Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dilenyapkan


__ADS_3

Setelah Jovita membakar rumah dan perusahaan ayahnya, ia ingin membayar ganti rugi pada Leon karena rumah itu sudah di beli Leon dari Beny.


Dua orang membawa tas masuk  keruangan Leon, satu tas  berisi uang dalam jumlah besar,  uang Leon yang membeli rumah  dan kantor dari Beny  segitu juga ia mengembalikannya.


Rinciannya lengkap  tidak berkurang sedikitpun.



'Jovita kamu berubah .... kamu wanita yang sangat nekat saat ini' jangan mengusik bisnisku, itu akan membuatku marah' Leon membatin.


“Bos, siapa yang melakukannya? Mungkin seseorang yang tahu rumah ini, maka itu ia mengirim ke kantor," Iwan khawatir.


“Kamu boleh keluar,” pinta Leon.


Leon  duduk matanya menatap layar  monitor melihat Jovita, wanita itu, kini berdiri menatap laut, di tangannya  ada sebuah  buku.


"Buku  apa yang kamu baca di saat seperti Ini, aku penasaran dengan buku-buku yang selalu kamu baca, apa kamu ingin melawanku Jovita?" Leon memperbesar layarnya, melihat wajah sedih dari Jovita.


Dulu, proyek pembangunan Hotel Bokoy  yang menangkan tendernya almarhum Iwan ayah Jovita, desain dan konsep yang diberikan Ayah Jovita Bokoy suka, setelah ayahnya meninggal proyek pembangunan Hotel itu terkendala.


*


Leon ingin Meneruskannya, ia ingin tetap memakai nama perusaan ayah Jovita dan gambarnya ia  ingin menggunakan  desain hasil kerja Jovita.


Tetapi Jovita semakin marah, ia tidak ingin, apapun  milik ayahnya tidak ingin di sentuh, bahkan di Lihat Leon, ia marah karena Leon  menuduh


ayahnya penjahat dan penipu.


' Kamu bilang dia seorang penjahat tetapi ingin menggunakan desainnya untuk pembangunan mu. Apa kamu sehat?' Jovita menatap geram.


Sementara Leon mendapatkan tekanan, posisi ia juga sulit lagi. Ketua ingin membangun hotelnya menggunakan desain yang pernah di kerjakan Jovita dan ayahnya.


Jovita mengambil semua berkas pembangunan itu, termasuk cetak biru dan surat izin yang dikerjakan ayahnya. Ia ingin Leon yang mengurusnya sendiri, ia tahu bagaimana sulit dulu ayahnya  mendapatkan izin dari suku pedalaman dan ketua adat di sana untuk pembangunan itu.


Saat ayahnya sudah dapat mengurus dengan susah payah surat izin, tinggal mengerjakan pembangunannya. Tetapi Ayahnya keburu meninggal, dengan cara yang tragis.


Leon mendukung orang yang menuduh ayahnya penipu . Jovita marah,  maka itu menghancurkan semuanya termasuk, dokumen tentang proyek dan surat izinnya.


Maka saat Leon ingin membangun Maka Proyek itu terkendala karena tidak memiliki izin, saat proyek pembagunan itu ingin dibangun tiba-tiba penduduk setempat menolak yang tadinya, sudah s setuju pada Ayah Jovita.

__ADS_1


Tapi saat ini,  mereka menolaknya meminta surat kesepakatan itu untuk di batalkan. Padahal bahan sudah  di belanjakan dan orang-orang Leon sudah siap bekerja.Tapi terhambat karena tidak ada surat izin.


“Apa kamu tidak bisa mendapatkannya? Perusahaan itu pasti menyimpan dokumen izinnya, minta lagi beri duit berapapun pada Siska iyang penting ia bisa mendapatkan  surat izinnya,” kata Leon ia mulai sakit kepala gara-gara satu proyek itu, baru kali ini,  mendapat kendala besar seperti ini, biasanya semuanya beres di tangannya.


“Bos, mantan Bendahara almarhum Iwan bisa katanya, besok akan di berikan karena wanita itu menyimpan berkasnya, jadi kita besok bisa mulai kerjakan Bos,”ujar Iwan.


“Bagus, bagus suruh anak-anak di tetap  di tempat proyek, karena saya sudah pusing di desak ketua, karena Hotel miliknya tak kunjung di bangun.”


“Baik Bos.”


Leon menyandarkan kepalanya di kubikelnya mengoyangkan-goyangkan kakinya, ia sedikit bernafas lega, karena akhirnya ia besok ke Kalimantan , untuk melihat tahap pengerjaan Hotel milik Pak ketua.


"Tidak akan terjadi" gumam Jovita setelah mendengar percakapan Rudi dengan Leon, Ia menyadap ponsel Leon apa yang di bicarakan Leon ia tahu semuanya.


