
Hara akan menepati janjinya pada Leon, setelah menjelajahi beberapa Kastil di negara Norwegia mereka akan pulang Ke Jakarta.
Hampir semua tempat mereka jelajahi, sebenarnya Hara masih betah di negara indah tersebut. Namun Leon tidak kuat dinginnya udara di kota tersebut. Hara juga tidak memaksakan.
Selama bulan mereka Leon terlihat berbeda ia sering memamerkan senyuman pada istrinya.
Hari itu Hara kembali membuat persiapan untuk wisata selanjutnya, untungnya castel-castel yang akan di kunjungi Hara berada di kota Oslo. Seperti castil Gamlehaugen, Fredriksten Fotres, Bergenhus, Oscarshall
Semua ada di Ibukota Norwegia di mana Leon dan Hara menginap jadi mereka tidak membutuhkan banyak waktu untuk menjelajahi castil-castil tersebut.
“Kalau kamu tidak kuat tinggal di hotel saja,” ujar Hara menatap wajah Leon.
“Tidak, gak apa-apa, tapi habis menjelajahi semua itu kita pulang iya?” ujar Leon.
“Ok siap Bos,” ujar Hara membantu Leon memakai sarung tangan.
“Kamu tidak merasa dingin Hara? Kamu pakai satu jaket saja?”
“Satu jaket sudah cukup. Ayo.” Hara menggenggam telapak tangan Leon. Tidak ingin nyasar , seperti yang merela alami beberapa hari lalu.
Tetapi kali ini Leon menyewa seorang tourguide untuk membawa mereka ke tempat yang diinginkan Hara.
“Kemana dulu?” Tanya Leon saat Hara memegang satu lembar gambar
"Ini kita mau ke museum. Castil dan museum suku Viking dulu” Hara menunjuk gambar.
“Ada yang membuatmu menarik dari castil-castil dan bangsa Viking,” ujar Leon karena Hara terlihat sangat antusias, ia bahkan membawa beberapa catatan daftar tempat wisata yang mereka kunjungi selama liburan.
“Aku suka dengan cerita dongeng, legenda dan tentang kerajaan,” ujar Hara.
Leon tidak tahu apa-apa tentang negara tersebut, ia hanya mengikuti kemauan istrinya dan ia ikut menikmati setiap keindahan tempat yang mereka kunjungi, antusias Hara dalam setiap melakukan perjalanan mendapat pujian dari ketiga lelaki tersebut, karena Hara tidak ada manja selama mereka melakukan perjalanan dan Hara tidak mengeluh lelah saat mereka melakukan banyak perjalan.
Baik kali ini, untuk mencapai sebuah castel mereka akan menaiki sebuah bukit batu kapur di pinggir danau.
“Sayang, kamu yakin bisa, itu mendaki loh jalannya,” ucap Leon.
“Tidak apa-apa kuat,” balas Hara.
“Baiklah,” ujar Leon tetapi matanya selalu melihat Hara, ia tahu Hara lelah karena tadi pagi saat ia bangun, melihat kaki istrinya biru-biru karena terlalu banyak berjalan. Selama satu minggu di Norwegia mereka terus menjelajahi banyak wisata alam wajar Hara capek.
Saat mereka duduk istirahat Leon mendekat.
“Sini kakinya,” ujar Leon.
“Untuk apa?”
__ADS_1
“Aku tahu kakimu sakit. Jangan di tahan- tahan Hara, kalau sakit ngomong,” ujar Leon mengoleskan minyak gosok ke kaki istrinya.
“Kalau aku mengeluh yang ada kamu tidak mau aku ajak jalan lagi, jadi lebih baik di tahan. Habis ini kita pulang,” ujar Hara tersenyum manis.
“Aku salut sama Non Hara, baru kali bertemu wanita sekuat Non ... bisa kuat jalan seperti tanpa mengeluh,” ujar Bram memuji.
“Dia sok kuat Bram,” timpal Leon.
Hara tertawa …. mereka tidak tahu tiap malam Leon diminta mengurut betis kakinya yang pegal, setelah selesai diurut baru ia mau memberikan jatah untuk suaminya.
“Tiap pulang jalan, aku jadi tukang urutnya dia,” ujar Leon.
“Tapi sehabis itu kamu dikasih jatah Preman, kan,” ujar Hara tertawa lepas.
