
Manusia bisa berubah karena keadaan, hal ibu benar. Zidan dari dulu punya prinsip hidup, tidak mau tidur dengan sembarangan wanita. Namun, karena dendam pada Bokoy.
Zidan melanggarnya, ia tidur dengan dua wanita sekaligus milik sang Ketua, semua itu ia lakukan karena begitulah ketua memperlakukan kedua wanita itu Bokoy punya gaya ranjang yang aneh- aneh, Zidan tidur di kamar pribadi Bokoy bersama wanitanya dan di rekam juga.
Leon berpikir lelaki tua itu akan mengalami serangan darah tinggi, karena kedua wanita peliharaan dan kepercayaan Bokoy berkhianat.
Kedua wanita itu
mengetahui brangkas penyimpanan harta berharga ketua. Setelah di beri kepuasan di ranjang dan melihat wajah tampan Zidan, kedua wanita itu langsung memberikan kunci brankas ke Zidan berupa password.
Lelaki tampan itu akhirnya mendapatkan harta berharga milik Bokoy, sertifikat Hotel dan sertifikat property lainya Zidan memberikan pada Leon,. Tiba hotel Leon menatap semua surat-surat berharga itu, ia tidak tahu harus dibuat intuk apa karena Leon juga tidak kekurangan harta ataupun uang, semua ini bukan tentang uang, melainkan urusan luka hati.
Tadinya Zidan tidak ada niat mau mengambil barang-barang itu, hanya kedua wanita Bokoy, memberikan password brankasnya, ia penasaran dan timbul niat mengangkut surat-surat berharga milik lelaki tua itu.
'Tidak apa- apa mungkin suatu saat berguna untuk Bos' Batin Zidan saat itu dan ia merampok Bokoy sekalian.
Leon meminta menyimpan berkas-berkas berharga milik Bokoy di bank milik Zidan.
" Baik Bos, kita akan buat lelaki bangkotan itu pusing," ujar Ken bersemangat.
Leon , Ken, Zidan masih di Bali, kini ia memikirkan cara bagaimana caranya ia bisa menginap di Hotel yang sama dengan Ketua, tanpa terlihat sama anak buah Bokoy yang menjaga lelaki tua itu, dengan sangat ketat.
Zidan ingin menyewa kamar, tetapi di tolak sama petugas, satu bangunan hotel milik Bokoy malam itu, tidak disewakan untuk orang lain, hanya Bokoy dan anak buahnya yang menguasai hotel bintang itu saat itu
" Kamu ketakutan keparat? Aku semakin semangat ingin membunuhmu," ujar Zidan geram.
"Aku akan masuk melalui limbah pembuangan hotel," ujar Ken nekat, ia terinspirasi seperti pelarian yang di lakukan Hara dari rumah Leon.
"Biarkan saya saja," ujar Leon.
"Bos ....?"
Mereka berdua kaget.
" Bos, limbah pembuangan hotel sangat kotor, bahkan lebih kotor dari limbah rumah tangga," ujar Ken.
" Saya tahu, Jika Hara bisa melakukannya dulu, kenapa saya tidak," ujar Leon raut wajahnya semakin dingin dan wajahnya terlihat lebih tua, kantong mata itu memperlihatkan kalau lelaki itu tidak bisa tidur setelah kepergian Hara dan Iwan dan Rikko.
" Kita masuk bertiga saja." Zidan berjalan duluan dan mereka sepakat.
Zidan berhasil masuk dan mengambil tiga seragam dan menyamar sebagai petugas hotel.
"Bos, dari arah depan ada dua orang mundur dan masuk ke kamar mandi saja," ujar Ken di ujung komunikasi.
"Baik."
Mereka bertiga berpencar.
Akhirnya Leon , berada dalam satu kamar yang bersebelahan dengan kamar Bokoy.
__ADS_1
Leon mengepal tangannya dan menyadarkan tubuhnya di dinding kamar itu, mengingat lelaki tua itu, bayangan semua orang –orang terdekatnya melintas di ingatannya.
" Kendalikan dirimu Bos," ujar Ken ia tahu kemarahan Leon yang hampir tak terkendalikan.
Bisa saja ia menembus kepala lelaki tua itu dengan senjata panjang bidik dan dihancurkan dari kamarnya, tetapi ia berpikir ulang lagi, kematian itu terlalu mudah untuk lelaki itu tua itu, ia butuh lebih dari itu.
**
Setelah mempersiapkan diri Leon memutuskan melakukanya malam itu
Seorang petugas datang mendorong troli makanan ke kamar Kanza, kamar di sebelah kamar Bokoy, Leon berpura- pura bertanya pada petugas Hotel, tetapi tangannya degan sigap memasukkan obat tidur kedalam dalam minuman para penjaga Bokoy.
Saat itulah, mereka semua tertidur pulas dan mengabaikan tugasnya menjaga bos besar, Kini, Ken, Zidan Leon akhirnya bisa menguasai hotel setelah mereka semua diberi obat tidur.
Leon masuk ke kamar Kanza terlebih dahulu, menatap Kanza dengan tajam, emosinya memuncak saat melihat lelaki penghianat itu. Saat ini, ia terkapar karena obat tidur yang di berikan Leon padanya, bisa saja ia melenyapkan saat ini, tapi ia bukan tipe pria yang seperti itu, ia tidak akan mau melenyapkan musuhnya pada saat tidur maupun pada saat pingsan, berbanding balik dengan Bokoy yang sering kali menghabisi musuh-musuhnya pada saat tertidur pulas.
Ken mengamankan cctv terlebih dahulu, setelah ia rasa aman, barulah Kanza ia seret ke kamarnya, ia ikat dalam satu kursi ia kembali dalam ke kamar anak buah Bokoy.
Ken mengikat dan menutup mulut delapan orang yang pengawal Bokoy
Leon menunggu kira-kira 10 menit, baru ia menyiram dengan air dingin, lelaki itu terbangun dengan mulut di tutup pakai lakban.
Saat membuka mata melihat Leon berdiri di depannya, ia berontak ketakutan, Leon duduk dengan tenang di sisi tempat tidurnya. Pisau kecil yang selalu menemaninya ia mainkan di tangannya.
Ia membuka lakban yang menyumpal mulut Kanza.
“Iya, saya sudah mati bangun lagi dari liang kubur, ingin melenyapkanmu,” ucap Leon dengan marah.
“Maaf bos, saya terpaksa”
“Iya lu terpaksa, karena dikasih satu mobil, di kasih rumah dikasih tanah buat keluarga lu di kampung, akan ku pastikan semua itu, akan lenyap, bahkan keluarga lu juga gue lenyapkan” Ungkap Leon dengan kemarahan
“Bos… Lelaki tua itu menekanku”
Leon tidak banyak bicara, sudah terlambat untuk memberikan alasan, tangannya menutup mulutnya kembali, satu hujaman di dadanya
“Ini untuk Iwan”
Buuuk ....
Satu hujaman di bagian perut seperti yang di rasakan Rikko “Ini untuk Rikko”
Terlihat linangan airmata dari sudut mata lelaki itu, darah menetes dari kursi di mana lelaki berkulit hitam itu duduk, dalam kesakitan.
“Saya sudah bilang sama kamu, saya sangat benci penghianatan dan saya akan memburu orang mengkhianati , kamu tahu, akan ku pastikan keluargamu menerima mayatmu dan aku akan mengambil apa yang kamu berikan pada mereka, kamu mendapatkan itu mengunakan darah orang yang aku sayangi," ujar Leon.
Mata Kanza seakan - akan memohon, supaya jangan menyakiti keluarganya, matanya tidak berhenti menangis.
Leon membuka penutup mulutnya kembali membiarkan lelaki itu mengucapkan kata perpisahan.
__ADS_1
“Apa kamu mau katakan sesuatu?" tanya Leon memberinya waktu.
“Maafkan aku Bos,” hanya ucapan itu yang diucapkan Kanza
“Tidak, tidak ada maaf pada penghianat sepertimu, pergilah ke neraka, Leon mengarahkan tangannya lagi kedadanya menembus rongga dadanya hingga ke ulu hatinya, lelaki itu tidak banyak bicara hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, hingga ia menutup mata, mungkin tahu ia salah, tapi ketamakan telah menutup matanya, ia mengkhianati Leon yang sudah menolongnya dan mempekerjakannya.
Zidan dan Ken yang mendengar hal itu, hanya bisa mengepal tangan.
Leon mencuci tangannya dan membersihkan dirinya, kembali duduk di sisi ranjang menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asapnya ke udara di depannya Kanza masih duduk di kursi dalam keadaan tidak bernyawa, Leon menghujamkan pada tempat yang mematikan .
Darah mengenang di lantai, ia melirik jam sudah jam dua pagi. Ken membungkus tubuh Kanza dengan seprai dan membersihkan genangan berwarna merah dan menutupinya dengan sofa. Zidan masuk kekamar anak buah Bokoy yang tadi ia ikat. Sama dengan Kanza ia menguyur kedelapan orang itu untuk membangunkan agar mereka menyaksikan sendiri kematiannya.
Mereka terbangun, menatap Leon ,Zidan dengan panik, melihat Leon berdiri di depan mereka, tidak perlu banyak bicara setelah ia pastikan semuanya terbangun dengan benda kecil di arahkan moncongnya ke kepala masing-masing.
Dor ...Dor ...!
Dorrr!
Leon sudah memberi peredam suara di pistol miliknya jadi, tidak mengeluarkan suara, suara tembakan kecil jadi tidak mengundang kecurigaan. Leon melakukanya degan cepat hanya dalam hitungan menit mereka semua sudah mati, Leon menembak tepat di kepala mereka semua, tidak ada satupun yang selamat.
Leon berubah kembali, seperti Leon yang dulu, lelaki kejam berdarah dingin, tak punya perasaan ia melakukan sendiri, Ken dan Zidan hanya bisa diam melihat Leon.
Mereka semua di tumbangkan, kini giliran Bokoy selanjutnya. Setelah membungkus tubuh Kanza dalam spray, Ken meletakkan di kolong tempat tidur menunggu Bos memberi perintah selanjutnya. Leon dari pagi belum mengisi perutnya ia ingin makan lalu menelepon hotel.
Mengangkat gagang telepon Hotel dan menekan nomornya.
“Iya pak, apa yang bisa kami bantu?”
“Saya ingin makan di kamar, tolong bawakan ke kamar, saya pesan steak sapi dan minumnya anggur” pesan Leon melalui sambungan telepon.
“Baik pak” sahut petugas Hotel
Tidak lama kemudian.
Petugas Hotel mendorong troli makanan pesanan Leon, ia bersikap biasa saja, seakan tidak ada yang terjadi.
Leon menerimanya pesanannya.
“Silahkan dinikmati,pak,” ujar wanita petugas Hotel dengan ramah, ia berpikir Leon anak buah Bokoy.
“Baik"
Leon makan dengan tenang, tubuh tidak bernyawa itu terbungkus kain seprai di bawah tempat tidur.
Zidan dan Ken hanya bisa diam melihat sang bos yang kembali seperti monster.
'Aku berharap ada keajaiban untukmu Bos' Zidan membatin mereka berdua mengerti luka hati yang dialami Leon.
Bersambung.
__ADS_1