Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Tertembak


__ADS_3

Hubungan Jovita dan Leon sedikit lebih baik belakangan ini, Jovita tidak begitu takut lagi dengannya, ia mulai sering bercanda. Tetapi pagi itu, setelah Salsa mengirim video keakraban Jovita dan Toni saat merawat kelinci dan Video saat Jovita mabuk dan mengoceh membahas tentang Leon. Video yang di kirim ke ponsel Leon, semuanya berubah seketika.


Jovita masih rebahan di atas ranjang Leon.


“Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku kurang tidur dan sakit kepala,” ujar  Leon.


Jovita ingin berdiri dari  ranjang,Tetapi tangan  Leon menarik lengannya hingga terhempas dan jatuh di dadanya. Menit kemudian Leon memegang dagu Jovita dan mendaratkan satu kecupan. Jovita Hara menolak, ia menjauhkan  wajahnya dari Leon.


‘Kenapa seperti ini? Harusnya saat di minta pergi, aku pergi saja’ Jovita membatin.


“Kamu tinggal pilih, mau yang kasar atau lembut?


“Dua-duanya tidak mau, aku lapar ingin serapan, ia berdiri lagi”


Leon dibantah … Tidak akan berhasil!


Ia menarik  lengan Jovita dan terjatuh terlentang lagi.


“Harusnya saat aku  menyuruhmu pergi … kamu pergi saja gadis manis,” ucap Leon kini tubuh ber otot keras itu, berada tepat di atas tubuh Jovita.


Menyentuh pipi Jovita dengan punggung tangganya. Tatapan mata seakan-akan menguliti Jovita.


“Aku salah, boleh aku pergi,” ucap Jovita saat tubuhnya semakin terdesak dengan beban berat dari tubuh Leon.


“Tidak, saya tidak suka mengulangi perkataan ku, kesempatan hanya sekali … Jadi kamu pilih apa aku harus melakukannya dengan baik-baik atau dengan cara kasar?”


Suara seakan menyiksa seluruh  tubuh Jovita, Ia menyesali dirinya karena ia mengejek Leon tadi.


Jovita hanya diam, ia tidak ingin dua-duanya.


“Baiklah karena kamu diam aku saja yang memutuskan … Kalau saya melakukanya dengan kasar, kamu kesakitan, sebaiknya kamu menurut,  kamu bisa menilainya sendiri.


Apakah dia besar atau kecil, di saat kamu tenang disitulah kamu bisa menilai sesuatu,"ucap Leon melempar ponsel di tangannya ke atas ranjang.


Perkataan Jovita yang menyebut senjata  milik Leon kecil pada Toni saat ia mabuk malam itu membuatnya sakit hati.


Salsa merekamnya diam - diam sebelum Leon pulang malam itu.


“Aku hanya bercanda, kenapa dibawa ke hati” ucap Jovita ia tidak sadar, kalau Salsa melaporkannya.


Wajahnya mulai panik saat  napas hangat dari hidung Leon, menyapu wajahnya.


“Jangan menghinaku karena saya lelaki yang tidak suka menghina fisik,” ucap  Leon meraih pinggang kecil Jovita ”


Saya akan menghentikan bibir ini, agar tidak melakukannya lagi dan menghentikan senyum ini”


Leon mendaratkan bibirnya ke bibir Jovita, sikapnya tenang tetapi menakutkan.


Suara Leon membuat bulu tangan Jovita  berdiri, sadar akan kesalahan ia diam, menerima dengan pasrah hukuman yang akan diberikan Leon padanya. Ia hanya menutup mata,  tidak menolak dengan apa yang di lakukan Leon nantinya.


‘Diam dan pasrah hal yang tepat Hara ... mungkin dengan kamu tidak melawan, akan mengurangi rasa sakit nantinya’ Ucap Hara pada diri sendiri, ia diam bagai patung, membiarkan Leon menikmati bibirnya,

__ADS_1


“Aku akan membuatmu tidak bisa berpaling dariku , tubuh ini tawa yang kamu obral pada lelaki itu,  semuanya milikku,” ucap Leon terdengar otoriter.


Tubuhnya masih mematung walau Leon sudah memberinya sentuhan di berbagai  bagian tubuhnya, tetapi ia tetap diam.


Leon itu tidak suka hal yang seperti itu.


“Buka matamu!” pintanya tegas pada Jovita. Namun, ia menolak bahkan semakin mengepal tangannya dengan kuat, terlihat jelas tubuhnya menolak sentuhan yang di berikan Leon, ia menahannya.


“Apa kamu membantahku lagi?”


Jovita tidak menuruti, ia masih bertahan, ia menutup matanya dengan semakin kuat, seolah-olah Leon setan yang harus ditakutkan.


“Kamu lelaki yang menakutkan, kamu kasar,” ucap Jovita.


“Benarkah? Biar aku tunjukkan arti yang menakutkan yang sebenarnya. Aku paling tidak suka dengan orang yang membangkang. Apa lagi wanita seperti kamu,” ucap Leon.


“Kamu tidak akan memiliki cinta dari siapapun jika kamu bersikap kejam seperti itu,” ucap Jovita .


“Cinta kamu bilang …? Kamu pikir saya membawamu ke kamar ini karena cinta?”


“Iya, kamu jatuh cinta padaku, tetapi kamu tidak punya keberanian mengucapkannya,” ucap Jovita dengan marah, ia seperti mengusik iblis yang sedang tidur.


“Saya tidak pernah mencintaimu anak kecil,  saya menahan mu di sisiku karena tubuhmu bisa mengusir setan yang  mengganggu tidurku. Kamu hanya sekedar jimat untukku. Tidak lebih ... ada banyak wanita cantik di luar sana yang bisa aku jadikan pasangan hidup. Kenapa kamu berpikir aku akan memilihmu?”


“Iya aku juga berharap seperti itu, tidak sudi bagiku menikah dengan seorang lelaki pembunuh kejam seperti kamu,” balas Jovita.


“Yang kejam itu Iwan Santoso, lelaki yang sudah  menghancurkan keluargaku, apa kamu tidak ikut menyebut lelaki itu, lelaki kejam?”


“Jadi maksudmu saya berbohong kalau keluargaku di bunuh ayahmu?” Wajah Leon menghitam, ia akan sangat marah besar jika menyangkut keluarganya.


“IYa”


“APAA!?”


“Ya, kamu asal menuduh”


“Kamu bilang saya asal menuduh? Apa kamu tahu apa yang di lakukan orang-orang suruhan ayahmu pada kakak perempuanku? Dia memperkosanya”


Apa kamu ingin merasakan lagi apa yang dirasakan kakakku?”


Ia  kembali seperti iblis yang kejam menarik dress milik Jovita  sampai kain berwarna biru muda  itu robek memperlihatkan bagian dadanya, lalu Leon mendorong tubuhnya kembali, tangan Jovita menjatuhkan gelas kaca di atas nakas, sebelum tubuhnya, jatuh terlentang di atas ranjang, Leon menekan kuat dada  Jovita dengan tangannya,  wajahnya bergetar dan menghitam, urat-urat rahangnya saling bertarikan menahan kemarahan.


“Katakan padaku apa kamu ingin merasakan apa yang dirasakan kakakku?” Teriak Leon menekan  tubuh jovita.


Jovita melawan, ia meraba bawah bantal dan menemukan sebuah pistol jenis Desert Mark D 75 yang memiliki daya tembak yang kuat. Pistol yang biasa  diselipkan Leon  di pinggang tetapi saat malam,  ia akan menyimpannya di bawa bantal.


Dengan tangan gemetar Jovita mengarahkan moncong pistol itu, tepat di dada Leon, tetapi tatapan mata Leon tidak menunjukkan ketakutan, ia malah tertawa mendesis,   menatap bengis seolah-olah menantang Jovita menembak dirinya.


“Tembak .... Ayo tembak.” Leon menantang, memintanya menembak dirinya.


Dengan napas ter engah-engah Hara ingin menarik pelatuk.

__ADS_1


‘Jika aku menembaknya aku juga tidak akan bisa hidup, lebih baik …


Ia menarik tangannya dari dada Leon dan mengarahkan ke kening sendiri.


‘Lebih baik aku yang mati agar bisa bertemu ibu dan ayah’ ujar Jovita  mengarahkan ke keningnya sendiri.


Melihat Jovita mengarahkan pistol itu ke dirinya sendiri, Leon kaget dan bertindak cepat menarik tangan Jovita.


Door ....!


Timah panas itu menembus pinggang Leon,  tangannya memegang luka dan darah segar menetes di lantai, menyadari Leon tertembak olehnya tubuh Jovita gemetaran, ia ketakutan pistol masih di tangannya.


“A-a-ku tidak bermaksud-”


“Tidak apa-apa berikan padaku," bujuk Leon.


“Ka-ka-kamu berdarah” Ia duduk meringkuk di lantai.


Tiba-tiba ia mengarahkan pistol itu lagi ke ke keningnya.


“Jovita berikan padaku,” bujuk Leon.


“Jangan mendekat, aku  bukan pembunuh a-aku minta maaf”


“Baiklah, aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil tidak sakit, letakkan pistolnya,” bujuk Leon lagi dengan wajah panik, ia tidak ingin Hara menyakiti dirinya sendiri.


“Aku tidak  bermaksud menyakitimu kamu yang datang” Tubuhnya  menggigil ketakutan


“Ini hanya luka kecil lihat ... aku tidak apa-apa Leon mendekat dan berhasil merebut pistol dari tangannya. Ia memeluk tubuh Jovita yang ketakutan.


“Maaf,” ucap Jovita masih dengan tubuh gemetar,


“Tidak apa-apa kita akan mengobatinya,” ujar Leon memeluk tubuhnya dengan erat membiarkan tenang. Tetapi  saat ia menarik tangannya ia melihat Jovita berdarah, ia membalikkan tubuhnya wanita malang itu, ternyata ia mengiris  lehernya dengan pecahan  gelas.


“Darah  menguncur deras dari leher sebelah kanan.


“Apa yang kamu lakukan .... !?” Leon menarik seprai dan menahan luka, di di leher Jovita, mencoba menghentikan pendarahan, membawanya berlari keluar bahkan ia melupakan luka tembak di pinggangnya.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2