Hingga malam tiba. Iwan mengawasi Jovita seperti perintah Leon , ia harus melaporkan  apa saja yang di lakukan Jovita di kamarnya,


Malam ini, ia minta di urut, tapi diurutnya di kamar Bi Atin, asisten rumah tangga itu mengurutnya  setelah Bi Atin di beri obat tidur, ia keluar dari ruang rahasia satu lubang  yang gali juga di bawah kamar bu Atin, karena  hanya di kamar wanita paru baya itulah tidak dipasang camera pengawas.


Jadi jalan keluar yang paling aman sebenarnya dari sana, tetapi mereka  harus mengunakan obat tidur pada Bi Atin, agar ia bisa keluar dengan nyaman tanpa dicurigai.


Kira-kira jam dua malam, Jovita keluar tetap melalui lobang pembuangan limbah rumah tangga hingga ke pembuangan, setelah berganti pakaian. Ia sudah ditunggu Piter membawanya ke  apartemen Siska, mantan Bendahara ayahnya yang akan menjual dokumen pada Leon dengan harga Fantastis.


Tintong


“Pesanan!”


Clek


Pintu terbuka Jovita masuk memakai topi dan seragam .


Ia mengawasi dalam ruangan itu, benar saja. ada dua camera pengawas, Piter mematikan lampu dan menutup dua camera cctv itu, Lelaki itu mengawasi di luar dan jovita yang melakukannya sendiri.


Setelah  camera cctv itu sudah aman,ia baru menunjukkan dirinya,


“Halo siska”


“Ha- hara Hara.  jovita Hara? bukanya kamu sudah meninggal?”ujar Siska ia mundur ketakutan.


“Iya saya bangun lagi dari alam kubur, karena orang-orang sepertinya kalian yang ingin aku musnahkan, bagaimana mungkin kamu mencuri dari ayahku yang sudah meninggal, kalau kamu menikmatinya mungkin tidak apa-apa  bagiku.

__ADS_1


Tapi kamu bersaksi di pengadilan kalau ayahku melakukan penipuan dan kecurangan dalam proyek Bandara,  Kamu biarkan penjahat sesungguhnya bebas dan kamu dan orang-orang yang dipercaya, menuduh ayahku melakukannya. Ayahku tidak tenang di alam kubur sana"


“Maafkan aku Hara, Trisno yang memaksaku"


“ Berikan dokumen semuanya padaku sekarang? Apa pun yang berhubungan dengan perusahaan ayahku kamu tidak boleh menyimpannya berikan padaku.”


Terlebih proyek Hotel di Kalimantan berikan padaku, aku dengar Wardana Kontraktor membelinya dari kamu, berapa?  berikan padaku. Semuanya! tidak ada yang tinggal, jangan pancing aku menjatuhkan mu dari atas sini"


Wanita memberikan semuanya dengan tangan gemetaran.


“Maafkan aku Hara aku salah.”


“Berikan juga cek yang ditawarkan perusahaan Wardana. Ayah dan ibuku sudah menganggap mu seperti anak sendiri,  mengambil mu dari tempat hina dan kotor, kamu diangkat jadi Bendahara walau kamu tidak  punya pengalaman apa-apa. Di berikan tempat tinggal. Inikah balasan untuk semua itu? Kamu bahkan ikut memfitnah Ibuku"


“Maafkan aku Hara, aku pikir tidak ada yang selamat dari keluarga  pak Iwan.”


“Walau kami mati satu keluarga, setidaknya  kamu menghormati kebaikan orang sudah meninggal, karena kamu .... Aku jadi gentanyangan,”ujar Jovita


“Maafkan aku kak, aku akan memperbaiki semuanya,” ujar siska gemetaran. Tetapi tangannya berkhianat, ia ingin menelepon seseorang, Jovita marah.


“Bereskan dia Om, aku akan menunggu di mobil jangan tinggalkan jejak,” ujar Jovita marah.


"Jangan khawatir, turun dengan hati-hati," ujar Piter.


Jovita tadinya ingin membiarkan wanita itu kesempatan, tetapi tangannya ingin berkhianat lagi.


“Sudah Ayo"


Piter membuang sarung tangannya ketempat sampah lalu mengantar Jovita pulang.


“Ini simpan semua Om. Om adalah tangan dan mataku  di luar, aku ingin pelakunya tertangkap, buat cara agar polisi menyelidiki kematian keluargaku, aku percaya padamu Om"


“Jangan khawatir Hara, kita akan menghukum mereka semua, tapi Om ingin kamu tetap hati hati"


"Baik Om"


Ia kembali ke rumah Leon dari jalur ia keluar.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2