Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hukuman karena menolak


__ADS_3

PART 21


Hukuman Karena Menolak


Berikan pekerjaan mem bersihkan kandang kuda padanya sekarang juga, tidak usah obatin luka-luka di tubuhnya ,” ujar Leon yang saat itu ada di belakang mereka.


 Bos murka, kerena kamu menolak,  jadi … sekarang kamu wanita buangan yang hanya membersihkan kandang kuda, biasanya itu pekerjaan pada para buangan di sini,” Kata Nana.


“Baiklah berikan baju pekerja, aku akan membersihkannya,” kata Jovita menerima takdirnya.


Dari kamar atas, Leon melihat Jovita lebih memilih membersihkan kotoran kuda dari pada di sisinya, ia baru keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, wanita yang memberinya kepuasan sudah berpakaian rapih  dan duduk manja di sisi ranjang.


“Bos apa nanti malam saya akan datang lagi?”


“Baiklah, datang menemaniku tidur,” pintah Leon, tetapi matanya masih menatap Jovita yang mulai membersihkan kandang kuda.


“Membersihkan kotoran kuda lebih baik dari pada bersama dengan lelaki itu, mulutnya sama busuknya dengan kotoran kuda ini.


Ueeek…ueeek “


Ia beberapa kali mau muntah karena bau kotoran kuda.


Setelah ia membersihkan kandang-kandang kuda.  Hara juga harus memberi makan, ini pengalaman pertama  baginya melakukan pekerjaan berat,  kuda-kuda besar itu, ada enam ekor  dengan warna dan jenis yang berbeda-beda.


Setelah  selesai memberi  makan kuda, ia merebahkan tubuhnya dia atas jerami dan merentangkan tangannya menghadap langit, ia melakukan gerakan-gerakan seperti berenang.


“Aduh pinggangku mau patah, aduh aku capek.” Hara menggerutu memukul-mukul pangkal kaki dan memegang pinggang.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Seorang lelaki berdiri di depannya dan tubuhnya menghalangi pantulan mentari yang memancar kearahnya. Jovita duduk untuk melihat lelaki yang berdiri di depannya.


“Kak Toni …. 


Apa yang kamu lakukan disini?”


“Justru aku yang bertanya apa yang kamu lakukan di dekat kuda-kudaku,”


“Oh… benarkah ini kudamu, dari kecil aku suka kuda dan suka menunggang kuda,” ujar Jovita, melihat ada Toni di sana wajahnya kembali  ceria, ia tertawa   sangat manis.


“Tapi … untuk  apa kamu ke sini?”


“Aku bekerja jadi tukang bersih-bersih kandang kuda,” kata Jovita, wajahnya terlihat sumringah saat ada Toni bersamanya.


“Apa Bos yang menyuruhmu?”


“Tidak, aku menolak bekerja padanya, maka aku di buang ketempat ini,” kata Jovita


“Haa … !? Kenapa kamu melakukanya , kamu akan mendapat kesulitan besar jika kamu sudah memilih jalan ini.”


Toni menatap iba padanya.

__ADS_1


“Hal yang buruk dari yang buruk, aku sudah merasakan apa lagi yang terberat dari semua itu,” kata Jovita menatap lelaki itu dengan  wajah sedih, senyum  indah itu tiba-tiba memudar, wajahnya seketika mendung.


“Jadi ini salah satu sikap pasrah dari kamu?”


“Boleh di bilang seperti itu, Aku ini seperti: Hidup segan mati tak mampu.”


“Maaf aku tidak bisa membantumu, aku juga tidak bisa melakukan apa-apa .” Toni merasa bersalah.


“ Tidak apa-apa, ada teman mengobrol seperti ini, saya sudah senang , pergilah sebelum kamu mendapat masalah gara-gara aku,” Jovita meminta Toni meninggalkannya sebelum ada masalah.


“Baiklah”


Pekerjaan itu selesai juga, Leon berpikir Jovita akan menyerah dan memilih ikut bersamanya, tapi ternyata tidak, ia memilih bertahan mencium bau kotoran kuda dan menyelesaikan pekerjaannya.


Kini Jovita duduk di atas tumbukan jerami, melihat langit dan melihat burung –burung berterbangan di langit, itu saja sudah membuatnya senang, dari pada ia menemani dan melayani Leon.


Ia menunggu matahari menghilang di ujung barat, masih duduk di atas tumpukan jerami itu.


Entah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan , hatinya sangat sedih, ia sangat merindukan keluarganya yang sudah tiada.


“Biasanya jam segini aku sudah tiba di rumah, ibu aku rindu .


Apa  kalian melihatku dari sana?”bisik Hara pelan.


Ia menangis terisak-isak dan bahunya terguncang, ia seperti anak ayam yang kehilangan induknya dan tinggal sendirian.


Perutnya tidak di isi apa-apa siang ini, karena makan siang ia lewatkan begitu saja.


“Aku masih disini, tapi mas Beni sudah menikah dengan  sahabatku sendiri Ibu,” ucapnya sesenggukan.


Leon melihat Jovita dari atas,  ia duduk berkutat di depan laptopnya, sesekali tangannya  mengusap dagu,  Jovita masih duduk di tumpukan jemari itu, kini pundaknya ikut terguncang- guncang.


“Apa dia benar-benar ingin mati? Aku akan memberikannya, kalau dia ingin menyusul orang tuanya,”kata Leon terlihat emosi, tangannya ingin menekan nomor anak buahnya untuk melenyapkan Jovita, tapi, suara ketukan  di pintu kamar menghentikannya.


 Tok … Tok ….!


“Masuk!” sahutnya, mata melihat kearah pintu.


“Bibi, membawakan kopi.”  Bu Atin meletakkan segelas kopi hitam di meja kerja Leon.


“Makasih Bi”


“Den!” Panggil wanita paru baya itu lagi sebelum ia keluar.


“Kenapa Bi?”


“Bibi menemukan ini di kamar Jovita di belakang malam itu”


Sekarang dia mengerti kenapa Jovita ingin mengakhiri hidupnya malam itu, bukan semata-mata karena Leon .


Tapi karena berita pernikahan Beny tunangannya yang menikah dengan sahabatnya,  padahal kepergian orang tuanya belum juga genap satu bulan.

__ADS_1


“Makasih Bi, saya paham sekarang kenapa ia nekat melakukan malam itu”


“Den”


“Iya Bi’


“Bukanya saya menasehati, bibi hanya mau bilang, dia wanita yang ceria dan selalu bersinar seperti permata.  Batu permata akan lebih bersinar di tempat gelap, dia cocok berpasangan denganmu yang berhati gelap, jangan biarkan keceriaan itu hilang dan sinarnya hilang,”


Bi atin meninggalkannya.


Leon terdiam, setelah  beberapa lama berpikir,ia menekan nomor Nana .


“Iya bos,”


“Jangan biarkan dia kerja di kandang itu lagi,  kasih kerja untuk bantu-bantu bersih-bersih saja,”


Nana menarik napas berat lalu ia menjawab, “Baik bos”


Matahari sudah pergi meninggalkan cakrawala, tetapi Jovita masih duduk di sana. Ia berharap ia menghilang bersama angin malam agar tidak lagi siksaan batin yang di lakukan Leon padanya, ia menerima hukuman  atas pekerjaan ayahnya di masa lalu.


Toni akhirnya menceritakan semuanya pada Jovita,  ia paham,  kenapa Leon begitu membencinya, karena itu jugalah ia begitu takut pada Leon.


“Ayo… kamu bisa ikut kerja dengan saya,” ucap Nana menatapnya dengan tatapan tidak suka.


“Kerja apa?”


“Kamu tinggal ikut saja,” Nana berjalan di depannya


“Bersihkan dirimu, kamu bau kotoran kuda , sebenarnya itu cocok untuk kamu,”ujar Nana menatapnya dengan tatapan jijik


Jovita ingin menghajar mulut wanita itu, tapi takutnya jadi masalah baru untuknya nanti, ia hanya mengusap dada menahan agar tidak emosi.


Tapi tiba-tiba Toni datang bagai dewa penyelamat .


“Mari ikut aku,  bos menyuruhku ,” kata Toni


Jovita mendengar kata Bos, membuat lututnya lemas. Tapi Toni menarik tangannya agar menjauh dari wanita yang dilanda rasa cemburu itu.


Bersambung ….


Jangan lupa dukungannya iya kakak  Like vote dan berikan komentar yang  membangun


Jangan lupa juga ke karyaku yang lain.


“Cinta Untuk Sang Pelakor( Tamat)


-Menikah dengan Brondong( Ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila.(ongoing0


-The Curred King (Ongoing

__ADS_1


__ADS_2