Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Berteman dengan ketakutan


__ADS_3

Hingga malam tiba Leon, masih berada di gedung atap hotel. Ia masih setia mengawasi, mengarahkan teropong kearah Apartemen Beny.



"Kamu dimana gadis bodoh. Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku?" ujar Leon.


Leon mengeluarkan ponselnya dari satu jaket, meminta anak buahnya mengawasi rumah mantan karyawan ayah Jovita.


“JIka kalian melihatnya   tangkap dan bawa ke rumah,” pintah Leon.


"Baik Bos"


Saat Leon menduga Jovita ada di Jakarta dan sibuk mencari. Mereka tidak tahu kalau Jovita ada di Surabaya.


Hingga orang Leon dari kantor polisi menelepon.


"Bos, polisi sudah berhasil mengidentifikasi orang yang ada di rekaman cctv"


"Siapa?" Wajah Leon menegang.


"Dia supir dari keluarga Iwan"


"Piter,"ucap Leon.


"Saat ini dia DPO"


"Baiklah apa kamu tidak menemukan kabar tentang dia?" Wajah Leon terlihat sangat lelah



"Belum Bos"


"Baiklah kabarin saya jika ada perkembangan"


Leon bergegas pulang, karena Jovita tidak ada di Jakarta.


*



Nona muda berwajah cantik ini.


Masih berada di dalam kamar hotel di Surabaya, ia menuruti semua yang diperintahkan  Piter padanya. Jovita hanya dalam kamar menonton telivisi dari pagi sampai sore. Saat sudah malam Piter datang.


Pihak Hotel mengabari kamarnya kalau ada tamu yang bertemu  atas nama identitas palsu yang ia pakai.


Tok … Tok …


Jovita langsung bergegas membuka pintu.


“Om.” Ia langsung memeluk pinggang lelaki berumur tiga puluh lima tahun itu dengan erat.


“Hara,  kita akan keluar dari sini,” ucapnya  tergesa-gesa.


“Kenapa Om?”


“Orang yang kamu pakai indentitasnya sudah melapor polisi kalau KTP dan dompetnya


Polisi pasti akan mendeteksi hotel ini”


“Lalu bagaimana?” Jovita menjadi semakin panik.



Piter membuka tas ranselnya dan  mengeluarkan indentitas baru untuk Jovita.


“Ini pakai untuk sementara, ia memberikan pakaian gamis panjang dan kerudung dipadukan cadar dan kaca mata. Ia terlihat seperti wanita timur tengah.


“Memang harus pakai ini?”


“Iya hanya ini yang aku punya Hara,  aku ingin melindungi kamu, tapi aku juga dalam pencarian polisi"


“Baiklah, aku menurut apa kata Om"

__ADS_1


“Ok, kamu keluar duluan. Ini kunci  mobil aku di parkiran di depan hotel. Dengar ... berjalanlah santai, jangan lihat kanan-kiri  yang membuat orang jadi curiga sama  kamu”


“Tapi kenapa orang mengikuti?"


“Hara,  nanti om jelaskan di mobil”


“Baiklah.” Jovita turun  meninggalkan hotel ia lewat dari pintu depan,  sementara Piter  berjalan di belakang, Jovita tidak chek-out, ia melarikan diri dari hotel, karena ia menggunakan indentitas wanita yang jatuh di bandara itu saat mengambil satu kamar hotel kemarin.


Saat tiba di dalam mobil Piter, melajukan mobilnya dengan cepat Namun ia membelokkan di pertigaan mematikan mesin mobildan lampu. Beberapa menit kemudian sebuah mobil pajero hitam melaju kearah kanan.


Lalu piter menghidupkan mobilnya dan mengambil arah kiri.


“Apa mereka  mengikuti kita?” Mata Jovita melotot di balik kaca mata yang  ia pakai.


“Iya,” jawab Piter  sibuk mengawasi spion samping mobil, ia melirik spioan -kanan dan kiri, memastikan mobil  yang  tadi tidak dak mengikuti mereka lagi.


“Oh, iya ampun, siapa mereka?”


"Orang - orang yang ingin menangkap ku, aku tidak ingin mereka melihatmu juga"


“Aku ?”


“IYa”


“Tapi siapa Om?”


Piter mengarahkan mobilnya ke sebuah   jalanan sepi dan ia  menganti plat mobilnya.


“Hara dengar, kita tidak boleh bersama kalau kita lakukan  itu, kamu dalam bahaya”


“Aku tidak mau Om, aku tidak mau berpisah lagi, aku tidak punya siapa-siapa.” Jovita melepaskan cadar yang ia pakai dan ia menangis.


"Dengar Hara, Om minta maaf karena tidak bisa menjadi bodyguard seperti dulu lagi. Om seorang buronan saat ini. Hara tolong jangan menangis . Kembalilah ke rumah Leon”


“Apaaa? Setelah aku susah payah melarikan diri dari pria  kejam itu. Om menyuruhku kembali ke sana? Apa om tahu apa yang di lakukan padaku? Dia memperkosaku Om, dia merusak masa depanku dan om memintaku kembali padanya?” Hara marah besar.


“Maafkan Om Hara,  maafkan aku.” Piter memeluk tubuh Hara membawanya ke dadanya.


“OM hanya tidak ngin kamu celaka. Saat ini, hanya dia orang satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu"



"Hara, orang yang melenyapkan kedua orang tuamu Bos Mafia"


"APA? Bu- bu-bukan kah, Beny?" Jovita tergagap karena gugup." Lalu karena apa Om? apa Leon tahu?"


"Menurut temanku yang mengenal Leon, dia juga mencari pembunuh keluargamu?"


"Untuk apa Om?"


"Hara Om tidak bisa menjelaskan semuanya saat ini secara rinci"


“Aku tidak takut, asalkan om bersamaku”


“Hara nyawamu akan ikut terancam jika kamu bersamaku”


“Memang Om melakukan apa?”


“Apa kamu ingat saat aku pertama datang  ke rumah?”


“Jovita mengangguk”


“Om kabur dari tentara karena di tuduh membunuh atasanku dan sekarang anaknya sudah menjadi  jenderal, kasus lama itu diselidiki kembali"


“Aku tahu Om, ayah sudah cerita saat om pergi. Tapi ayo kita pergi jauh”


“Hara om tidak mau jadi buronan selamanya, aku ingin buktikan pada mereka kalau  aku tidak bersalah Karena itulah aku menitipkan mu pada Leon, temanku bilang ia memperlakukanmu dengan baik"


“Om, saya bukan anak kecil lagi yang harus di titip pada orang lain, setidaknya katakan padaku siapa yang  membunuh keluargaku  apa tujuannya. Agar aku membalasnya"


"Hara, Om janji akan membalas mereka semua yang mengkhianati ayahmu. Kamu bagai malaikat baik Hata... Jangan mengotori tangan ini, untuk hal seperti itu. Itu tugas Om serahkan padaku. Aku hanya ingin kamu selamat Hara," ujar Piter meraih punggung tangan Hara meletakkan di pipinya wajah tampak merasa bersalah. "Berjanjilah padaku, tidak akan melakukannya"


"Aku ingin pembunuh keluargaku mati, Om"

__ADS_1


“Hara. Om lagi menyelidiki juga, Tapi apa kamu melihat wajah pelaku malam itu?”


“Aku tidak melihat wajahnya, mereka memakai penutup wajah dan topi, tapi aku melihat  salah satu mereka memakai Tato kepala harimau di otot lengan”


“Kamu yakin melihatnya?”


“Iya,” jawab Jovita  dengan yakin.


" Baiklah, kamu sebaiknya bersembunyi. Om Janji akan menjemputmu nanti kalau om sudah membuktikan tidak bersalah”


“Kenapa mereka membunuh ayah, memangnya ayah melakukan apa?”


“Aku juga tidak tahu Hara”


Tiiit …!


Tiiit …!


Jam Piter memancarkan lampu merah.


“Kita harus pergi dari sini”


“Ada apa Om?”


Piter membawa Jovita buru-buru masuk ke dalam Mobil dan  meninggalkan lokasi.


“Mereka mengetahui keberadaan ku”


“Memangnya tidak bisa, di buang Om?"


"Mereka menyuntikkan sebuah chip berbentuk cairan, ke dalam darahku Hara. jika aku masih hidup maka mereka akan terus mengetahui keberadaan ku. Karena itulah aku tidak bisa terus bersamamu. Hara minta tolong ... aku ingin kamu tinggal bersama Leon, karena  hanya dia yang bisa melindungi kamu”


Jovita diam, ia sangat kecewa  dengan permintaan Piter yang memintanya kembali pada Leon


                           *


Mobil akhirnya berhenti di sebuah  rumah di dekat rel kereta di Surabaya.


“Kita  di rumah siapa Om?”


“Ini rumah temanku dia sedang bekerja di luar negeri jadi rumah ini kosong. Om ingin kamu tinggal di sini sementara”


“Tapi Om juga di sini, kan?”


“Tidak Hara, om harus menjauhi kamu, aku tidak ingin mereka mengetahui tentang kamu. Dengar Om tidak bisa lama-lama kamu tinggal di rumah ini dulu.


Jangan pernah  melepaskan  cadar yang kamu pakai dan ... Om akan pergi tutup pintunya jangan membuka untuk siapapun. Om akan mengabari kamu dengan alat ini, jika kamu melihat alat ini berbunyi . Kamu pinjam telepon orang atau gunakan ponsel nomor baru”


Dengan sikap buru-buru Piter meninggalkan Jovita dalam rumah besar itu sendirian, karena alat yang ia pasang di jam-nya Piter, semakin berbunyi cepat itu artinya orang yang mengejar semakin dekat.


*


Jovita tinggal sendirian di rumah besar yang tak berpenghuni itu, membuat bulu kuduk berdiri, ia semakin memeluk lengannya, merasa seperti ada tante kunti yang mengawasi ..


“Ihhh ... seram, kalau aku hanya sendirian di tinggalkan disini ... Untuk  apa aku di sini, aku  bisa  hidup sendiri dan mencari tahu siapa pelakunya"


Jovita meninggalkan rumah lagi, berjalan kemana arah kakinya membawanya tanpa sadar ia berada stasiun kereta


'Sebaiiknya aku meninggalkan Surabaya, tapi kemana aku pergi? tidak ada keluarga yang ingin aku tuju'


Duduk di ruang tunggu stasiun Jovita bingung mau menuju kemana. Harapannya baru saja sirna, Piter satu-satu nya harapannya, tetapi, kini, Lelaki itu juga dalam masalah besar.


Ia baru sadar, tatapan semua orang-orang menatap aneh, mungkin mereka berpikir dirinya *******.


Karena memakai cadar dan membawa tentengan malam- malam di stasiun.


Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata semua orang padanya.


Jovita membeli tiket tujuan Jogjakarta.


"Bodoh amat kemanapun aku terdampar yang penting aku pergi dari sini," ujar Jovita menutup mata dan kreta membawanya pergi meninggalkan Surabaya.


Bersambung ..

__ADS_1


KAKAK  JANGAN LUPA BANTUANNYA IYA UNTUK


BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP 3 BAB TIAP HARI


__ADS_2