Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Cinta dan luka


__ADS_3

Setelah Okan putus dengan tunanganya ia berniat menjodohkan Okan dengan Naira.


“Kan … ibu mau minta tolong  bantu Naira untuk  memantau reovasi gedung itu, agar anak-anak panti bisa pindah secepatnya”


“Baik Bu,” ujar Okan.


Pagi itu ia menemui Naira di panti, ia bru tahu kalau Naira tinggal di panti setelah ibunya meninggal.


Ia menelepon Naira, meminta untuk keluar panti tempat tinggal Naira ada di pemukiman padat penduduk di daerah Jakarta Pusat sebuah  ruko kecil yang di sulap jadi panti asuhan.


“Ada apa Pak?” Tanya Naira, ia keluar menemui Okan.



Tetapi lelaki tampan itu menatap Naira  tanpa berkedip kali ini penampilanya sangat berbeda dari pertama mereka bertemu.


“Ibu memintaku menemanimu untuk memantau bagunan itu”


“Aku minta maaf, tadi malam saya sudah saya bilang sama ibu, tidak usah, saya bisa sendiri. Nanti saya akan pergi sendiri, tapi pagi ini saya  ingin bertemu dengan seorang Klien, bapak pulang saja, tidak perlu membantu, saya bisa mengerjakan sendiri”


“Baiklah.” Okan tanpa basah -basih bahkan tidak menawarkan untuk mengantar Naira. Padahal ia tahu kalau mobil wanita itu lagi di bengkel, antara keinginan dan rasa bersalah karena masa lalu, bercampur jadi satu.


Naira menghentikan taxi yang melintas dan  meninggalkan Okan yang masih menatapnya.


‘Kenapa sikapnya cuek bangat samaku apa dia masih marah?’


Ia melajukan mobilnya ke arah hotel, ternyata Naira mengadakan pertemuan sama kliennya di hotel Okan, tetapi, ia tidak mau  berangkat sama Okan, luka di hati Naira masih sangat membekas, setiap kali ia. melihat Okan, ia akan teringat bagaimana bagaimana ibunya meninggal, bagaimana ia memohon pada Okan saat itu agar mau bersaksi kalau ia tidak salah , agar ia tidak dikeluarkan dari sekolah paforitnya nya. Tetapi apa yang terjadi.


'Ah ... sudahlah Nai' ucap membatin, mengusap buliran air dalam matanya.


“Dia pertemuan di di sini tetapi tidak mau berangkat  bersamaku  … terserahlah,” ujar Okan


“Kan ….!” Panggil seseorang yang duduk dengan Naira.


Pertemuan yang dilakukan Naira, ternyata  dengan satu kelas mereka.


“Hei … Nando”


“Bro … lama tidak bertemu, sini duduk dulu,” ujar Nando.


Naira bersikap modoh amat, bahkan tidak perduli, ia sibuk  memeriksa kertas di depannya.


“Nai … kamu sudah bertemu Okan?”


“ Sudah,” jawab Naira tanpa mengalihkan wajahnya dari kertas perjajian yang mereka tandatangani.


“Oh ….” Nando hanya mengangguk.


“Nai …. kamu sudah punya pacar belum?” tanya Nando, mendengar pertanyaan itu Naira tadinya ingin marah, karena mereka masih sama seperti dulu menganggapnya sepele bahkan perasaanya dianggap tidak penting.


“Belum.” jawab Naira santai.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kamu kencan samaku saja”


“Aduh Pak, aku tidak punya waktu untuk kencan, aku memikirkan nasip adik-adik pantai”


“Aduh Nai, kamu masih muda tapi sudah memikirkan ini dan itu … nanti untuk selanjutnya aku akan kabarin kamu ya Nai,’ ujar Nando. Meninggalkan mereka lagi.


Naira masih sibuk memeriksa kertas di depannya.



“Apa aku punya salah padamu?” Okan duduk di samping Naira.


“Memangnya  kenapa?”


“Aku melihat kamu selalu menghindar dariku”


Naira menghela napas lalu ia berkata;


“Saya hanya ingin   bersikap biasa untuk kenyamanan Bapak, jika saya  menyapa atau  pergi bersama  bapak, nanti bapak malu sama orang. Karena jalan sama seorang pemulung”


“Tapi  aku hanya melakukan apa yang diminta Ibu”


“Saya sangat berterimakasih atas perhatian Bu  Hara, tapi saya ingin melakukan pekerjaan saya sendiri  tidak perlu melibatkan orang lain Pak,” ujar Naira, ia bersikap sangat formal pada Okan, bahkan menyebut saya dan Bapak.


“Aku jug  tidak akan melakukan ini kalau tidak di minta Ibu,"ujar Okan mulai memasang tampang kesal.


“Terimakasih , tapi saya rasa tidak perlu Pak, saya  pergi duluan”


“Aku juga tidak akan mau melakukan itu kalau tidak di minta ibu.” Raut wajah Okan marah.


Disisi lain.



Chelia kembali bertugas di rumah sakit setelah beberapa hari ia ikut  menemaninya ayah dan ibunya ke luar kota ia ikut sekalian menenangkan pikiran,


Pagi itu ia kembali bekerja mendengar nasihat ayahnya, Chelia lebih percaya diri, saat tiba di depan ruangannya Danis datang.


“Kenapa ponselmu beberapa hari tidak aktif, kamu dari mana saja?” Cerca Danis berpura-pura  menunjukkan  perhatian padanya.


“Maaf Danis … abangku menyitanya,” ujar Chelia, untuk  pertama kalinya ia bersikap jutek, l kalau biasanya ia selalu memanggilya dengan sebutan Beb, Yang, setelah Leon dan Noah sang bogyguard menuturkan siapa Danis sebanarnya, ia sangat membecinya.


Danis sempat terkejut, tetapi ia  pura-pura tertawa.


“Aku merindukanmu Ce,” ucapnya lagi.


“Maaf Danis, jika kamu merindukanku ingin melenyapkanku, itu sangat menyakitkan untukku,” ujar Chelia tertawa sinis.


“Apa maksudnya?”


__ADS_1


“Danis, aku tahu kamu , Thiani, Juna berusaha mencelakaiku, aku tidak tahu motif kalian, tetapi apa yang kamu lakukan itu itu sangat tidak masuk akal dan itu menyakitkan untukku, aku mencintaimu dengan tulus dari dulu tetapi kamu berencana ingin mencelakaiku”


Wajah Danis yangtadi terlihat tenang mulai terusik, ia menatap tajam pada Chelia.


“Awalnya  begitu Ce, tetapi lama kelamaan aku  juga mencitaimu,” imbunya lagi.


“Maaf Danis apa yang  kamu katakan aku tidal percaya lagi”


“Baiklah … kamu mau tahu alasannya …? Ibumu  menyebabkan mamiku meninggal,  kalau saja  tante Hara tidak datang ke rumahku, mengadu tentang perbuatanku  mamiku tidak akan mengakhiri hidupnya seperti itu”


“Kamu sala Danis, ibu sama tante Clara itu sahabat baik”


“Kalau sahabat baik harus Tante tidak datang mengadu ke rumah kami! Itu semua karena kamu, Okan dan Ibumu, karena kalianlah ibuku meninggal!” Danis berteriak akhirnya wujud asliny di perlihatkan juga.


“Ibu datang ke rumahmu saat itu hanya menjenguknya dan membeeri dukungan , bahkan ibu tidak menyingung tentang perkelahian kamu dan Okan, aku juga ikut saat itu,  mendengar semua apa yang mereka bicarakan, tidak ada menyinggung tentang kamu”


“Lalu kenapa mamiku tau …. dia kecewa padaku, lalu membawaku pergi ke luarg negeri”


“Bu Monika yang menelepon  tente Clara”


“Aku tidak percaya pada anak mantan mafia sepertimu,” ucap Danis.


Chelia sangat terkejut mendegar ucapan Danis yang menghina ayah tercintanya.


‘Aku tidak menduga laki-laki yang selama ini aku cintai ternyata manusia berhati iblis’ Chelia membatin, walau ada sebagian hatinya  masih mencintai Danis, tetapi sebagian hatinya lebih terluka lagi, karenaDanis menghina lelaki terhebat dakam hidupnya cinta pertamanya ya itu ayahnya.


Antara cinta dan dendam, mana yang akan menang?


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2