
Saat tiba di rumah malam itu, Hara tidak menceritakan tentang bonus besar yang di berikan Hilda pada Hara, Hara merasa terlalu lelah saat tiba di rumah.
Bu Ina membantu Hara membersihkan wajahnya di kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Mereka langsung tidur, saat paginya, baru Hara menceritakan pada Bu Ina
“Bi, hari ini aku dapat jadwal manggung lagi. Oh tapi bonus tadi malam ini Bi, tapi apa itu tidak terlalu banyak?”Jovita menyerahkan amplopnya ke tangan Bi Ina.
“Kok, sudah dapat gaji lagi Non, kan, belum tujuh hari?”
“Tidak tahu Bi, katanya aku banyak tip dari pengunjung. Tahu nominalnya, berapa? Sepuluh juta,” bisik Jovita bersemangat.
“Ha! Siapa yang ngasih?”
Saat mendengar nominal sebanyak itu. Bi Ina terdiam, ia takut dan kecurigaannya malam itu benar.
'Pasti ada seseorang kenalan lama yang mengenal non Jovita atau Leon? Ini tidak boleh, kami bisa ketahuan sama Piter dan mas Vikky nanti’
Bi Ina memutuskan memastikan sendiri, karena hari itu Hara juga dapat job, di undang bernyanyi di acara pernikahan yang diadakan hotel.
Saat tiba di hotel.
“Non tunggu di sini, ini makan roti lagi biar gak lapar. Bibi mau beli minuman dulu,” ucap Bi Ina
"Baik Bi" Gadis cantik itu akan selalu menurut apapun yang Bi Ina katakan, ia takut membantah, takut dirinya di tinggalkan seperti Toni meninggalkannya.
Tetapi Bu Ina bukan beli minum, ia mendekati meja resepsionis bertanya tentang Leon, tidak lama kemudian
Leon keluar dari lift, Bu Ina menatap melihat Leon berjalan gagah dengan setelan Jas berwarna abu-abu terlihat sangat berkelas berbeda dari biasanya.
Leon berjalan bersama Bram dan sang sekretaris, ia berjalan keluar. Bu Ina sengaja bersembunyi agar tidak dilihat Leon. Lelaki itu tidak melihat bu Ina dan tidak melihat Hara juga karena ia duduk terhalang pot bunga di lobby,
Saat melihat Leon berjalan begitu gagah, Bu Ina melirik juga mengalihkan matanya Jovita Hara yang sedang duduk sendirian memakan sepotong roti, yang Bi Ina berikan ke tangannya tadi. Melihat Hara seperi itu, begitu berbeda nasip dengan Leon, Bi Ina merasakan dadanya panas, ia merasa kasihan pada Jovita, ia yakin Leon yang memberinya uang sepuluh juta itu pada Jovita.
‘Hidup mereka saat ini bagai langit dan bumi’ ujar Bi Ina merasa sangat sedih.
“Kamu pikir sepuluh juta cukup untuk membayar penderitaan Non Jovita? Kamu akan menyesal suatu saat nanti, lihat saja,” kata Bi Ina mengepal tangannya.
__ADS_1
Bi Ina menemui Jovita yang hanya duduk dalam dunia gelapnya.
Ia tiba-tiba merangkul tubuh Jovita, ada rasa sakit dan rasa sesak di dada wanita paruh baya itu.
'Saat seseorang sehat dan bebas, bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, kebutuhannya semua terpenuhi bahkan lebih sukses dari sebelumnya, tetapi …. Nona muda kami, menderita sendirian’ Bi Ina merasa sangat sedih.
“Bibi kenapa? Apa yang salah?” tanya Jovita, ia terlihat bingung karena, Bi Ina tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat.
“Biarkan bibi memelukmu begini Non, aku sangat menyayangimu,” ucap wanita itu, air mata menetes dengan deras, “ Non kita ke ziarah kemakam Ibunya Non, iya,” ujar Bi Ina.
“Tapi bukankah kita baru minggu yang lalu kesana, apa ada yang penting?”
“ Iya Bibi mau curhat ke Ibu. Hari ini, kita pulang saja iya, Non.
“Kenapa Bi, tapi hari ini aku akan manggung." Jovita makin bingung.
“Non orang yang memberimu tip yang banyak itu bibi sudah melihatnya, dia orang yang jahat, dia mengenalmu di masa lalu, aku takut dia akan memberi tahu pamanmu mereka akan marah nantinya,” kata Bi Erna.
Jovita menurut, apapun yang dikatakan keluarga saat ini, hal yang paling ia takutkan saat ini bukan saja matanya yang Buta, ia lebih takut kalau orang-orang terdekatnya meninggalkannya sendirian.
Bi Ina, membawa Jovita pulang ke rumah, ia memberi kabar pada Hilda kalau Jovita sakit, jadi tidak bisa manggung lagi di Hotel.
*
Malam itu Leon membatalkan pertemuannya dengan klien, ia ingin melihat Jovita manggung lagi malam ini, tapi ia sudah menunggu satu jam Jovita tidak kunjung juga muncul , malah digantikan orang lain.
‘Apa terjadi sesuatu padanya?’ Apa dia sakit setelah bernyanyi malam itu?’
Leon meninggalkan kursinya merasa waktunya sia-sia menunggu lama, tapi yang ditunggu tidak kunjung muncul, ia bergegas ingin bertanya Hilda lagi.
Tetapi ia berpikir lagi, kalau bertanya pada Hilda, ia yakin wanita itu akan mencurigainya dan akan mencari tahu masa lalu mereka.
Leon ia naik ke atas ke ruangannya, ia jarang pulang ke rumah, karena Bi Atin bersikap sangat dingin padanya, saat ia memutuskan menjauhkan Jovita dari hidupnya baik Toni juga mereka bertengkar dan Toni pergi.
Hidup terasa sangat sepi.
__ADS_1
“Kenapa, apa dia tidak bekerja lagi di sini? " Leon berdiri di depan jendela kamar, seperti kebiasaanya berdiri di jendela ruangannya, menatap keluar melihat kilauan lampu-lampu jalanan, menambah rasa semakin sesak rongga dadanya.
Tidak tahan tersiksa dengan pikirannya, ia menyambar kunci mobilnya dan melajukan mobilnya kearah Depok, ia ingin memastikan keadaan Jovita , kalau ia baik-baik saja.
Tapi saat tiba di depan rumah, bukannya lega malah tambah khawatir, rumah Jovita gelap gulita, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah, bahkan lampu teras depan tidak menyala, itu artinya penghuni rumah itu tidak ada.
Leon menunggu 10 menit, karena semakin khawatir, ia akhirnya bertanya pada Hilda.
“Tadi ibunya bilang mbak Haranya sakit pak, makanya tidak manggung lagi,” kata Hilda.
“ Berikan nomor ibunya .Tamu Hotel kita banyak yang ingin ia tampil, mereka kecewa karena tiba-tiba diganti orang lain,” ujar Leon membuat alasan
Ia memberanikan diri untuk menghubungi nomor Bi Erna, tapi sayang nomor wanita itu tidak aktif lagi.
“Kamu kemana Jovita Hara, kenapa tiba-tiba kamu menghilang, apa kamu beneran sakit?”
Leon menekan nomor itu betulang - ulang dengan perasaan khawatir. Ia menyandarkan kepalanya di setir mobilnya, tapi mobil mewah yang kendarai sepertinya mengundang perhatian sekelompok pemuda yang sedang mabuk, Leon mengawasi rumah Jovita dari jauh dari tempat agak sepi.
Saat Hara ada Leon seolah- olah tidak perduli, tetapi saat ia tidak ada di cari. Leon tidak akan melihat wanita cantik itu lagi manggung di hotelnya karena Bu Ina sudah tahu siapa Leon.
Bersambung
KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing