Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Melenyapkan atau dilenyapkan


__ADS_3

Melihat Jovita muntah-muntah di lapangan itu, Leon menarik lengannya untuk berdiri, tatapan matanya  masih menatap curiga.


“Dengar Jovita, saya berharap kamu-”


“Tidak pak Leon, saya tidak hamil, bagaimana mau hamil, kalau aku saat ini lagi  datang bulan, aku sudah bilang aku hanya masuk angin karena berdiri di pantai tadi”



“Saya tidak mau dengar alasan apapun untuk usahamu yang ingin melarikan diri itu,” ujar Leon mencengkram lengannya dengan kasar.


“Siapa yang ingi-”


Uaaa … “ia muntah lagi “OH … kepalaku  sangat pusing aku  seperti orang mabuk rasanya, ingin pecah kepalaku,” ujar Jovita ia duduk jongkok  lagi memegangi kepalanya.


Mendengar kata mabuk, Leon menyeret lengannya, membawa ke rumah dan memaksanya masuk ke kamar mandi, ia  berpikir Jovita mabuk karena minum-minum satu malam itu, saat ia menolak  cinta Jovita.


“Bersihkan dirimu di sana,  bau muntahan mu membuatku pusing”


Jovita yang merasa pusing  karena pengaruh efek obat  yang diberikan anak buah Leon padanya,  tidak berdaya hanya untuk berdiri,  ia  memilih duduk di lantai kamar mandi dan menyadarkan kepalanya di dinding .


“Cepat keluar dari sana, di sini sudah ada dokter,” ujar Leon dari balik pintu kamar mandi.


Seorang dokter yang sudah terlihat tua, sudah datang untuk memeriksa Jovita, bos mafia itu tidak ingin Jovita hamil, bukan hanya Jovita, bahkan dayang-dayang Leon yang lain, tidak boleh ada kata hamil.


Namun,  saat Leon berdiri di depan pintu kamar mandi, tidak ada suara air. Leon membuka pintu, ternyata Jovita tergelatak tertidur di lantai kamar mandi.


“Sial … apa yang terjadi padamu,” ucap leon, wajahnya  panik, ia menarik handuk membungkus tubuh Jovita lalu menggendong  Jovita ke atas ranjang, meminta  asisten rumah tangganya Menganti pakaian Jovita.


Ia berjalan  mondar-mandir menunggu Jovita di periksa sama  dokter.


‘Jangan bilang kamu hamil atau aku akan Membuang mu ke laut saat ini juga’ bisik nya dalam hati.


“Apa yang terjadi padanya Dok, apa dia hamil?” tanya Leon menatap serius.


Dokter  tersenyum kecil.


“Tidak Pak Wardana, wanita muda ini hanya masuk angin dan sepertinya ia mabuk,” ujar sang dokter,  tetapi ia tidak menjelaskan Jovita mabuk karena apa. Membuat Leon menganggapnya mabuk-mabukan.


“Mabuk?”


“Saya sudah memberinya  suntikan, bentar lagi  ia akan bangun, saya pamit pulang”


“Baik Dok”


Dokter meninggalkan Leon.



Kini ia berdiri menatap Jovita dengan tatapan  yang mendominasi,  sesekali ia menggosok ujung hidungnya, tatapan matanya menatap dalam wajah cantik  Jovita saat sedang tidur, terlihat sangat polos tanpa dosa.


Ia menarik napas panjang,  merasa tidak percaya kalau gadis muda itu melakukannya.


“Jadi kamu mabuk-mabukan saat aku menolak mu? Lalu kamu ingin melarikan diri?  Saat aku menawarkan perlindungan padamu. Kenapa kamu memilih ingin kabur. Jovita Hara … Tidak kah,  kamu tahu di luar sana sangat berbahaya untukmu sekarang ini?” Ujar Leon.


 Leon masih menatapnya dengan begitu dalam. Tiba-tiba mimpinya malam itu terlintas di benaknya Leon,  wajah yang sedari tadi mengeras  berangsur surut.


“Ada apa denganmu  Jovita? Kenapa harus kamu datang ke dalam mimpi buruk itu? Apa ini ada hubungannya dengan Damian?"


Leon berdiri dan menatap  jauh dari jendela kamar, menatap jauh ke arah hutan pedalaman, di mana ia selalu mengalami mimpi buruk di tempat itu, tempat di mana pertama kalinya, ia merenggut kesucian Jovita dan mendekapnya.


Lalu ia keluar.


“Nanti kalau dia sudah bangun,  bawa dia menemui saya,” ucap Leon pada asisten rumah tangga yang berjaga untuk Jovita.


“Baik Pak “


Leon kembali ke lapangan belakang, olah raga menembak di mulai,  Jovita terbangun saat ia mendengar suara-suara tembakan dari lapangan rumah Leon



“Non, sudah bangun.  Ini minum air lemon  madunya  kata Pak Leon, agar mabuknya hilang”


“Aduh Mbak siapa yang mabuk, aku gak mabuk hanya masuk angin karena kurang tidur”

__ADS_1


“Maaf Non, tadi Pak Leon berpesan kalau Non Hara sudah minum air madu itu, diminta mengantar Non ke lapangan belakang”


“Baiklah Mbak”


Tidak ingin menambah masalah , ia menghabiskan air madu. Berjalan ke halaman   mengikuti  asisten rumah tangga itu.


                  *


“Kemari lah” Pinta Leon saat Jovita berjalan di pinggir Lapangan.


“Untuk apa?”


Leon menarik tangannya memberinya satu pistol.



“Apa ini?” Wajah Jovita langsung panik, tetapi Leon berdiri dibelakangnya menempatkan wajahnya di atas bahu Jovita.


“Aku akan mengajarimu menembak”


“Pasang sasarannya,” pinta Leon pada anak buahnya, seorang berlari menjadikan seekor kelinci jadi sasaran.


Tentu saja Jovita menolak karena hewan lucu itu hewan kesukaannya.


“Kamu gila ….!” Teriak Jovita melemparkan pistol tersebut.


Leon marah, ia menarik lengan jovita dengan kasar matanya menatap tajam padanya, meminta mengganti


“Jika kamu ingin  bersamaku. Maka kamu bisa menjaga dirimu, gadis bodoh ….!”Ucapnya menghentakkan gigi.


Leon ingin mengajari Jovita memegang senjata, bukan tanpa alasan, Leon sadar ia hidup dunia  keras baik dia  dan orang-orang terdekatnya selalu dalam bahaya terlebih  Damian  sudah mengetahui kalau ia melindungi seorang perempuan ia yakin lelaki itu akan mengusik hidupnya. Atau akan menghabisi Jovita.



Damian.


“Apa harus pakai senjata? Aku tidak mau  jadi pembunuh seperti kamu”


“Kamu harus melakukannya gadis kecil …. Dunia luar itu menakutkan.  Jovita Hara …! Bukan seperti yang dipikirkan otak kecilmu,”  ujar Leon menunjuk-nunjuk kening Jovita dengan jarinya.


Benda berbahaya itu baru pertama kalinya ia pegang dan itu juga yang menewaskan semua anggota keluarganya. Namun, saat ini ia harus memegangnya.


“Jovita Hara  ….! Kamu  bukan seorang tuan putri lagi, saat ini, kamu sudah berada si duniaku,  di duniaku! …. di sini, kamu hanya dikasih dua pilihan melenyapkan atau di lenyapkan,” ujar Leon memungut pistol Tipe TYE35 dengan daya letusannya yang sangat kuat itu. Lalu kembali dan meletakkan di tangan Jovita, ia berdiri di  belakang  mengarahkan wajahnya di  atas pundak  Jovita mengarahkannya untuk menembak.


“Leon a-a-aku tidak bisa melakukan itu”


“Dasar anak manja ….! Kamu jangan manja lagi, saat ini, kamu hanya gadis yatim piatu yang harus melindungi dirimu sendiri!” Teriak Leon dengan suara meninggi.


Suara  leon mengundang perhatian semua anak buahnya lagi, kini mereka melihat  gadis muda yang berdiri ketakutan karena dipaksa belajar menggunakan senjata.


“Tatapan matamu lurus ke depan. Lakukanlah Jovita,” bisik Leon di belakang Jovita, suara tegas dari Leon menisik seluruh tubuhnya, membuatnya semakin  gemetar.


“OOH …  tidak Leon. A-a- aku tidak mau, aku tidak bisa,” ujar Jovita  tangannya  bergetar  dan menjatuhkan pistol ke tanah


“Jika kamu berada di sisiku …. Maka ada bahaya yang selalu mengikuti mu, maka kamu  harus bisa menjaga dirimu"


“Aku tidak mau jadi pembunuh ….”


“Maka  saya akan mengajarimu jadi pembunuh,” ujar Leon merggertakkan giginya dengan kuat,  wajahnya  kembali mengeras. Ia memeluk tubuh Jovita dari belakang dan memegang tangannya, memaksanya memegang pistol itu lagi.


