
Malam itu suasana di rumah Bu Ina begitu ramai dan meriah, sebuah perayaan tujuh bulanan untuk Hara di lakukan di siang hari, konsep adatnya dari Bu Ina, bagi Hara, wanita paruh baya itulah, pengganti sosok ibu , wanita itu juga yang selalu ada untuk Hara, hubungan mereka berdua begitu erat, karena Bu Ina pengasuh Jovita Hara sejak kecil.
Maka acara tujuh bulanan untuk Hara, Bu Inalah yang mempersiapkan semuanya, ia ingin Hara tetap sehat sampai melahirkan nantinya.
Hingga malam, mereka masih mengadakan pesta untuk ibu-ibu hamil tersebut, Clara, Hilda sangat bersemangat, terlebih saat mereka memberi pelajaran suami-suami mereka.
Saat acara game party selesai, mereka semua masih dalam situasi gembira, masih berkumpul di rumah Bu Ina.
"Dan, kamu ke kamar mandi dulu, coba periksa kamu pipis celana gak?" Tanya Ken tertawa.
"Iya, Sana .... Aku saja ingin ngompol celana tadi," timpal Piter sembari menggeleng.
"Gak, aku saja tidak kuat, saat kontraksi," ujar Zidan.
Saat mereka sedang mengobrol santai, tiba-tiba Hilda memegang perut dengan mata melotot.
“Aaaa ….! Perutku ….!”
Mereka semua panik, apa lagi saat air keluar dari sela kaki Hilda.
“Cepat bawa ke rumah sakit!” Teriak Bu Ina.
Wanita paru baya itu meneriaki Piter, karena lelaki itu seperti orang kebingungan, ia berpikir kalau Hilda hanya ingin mengerjainya.
“AAA ….!” Hilda semakin meringis kesakitan.
“Bang, mari bawa ke ruma sakit,” ujar Ken, ia bergegas.
Ken dengan cepat mengeluarkan mobil, sebagai lelaki yang belum berpengalaman Piter panik, wajahnya tegang saat Hilda berteriak histeris memegang perut.
Dalam mobil menuju rumah sakit Hilda semakin meringis kesakitan, menggigit dan mencakar lengan suaminya, menjadikan lelaki berkepala plontos tersebut jadi pelampiasan rasa sakit yang dirasakan.
“Bertahanlah, kita sudah mau tiba di rumah sakit,” ujar Piter panik, mereka berdua duduk di jok tengah, sementara yang jadi supirnya Kenzo. Beruntung lelaki itu cepat bertindak membawa Hilda.
Setelah lima belas menit berkendara, akhirnya mereka tiba di salah satu rumah sakit.
Sementara semua orang panik, Leon memilih fokus pada istrinya.
“Apa kamu takut?” Tanya Leon,.
“Iya,” jawab Hara dengan wajah tegang.
“Jangan khawatir, nanti kamu akan di tangani dokter terbaik dan operasinya tidak terlalu lama.”
Hara hanya mengangguk kecil.
“Kamu istirahat di sini apa kita pulang ke rumah?”
__ADS_1
“Kita tidak ke rumah sakit, melihat tante Hilda melahirkan?”
“Nanti saja kalau dia sudah melahirkan, mari istirahat di kamarmu.” Leon memapah tangan Hara di kamar.
Bi Ina selalu membersihkan kamar bekas Hara, ia tahu kalau Hara masih sering datang ke rumah mereka. Wanita cantik itu sudah mulai sulit untu berjalan, karena itulah leon selalu mendampingi Hara.
*
Sementara di sisi lain di sebuah rumah sakit Hilda masih berjuang melahirkan anak pertama mereka.
“Aaaa sakiiiit ….! "Teriak Hilda meringis mencakar mengigit tangan suaminya.
Piter dengan sabar mendampingi Hilda, ia rela tangannya di cakar dan digigit, untungnya saat itu kepalanya sudah botak, kalau saja ia ada rambut, sudah pasti rambutnya akan di jambak oleh Hilda.
