Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mengungsi ke luar Negeri


__ADS_3

Leon sengaja datang sendiri ke Kalimantan tanpa di ketahui pengawalnya.


“ Toni,  aku butuh bantuanmu.”


“Ada apa Bos? Hara akan pergi  malam ini dari sini, aku ingin mereka  pergi jauh  dari Indonesia.”


“Apa ada  bahaya sayang?”  tanya Hara berbisik, takut kedua anaknya mendengar.


“Iya,  beberapa orang dari suku musuh mengawasi tempat peternakan Toni, bahkan kata ibu panti ada orang menanyakan  tentangmu setelah kamu pergi.” Kali ini Leon tidak ingin menutupi apapun pada istrinya.


“Apa yang harus aku lakukan?” Wajah Hara panik.


“Jangan khawatir, bukankah saat itu kamu bilang ingin liburan ke Eropa. Kamu liburan saja di sana, nanti kalau urusan di sini selesai aku akan menyusul,” ujar Leon.


Walau sebenarnya  Hara sangat takut, tetapi di hadapan Leon demi anak-anakmu ia harus bersikap tegar.


“Baiklah, aku akan liburan bersama anak-anak walau tanpamu,” ujar Hara.


“Nanti aku akan meminta Pak Sam  menerbangkan kalian dari sini,” ujar Leon.


“Baiklah, selesaikan dengan baik dan datanglah menyusul kami setelah selesai,” ujar Hara.


“Iya, "ujar Leon memeluk tubuh Hara.


                       *


“Sayang, kalian pergi ke Jerman, temanku menjual Villa dan peternakan  untuk kita, aku  meminta orang untuk menjemputmu di sana, tetapi kamu harus mau menuruti apa yang aku katakan,” ujar Leon sebelum mereka terbang ke Jerman.


“Iya baiklah.”


“Ayah kenapa tidak ikut?” Tanya Chelia.


“Sayang, ayah akan urus pekerjaan dulu, nanti baru datang lagi,” ujar Leon memeluk ke tiga  orang yang di cintainya.


“Bu, aku ingin bicara .… Tinggalkan semua barang-barang mu,   tinggalkan  juga ponselmu, buka semua anting kalung cincin, aku takut ada yang  memasang sesuatu di sana, dengan cara seperti itulah kamu bisa lepas dari pengawasan dari penyadapan itu.”


“Baiklah” Hara menuruti semua yang dikatakan Leon.


“Oh sayang, jangan khawatir, di sana aku  meminta orang untuk menjagamu,” ujar Leon.


“Iya, baiklah.”


“Hara …. sayang, jangan anggap ini sebagai  beban,  jangan takut anggap saja, kamu liburan dengan anak-anak,” Ujar Leon menenangkan hati istrinya.


“Liburan tanpa kamu apa jadinya Leon? hidup sudah bergantung padamu ,” ujar Hara .

__ADS_1


“Jangan khawatir, semua akan baik- baik saja, aku hanya ingin  melakukan penyelidikan seperti yang seharusnya, tidak membiarkan hanya polisi yang melakukannya."


“Aku tahu sayang, kamu hanya ingin hidup seperti orag lain.” Hara memeluk suaminya mendaratkan bibirnya ke bibir Leon.


“Baiklah, tinggalkan kartumu,  kamu punya ini gunakan kartu ini,” ujar Leon.


 Akhirnya malam itu juga mereka terbang meninggalkan Indonesia.


Seminggu berlalu sejak Hara meninggalkan tanah air, walau merasa sangat rindu Leon, fokus pada kasus yang ia hadapi.


Leon, sangat merindukan  suara anak-anaknya, rumah besar itu kini sudah benar-benar sunyi,  hanya ada beberapa penjaga yang berjaga di depan pintu,  Leon tidak lagi memperkerjakan banyak orang, ia memecat orang yang ia  terbukti berkhianat, ia bersih-bersih semua orang yang  terlibat penghianatan.


Pengaruh uang memang sangat besar,  beberapa anak buah Leon dan seorang asisten rumah tangganya  akhirnya tertangkap, Leon  memecat mereka, Leon berusaha berubah, ia tidak ingin  lagi menggunakan cara  yang lama, kalau dulu ia menghabisi orang yang berkhianat, tetapi kali ini Leon  ingin berubah demi anak-anaknya.


Setelah beberapa lama Hara  tinggal di Jerman, Leon menelepon.


“Aku merindukan kalian bertiga, aku kesepian” ujar Leon di ujung telepon.


“Bersabarlah sayang, bersihkan dulu semua para penjahat itu,” ujar Hara mengarahkan camera ponselnya  ke arah anak-anaknya yang sedang tidur.


