Hara yang meminum terlalu banyak dari botol tersebut.
“Kamu bodoh ular Naga …. kamu manusia kutub utara yang licik, kamu sengaja membuatku mabuk supaya bisa menciumku seperti ini, kan.” Hara berjalan kearah Leon yang duduk di kursi, lalu ia memegang pipi Leon dengan kedua tangannya dan meraihnya mencium bibir Leon. Mata Leon mengerjap panik, ia tidak menduga kalau Hara akan melakukan itu padanya, ini di luar ekpektasinya. Leon masih diam.
Lalu Hara berdiri dengan jalan sempoyongan di depannya, ia melepaskan cardingan yang ia pakai memperlihatkan perutnya yang rata, leon masih dian.
“Kamu itu bodoh! Bodoh!"menunjuk- nunjuk kening Leon dengan kedua jarinya, bukanya marah Leon membiarkan Hara bertindak semaunya
“Kamu sebenarnya tampan ….”Tidak diduga ia duduk dipangkuan Leon lagi “Ini alismu tebal, hudungmu mancung, biburmu seksi, iya seksi,” ujar Hara menunjuk-nunjuk wajah Leon dengan dua jarinya.
“Hara, kamu akan menyesal jika kamu melihat rekaman ini besok,”ujar Leon menahan tawa.
Hara memang gila kalau sudah mabuk.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)