
Anak buah Leon terpaksa merelakan Jovita disandera, Leon meminta tidak melakukan apa-apa, karena bukan hanya pisau yang diarahkan ke leher Jovita di tubuh keduanya dipasang bom waktu juga.
Jika mereka menembak bom dalam tubuhnya, akan meledak. Jadi tidak ada pilihan selain membiarkannya pergi.
Mereka semua hanya bisa menatap dengan diam, wajah Jovita terlihat sangat pucat.
‘Jangan takut, saya akan datang menyelamatkanmu, tetapi untuk saat ini, saya akan membiarkan kamu dibawa’ ucap Leon dalam hati, ia menatap wajah Jovita yang terlihat pasrah.a
Seandainya penjahat itu tidak memasang bom di tubuhnya mereka. Leon sudah menembak kepalanya sampai hancur. Namun, ia menurunkan pistol saat penjahat itu mengancam akan meledakkan dirinya bersama Jovita, Leon mengalah, ia tidak mau mengambil resiko yang disesali nantinya.
Mobil Rikko yang dipakai penjahat itu meninggalkan rumah Leon, kedua penjahat itu orang yang sangat nekat.
“Bos mereka tahu kalau di mobil, ada gps maka saat ini, mobil itu, dibawa berpencar, mobil Rikko mengarah Tanjung Priuk sementara Jovita dipindahkan dan dibawa entah kemana.
Saat penjahat itu berpikir pintar, tetapi Leon lebih berpikir Cerdas lagi, ia tidak mengikuti mobil Zidan sebaliknya, Leon meminta Kinan memeriksa cctv di arah perempatan di mana mobil berhenti.
Salah seorang anak buahnya mengikuti mobil Rikko akhirnya menemukannya dan memaksa membuka mulut. Tetapi mereka kehilangan jejak dari Jovita. Leon terlihat sangat tenang, ia tidak menunjukkan kepanikannya Pada anak buahnya, walau mereka semua tahu kalau Leon takut.
Kinan akhirnya mendapatkan titik lokasi.
Jovita di bawa ke ke arah puncak, ke hadapan Gondrong lelaki yang di minta membunuhnya. Di bawa ke sebuah Villa di arah puncak Bogor.
“Kamu yakin Naga tidak mengikuti?”
“Iya yakin Bos mereka mengikuti mobil berwarna putih itu ke arah Tanjung Priuk”
“Bagus.” Lelaki berambut panjang itu menatap Jovita dengan begitu dalam. “Wanita yang sangat cantik … aku yakin Leon akan melakukan apapun untuknya”
“Bos, bukakan kah kita diperintahkan untuk melenyapkannya. Kenapa meminta kita membawa ke sini?” Tanya lelaki yang menyandera Jovita.
“Sayang sekali. Kalau kita langsung melenyapkannya, aku punya rencana besar untuk ini. Berikan teleponnya”
Lelaki berambut gondrong itu menelepon Leon.
"Halo Bos Naga, wanita ini aman bersamaku”
“Lalu?” Leon menjawab dengan tenang.
“Saya punya tawaran untuk kamu Bos”
“Apa itu?”
“Wanita ini sangat cantik, aku yakin dia berarti. Saya butuh bantuan bos sedikit ni, barang saya di incar pihak BNN jadi tidak bisa keluar. Saya ingin Bos membawa barang itu ke sini dan saya akan memberikan wanita cantik ini”
“Ok. Baik katakan”
Leon diminta melakukan pekerjaan yang sangat berat yang bisa menghancurkan bisnisnya, jika ia melakukan itu maka bisnis Leon ke depannya akan mendapat masalah besar.
Kini, ia dalam dua pilihan pilih menyelamatkan nyawa Jovita, tetapi bisnisnya akan mendapat masalah , seperti yang diketahui Leon tidak pernah terlibat dalam bisnis narkoba.
Jika ia sampai berurusan ke bagian BNN bisa dipastikan resikonya berat, semua usaha hiburan malam miliknya akan ikut selidiki dan akan ditutup.
“Bos saat ini kita dalam posisi pengawasan, karena masalah barang kiriman yang saat itu. Akan semakin bertambah besar jika kita terlibat.” Iwan memberi pendapat.
“Tapi aku tidak ingin Jovita terluka.” Rikko menimpali.
“Kita dalam posisi sulit dan keputusannya ada di tangan Bos apakah Bos memilih menyelamatkan Non Hara dan sebagai gantinya kita akan dapat masalah.” Toni memberi pendapat juga.
Pilihan kedua; Bos membiarkan Jovita dan kita aman,” ujar Iwan.
__ADS_1
“Tetapi jika disuruh memilih saya akan menyelamatkan Non Hara,” ucapnya lagi.
“Kita akan menyelamatkannya,” ujar Leon.
Wajah anak buahnya semua menegang.
Kini mereka punya misi berbahaya yakni membawa barang yang saat ini diincar pihak Badan Narkotika Nasional. Leon mengambil resiko besar saat memindahkan barang haram itu, Leon sampai menggunakan helikopter miliknya
Rikko dan Iwan, Toni terbang untuk melakukan misi mengangkut barang. Leon mengerahkan semua anak buah terbaiknya untuk menyelematkan Jovita. Hingga barang itu bisa mereka bawa.
*
Setelah perjuangan keras dan bertarung nyawa barang setan akhirnya mereka dapatkan, membawanya melalui helikopter, padahal polisi dan BNN sudah berjaga di Jalan untuk melakukan penyergapan setelah mendapat informasi.
“Bos, kami mendapatkan barangnya.” Rikko memberi kabar.
“Bawa ke rumah”
“Bos, kok ke rumah?” Iwan panik, ia berpikir Leon berubah pikiran memilih tidak menyelamatkan Jovita.
“Bawa saja dan kalian kembali ke rumah berikan barangnya ke supir"
Leon menelepon pihak bagian BNN melakukan negosiasi.
Saat tengah malam, Leon memberitahukan kalau barangnya, di dapatkan.
“Oh, kamu sangat luar biasa Naga”
“Jika sehelai rambut wanita itu sampai jatuh, ingatlah sampai ke liang kuburan pun, saya akan mengejarnya mu”
“Tenang Bos Naga, saya tidak akan macam-macam, tetapi saya ingin kamu yang membawa barangnya ke sini dan menjemput wanita ini. Tanpa pengawal, tanpa senjata,” ucap lelaki itu.
“Baiklah.” Leon selalu bersikap sangat tenang.
“Jangan khawatir.”
Semua anak buahnya sangat khawatir saat Leon diminta datang tanpa pengawal.
“Bos bagaimana kalau saya ikut masuk.” Rikko menawarkan diri.
“Lelaki itu tidak mau, biarkan saya masuk sendiri”
*
Saat tengah malam seperti permintaan penjahat itu, Leon setuju, ia akan datang sendiri membawa barang itu di temanin seorang supir.
“Naga masuk dalam jebakan ku, untuk pertama kalinya dia mau bernegosiasi. Selama ini di ancam dengan apapun dia tidak pernah membahayakan bisnisnya. Tetap kali ini demi seorang gadis muda sepertimu, dia mau melakukannya.”
“Ummm ….” Jovita berontak mulutnya di tutup dengan lakban lagi dan di tubuhnya di pasang sebuah peledak.
“Setelah aku mendapatkan barang ku. BUARR! Kalian berdua meledak, tentu saja kamu akan menyebabkan kematiannya, sayang sih jika kamu harus mati, kamu itu sangat cantik. Tetapi orang tua itu memintaku melakukannya”
“Ummm.” Jovita berontak.
“Apa kamu bertanya tentang siapa orang jahat yang menginginkan kematian mu?”
Jovita mengangguk dengan mata berkaca-kaca, karena ia memang penasaran siapa pelakunya.
“Baiklah toh juga kamu akan mati , dia orang kuat.”
“Ummm.” Jovita belum puas hanya dengan jawaban itu.
“Kamu belum tahu juga?”
__ADS_1
Ia mengangguk.
“Aku tidak tahu kenapa dia ingin melenyapkan kamu dan keluargamu, ayahmu mengenalnya dengan baik.” Jovita semakin berontak saat lelaki berambut gondong itu menyebut kalau orang yang membunuhnya keluarganya di kenal ayahnya. “Jadi, jika nanti kamu mati bukan salahku. Aku hanya di suruh. Tetapi aku ingin membuat satu permainan yang menarik untukmu dan Leon.” Ia menuangkan alkohol dalam gelas dan mencampur sesuatu ke dalamnya.
Lalu ia membuka lakban yang menutup mulut Jovita.
“Minumlah aku yakin Naga akan senang.”
“Aku tidak mau, Leon bukan orang bodoh seperti yang kamu pikirkan,"ucap Jovita.
“Aku tahu, tetapi terkadang cinta itu bisa membuat orang kehilangan akal sehat”
“Kamu salah. Dia tidak pernah mencintaiku dia melindungi ku karena dia kasihan dan dia hanya ingin menepati janji pada seseorang,” ucap Jovita ia yakin dengan kata- katanya.
“Oh, kalau begitu mari kita buat dia jatuh cinta denganmu, sekarang minum ini.” Ia memaksa Jovita minum, ia menolak.
*
“Turunkan tanganmu keparat!” Leon tiba-tiba muncul di belakang ia datang naik helikopter dan turun agak jauh dari villa.
Lelaki gondrong itu kaget karena Leon datang begitu cepat. Dalam pikirannya. Leon akan tiba di Villa itu dua jam atau satu jam lagi. Ia meletakkan gelas itu di atas nakas.
"Oh Naga ...."
“Saya benci orang tidak menepati janji, kamu sudah berjanji padaku tidak menyentuh wanitaku, berani-beraninya kamu menyentuhnya dengan tangan busuk mu keparat.”
Paaak … puuk … Puaaak
Satu tinju keras bertubi-tubi mendarat di wajah penjahat gondrong tersenut. Ia belum sempat membela diri dan menjelaskan Leon keburu kalap.
Leon kembali memutar badannya dan memberinya tendangan hook.
Buaaak …
“Akkk ….”
Tendangan kuat mengenai bagian dadanya membuat lelaki itu mundur terhuyung beberapa langkah ke belakang memegang bagian dada.
“Biar saya yang menghabiskan! Tidak bagus wanita kamu paksa minum.” Leon meraih gelas itu dan meminumnya
“JA-JANGAN!” Teriak Jovita panik matanya melotot menatap Leon saat lelaki itu menegaknya isi gelasnya sampai habis.
“Oh. My god. Bagaimana ini?”Tanya Jovita dengan mulut menganga
Leon meminum obat perangsang yang dicampur kedalam alkohol yang tadinya di berikan lelaki jahat itu untuk Jovita.
Bersambung ....
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1