“Apa mereka tidak bertanya tentangku?” Tanya Leon.


“Tentu saja Princesmu selalu bertanya kapan ayah mereka datang menyusul,” ujar Hara.


“Iya …. ada apa?”


“Aku mencintaimu.”


“Apa semuanya baik-baik saja?” Tanya Hara melihat mata suaminya berembun.


“Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu, aku sangat bersyukur memilikimu dan anak-anak, setelah  kamu pergi dari rumah, aku merasa, betapa berharga kalian bertiga dalam hidupku. "


“Baiklah …. jangan sedih, semua akan bisa kita lalui” ujar Hara lagi.


“Aku tidak akan menyerah Hara, aku  akan terus  melakukan yang terbaik di sini.”


“Leon ….,” panggil Hara dengan suara lembut.


“Iya … ada apa?”


“Dalam rumah tangga pasti ada rintangan karena semakin tinggi pohon semakin  kencang angin akan menerpa,” ujar Hara.


“Aku tahu sayang, aku akan tetap kuat jika kamu percaya padaku dan selalu bersamaku,” ujar Leon dengan tatapan hangat pada istrinya.


“Aku percaya padamu, kami bertiga sangat percaya dan bergantung padamu,” ujar Hara,  mendengar kata-kata penyemangat dari Hara Leon  semakin percaya diri.

__ADS_1


“Baiklah, tunggu aku, aku akan datang menjemput kalian nanti,” ujar Leon.


                                   **


 Kota Holzkirchen Jerman, sebuah  desa di pinggiran kota Kirche sepasang anak perempuan dan laki-laki berlari di sepanjang hamparan rumput yang luas.


Tidak jauh dari rumah besar sebuah peternakan yang di beri  nama Lim Family.


Peternakan dan rumah besar itu milik keluarga Sian Lim, teman Leon yang tinggal di Singapura.


Keluarga Lim  memiliki  peternakan sapi perah yang menghasilkan banyak  susu setiap harinya, bukan hanya itu, ada juga kandang kuda dan domba.


Saat pertama kali Hara tiba di desa yang sangat asri itu Hara terpelongo , disambut beberapa pekerja yang semua dipekerjakan dari tanah air dan hanya beberapa orang yang dari kota itu.


“Kapan Leon mempersiapkan ini?” Tanya Hara.


Leon bekerja sama dengan Toni ingin memberi kejutan untuk Hara, karena wanita cantik itu sangat suka dengan kuda dan kelinci maka saat ada temannya yang menjual peternakan Leon mengajak Toni bekerja sama.


Hara dan kedua anaknya dan kedua suster  merasa sangat senang, bahkan Suster Ana merasa sangat  bahagia karena diajak Hara ke Jerman . Karena ia bisa melihat  salju seperti impiannya dulu.


Berada di kota itu Okan dan Chelia  hanya pertamanya saja  minta pulang,  mereka berdua sangat menikmati tinggal  di kota indah itu tersebut.


Saat pertama tiba di sana, Awalnya  Chelia  merindukan ayahnya dan sempat beberapa kali  menangis minta pulang.


“Ibu, ayo kita pulang kenapa meninggalkan ayah dan nenek?”


“Sayang, kamu boleh pilih kamu ikutan ibu liburan apa di antar pulang ke ayah,  tetapi  Ibu sama abang  tetap di sini.”


“Tetapi kenapa Ayah tidak diajak?” tanya si cantik Celia saat itu.


“Ibu ingin liburan, ingin melihat salju dan ingin naik kuda, tetapi kalau kita beri  ajak ayah dia tidak akan memperbolehkan malah di larang dan di suruh dikurung di rumah terus, kalau kita sudah puas nanti kita akan pulang, setelah itu kita ajak ayah  ke sini. Bagaimana?”


“Setuju,” jawab Okan bersemangat.


“Benarkah bukan karena  Ibu sama ayah bertengkar?”


“Tidak , ibu sama ayah baik-baik saja.”


“Baiklah, aku ikut Ibu saja,” ujar Chelia .


   Hara mengawasi peternakan tersebut, menjalankan  dengan senang hati , tinggal di  pedesaan yang tenang adalah keinginan Hara sejak lama.


Ia juga menanam  banyak bunga-bunga kesukaannya di sana,  Hara seakan –akan baru di lepaskan dari kandang, Selama ini Leon selalu menjaganya dengan ketat tidak memperbolehkannya kemana-mana , Hara menurut dan melakukan semua itu,  karena ia percaya pada suaminya. Tetapi kali ini dibalik masalah besar yang mereka hadapi ia akhirnya menikmati liburan impian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2