Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hari yang Baru Para Mantan Mafia Kembali Bersatu


__ADS_3

Leon tidak pernah menduga, saat ini akan hari yang bahagia untuknya, karena mantan anak buahnya akan  tinggal bersamanya kembali di  Jakarta, bahkan anak-anak mereka sekolah di tempat yang sama. Hari ini ia tampak sangat bersemangat karena  kedua anak kembarnya akan masuk sekolah dasar, Leon sangat bersemangat saat mengantar  pertama kalinya ke sekolah.


“Dek, bolehnya  hanya sampai di sini,” bujuk Hara, pada si cantik Chelia.


“Antar sampai dalam kelas Bu, dedek takut,” rengeknya ingin menangis.


Tidak ingin melihat putri kesayangannya menangis Leon meminta izin pada guru untuk menemaninya ke dalam kelas.


“Sayang dituruti semua kemauannya,” ujar Hara melarang suaminya.


“Sekali saja Bu, kasihan ….,” ujar Leon memelas agar Hara tidak marah.


“Kalau besok dia  meminta ayah ikut lagi, akan dituruti?”ujar Hara melotot pada Leon.


“Besok, gak Bu, hari ini saja, aku tidak tega melihatnya menangis,” bujuk Leon pada Hara.


“Baiklah, terserahlah,” ujar Hara kesal, ia kesal karena Leon selalu memanjakan kedua buah hati mereka.


“Sayang, nanti ayah sama ibu, tidak bisa mengantar sampai ke dalam sekolah, besok-besok iya, tetapi kali ini tidak apa-apa. Ibu akan marah lagi nanti,”bisik Leon pada si cantik Chelia.


“Ayah antar sampai kelas iya.” Chelia memegang ujung pakaian Leon.


“Baiklah, tetapi kali tidak apa-apa, tetapi besok tidak iya,” bujuk Leon.


Kedua bocah itu mengangguk.


Kedua anak kembar itu sekolah di Internasional School, di mana orang tua hanya boleh mengantar sampai di depan gerbang.


Sampai di halaman sekolah anak didik akan jadi tanggung jawab guru sepenuhnya.


                   *


Saat mengantar  ke sekolah ternyata Zidan dan Clara juga  datang.


Membawa Danish putra mereka di sekolah yang sama, tidak berapa lama Hilda dan Piter juga datang membawa  putra mereka  Jordan untuk dimasukkan ke sekolah itu juga.


Tanpa diduga Ken dan Rebeka  ikut memindahkan Thiani putri semata wayang Ken  ke sekolah yang sama.


Leon sangat terkejut  saat melihat semua orang -orang terdekatnya kembali berkumpul.


“Kapan kalian pulang, kenapa tidak mengabari,” ujar Leon memeluk Zidan dan Ken.

__ADS_1


Saat mereka sedang mengobrol di luar sekolah tidak lama kemudian Toni juga datang ia memasukkan putranya ke sekolahnya di sana bedanya ia akan  memasukkan Arjuna ke Taman kanak-kanaknya, melihat kedatangan Toni.


Leon melongo, ia menatap mereka bergantian.


“Kami sebenarnya sudah janjian Bos,” ujar Hara, mengedipkan mata pada suaminya.


“Iya, kami ingin memberimu kejutan,” ujar Ken.


“Tapi kenapa?” Leon menatap Zidan.


“Ayo kita cari  tempat untuk mengobrol.” Hara mengajak mereka duduk di salah satu cafe yang tidak jauh dari sekolah.


“Lalu bagaimana …?” Leon tidak sabar mendengar alasan mereka semua berkumpul.


“Clara tidak betah di China, dia ingin kembali ke Jakarta, tapi sebelumnya Ken juga mengeluh tidak suka di Bali lebih suka di Jakarta Lalu kami janjian kembali ke Jakarta,” ujar Zidan.


“Lalu Toni?”


“Ibu mertuaku ingin kami   di sini di rumah yang di Jakarta,” balas Toni.


Kini Leon dan ketiga  mantan anak buahnya kembali bersatu,


Hidup mereka akan lebih berwarna lagi karena ini bukan tentang mereka lagi, ini tentang anak-anak mereka.


Jauh-jauh hari ternyata merek sudah mengkonfirmasi pada Hara, kalau mereka semua akan  tinggal di Jakarta, hal itu ditanggapi dengan  sangat senang oleh Hara.


“Baiklah kalau kalian ada di sini lagi, itu artinya aku punya teman jalan lagi,” ujar Hara.


“Sesekali kita akan beri para bapak-bapak ini pelajaran, jaga anak, selama tinggal di China, Zidan seolah-olah dia yang paling sibuk di muka bumi ini, dia tidak ada waktu untuk keluarga, karen itulah aku memaksa untuk pulang ke Jakarta. Tanah airku tetap yang terbaik I love you Indonesia,” ujar Clara.