Ada cerita unik saat Hilda melahirkan, Hilda sebelum melahirkan berpesan pada Piter untuk mengabadikan momen saat ia melahirkan. Jadi saat melahirkan kali ini, Piter meminta tolong pada Ken untuk memegang camera untuk merekam.
Lelaki berkulit gelap itu, awalnya menolak, tetapi karena Piter meminta tolong akhirnya, ia bersedia melakukan.
Hilda sudah di tangani seorang dokter wanita dan dua perawat dalam satu ruangan bersalin dan Ken sudah ada di sana dan memulai merekam.
Sang dokter memberi aba-aba.
“Pada hitungan ketiga nanti kamu mendorong sekuat tenaga,” pintah dokter pada Hilda.
Hilda mengangguk, Piter berdiri di samping istrinya, untuk memberinya semangat.
“Tidak apa-apa aku bersamamu,” bisik Piter dengan wajah panik, bercampur panik.
“Satu, dua , tiga! Dorong!” ujar dokter.
Hilda mengedan sekuat tenaga, tetapi bukan hanya dia yang mengedan, ternyata Piter yang mengedan kuat, camera Ken terarah pada Piter yang tampan sadar ikut mengedan, wajahnya sampai memerah karena ia ikut melakukannya.
Percobaan pertama belum berhasil dengan sabar dokter wanita itu membimbing Hilda mereka maklum karena ini anak pertama.
Percobaan kedua juga gagal jalan pintu keluar masih sangat sempit.
“Suster tolong pegang tangannya dan bimbing bagaimana mengambil napas agar dia tidak lelah dan kehabisan tenaga. Ini Kepala bayinya sudah mulai kelihatan ,” ujar dokter.
Suster mengambil alih posisi Piter dan lelaki berbadan tegap itu, maju ke depan dan melihat saat pintu jalan bayi, milik Hilda mulai mengembang dan keluar kepala.
Melihat pemandangan luar biasa itu Piter melotot kaget, ia berpikir lobang yang kecil itu bisa keluar kapala bayi.
Saat kepala itu keluar di barengin keluar darah begitu banyak dan Hilda berteriak sekuat tenaganya.
Tiba-tiba.
__ADS_1
Buaak …!
Piter terjatuh ke lantai.
Piter seorang lelaki tangguh, matan anggota tentara, tetapi saat ia melihat bagaimana kepala bayi itu keluar dari pintu tersebut, ia langsung lemas.
Bukan hanya dia Ken yang merekam melotot panik, ia melihat sendiri bagaimana seorang wanita melahirkan.
Ia menyaksikan betapa luar biasanya kuasa sang pencipta, yang menciptakan seorang wanita yang bisa melahirkan anak . Ken mengarahkan kameranya ke arah Hilda yang berjuang melahirkan anak mereka, bertarung nyawa.
“Ibu,” ujar Ken dengan wajah pucat.
Melihat wanita itu melahirkan tiba-tiba saja Ken merindukan wanita yang melahirkannya dan wanita yang melahirkan anaknya.
‘Pasti mereka berdua juga merasakan rasa sakit seperti itu’ Ken membatin.
“Eh, bapak kenapa jadi lemah, istri berjuang mati-matian bapak malah tidak kuat,” ujar dokter mengomeli Piter.
“Aku tahu apa yang dirasakan istriku dokter, karena juga merasakannya tadi,” ujar Piter ia mengusap ujung matanya. Ia mengaku salah karena selama Hilda hamil, ia selalu menganggap istrinya terlalu manja.
“Makanya kalian para suami jangan sesekali menyakiti perasaan istri, lihatlah perjuangan kami saat melahirkan anak kalian,” ujar dokter mengoceh.
Piter hanya bisa duduk lemas, ia lemas karena ia merasakan apa yang dirasakan Hilda, ia merasakan bagaimana sakit hamil dan melahirkan, tetapi selama hamil, ia selalu merasa kesal pada istrinya, ia menyesal dan meminta maaf.
Setelah meminta maaf barulah persalinan Hilda lancar, ia berhasil melahirkan anak laki-laki.
Melihat putranya lahir dengan selamat Piter meneteskan air mata.
“Terimakasih sayang,” bisiknya ke kuping istrinya dan mengecup kening Hilda.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)