
“Iya boleh Bi suruh saja, saya juga butuh teman makan,” ujar Leon melirik Jovita dari ekor matanya.
Tetapi wanita cantik itu tidak menghiraukannya, mata dan Pikirannya menatap serius pada lembar Koran yang di baca, ada hal yang menyangkut kedua orang tuanya
‘Apa yang dibaca sih sampai-sampai tidak menghiraukan orang’ kata Leon dalam benaknya
Salsa dan Sabrina sudah duduk di kursi dalam meja makan, Jovita bahkan sampai tidak menghiraukan kedua wanita cantik itu, Jovita masih serius menatap lembar Koran yang di pegang.
“Masakannya boleh kami coba?” Salsa menatap Jovita
“Iya silahkan,” jawabnya, tapi tidak mengalihkan matanya dari koran yang di baca.
Bahkan makanan dalam piringnya yang sudah terlanjur ia sendok dalam piringnya ia anggur kan begitu saja.
‘Ini om Firman, kenapa gambar ku ada padanya, gambar ini untuk proyek ayah sebelum ia meninggal, tapi kenapa jadi om Firman yang memegang proyek ini, apa ada hubungannya dengan kejadian itu?’ tanya Jovita membaca dengan serius baris demi baris tulisan dalam koran.
Matanya masih menatap dengan fokus.
“Wah masakannya sangat enak kamu tidaka mau lagi? Boleh kami habiskan?” Tanya Sabrina tidak tahu malu.
Leon sudah berpura-pura batuk, tetapi tetap saja Ia tidak menghiraukannya,
‘Lelang? Inikan … barang-barang berharga milik Ibu dan barang-barang antik milik ayah kenapa masuk ke pelelangan?’ Tanya Hara lagi.
‘Beni ada apa denganmu? Apa kamu yang mencuri barang-barang keluargaku? Sejauh mana kamu terlibat dalam masalah ini, jika ada hubunganmu dengan kejadian yang menimpa keluargaku, sampai matipun aku tidak akan memaafkan mu, aku akan mencari mu, dengan istrimu akan memberikan kalian pelajaran tunggu saja’.
Nasi dalam piringnya Jovita benar-benar di abaikan,
Leon masih tetap menatapnya dan melirik tangannya yang terluka,
Salsa tahu kalau bosnya hanya menatap Jovita sejak mereka duduk di meja makan itu,
Bosnya tidak sedikitpun melirik mereka berdua.
“Baca apa sih kamu, kok serius amat?” Tanya Sabrina basa- basi, padahal dalam benaknya, ia sangat membenci Jovita karena ia melihat Leon lebih banyak memperhatikan Jovita.
Bahkan kedua gadis itu merasa kalau nama Jovita menggeser posisi mereka berdua, karena hanya Jovitalah pertama yang merasakan bisa masak bersama, mandi bersama, bahkan tidur di kamar Leon.
“Ini mba baca gosip artis masa Aktor kesukaanku nikah sama Janda ,kan sayang,”ujar Jovita menunjukkan berita yang lain. Koran yang membahas orang tuanya ia sengaja tarik dan diremas di jadikan untuk melap Meja dan merobeknya.
Tapi Leon tahu mana yang ia baca dan mana yang di tunjukkan,
“Kamu tidak makan?” Leon menatap Hara. Tetapi berita yang ia baca menghantui pikirannya.
“Aku sudah selesai, berapa lama lagi aku haus menunggumu, selesai makan?”
__ADS_1
Kata Leon kini tatapan matanya makin tajam, ia paling tidak suka melihat Jovita melamun.
“Baiklah , aku sudah,” jawabnya, padahal baru dua suap ia makan.
“Terserah,”ujar Leon, ia berdiri Jovita juga berdiri membawanya duduk di balkon kamarnya, pemandangan dari balkon yang menghadap pantai .
Ia kembali larut dalam pikirannya sendiri, satu demi satu ia pikirkan.
‘Ibu selamat ulang tahun. Mau kado apa dari aku?’ Tanya Jovita dalam hati. Barang-barang ibu nanti akan aku ambil lagi percayalah .... Jangan bersedih di sana, iya bu’ ucapnya dalam hati.
Melihat Jovita jadi pendiam Leon jadi merasa bersalah lagi.
‘Ada apa sebenarnya dengan pikiranku dan hatiku, seakan aku tidak bisa mengendalikannya, saat melihat Jovita diam seperti ini, aku sedih melihatnya
Tapi saat dia bawel dan berisik ada rasa marah padanya, Oh Dewa tolonglah aku, aku sungguh bingung dengan perasaan kacau ini’
Leon meletakkan bukunya dan menarik napas panjang, ia beberapa kali meremas punggungnya tangannya.
Ia marah mungkin karena perlakuan yang kasar, itu yang di pikirkan Leon padanya. Ia kembali menarik napas pendek, sebelum membuka mulutnya mencoba menelan savilanya dengan susah payah, seakan-akan, ada batu dan pasir menyangkut di tenggorokannya.
“Maaf”ucapnya kemudian, hanya ingin mengungkapkan satu kalimat pendek itu ia harus melakukan ritual-ritual panjang, meremas punggung tangan, mengusap dahinya yang tiba-tiba berkeringat.
Jovita masih diam, ia masih sibuk dengan segala pikirannya, ia bahkan tidak menyahut, karena dia pikir ia salah mendengar, suara Leon nyaris tidak terdengar.
“Maaf, untuk yang tadi,” ujar leon untuk kedua kalinya , Jovita menatapnya, ia pikir tadi ia salah dengar.
“Tidak apa-apa lupakan saja”
Kembali diam,
“Sebenarnya saya marah karena kamu menyinggung masalah pribadiku, saya tidak senang jika ada orang lain yang mengomentari kehidupanku apa lagi masalah pribadi.”
“Baiklah, aku meminta maaf jika menyinggung perasaanmu, aku tidak akan melakukanya lagi,” Jovita kembali menatap lautan.
“Berikan tanganmu,” pinta leon di tangannya ada obat luka,
“Tidak perlu, lukanya tidak begitu parah, sudah dipasang plester”
“Satu hal lagi …. Jangan membantah padaku,” ujar Leon.
“Baiklah” Jovita tidak bersemangat.
Tiba-tiba anak buah Leon datang membawa satu totebag kecil.
“Ini bos”
__ADS_1
“Baiklah, kamu siapkan mobil, kita ada pertemuan dengan seseorang di Grand Indonesia, bilang Iwan siapkan yang di butuhkan”
“Baik Bos.” Lelaki bertubuh tegap itu, menyembunyikan senyumannya, saat tangan bosnya masih terborgol degan Jovita.
Kali ini Leon kembali melakukan ritual sepeti yang tadi, meremas punggung tangannya, mengusap keringat di telapak tangannya
‘Ada apa lagi dengannya, tadi ia sudah meminta maaf sekarang mau apa lagi ini orang’ Jovita membatin, matanya masih menatap hamparan laut berwarna biru.
“Jovita ....!”
Ia kembai menarik napas panjang,
“Apa? ada hal yang penting lagi?” Hara meliriknya.
“Jangan bawel, kamu membuat konsentrasi ku hilang, kan, jadi buyer semuanya"Leon mendengus kesal.
“Lagian kamu itu mau ngomong saja berat, kayak orang mau melamar kekasih, dulu Beni melamar ku seperti itu ia berat hati dan-“
“Sial … Jangan bicara lelaki lain di hadapanku, kamu tidak menuruti lagi dasar wanita pembangkang, tadinya aku mau memberikan ini padamu nah..ini untuk kamu.”
Ia memberikan kotak kecil yang isinya kalung Berlian.
“Wah ini sangat bagus terimakasih, ini buat hadiah ulang tahunku, iya?”
“Tidak tau.
Aku tidak pernah merayakan hal yan begitu-begituan,” ujar Leon ketus, membuang muka.
Ia kesal, karena ia tadinya niatnya memberikannya dengan cara yang manis atau romantis sebagai ucap kata maaf, dan sebagai hadiah di ulang tahun Jovita.
Kalung yang diberikan bahkan sudah ia pesan dari beberapa hari yang lalu, kalung berlian yang punya desain khusus sudah tentu harganya juga fantastis. Tetapi karena mulut bawel Jovita yang tidak punya rem semuanya buyer.
‘Aku mau lakukan sesuatu hal yang berbeda, tapi semua dialog yang aku hapal jadi hilang ... ini pertama kalinya mungkin dalam hidupku memberikan sesuatu pada wanita, jadi berantakan semuanya, aku kesal’ Leon merasa jengkel.
Bersambung ....
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)