“Alasanku pulag Ke Jakarta, Ken …. selalu pulang ke Jakarta, tetapi kami berdua selalu di tinggal di Bali, mending pindah sekalian ke Jakarta agar kami bisa ikut,” ujar Rebeka.


“Kalau aku memang permintaan Ibu, kita yang di minta untuk tinggal di Jakarta,  beliau tidak kuat pulang bolak balik Bangsung -Jakarta,” ujar Kikan istri Toni.


“Baguslah, kita bisa main golf bersama,  aku juga niatnya ingin cuti bekerja beberapa minggu ingin menikmati waktu bermain bersama anak-anak selama ini aku terlalu sibuk bekerja, urusan anak-anak terlalu dipercayakan pada suster, jadinya anak-anak  tidak terkontrol,” keluh Hilda.


Kini semua anak-anak dari mantan anak buah Leon satu sekolah dengan anak-anaknya.


“Apa anak-anak kita aman kalau bersama, ini berarti tidak ada istilah perkumpulan mantan anak-anak mafia kan?” Tanya Clara, mengundang tawa mereka berlima.


                             *

__ADS_1


Setelah anak-anak mereka bersekolah di sekolah yang sama, alhasil ayah-ayah mereka yang mengantar anak-anak sekolah akan   bertemu dan mengobrol.


Anak-anak mereka juga lebih bersemangat karena  mereka semua saling mengenal  dan  tidak merasa takut saat berada di sekolah karena punya teman yang sudah saling mengenal.


Di hari  ketiga sekolah, anak-anak itu diantar  ayah -ayah mereka sedangkan para Ibu punya janji akan belanja bersama hari itu.


Benar saja, saat  Kikan dan Clara ada di Jakarta, Hara serasa punya saudara perempuan, kedua wanita itu yang saat ini teman  curhat. Apalagi sifat dingin Zidan masih belum berubah, pagi itu, Kikan dan Clara datang ke rumah Hara saat anak-anak mereka berangkat ke sekolah.


Kedatangan kedua mantan perawat Bu Atin itu di sambut baik semua penghuni rumah Leon. Karena kedua wanita cantik itu jebolan  dari sana juga.


“Kalian berdua  harus sering-sering datang ke sini, agar hara ada temanya, menikah dengan leon membuat  hara tidak punya teman, semua teman Hara di cemburuin sama leon,” ujar Bu Atin.


“Baik  Bu, kita akan sering main ke sini,” jawab Clara.


“Clara ….! Kenapa tidak nambah anak lagi?” tanya Bu Atin saat mereka duduk mengobrol.


“Zidan selalu dingin Bu, dia selalu sibuk bekerja, malas mau punya anak lagi,” ujar Clara..


“Kikan, kenapa anak hanya satu?” Tanya Bu Atin pada istri Toni.


“Dikasih hanya satu Bu, sudah kerja keras tiap malam tetapi belum dikasih,” ujarnya sembari tertawa.


Saat kumpul di rumah Leon, kini tiga wanita cantik itu pergi jalan-jalan keliling mall bersama Bu Atin.


Leon tidak marah karena ia percaya pada Kikan dan Clara, banyak hal yang mereka lakukan saat lepas dari rutinitas dari seorang Ibu.


Di sisi lain para ayah tampan itu masih menunggu anak-anak mereka di luar gedung sekolah.


Leon bahkan tidak masuk ke kantor karena Chelia ingin ayahnya yang menjemputnya pulang sekolah, kalau saja  Leon ingkar janji putri cantiknya bisa-bisa menangis beberapa jam .


“Kenapa kalian yang mengantar para istri kemana?” Tanya Piter saat melihat Zidan, Ken, Toni, Leon berdiri .


“Clara tidak tahu kenapa belakangan ini banyak maunya,” ujar Zidan.


“Kurang kasih sayang pasti,” balas Ken.


“Terus … kamu kenapa yang antar?”balas Zidan menatap Ken.


“Oh, aku yang minta mengantar ke ke sekolah, ingin cuci mata melihat guru-guru di sini sangat cantik,” ujar Ken, lelaki berambut keriting itu ternyata tidak pernah berubah, walau sudah menikah dan punya anak sifat playboy nya tidak berubah.


“Ah, kamu dari jaman  dulu tidak berubah, matanya masih jelalatan, kalau lihat cewek cantik,’ celetuk Zidan pada mantan rekan kerja tersebut Ken hanya tertawa saat mereka meledeknya.

__ADS_1


Kehidupan mereka akan lebih menyenangkan dan penuh berwarna saat  mereka sudah menjadi sosok ayah dan anak-anak mereka sekolah yang sama.


Bersambung ….


__ADS_2