
Piter akhirnya selamat, peluru di bagian dadanya berhasil diangkat.
Wajah Piter menghitam menahan rasa sakit, bisa dibayangkan lelaki itu menjalani operasi darurat tanpa dibius.
Saat piter, Zidan, Iwan berhasil menggiring para penjahat itu dari rumah sakit, membawa jauh dari rumah sakit, walau Piter harus mengalami luka tembak. Tetapi semua itu mereka lakukan demi si Nona Hara.
Saat orang-orang itu meninggalkan rumah sakit
Leon mengikuti arahan yang di katakan Piter, ia masuk dan mengurus administrasi Hara, saat masuk kekamar rawat seorang wanita tertidur pulas, ingin rasanya ia memeluk Hara di dadanya, tapi ia tidak punya waktu melepas rasa rindu keselamatan jauh lebih penting. Leon segera keluar dari rumah sakit sebelum anak buah Bokoy menemukan mereka. Leon dibantu seorang suster untuk merapikan barang -barang akan dibawa pulang.
“Hati-hati iya pak kandungannya sangat lemah, dia tidak boleh banyak bergerak,”ujar perawat mendengar kata kandungan Leon tersenyum sangat senang, karena Hara masih hamil.
“Tadi suaminya berpesan agar kursi rodanya dibawa pulang saja, ini sudah di beli,” kata suster, tapi mendengar kata suami, seketika raut wajah Leon berubah, bibir yang tersenyum tadi seketika terdiam.
‘Suami apaan? Aku nanti yang akan suaminya, bukan Piter, dia hanya akan jadi seorang pengawalnya untuk Hara, sampai kapan, pun' ucap Leon dalam hati.
Jovita Hara masih tertidur pulas ,di bawa pengaruh obat tidur, karena dokter terpaksa memberinya obat tidur, sudah dua malam Hara tidak bisa tidur, ia selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak bahkan sering ngigau saat tidur.
Leon menutupi wajah Hara dengan kain dan memakaikan Hara rambut palsu yang ia ambil dari laci, setelah melakukan penyamaran, ia membawanya bumil itu, keluar dari rumah sakit.
Memastikan semua aman, baru ia membawa Hara kedalam mobil, menidurkannya di jok depan menyadarkan tubuhnya sudah nyaman, Leon baru menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.
Membawa Hara ke Villa yang dikatakan Piter, sebuah Villa di daerah Puncak, villa yang sudah dibeli Piter kembali untuk Hara.
Leon sengaja membelokkan mobilnya setelah menunggu lima menit tidak ada yang mengikutinya, barulah Leon menyetir lagi , membawa Hara ke arah villa.
Setelah menyetir beberapa menit dari rumah sakit, tidak lama kemudian gps map berhenti di sebuah villa yang memiliki desain yang sangat unik.
Leon menatap bangunan villa itu dari mobil, lalu kedua alisnya menyengit Villa itu, mirip dengan desain rumah yang dibeli Leon dari Beny rumah keluarga Hara yang ia bakar.
Leon menoleh Hara yang masih tertidur pulas, ia keluar, Namun, baru berdiri sementara udara malam dipuncak sangat dingin, dingin itu mulai menusuk kulit Leon , karena buru-buru tadi, ia tidak membawa jaket
“Gila, ini dingin,” Keluh Leon menggosok-gosok kedua telapak tangannya, turun dari mobil dan menekan password untuk membuka pintu .
Dari luar terlihat unik, ternyata di dalam sangat mewah dengan ukir-ukiran kayu dari berbagai daerah Leon berlari lagi ke mobil lalu.
__ADS_1
Leon menggendong tubuh Hara, meletakkannya di sofa di dekat tunggu perapian, melihat ada tempat tunggu perapian seperti gaya Eropa, Leon dengan cepat menyalakan api dan menyodorkan tangannya di atas api unggun, ia sengaja mematikan lampu dalam ruangan, ia mengawasi keluar, ia masih takut kalau- anak buah Bkoy mengikuti mereka.
Leon mengawasi keluar rumah, tetapi tiba-tiba Jovita meringis seperti orang kesakitan memegangi kepala, ia terlihat gelisah dan tangannya memijit -mijit kepalanya,
“Kamu tidak apa-apa ,” tanya Leon setelah menyalakan lampu ruangan kembali.
“Kepalaku sangat pusing,” ucap Hara, ia membuka mata, tetapi betapa terkejutnya yang di hadapannya bukanlah perawat yang biasa menanganinya ataupun Piter lelaki yang selalu sabar mendengar keluhannya.
Walau Piter terlihat tegas, tetapi hatinya sangat lembut pada perempuan, berbeda dengan lelaki yang di hadapannya saat ini, Leon selalu bersikap dingin pada siapapun, tidak perduli ia perempuan maupun itu nenek sekalipun.
“Ini tidak mungkin, kenapa kamu disini, aku berharap aku bermimpi,” ucap Hara mengucek-ucek matanya.
“Ini aku, kamu tidak mimpi,” ucap Leon ingin memegang tangannya tapi Jovita buru-buru menyingkirkan.
“Jangan sentuh aku, mana Om Piter, aku mau piter bukan kamu, apa yang kamu lakukan padanya?”
Leon duduk di sofa disamping Hara
“Aku tidak melakukan apa-apa padanya, tetapi dia terluka, terkena tembakan dari penjahat yang mengejarmu, dia yang menyuruhku ke sini,” ujar Leon hanya menatap Hara dengan tatapan yang misterius. Walau ia rindu atau sangat senang bisa bertemu Hara, ia tidak akan melakukanya apa-apa. Ia hanya duduk mendengar kemarahan Hara.
“Terluka?"
“Apa aku orang asing bagimu?” Leon menatapnya dengan tatapan tegas.
“Aku hanya ingin Piter, aku tidak mau kamu, aku ingin orang-orang terdekatku yang menjagaku."
“Aku akan melakukanya.”
“Kamu tidak akan bisa seperti dia, pergilah dari sini, kamu tidak di butuhkan disini, Piter tidak akan pernah ngomong kasar padaku, ia tidak akan pernah bilang kalau aku anak kecil, dia tidak pernah bilang aku bodoh, aku menyebalkan,”ucap Hara terdengar seperti anak kecil yang sedang ngomel-ngomel.
“Baiklah hari itu aku salah karena telah menyingung dan menyakiti perasaanmu ,” ucap Leon ia duduk di meja kayu di depan Hara.
“Kamu tidak tulus mengatakannya, kamu hanya ingin meledekku menganggap anak kecil”
“Hara, Hara tenangkan dirimu, tubuhmu masih lemah,” ujar Leon menenangkan.
“Apa urusanmu? Kamu musuhku, kamu menyembunyikan bukti tentang kejahatan Bokoy maka itu kami kalah," ujar Hara ngegas.
__ADS_1
“Hara, Hara dengar …. Aku tidak menyembunyikannya, aku ingin menggunakannya sebagai kartu terakhir”
“Maksudnya ….”
“Kamu ingat Jaksa yang dipecat yang aku temui di Penang Malaysia? Dia bersedia membantuku. Bokoy mengenal semua orang di kejaksaan, bukti apapun yang kamu berikan percuma, mereka akan memutar balikkan fakta, Jadi aku meminta bantuan mantan jaksa yang pernah menangani kasus Bokoy, orang yang aku temui di Penang Malaysia beberapa waktu dulu.
Dia bersedia membantu kita, makanya aku menahan bukti tersebut”
Hara terdiam.
“Kamu bohong! Lalu, kenapa kamu tidak bicara padaku , kamu mengurungku kamu-”
“Hara tenanglah,” Leon memeluknya dengan erat.
“Kalau kamu jujur dan berterus terang padaku, aku tidak akan curiga padamu, aku tidak akan mengalami semua hal buruk ini, Om Piter tidak akan terluka dan ak-”
“Hara tenangkan dirimu”
Leon tidak ingi Hara mengomel dengan marah .....Leon menyumpal mulut Hara dengan bibirnya, membuatnya diam.
“Terimakasih karena kamu baik-baik saja Hara, kamu membuatku ingin mati ketakutan,” ujar Leon ia memeluk Hara. Ia tidak marah pada Hara.
Akhirnya hati Leon bisa tenang karena, ia bisa bertemu Hara. Ia telah berjanji pada hatinya kalau Leon tidak akan melepaskan Hara kali ini .
Ia telah memikirkan cara, kalau saja Hara menolak lagi menikah dengannya maka ia akan membawa paksa ke hadapan tetua adat mereka, untuk menikahkannya dengan wanita cantik tersebut.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing