
Melihat Jovita muntah-muntah di lapangan itu, Leon menarik lengannya untuk berdiri, tatapan matanya masih menatap curiga.
“Dengar Jovita, saya berharap kamu-”
“Tidak pak Leon, saya tidak hamil, bagaimana mau hamil, kalau aku saat ini lagi datang bulan, aku sudah bilang aku hanya masuk angin karena berdiri di pantai tadi”
“Saya tidak mau dengar alasan apapun untuk usahamu yang ingin melarikan diri itu,” ujar Leon mencengkram lengannya dengan kasar.
“Siapa yang ingi-”
Uaaa … “ia muntah lagi “OH … kepalaku sangat pusing aku seperti orang mabuk rasanya, ingin pecah kepalaku,” ujar Jovita ia duduk jongkok lagi memegangi kepalanya.
Mendengar kata mabuk, Leon menyeret lengannya, membawa ke rumah dan memaksanya masuk ke kamar mandi, ia berpikir Jovita mabuk karena minum-minum satu malam itu, saat ia menolak cinta Jovita.
“Bersihkan dirimu di sana, bau muntahan mu membuatku pusing”
Jovita yang merasa pusing karena pengaruh efek obat yang diberikan anak buah Leon padanya, tidak berdaya hanya untuk berdiri, ia memilih duduk di lantai kamar mandi dan menyadarkan kepalanya di dinding .
“Cepat keluar dari sana, di sini sudah ada dokter,” ujar Leon dari balik pintu kamar mandi.
Seorang dokter yang sudah terlihat tua, sudah datang untuk memeriksa Jovita, bos mafia itu tidak ingin Jovita hamil, bukan hanya Jovita, bahkan dayang-dayang Leon yang lain, tidak boleh ada kata hamil.
Namun, saat Leon berdiri di depan pintu kamar mandi, tidak ada suara air. Leon membuka pintu, ternyata Jovita tergelatak tertidur di lantai kamar mandi.
“Sial … apa yang terjadi padamu,” ucap leon, wajahnya panik, ia menarik handuk membungkus tubuh Jovita lalu menggendong Jovita ke atas ranjang, meminta asisten rumah tangganya Menganti pakaian Jovita.
Ia berjalan mondar-mandir menunggu Jovita di periksa sama dokter.
‘Jangan bilang kamu hamil atau aku akan Membuang mu ke laut saat ini juga’ bisik nya dalam hati.
“Apa yang terjadi padanya Dok, apa dia hamil?” tanya Leon menatap serius.
Dokter tersenyum kecil.
“Tidak Pak Wardana, wanita muda ini hanya masuk angin dan sepertinya ia mabuk,” ujar sang dokter, tetapi ia tidak menjelaskan Jovita mabuk karena apa. Membuat Leon menganggapnya mabuk-mabukan.
“Mabuk?”
“Saya sudah memberinya suntikan, bentar lagi ia akan bangun, saya pamit pulang”
“Baik Dok”
Dokter meninggalkan Leon.
Kini ia berdiri menatap Jovita dengan tatapan yang mendominasi, sesekali ia menggosok ujung hidungnya, tatapan matanya menatap dalam wajah cantik Jovita saat sedang tidur, terlihat sangat polos tanpa dosa.
Ia menarik napas panjang, merasa tidak percaya kalau gadis muda itu melakukannya.
“Jadi kamu mabuk-mabukan saat aku menolak mu? Lalu kamu ingin melarikan diri? Saat aku menawarkan perlindungan padamu. Kenapa kamu memilih ingin kabur. Jovita Hara … Tidak kah, kamu tahu di luar sana sangat berbahaya untukmu sekarang ini?” Ujar Leon.
Leon masih menatapnya dengan begitu dalam. Tiba-tiba mimpinya malam itu terlintas di benaknya Leon, wajah yang sedari tadi mengeras berangsur surut.
“Ada apa denganmu Jovita? Kenapa harus kamu datang ke dalam mimpi buruk itu? Apa ini ada hubungannya dengan Damian?"
Leon berdiri dan menatap jauh dari jendela kamar, menatap jauh ke arah hutan pedalaman, di mana ia selalu mengalami mimpi buruk di tempat itu, tempat di mana pertama kalinya, ia merenggut kesucian Jovita dan mendekapnya.
Lalu ia keluar.
“Nanti kalau dia sudah bangun, bawa dia menemui saya,” ucap Leon pada asisten rumah tangga yang berjaga untuk Jovita.
“Baik Pak “
Leon kembali ke lapangan belakang, olah raga menembak di mulai, Jovita terbangun saat ia mendengar suara-suara tembakan dari lapangan rumah Leon
“Non, sudah bangun. Ini minum air lemon madunya kata Pak Leon, agar mabuknya hilang”
“Aduh Mbak siapa yang mabuk, aku gak mabuk hanya masuk angin karena kurang tidur”
__ADS_1
“Maaf Non, tadi Pak Leon berpesan kalau Non Hara sudah minum air madu itu, diminta mengantar Non ke lapangan belakang”
“Baiklah Mbak”
Tidak ingin menambah masalah , ia menghabiskan air madu. Berjalan ke halaman mengikuti asisten rumah tangga itu.
*
“Kemari lah” Pinta Leon saat Jovita berjalan di pinggir Lapangan.
“Untuk apa?”
Leon menarik tangannya memberinya satu pistol.
“Apa ini?” Wajah Jovita langsung panik, tetapi Leon berdiri dibelakangnya menempatkan wajahnya di atas bahu Jovita.
“Aku akan mengajarimu menembak”
“Pasang sasarannya,” pinta Leon pada anak buahnya, seorang berlari menjadikan seekor kelinci jadi sasaran.
Tentu saja Jovita menolak karena hewan lucu itu hewan kesukaannya.
“Kamu gila ….!” Teriak Jovita melemparkan pistol tersebut.
Leon marah, ia menarik lengan jovita dengan kasar matanya menatap tajam padanya, meminta mengganti
“Jika kamu ingin bersamaku. Maka kamu bisa menjaga dirimu, gadis bodoh ….!”Ucapnya menghentakkan gigi.
Leon ingin mengajari Jovita memegang senjata, bukan tanpa alasan, Leon sadar ia hidup dunia keras baik dia dan orang-orang terdekatnya selalu dalam bahaya terlebih Damian sudah mengetahui kalau ia melindungi seorang perempuan ia yakin lelaki itu akan mengusik hidupnya. Atau akan menghabisi Jovita.
Damian.
“Apa harus pakai senjata? Aku tidak mau jadi pembunuh seperti kamu”
“Kamu harus melakukannya gadis kecil …. Dunia luar itu menakutkan. Jovita Hara …! Bukan seperti yang dipikirkan otak kecilmu,” ujar Leon menunjuk-nunjuk kening Jovita dengan jarinya.
Benda berbahaya itu baru pertama kalinya ia pegang dan itu juga yang menewaskan semua anggota keluarganya. Namun, saat ini ia harus memegangnya.
“Jovita Hara ….! Kamu bukan seorang tuan putri lagi, saat ini, kamu sudah berada si duniaku, di duniaku! …. di sini, kamu hanya dikasih dua pilihan melenyapkan atau di lenyapkan,” ujar Leon memungut pistol Tipe TYE35 dengan daya letusannya yang sangat kuat itu. Lalu kembali dan meletakkan di tangan Jovita, ia berdiri di belakang mengarahkan wajahnya di atas pundak Jovita mengarahkannya untuk menembak.
“Leon a-a-aku tidak bisa melakukan itu”
“Dasar anak manja ….! Kamu jangan manja lagi, saat ini, kamu hanya gadis yatim piatu yang harus melindungi dirimu sendiri!” Teriak Leon dengan suara meninggi.
Suara leon mengundang perhatian semua anak buahnya lagi, kini mereka melihat gadis muda yang berdiri ketakutan karena dipaksa belajar menggunakan senjata.
“Tatapan matamu lurus ke depan. Lakukanlah Jovita,” bisik Leon di belakang Jovita, suara tegas dari Leon menisik seluruh tubuhnya, membuatnya semakin gemetar.
“OOH … tidak Leon. A-a- aku tidak mau, aku tidak bisa,” ujar Jovita tangannya bergetar dan menjatuhkan pistol ke tanah
“Jika kamu berada di sisiku …. Maka ada bahaya yang selalu mengikuti mu, maka kamu harus bisa menjaga dirimu"
“Aku tidak mau jadi pembunuh ….”
“Maka saya akan mengajarimu jadi pembunuh,” ujar Leon merggertakkan giginya dengan kuat, wajahnya kembali mengeras. Ia memeluk tubuh Jovita dari belakang dan memegang tangannya, memaksanya memegang pistol itu lagi.
Door!”
“Aaah ….” Jovita menutup mata.
“Jangan tutup matamu,” ujar Leon, ia menempelkan wajahnya ke sebelah wajah Jovita, membuat Jovita semakin merasa tegang, ia bisa merasakan kulit pipi Leon menyatu dengan pipinya , kulit wajah Leon Leon terasa kasar dan tegas.
Toni, Rikko, Iwan dan anak-anak yang lain berdiri di pinggir lapangan, hanya bisa menahan napas, menonton sang bos melatih Jovita menembak. Suara dan daya letusan tembakan dari pistol yang di pegang Jovita sangat kuat, membuat tubuh Jovita gemetar, Leon masih berdiri di belakang, memegang tangannya dan memaksa Jovita menembak lagi.
“Aku tidak bisa Leon,” ujar Jovita menangis sesegukan karena takut.
__ADS_1
“Ganti sasaran,” pinta Leon menggantinya dengan baner gambar orang. “Sekarang tembak tepat di dadanya anggaplah dia yang menghabisi keluargamu,” bisik Leon memprovokasi pikiran dan emosi Jovita.
Tetapi tetap saja ia tidak mampu melakukannya.
“Aku tetap tidak bisa,” ucap Jovita semakin gemetar.
Leon merasa kesal karena Jovita tidak mau diajari menembak.
“Toni maju kedepan! letakkan kelapa itu diatas kepala Toni,” pinta Leon, ia memang gila. Menjadikan kepala Toni latihan sasaran menembak untuk Jovita.
“AAAH … Kamu gila!?” Jovita berontak, ia ingin balik badan tetapi Leon menahan tubuhnya, Jovita menangis di dada Leon” Tolong jangan lakukan ini Pak Leon, aku mohon”
Mereka semua panik,” Kamu pilih kamu menembak tepat sasaran atau kamu memecahkan kepala, Toni”
“Leon, dia manusia bukan binatang,” suara Jovita semakin mengecil dan parau.
“Kamu tidak fokus karena matamu dari tadi melihatnya, bukan?” bisik Leon ia memegang pundak Jovita dan memprovokasi pikiran Jovita.
“Aku tidak bisa!”
“Apa kamu tidak bisa melakukan seperti ini!’ Leon memegang tangan Jovita dang menarik platuk.
Door!
“AAA ….” Jovita menutup matanya dengan kedua tangannya, setelah melemparkan benda berbahaya itu ke rumput. Ia berpikir kalau ia sudah menembak Toni.
“Bangunlah dan lakukan lagi!”
“Aku tidak mau Leon AAA … Aku tidak tahu kenapa kamu menghukum ku seperti ini.” Jovita menangis.
“Bukankah kamu ingin bebas dariku?”
“Iya aku mau, tapi bukan cara membunuh”
“Dunia ini keras Jovita …. kamu akan membunuh untuk bisa bertahan”
“Itu dunia yang kamu jalani Leon …. Duniaku bukan seperti itu,” ujar Jovita dengan tangisan.
“Diam dan hentikan tangisanmu. Lihat targetmu apa ia mati atau tidak?”
Ia menoleh ke depan dengan tubuh menggigil, saat menoleh ia terdiam ….
Toni tidak apa-apa, tetapi buah kelapa di atas kepalanya terbelah dua.
“Baiklah, jika kamu ingin mendapat kebebasan dariku, kamu harus bisa menggunakan ini dengan baik, datangi saya jika kamu sudah siap,” ujar Leon meninggalkan Jovita yang menangis ketakutan ditepi lapangan.
Toni ingin menenangkannya tetapi, ia tidak akan berani melakukan itu, ia meninggalkan Jovita yang masih duduk memeluk lutut dengan wajah pucat.
Rikko mendekat.
“Bangunlah Non, latihan hari ini sudah cukup”
“Kenapa dia meminta pegang senjata. Kenapa dia mengajariku ingin membunuh. Aku bukan kalian … Aku tidak mau seperti dia, dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain”
“Iya aku tahu, Bos melakukan itu, agar kamu bisa menjaga diri sendiri, baiklah Non berdiri dan makan sianglah, wajahmu sangat pucat”
‘Kamu memang manusia kejam ular Naga, aku tarik kata-kataku yang pernah bilang cinta padamu, aku membencimu’ Jovita membatin.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)