
Leon mungkin menyesali kedatangannya ke Jepang, melihat Hara hidup bahagia dengan kekasih barunya. Awalnya Leon bilang kalau dia baik -baik saja. Namun perasaan sesungguhnya, justru ia masih mengharapkan Hara kembali padanya. Namun ia berpikir lagi kalau saat itu sangat sulit, karena Hara sudan milik Masxel lelaki yang mencintainya sepenuh hati.
Dua hari dalam acara itu Leon benar-benar dibuat tersiksa sendiri, ia hanya bisa melihat Hara tertawa manis untuk orang lain dan ia hanya penonton untuk kemesraan mereka berdua.
Bianca tidak datang hari itu karena ia tahu kalau Leon ke China, kalau saja ia tahu Leon dang ke acara amal tersebut, ia akan mengekor tanpa malu.
Wanita itu sudah berjanji tidak akan melepaskan Leon dan akan mengekor pada Leon, tetapi Leon sudah berjanji pada dirinya, ia akan bicara pada orang tua Bianca dan akan menghadapinya secara gentleman.
Saat Leon berdiri di taman bunga tersebut, lagi-lagi Hara menyelonong datang lagi. Hara dari dulu memang sangat suka dengan segala jenis bunga, ia lebih suka aneka jenis bunga daripada memiliki boneka.
Leon hanya diam, ingin melihat apa yang akan di lakukan Hara, ternyata ia hanya mengambil foto- foto beberapa bunga yang masih asing di pikirannya. Hara juga berusaha memulihkan ingatannya, buktinya saat Leon menyebut bunga bakor Hara mengambil gambar Bunga bakor dan menyimpan di ponselnya.
Saat Leon ingin mendekat lagi-lagi Maxell datang.
“Hara apa yang kamu lakukan di sini,? aku mencari di dalam”
“Kak, Axel boleh gak kita nanti menanam banyak tanaman bunga di rumah kita, saat kita sudah menikah?”
Seketika wajah Axell sangat bahagia.
“Tentu saja nanti di sekeliling rumah kita akan di keliling tanaman aneka bunga kenapa? Apa kamu mengingat sesuatu?”
“Tidak, hanya senang saja”
Leon yang berdiri tidak jauh dari mereka, hanya bisa menghela napas , ia masih ingat Hara juga meminta hal itu darinya sebelum kecelakaan dua tahun lalu.
Dua tahun yang lalu.
Hari itu, Hara meminta Leon menanam bibit bunga yang langkah di halaman di belakang rumah. Belum juga bibit bunga itu tumbuh, tetapi kebakaran terjadi di rumah mereka.
“Nanti aku akan membuka toko bunga yang cantik dekat hotelmu,” ujar Hara dua tahun yang lalu.
“Lalu bagaimana kalau tidak ada yang beli bunga yang kamu jual?” tanya Leon, ia memeluk Hara dari belakang, tangannya mengusap perut Hara yang saat itu masih mengandung anak mereka.
“Tidak masalah, yang penting kamu datang tiap hari melihatku ke toko bungaku,” ujar Hara tertawa renyah.
Kenangan manis bersama Hara sebelum kejadian seakan-akan berlomba-lomba melintas di benak Leon.
Jika bayangan calon anak mereka yang melintas dipikirannya, maka Leon akan merasa sangat sedih, ia menegakkan kepalanya keatas sebelum air dalam mata itu tumpah, ian buru- buru menyingkirkan air matanya.
Saat ia melihat ke arah Hara lagi.
Maxell merangkai bunga menjadi mahkota dan memakainya di kepala Hara, Leon lebih baik menutup mata, tidak tahan melihat pertunjukan demi pertunjukan yang membuat hatinya kian terbakar. Ia masih ingat dulu Hara memintanya merangkai tangkai bunga untuk sebuah mahkota, Leon menolaknya dengan alasan hanya orang kurang kerjaan yang mau melakukan hal-hal seperti itu. Kini, semua itu ia sesali.
__ADS_1
Ia menatap Hara dengan tatapan sinis saat Maxell memeluk pinggang Hara dari depan dan mengecup keningnya dengan hangat.
“Sialan, aku tidak tahan lagi,”ujar leon meninggalkan taman.
Ia kembali ke aula dengan raut wajah seperti terbakar. Ternyata Zidan melihat semuanya.