Mendengar jatah preman Ken dan Bram menahan tawa. Leon menggeleng ia berdiri membiarkan Hara yang masih tertawa.
Ini adalah perjalan terakhir mereka sebuah menara mercusuar di pinggir laut.
“Wah, apa ini syuting Aquaman? gambar lautnya sama,” ujar Bram takjub.
“Syuting Aquaman itu di italia sama Australia, kak,” balas Hara lagi.
“Sama gunung Sahara,” Leon ikut menimpali.
Ini perjalanan penutup kita ucapkan selamat tinggal untuk kota yang indah ini!” Teriak Hara.
Setelah berfoto di menara mereka berempat kembali ke hotel, Leon menelepon Bayu agar melakukan persiapan, mereka akan kembali ke Indonesia.
Saat tiba di hotel sebuah pesan masuk ke ponsel Hara dari Clara.
[Mbak, saya minta maaf saya izin pulang ke rumah]
“Ada apa dengan mereka, apa tidak cocok lagi?”
“Kenapa tanya Leon melirik nama si pengirim pesan.” Leon akan selalu melihat ponsel Hara setiap kali ada yang menelepon maupun mengirim pesan.
Awalnya Hara tidak suka dengan sikap posesif Leon, tetapi lama-lama Hara sudah terbiasa. Karena bagaimanapun kerasnya ia menasehati suaminya agar tidak terlalu cemburu berlebihan, tetap saja Leon akan melakukanya penyakit yang satu itu memang susah disembuhkan.
“Mbak Clara minta izin keluar dari rumah”
Leon hanya mengedikkan pundaknya, ia mau ikut campur hal percintaan Zidan dan Clara. Tetapi ia juga tidak melarang istrinya membantu.
“Ibu tidak ada donk temannya iya.” Hara menatap Leon.
“Tidak apa-apa, ibu sudah terbiasa ada banyak asisten rumah tangga di rumah,” ujar Leon, ia tidak ingin istrinya khawatir.
“Coba aku telepon apa mereka bertengkar.” Hara memasukkan kode negara dan menekan nomor Clara . berhubung karena cuaca di kota Oslo turun salju semakin lebat jadi sinyal tidak bagus.
__ADS_1
“Bagaimana?” Menyodorkan gelas berisi susu hangat untuk Hara.
“Tidak bisa.” Hara mendekatkan tubuhnya tungku perapian. Lalu ia bersin.
“Kenapa? apa kamu flu? aku sudah bilang tadi jangan terlalu lama di salju.” Leon mengoles minyak angin leher Hara.
“Tidak hanya sedikit.” Hara berdiri membereskan sebagian barang-barang mereka. Seperti tidak ada kata manja dalam. kamus hidupnya.
“Apa kamu sudah merasa puas datang ke sini?” Tanya Leon, ia ikut membereskan barang-barang bawaan mereka, ia tidak membiarkan istrinya melakukan sendiri.
“Puas bangat, terimakasih iya sayang, aku berharap suatu saat nanti saat aku punya anak kita ke sini,” ujar Hara.
“Baiklah lain kali kita akan datang lagi, duduklah dan habiskan susu hangat di tanganmu, biarkan aku yang membereskan koper-kopermya.”
“Baiklah.” Hara duduk melihat Leon membereskan barang-brang mereka.
Malam ini juga mereka akan terbang ke Jakarta.
Sementara di belahan dunia lain tepatnya di Jakarta, Indonesia.
Hubungan Zidan dan Clara tidak berjalan mulus, saat Clara meminta berpisah pada tunangannya. Ternyata dr. Reza tidak terima diputuskan olah Clara, ia sampai meminta keluarganya menemui keluarga Clara di Bandung. Permasalahan mu semakin kelut karena menyangkut dua keluarga besar.
Padahal hubungan Zidan dan Clara saat tinggal di rumah Leon sudah mulai dekat. Zidan sudah berani menyosor bibir Clara saat mereka duduk berduaan di taman samping. Tetapi baru juga bubungan mereka sedikit manis. Keluarga Clara memintanya pulang ke Bandung, untuk membicarakan status hubungannya dengan dr. Reza.
Disinilah Zidan diuji, apakah ia bisa seperti Leon? Berjuang mati-matian untuk mempertahankan wanita yang ia cintai?
Tunjukan pesona mu Zidan.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)