
Setelah meninggalkan Hara, Leon masuk kedalam kamar, ia menuju kamar mandi di kamarnya, membasuh wajahnya dan menatap kaca dengan tatapan tajam kedua pundaknya naik turun seiring napasnya yang menderu. Tatapannya tajam, bagai banteng yang sedang mengamuk.
“AAA …!”
Daaar ….!
Lagi-lagi kaca di kamar mandi itu yang jadi sasaran kemarahannya, untuk ke sekian kalinya, entah berapa kali lagi Bu Atin akan menganti kaca di kamar mandi Leon.
Puas menghancurkan kaca, ia keluar dari kamar mandi tangan itu kembali mengeluarkan cairan warna merah, luka yang beberapa hari lalu belum juga sembuh karena menghajar dinding kamar mandi dan sekarang kaca yang jadi korban.
Saat ia keluar wanita paru baya itu sudah duduk di sofa di kamar Leon.
“Jangan katakan apa-apa padaku Bi!”
“Tidak, Bibi tidak akan mengatakan apa-apa.” Bu Atin membawa kotak obat .
“Bibi saya di besarkan di dunia penjahat. Lelaki bangkotan itu hanya mengajarkan dua hal padaku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, dia hanya memberikan aku pistol dan uang. Mendapatkan dengan uang dan kemewahan dan cara yang kedua menggunakan senjata memaksa dan membunuh!”
“Baiklah …,” ucap Bu Atin dengan sabar, ia tahu kalau ia menyalahkan Leon lelaki itu akan semakin marah.
Leon diam dan Bu Atin diam menunggu kemarahan itu reda.
“Toni hanya anak buahku, tidak mungkin seorang Bos bersaing dengan bawahan untuk mendapatkan wanita”
Bu Atin hanya mengangguk dan merapikan kotak obat.
“Bibi pasti kecewa padaku”
“Kalau dibilang kecewa itu sudah pasti Pak Leon”
“Bi, jangan khawatir aku akan mendapatkan apa yang menjadi milikku”
“Nak ….!” Bu Atin menutup mata dan ia berkata lagi; “Hara bukan milikmu dan belum milik siapa-siapa, kamu yang harus berjuang untuk menjadikannya dia jadi milikmu”
“Bi. Dia mengandung anakku!” ucapnya keras kepala.
“ Leon …. Nona Hara terbiasa hidup di lingkungan orang baik dan dia akan memilih orang baik juga”
“Aku akan membawa dia dengan paksa ke kepala suku untuk kami dinikahkan. Dia dan bayi yang dikandung adalah milikku”
Bu Atin menggeleng putus asa, Leon kalau sudah kumat gilanya memang susah menerima masukan dari orang lain.
“Baiklah lakukan apa yang kamu mau,” ucap Bu Atin memegang batang lehernya.
Di sisi lain.
Hara juga meninggalkan meja makan romantis itu setelah menikmati beberapa saat pemandangan indah itu.
__ADS_1
Sebelum ia pergi, ia mendekati Zidan dan Rikko yang berdiri tidak jauh dari meja.
“Kak Rikko Kak Zidan makasih untuk kerja keras kalian, ini sangat cantik,” ucap Hara ramah. Namun, reaksi berbeda dilakukan Zidan ia meninggalkan taman dengan wajah marah, karakter Zidan sama dengan Leon, sama-sama di kulkas dua pintu mereka pasti saling memahami.
“Jangan dipikirkan Non, Zidan mungkin lagi capek saja,” ujar Rikko tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa Kak, aku mengerti Kok kalian semua pasti sangat lelah menyiapkan ini, aku minta maaf iya Kak Rikko”
“Gak papa Non”
“Baik aku ke kamar dulu.” Hara kembali ke kamar, memilih tidur di kamar.
Leon duduk di kamarnya dengan lampu padam.
*
Zidan, Rikko, Iwan, Kenzo duduk di santai membahas yang terjadi saat itu, wajah Zidan masih terlihat dingin. Tidak lama kemudian Bu Atin ia datang dengan memegang batang lehernya, ia merasa tekanan darah tingginya naik saat melihat sikap keras kepala Leon karena cemburu.
“Bibi tidak apa-apa?” Iwan menarik satu kursi untu Bu Atin.
“Bibi naik darah melihat sikap batu Bosmu. Bibi ini, seperti ingin mengawinkan dua ayam. Ayam hutan dan ayam negeri, sama-sama ayam, tetapi sifat dan kelakuan berbeda.”
Mendengar bosnya diibaratkan dengan ayam si kocak Kenzo langsung tertawa, saat orang lagi bicara serius, ia malah ketawa,
“Bi, memang tidak ada perumpamaan yang lain. Apa? Selain ayam. Masa Bos di ibaratkan dengan ayam hutan dan Non Hara ayam betina negeri. Ha … Ha ….” Lelaki berkulit gelap itu tertawa terbahak-bahak. Iwan ikut-ikutan membuka gambar ayam hutan yang jadi Leon dan ayam betina negeri jadi Hara.
Hanya mereka berdua yang tertawa Rikko dan Zidan hanya diam.
“Bibi kesal soalnya sudah dikasih masukan tetapi tidak mengerti,” ucap Bu Atin.
“Bibi dari kecil Bos itu di didik keras dan hidup di dunia mafia , di sana tidak ada kata-kata cinta dan hal-hal romantis seperti yang di inginkan Nona Hara,” ucap Zidan, ia membela Leon dan menyalahkan Hara yang sulit menerima Leon tatapan Zidan terlihat sinis.
“Tapi Bos, sudah banyak berubah belakangan ini Bro,” ucap Rikko.
“Itu dia yang aku maksud, harusnya Hara terima saja Bos,” balas Zidan lagi.
“Kalian semua salah, saya ini perempuan dan mengerti hati Nona Hara. Dia dibesarkan di rumahnya penuh cinta dan kasih sayang dan jauh dari kejahatan dan otomatis dia akan mencari sosok orang yang seperti ayahnya. Karena cinta pertama anak perempuan itu dari ayahnya”
“Tapi Bos sudah berusaha Bi,” bela Zidan lagi.
“Jika seseorang lelaki menyakiti hati seorang wanita begitu dalam, lalu ia meminta melupakannya. Hanya orang bego yang mengatakan Nona Hara ngeyel dan sok jual mahal … coba kamu pikirkan, maaf iya.
Leon sudah merenggut mahkotanya dan menyekapnya di hutan lalu menuduh ayahnya penjahat. Lalu dalam hitungan bulan kalian meminta pelakunya dimaafkan. Kalian sehat ….!? Maaf iya Bibi ini seorang wanita, Trauma itu pasti ada di hati Nona Hara. Munafik jika dibilang sudah memaafkannya. Nona Hara hanya mencoba melupakannya”
Mereka semua diam dan wajah Zidan yang sedari tadi menyalahkan Hara , hatinya mulai melunak.
“Bos akan berusaha Bi”
“Di depan Nona Hara ada dua pilihan; Toni lelaki baik yang mencerminkan sosok lelaki idaman, dan satu lagi ada Leon dengan dinginnya. Menurut kalian siapa yang akan dia pilih?”
__ADS_1
“Toni tidak pantas bersaing dengan Bos, Bi,” ucap Zidan lagi.
“Dia lelaki yang sangat baik dia juga tidak akan melakukan itu kalau saja tidak ada kesalahpahaman di puncak saat itu. Toni pasti berpikir kalau Leon menyakiti Nona Hara, dia sudah cukup berkorban sama Leon ….
Sebenarnya Tonilah yang lebih berhak untuk Jovita. Aku yang memohon pada Toni selama ini untuk tidak mengatakannya”
“Berhak apa maksudnya Bi?” Wajah mereka sangat menegang.
“AH ….” wanita paruh baya itu menghela napas panjang, ia menyimpan rahasia itu dari mereka semua.
“Toni dan Hara itu sebenarnya sudah dijodohkan sama orang tua mereka sejak kecil,” ucap Bu atin.
“APAAA ….!?”
Mereka ber empat bereaksi kaget.
“Apa maksudnya, Bi?”
“Mama Nona Hara dan mama Toni bersahabat dari kecil, saat mereka di panti asuhan dan menjodohkan keduanya. Toni sudah memperlihatkan Liontin pemberian ibunya padaku dan Liontin yang sama juga katanya ada sama keluarga Hara”
Rikko sama Zidan saling melihat.
“Apa itu liontin yang diberikan Piter?” bisik Rikko.
“Mungkin.” Wajah Zidan menegang.
“Lalu apa Nona Hara tahu?”
“Belum, aku memohon pada Toni untuk tidak memberitahukannya, karena itulah aku meminta Leon bekerja keras untuk mendapatkan Hara”
“Apa Bos sudah tahu tentang mereka, Bi?”
“Sepertinya belum. Kalau Toni memberitahukan pada Nona Hara kalau mereka sudah dijodohkan dari kecil, tanpa ragu Hara akan meninggalkan Leon”
Mereka semua terkejut.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI., SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.
LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing