Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hubungan yang tidak jelas


__ADS_3

Saat keluar dari restauran, Leon  kembali memasang wajah dingin



“Apa lagi sih yang membuatnya marah.” Jovita berjalan mengikuti dari belakang.


Rikko  dan Ken yang  ikut mengawal mereka, hanya bisa  diam.


“Ayo Non Hara, kita pulang”


“Ada apa lagi dengan bosmu?”


Rikko hanya tertawa kecil.


“Ada apa Kak Rikko?”


“Dia baru menghajar lelaki di kamar mandi yang mencoba mengikutimu di kekamar mandi tadi .” Ken buka suara.


“Haaa …. emang ada?” Jovita Hara terkejut.


”Tadi ada, makanya, bos marah.”



Jovita berjalan cepat  menuju  parkiran, tiba dalam mobil, Leon hanya duduk dalam diam. Jovita tidak tahan lagi.


“Hentikan mobilnya Kak, aku merasa  sumpek dalam mobil,” ujar Jovita.


“Jalan,” pinta Leon.


“Berhenti,” ujar Jovita.


Rikko yang mengendarai mobil hanya bisa menghela napas panjang.


“Ada apa? Ada apa.Ha?” Leon  menatap  marah  dan keluar dari mobil.


“Kenapa Bapak marah padaku, apa Bapak akan selalu marah seperti ini? Saya tidak tahu bapak marah dalam rangka apa?"


“Apa kamu akan berpakaian seperti itu?”


“Tadi bapak dari rumah melihat saya berpakaian seperti ini, kan,  lalu kenapa tidak melarang?”


“Tadi. Kamu tidak …. sudahlah.” Leon menggantung kalimatnya.


“Lagian saya ingin memperjelas …. Bapak  itu marah dalam bentuk apa? Bos, saudara atau kekasih? Oh kekasih tidak … Bapak sudah bilang kalau saya tidaka bisa jadi kekasihmu. Lalu sekarang bapak marah sebagai apa?” Jovita mencercanya dengan pertanyaan.


“Lupakan saja”


Leon ingin berbalik badan menuju mobil, tetapi Jovita yang  merasa belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, ia memegang tangan Leon.


“Apa kamu akan selalu seperti ini? Selalu bungkam setiap kali saya bertanya? Dari sekian banyak abjad  dari A sampai Z tidak bisakah kamu merangkai kata, lalu membuat  satu kalimat?”


Mulut Leon seakan terkunci, ia tidak mau jawaban yang ia berikan  melukai hati Jovita.


“Tidak”


“Oh, baiklah kamu memang Bos. Pak Leon,  melakukan apapun  yang kamu mau.” ujar jovita melepaskan tangan Leon.


“Kita akan selalu seperti ini …. marah tanpa ada penjelasan. Hubungan yang tidak jelas. Menjengkelkan!" Ucap Jovita, kemudian dan masuk ke mobil.


Leon ikut masuk ke dalam mobil. Rikko dan Ken hanya bisa diam.


Jovita merasa sangat jenuh dengan hubungan yang tidak jelas seperti itu.

__ADS_1


Leon berpikir kalau Jovita adalah miliknya,tetapi saat ditanya, ia tidak memberikan jawaban yang bisa membuat hati seorang wanita yakin, ia seolah-olah membuatnya menjadi rumit.


‘Ini sangat  melelahkan untukku’ ujar Jovita menutup mata dan menyandarkan tubuhnya di jok.


‘ Tidak perlu harus menjelaskan  secara rinci hubungan kita padamu, kamu  saja yang tidak peka’ Leon bermonolog dalam hati.


Mereka berdua hanya diam dalam mobil, hingga mobil tiba di rumah di rumah.


“Terimakasih Kak Rikko, terimakasih Bang Ken dan terimakasih Bos atas makan malamnya,” ujar Jovita sebelum turun dari mobil.


“Sama-sama  Non,” jawab keduanya serempak.


Jovita  berjalan menuju kamar dan berganti pakaian dan duduk  di sofa di kamar.


“Marah-marah tidak jelas apa gunanya, kalau aku istrimu atau kekasihnya tidak masalah, ini hubungan apapun tidak ada. Tapi sudah  marah-marah tidak jelas seperti itu,  sampai kapan dia seperti itu padaku.” Ia menegak air minum untuk meredakan otaknya yang panas.


Saat sudah jam menunjukkan pukul 23:00 malam,  Jovita  ingin tidur, untuk pertama kalinya  baginya  takut tidur, setiap kali ia ingin tidur  bayangan mayat yang tergelatak di di dekatnya malam itu menghantuinya.


Ia membawa selimut dan duduk kembali di balkon.


“Kalau aku tidur sama Bu Atin, aku takut menganggu. Kalau aku minta tidur sama Leon … Ah dia pasti marah, dia  pasti menganggapku aneh lagi”


Maka setelah bergelut dengan pikirannya ia memutuskan duduk di balkon kembali.


