Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Setelah pertarungan antar suku terjadi, Leon baru dapat kabar kalau ayah Bunox ikut tewas dalam pertempuran tersebut, Tetapi sayang Bunox  selamat. Setelah pertempuran itu, tetua adat berterimakasih pada Leon karena memberikan mereka kemenangan.


“Hati-hatilah Naga saat kamu tiba di Jakarta, aku takut anak  penghianat itu mash mengincarmu dan istrimu,” ujar tetua.


“Baiklah.” Leon megan


Leon  akhirnya  diterbangkan  ke Jakarta, selama tiga hari perawatan di rumah sakit, selama di rumah sakit Hara beberapa kali menghubungi  ia tidak mengangkat, karena ia belum siap untuk menjelaskan.


Ia  berangkat malam dari rumah sakit dan saat tiba di rumah,   Hara sudah tidur, karena Leon  datang juga tidak mengabari Hara, hanya memberitahu Bu Atin kalau ia akan pulang.  Hal yang membuatnya semangat untuk pulang tak lain adalah istrinya.


“Aku berharap Hara tidak marah padaku, karena aku meninggalkannya malam itu”


Leon berjalan semangat menuju kamar pribadinya, ia berpikir kalau Hara menempati kamar yang  ia di sediakan itu,  Leon juga berharap ia mendapatkan Hara sedang tidur mengenakan pakaian tidur yang tipis.


Tetapi  saat  membuka pintu kamar Leon kecewa, karena hanya ada bantal guling di ranjangnya yang akan menemaninya tidur malam ini.


“Apa dia masih marah aku tidak memberitahunya?”


Leon a berdiri  di balkon kamarnya,  matanya menatap keramaian jalanan Ibu kota,  ia belum bisa banyak bergerak karena luka di pinggangnya masih  belum sembuh total.


Sementara Hara tidur di kamar bu Atin, la tertidur pulas, Bu atin ingin membangunkannya memberitahu kalau Leon sudah datang,  agar Hara pindah ke  kamar Leon, ia merasa kasihan pada Leon saat datang  berharap menemukan istrinya  dalam kamar, tapi ia kecewa karena Hara tidak mau naik ke kamar Leon, walau sudah di suruh bu Atin dari malam sebelumnya,  alasannya ia takut tidur sendirian.


Bu Atin datang membawakan segelas susu panas untuk Leon, ia tahu kalau Leon  pasti lagi berdiri memandang jalanan,


Itu sudah kebiasaanya kalau ia banyak beban pikiran, ia akan  berdiri di sana,  kadang menghabiskan sebungkus rokok,  baru ia masuk lagi ke kamarnya.


 Tok … tok ….


“Ibu boleh masuk, Nak?”


“Masuk saja Bu,” sahut Leon dari balkon mematikan benda berasap itu  menginjaknya dengan sandal, ia tahu Bu Atin akan mengomel saat melihatnya terlalu banyak merokok.


“Ibu tahu.  Kamu pasti belum tidur, apa belum mengantuk?  apa ada yang menganggu pikiranmu?” tanya Bu Atin  meletakkan susuk coklat panas dia atas meja.


“Tidak Bu hanya belum mengantuk saja,  apa Hara sudah tidur?”

__ADS_1


“Iya ia tidur sangat pulas  jadi tidak  tega menganggu.”


“Iya Bu biarkan saja, besok saja”


“Bagaimana degan lukamu, ini minum agar tubuhmu hangat.” Bi atin duduk di kursi  ikut menatap kearah jalanan, Dalam hatinya ia sangat bersyukur Leon bisa selamat,  ia baru tahu  semua hal buruk yang di alami Leon dari Haris, ia berpikir tadinya hanya perang biasa.


 Ia tidak tahu kalau Leon sampai menyerang sampai ke   markas musuh dan sampai menghabisi kepala suku musuh mereka,  Mendengar kepala suku musuhnya, hal itu mengingatkan Bu Atin pada suami dan Putranya yang di habisi kepala  suku itu, sudah sangat lama ia ingin mendengar kabar kematian  orang yang menghabisi keluarganya.


Mendengar  ia di lenyapkan apa rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, dendamnya selama puluhan tahun akhirnya terbayarkan.


“Ibu mikirin apa?” tanya Leon melihat kearah Bu atin.


“Ibu senang saat mendengar lelaki itu sudah musnah, aku berharap arwah suamiku dan anakku  tenang dan matipun aku sudah  merasa tenang,” ucap Bu atin matanya berkaca-kaca.


“Maaf Bu, karena baru melakukanya”


“Tidak Nak, ibu berterimakasih bukan karena semata kamu membalaskannya,  tapi ibu berterimakasih pada semua arwah leluhur  karena kamu selamat dan hidup, aku tidak tahu seberapa penderitaan yang kamu hadapi, tapi ibu tahu,  kamu pasti sangat kesakitan, Terimakasih Nak karena kamu masih selamat,” ucap Bu  Atin mengusap-usap punggung tangan leon dengan lembut.


“Aku tidak apa-apa Bu, tapi Hara  marah karena aku meninggalkannya di hotel  malam itu”


“Hal yang wajar Nak dia marah,  karena kamu meninggalkan  malam itu,” ujar Bu Atin membela sang menantu


Hara sudah duduk di meja makan ia membantu menyiapkan menu serapan, ia belum tahu kalau Leon sudah datang  ke rumah saat itu.


“Menu serapannya banyak Bu’kan hanya kita berdua,” ucap Hara menjatuhkan panggulnya setelah menu makan tertata rapi di atas meja  makan,


“Serapan sepesial hari ini,” ucap Bu Atin tersenyum  ia juga duduk di samping Hara.


Saat mereka berdua duduk,  Leon turun dan duduk di depan Hara, tentu saja ia melotot bingung, raut wajah yang ceria tadi, tiba-tiba kusut seperti benang.


“Bapak ini yang akan menemani kita serapan, Hara,” ucap bu Atin tangannya menunjuk Leon.


“Kita serapan dulu saja nanti baru aku jelaskan” ucap leon dengan mencoba memberi senyum, walau sangat tipis dan terlihat samar, tapi setidaknya terlihat jelas di wajahnya ia  bahagia ketika  bisa melihat Hara lagi seperti  saat itu, walau wanita itu terbalut kemarahan dan terlihat sangat kesal padanya.


‘Hara lucu kalau mengambek’ Leon hanya diam.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu,  mari kita serapan” Hara terlihat sangat jutek, wajahnya yang  biasanya selalu tersenyum dan ceria kali ini tidak ada senyum sedikitpun karena marah pada sang suami.


Ia  makan dengan sikap buru - buru itu cara Hara menunjukkan Pada sang suami kalau ia marah, marah karen Leon tidak meneleponnya dan tidak mengangkat teleponnya, Leon dan bu Atin hanya saling menatap melihat Hara yang makan dengan buru-buru.


“Uhuk, uhuk” Hara tersendak karena sikap makanya yang  buru-buru.


Leon dengan sikap tenang dan sabar menyodorkan gelas  minum untuknya.


“Makanlah dengan pelan-pelan Nak Hara,” ucap bu Atin mengusap pundak Hara.


“Baik Bu, saya sudah kenyang, meninggalkan meja  makan dan Hara duduk di  teras”


Kedua ibu dan anak itu hanya bisa diam  melihat sikap marah Hara. “Tidak apa-apa  biarkan saja dulu,” ucap Bu Atin sudah paham sikap keduanya.


Ia sangat menjengkelkan kalau sudah marah, tapi sangat manis kalau tersenyum  gumam Leon melihat  punggung Hara  yang meninggalkan mereka berdua.


"Marahnya ala pengantin baru, harus bisa dipahami, Nak," ucap Bu Atin tersenyum kecil ia melirik Leon yang sibuk dengan makanan di depannya.


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2