Door!”



“Aaah ….” Jovita menutup mata.


“Jangan tutup matamu,” ujar Leon, ia menempelkan wajahnya ke sebelah wajah Jovita, membuat Jovita semakin merasa tegang, ia bisa merasakan kulit pipi Leon menyatu dengan  pipinya , kulit wajah Leon Leon terasa kasar dan tegas.


Toni, Rikko, Iwan dan anak-anak yang lain berdiri di pinggir lapangan, hanya bisa menahan napas, menonton sang bos melatih Jovita  menembak. Suara dan daya letusan tembakan dari pistol yang di pegang  Jovita  sangat kuat, membuat tubuh Jovita gemetar,  Leon masih berdiri di belakang,  memegang tangannya dan memaksa Jovita menembak lagi.


“Aku tidak bisa Leon,” ujar Jovita menangis sesegukan karena takut.


__ADS_1


“Ganti sasaran,” pinta Leon menggantinya dengan baner gambar orang. “Sekarang tembak tepat di dadanya anggaplah dia yang menghabisi keluargamu,” bisik Leon memprovokasi pikiran dan emosi Jovita.


Tetapi tetap saja ia tidak mampu melakukannya.


“Aku tetap tidak bisa,” ucap Jovita semakin gemetar.


Leon merasa kesal karena Jovita tidak mau diajari menembak.


“Toni maju kedepan! letakkan kelapa itu diatas kepala Toni,” pinta Leon, ia memang gila. Menjadikan kepala Toni  latihan sasaran menembak untuk Jovita.


“AAAH … Kamu gila!?” Jovita berontak, ia ingin balik badan tetapi Leon menahan tubuhnya, Jovita menangis di dada Leon” Tolong jangan lakukan ini Pak Leon, aku mohon”


Mereka semua panik,” Kamu pilih kamu  menembak tepat sasaran atau kamu memecahkan kepala, Toni”


“Leon, dia manusia bukan  binatang,” suara Jovita semakin  mengecil dan parau.


“Kamu tidak fokus karena matamu dari tadi melihatnya, bukan?” bisik  Leon ia memegang  pundak Jovita dan memprovokasi pikiran Jovita.


“Aku tidak bisa!”


“Apa kamu tidak bisa melakukan seperti ini!’ Leon memegang tangan Jovita dang menarik platuk.


Door!


“AAA ….” Jovita menutup matanya  dengan kedua tangannya,  setelah  melemparkan  benda berbahaya itu ke rumput. Ia  berpikir kalau ia sudah menembak Toni.


“Bangunlah dan lakukan lagi!”


“Aku tidak mau Leon AAA … Aku tidak tahu kenapa kamu menghukum ku seperti ini.” Jovita menangis.


“Bukankah kamu ingin bebas dariku?”


“Iya aku mau, tapi bukan  cara membunuh”


“Dunia ini keras Jovita …. kamu akan membunuh untuk bisa bertahan”


“Itu dunia yang kamu jalani Leon …. Duniaku bukan seperti itu,” ujar Jovita dengan  tangisan.


“Diam dan hentikan tangisanmu. Lihat targetmu apa ia mati atau tidak?”



Ia menoleh ke depan dengan  tubuh menggigil, saat menoleh ia terdiam ….


 Toni tidak apa-apa,  tetapi buah kelapa  di atas kepalanya terbelah dua.


“Baiklah, jika kamu ingin  mendapat kebebasan dariku, kamu harus bisa menggunakan  ini dengan baik, datangi  saya jika kamu sudah siap,” ujar Leon   meninggalkan Jovita yang menangis ketakutan ditepi lapangan.


Toni  ingin menenangkannya tetapi, ia tidak akan berani melakukan itu, ia meninggalkan  Jovita yang masih  duduk  memeluk lutut dengan wajah pucat.


Rikko mendekat.


“Bangunlah Non, latihan hari ini sudah cukup”


“Kenapa dia meminta pegang senjata. Kenapa dia mengajariku ingin membunuh. Aku bukan kalian … Aku  tidak mau seperti dia,  dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain”


“Iya aku tahu, Bos melakukan itu, agar kamu bisa menjaga diri sendiri,  baiklah Non berdiri dan makan sianglah, wajahmu sangat pucat”


‘Kamu memang manusia  kejam ular Naga, aku  tarik  kata-kataku yang pernah bilang cinta padamu, aku membencimu’ Jovita membatin.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2