Sementara di kamar sebelahnya,  tepat di kamar Leon, lelaki berbadan kekar itu, mulai gelisah, malam sudah jadi musuh berat untuknya. Belum lagi Jovita marah  padanya.


“Ap aku meminta Jovita tidur denganku? Ah tidak.” Leon keluar lagi ke balkon.


Tidak ia melihat Jovita yang menutup mata di balkon.


Leon mendekat dan duduk di sana juga.


“Apa kamu akan tidur di sini?”


Jovita terkaget dan membuka mata.


“Tidurlah denganku,” ujar Leon tanpa basa-basi.


“Apa?”


“Iya dari pada kamu tidur di sini ayo tidur bersamaku maksudku temani aku tidur”


“Bapak memintaku tidur di ranjang bapak,  setelah Salsa  diusir?”


“Jangan salah paham , saya tidak membutuhkan itu dari kamu, hanya  membutuhkan kamu untuk membuatku tidur”


“Baiklah.”


Mendengar Leon tidak menginginkan tubuhnya , ia setuju karena ia juga tidak bisa tidur.


“Kita tidur di kamarmu saja,” ujar Leon.


“Baik,” Jovita tidak membantah, karena ia juga sebenarnya  juga sudah sangat mengantuk.


Jovita tidak banyak bicara dan tidak mengatakan apa-apa, merebahkan tubuhnya dan menarik selimut lalu tidur . Leon hanya bisa diam melihat apa yang di lakukan Jovita.


Lelah dengan pikiran sendiri ia memilih  merebahkan  tubuhnya  ia melirik  wanita cantik itu dengan tatapan bersalah.



“Aku hanya ingin melindungimu,” ucap Leon masih  menatap waja Jovita yang tidur di sampingnya.


“Baiklah Pak Leon terimakasih. Selamat malam,” ucap Jovita tidak membuka mata tetapi tangannya di genggam oleh Leon.

__ADS_1


Mereka berdua tertidur sangat pulas, bahkan kesiangan.


                           *


Matahari sudah semakin beranjak naik, menjalankan tugasnya mengkawal cakrawala.


Jovita  bangun karena ia merasa sangat lapar.


“Oh, aku tidak biasanya lapar pagi-pagi. Oh tadi malam aku hanya makan sedikit di restauran. Ia ingin bangun ternyata, tangannya masih di pegang Leon dengan erat.


“Aku  lapar” Leon membuka mata


“Tunggu di sini, saya akan menyuruh bibi membawa serapan kesini"


“Saya ke dapur saja”


“Temenin saya serapan di sini," ujar Leon.


‘Ditolak pasti marah, jika aku serapan ber-samanya,  dia akan menganggapku hanya sebuah patung lalu apa yang akan aku lakukan?'


“Tidak bisa?” Leon menatap Jovita.


“Baiklah Pak Leon”


Leon menekan telepon di atas nakas.


“Bi, serapan saya, tolong  bawa kekamar iya”


“Baik Pak”


Meletakkan gagang telepon  keduanya kembali diam, Leon memainkan ponselnya dan Jovita berdiri masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya dan menatap pantulan kaca.


“Sabar Hara, sabar kamu wanita yang kuat dan sabar, jika  dia mendiamkanku, Diamkan saja dia balik, anggap saja manusia kutub utara itu, si ular naga itu hanya patung,” ucapnya menyemangati diri sendiri.


Tidak lama kemudian serapan datang dan sudah tersaji di balkon di tata rapi dengan berbagai menu yang menggugah selera.


Jovita keluar dari kamar mandi.


“Terimakasih Bi,”ucap


“Baik Nak selamat menikmati.” Bi atin tersenyum bahagia, ketika melihat Leon serapan dengan Jovita, wanita paruh baya itu  berpikir hubungan keduanya mengalami peningkatan, ia tidak tahu kalau hubungan Leon dan Jovita tidak ada kepastian. Jovita merasa kalau Leon hanya ingin melindunginya, sementara Leon kaku tidak tahu bagaimana cara mencintai wanita dan bagaimana bersikap romantis.


Bu Atin meninggalkan mereka berdua, Jovita  mencoba memahami sikap Leon, berpikir Leon lebih senang hening seperti kuburan Jovita melakukannya, walau itu sangat menyiksa untuknya,  karena ia tidak terbiasa dengan suasana sepi seperti itu.



Mereka berdua sama -sama diam hanya suara sendok  yang saling bergesekan dengan piring yang terdengar.


Siapa yang akan mengalah? Leon yang berubah demi Hara  atau Hara yang  mengikuti kebiasaan Leon? Hubungan dan situasi yang menjenuhkan untuk seorang Hara. Ia tidak tahu sampai kapan Leon bersikap seperti itu dan Hara juga tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan.


 Bersambung


jANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN AUTHORNYA000


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2