“Bos, tadi kami tadi sudah bersusah payah memberimu waktu untuk bicara dengan Nona Hara, lalu kenapa tidak memanfaatkannya’ Zidan membatin.
Tidak lama kemudian Leon keluar dari aula dengan langkah buru-buru.
“Kita pulang ke hotel saja,” ucapnya dengan wajah datar.
“Tapi Bo-”
Bram langsung terdiam saat Ken dan Zidan menggeleng.
Mereka meminta Bram tidak membantah, lelaki itu masih belum mengerti sepenuhnya tentang kebiasaan Leon, kalau sedang marah jangan coba - coba membantah , kalau membantah siap-siap saja dengan tatapan tajam mematikan dari Leon, tatapan tajam itu bisa bikin nyali lawan bicaranya ciut.
“ Baik Bos, kami akan mengantar pulang,” ujar Zidan tanpa membantah, bergegas membawa mobil.
Acara belum selesai tetapi Leon memilih meninggalkan aula , dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan dalam mobil, suasana hening bagai kuburan di tengah malam.
Ken yang duduk di samping Leon memilih menatap ke arah luar dari jendela. Sementara Bram yang duduk di samping Zidan sibuk berbalas pesan dengan para selir-selirnya yang banyaknya lebih dari tiga. Bram dikenal playboy cap kampak, ia ahlinya dalam menaklukkan wanita, ditambah pesona yang menawan. Zidan si batu es fokus dengan kemudi yang di tangannya.
Sementara Leon sang bos, tenggelam dalam lamunannya, menyesal pasti ada dalam hati Leon. Tetapi penyesalan selalu datang terlambat. Kalau datangnya duluan itu namanya pengumuman ya, Pak Leon.
*
Tetapi penderitaan hari belum cukup sepertinya untuk seorang Leon, saat malam tiba, seorang tamu yang tidak ingin mereka temui datang. Piter akhirnya mengetahui kedatangan Leon, dan ia tahu kalau ia berusaha mendekati Hara.
Tok … Tok …
“Masuk,” sahut Leon dari dalam kamar, ia yang sedari tadi hanya duduk mengalihkan wajahnya kearah pintu.
Ken berdiri di sana dengan wajah panik.
“Ada apa?”
“Bos Pak piter ada di sini”
“Dug … jantung Leon berdetak kuat.
“Baiklah suruh masuk”
Piter masuk .
“Kalian boleh keluar,” ujar Leon meminta Zidan dan Ken keluar.
__ADS_1
“Boleh saya duduk?”
“Silahkan Pak Piter”
“Jadi, apa anda menemui Hara lagi?” Tanya Piter wajahnya sangat tenang.
Tetapi justru wajah tenang seperti itulah yang sangat berbahaya dan Leon mengakui kemampuan sang mantan tentara tersebut.
“Iya, saya ingin memastikan kalau Hara baik- baik saja Pak Piter,”ujar Leon dengan wajah takbkalah tenang juga, ia mencoba menahan diri karena sesungguhnya Leon takut, karena ia pihak yang bersalah di sini.
“Dia baik- baik saja Pak Leon, jangan khawatir ada saya akan mengawasinya jadi dia akan baik-baik saja’
Leon diam.
“Lelaki sejati akan menepati janji, saya sudah memberi anda kesempatan dua tahun yang lalu, tetapi anda menyia-nyiakannya, saya harap anda mengerti, biakan Hara bahagia dengan lelaki yang tulus mencintainya,” ujar Piter.
Leon tahu dia salah di sini, maka itu hanya bisa diam, karena apa yang dikatakan piter semuanya benar.
“Jadi saya berharap Pak leon mengerti apa yang saya katakan. Terimakasih,” ucap piter berdiri dan meninggalkan Leon.
Leon tertawa, menertawakan kelemahannya dan kebodohannya saat ini.
Saat Piter keluar, Zidan masuk.
“Apa Bos akan menyerah?”
“Apa yang bisa saya lakukan Zidan? saya tidak mengerti,” ujar Leon mendesis putus asa.
“Ayo kita culik nona Hara Bos, tadi saya sudah menunggu Bos melalukan itu, bahkan saya sudah meminta Pak Danu untuk menyiapkan penerbangan untuk kita,” ujar Zidan.
Zidan memang sama gilanya dengan Leon.
Bersambung.
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing