
Walau Hara sudah dilarang untuk kembali bekerja di hotel, tetapi pagi ia bersikap keras untuk tetap masuk kerja di hotel hari itu.
Besok pagi Hara masuk lagi bekerja, tenyata ia lupa kalau Wardana group melakukan acara famili gathering ke Puncak hari itu, ia memilih tidak ikut.
Dua hari kemudian, semua kembali seperti biasa, Hara pagi ini, datang lebih awal dari biasanya, sudah pasti ingin bicara dengan Leon.
“Kenapa Mbak Hara tidak ikut?” Tiara mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
“Aku belum bisa bepergian jauh tanpa pengawasan kedua lelaki tampan di rumahku,” ujar Hara.
“Iye, kayak anak kecil dah” Rizki menimpali mencolek pinggang Hara.
Ia memang tidak pernah tahan kalau di colek bagian pinggang, ia membalas sampai lelaki engap-engap mendapat serangan dari Hara, saat bercanda seperti itu tanpa di sadari Leon datang dengan hal yang paling ia benci, mulai saat ia mengenal Hara, paling tidak suka kalau ada yang menyentuh wanita itu.
“Apa kalian pikir ini tempat bermain?” Leon berdiri di belakang mereka.
Hal yang sepele sebenarnya pada semua orang, karena Hara bercanda di lobby Hotel di luar jam kerja, itupun di luar Hotel. Saat itu juga keempat orang itu terdiam dan tertunduk dengan takut, tapi tidak untuk Hara alisnya menyengit tidak terima.
“Apa yang salah, kami tidak menggangu siapapun pak , apa kami menganggu tamu? Kami hanya menikmati pertemuan kami. Apa yang salah dengan itu?” Tanya Hara seperti mengajak Leon perang.
Wajah mereka semua kaget, Leon sampai menyengitkan alisnya .
‘Apa ingatan Hara sudah pulih?’ Leon membatin.
“Ada apa dengan Nona Hara?” Tanya Ken terkejut.
Leon tidak ingin berdebat, ia hanya menggeleng, lalu melewati Hara dan teman-temannya.
“Tidak, saya hanya menjelaskan keadaan sebenarnya pak Leon Wardana!” Alis Leon langsung menyengit matanya penuh penyelidikan,
‘Apa Hara sudah mengingatku?’
“Kamu salah minum obat?” bisik Leon.
Kaila sampai melotot untuk menghentikan kelancangan Hara, tapi Hara tidak gentar karena ia bicara dengan benar.
“Mbak Hara sudah, jangan dilawan apa kamu baik-baik saja?” bisik Tiara
“Tidak sama sekali Pak Leon, terkadang apa yang di lihat mata, bukanlah kebenaran sesungguhnya, bahkan terkadang orang yang kelihatan baik juga, bisa jadi seorang penipu dan pembohong, karena itu perlu ada penjelasan dan kejujuran” Ucap Hara
Leon terdiam tidak bisa menjawab, ia seakan tertembak dengan omongan Hara, matanya menatap Hara dengan tegas mencoba mencari apa yang di pikirkan Hara, tapi wanita itu tidak merasa gentar, ia malah menantang menatap mata Leon tanpa berkedip.
“Ada apa denganmu.” Leon mendekat.
__ADS_1
“Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan apa yang ada dalam hatiku,” ujar Hara. Ekspresi wajahnya susah ditebak.
Ken dan Bram sampai bingung dengan sikap marah-marah Hara.
“Apa dia kesurupan?” Tanya Bram. Tetapi Zidan hanya diam ia menatap Hara begitu dalam .
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah-marah tidak jelas Nona Hara,” ujar Leon berjalan meninggalkan Hara.
“Hidup itu dinikmati jangan dibuat tegang” ucap Hara lagi.
Leon tadi sudah berjalan , ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik, menatap Hara lagi dengan tegas.
“Kamu keruangan saya!” Pintanya tegas. Kupingnya panas juga melihat Hara meneriakinya di depan anak buahnya dan di depan tamu.
“Baik,” balas Hara.
“Kalian pergi saja saya ingin bicara dengan Nona yang satu ini. Ayo kamu ikut keruangan saya, sekarang” ucap Leon menatap Hara.
“Zidan kalian bertiga tinjau lokasi saja, ajak sekalian Kaila, saya akan menyusul nanti” perintah Leon pada Bram dan asistennya.
“Baik Bos” jawab lelaki itu dengan patuh. Hara melangkah duluan di depan lift, sementara Leon berdiri di depan lift khusus, tapi tangan Hara menekan lift umum.
“Saya menunggu di atas pak saya duluan” ucap Hara saat lift terbuka, dengan cepat ia menekan tombol tutup.
“Ada apa dengannya? Kenapa marah - marah” Leon mondar -mandir.
Hara berdiri di depan ruangan Leon, menunggu lelaki itu datang, jari-jari terlihat sibuk menggeser layar.
Tapi foto yang di kirim Piter seorang lelaki berkepala botak membuatnya tertawa geli.
Leon datang dari Lift melihat Hara tertawa tanpa beban terlihat tidak memikirkan apapun,
Ia tidak mengingat hari yang buruk itu, tapi aku hampir tiap malam tidak bisa tidur memikirkannya, bagaimana wajah anakku apa ini masuk akal?' Ucap Leon dalam hati, selalu merasa ada yang sesak di dalam dadanya.
“Kamu masuk” Pinta Leon terdengar tegas.
“Iyaaa”
Leon menatapnya dengan tangan melipat di dada, saat sudah masuk kedalam ruangannya.
“Ada apa?”
Tapi saat masuk kedalam ruangannya, Hara bukanya takut, malah menghiraukan mata menatap takjub melihat tanaman yang terlihat mekar dalam pot yang di letakkan di berbagai sudut ruangan.
__ADS_1
“Waaah bapak memang benar pencinta bunga iya. Iya ampun itu ada bunga anggrek hitam” Hara malah mendekati bunga yang berwarna hitam yang berasal dari semenanjung Malaya Kalimantan itu, dan melihatnya dan membelainya hidungnya sesekali mengendus kelopak bunga berwarna gelap itu.
“Hara, ini bukan tentang bunga”
“Tunggu Pak … kalau biasanya lelaki yang suka bunga itu lelaki yang lembut, tapi kenapa Bapak itu orang yang menyeramkan dan galak, kaku seperti tiang jemuran, sampai semua anak ngatain bapa itu si tuan bengis, kenapa sih bapak itu tidak menikmati hidup dan tertawa seperti aku” Hara menempelkan kedua jari telunjuknya di kedua sudut bibi, menariknya kearah luar menggambarkan sebuah senyuman.
‘Apa kamu bisa tertawa sesenang itu jika kamu sudah ingat yang terjadi?’ Leon membatin.
“Terkadang untuk sesuatu yang menyedihkan bukan selalu di tangisi apa lagi sampai kita gila,” ujar Hara lagi. Leon benar- benar bingung dibuatnya.
“Hara katakan sesuatu jangan mempermainkanku seperti ini. Katakan padaku apa kamu sudah mengingatku?”
Leon melihat kearah Lehernya, kalung berhiaskan cincin itu keluar dari seragam kerja bewarna abu-abu yang di kenakan Hara.
“Hara jawab aku, jangan membuatku semakin gila?” ucap Leon matanya masih belum lepas dari kalung.
“Oh, iya ampun karena bapak marah tadi, aku melupakan tas rangselku, aku letakkan di dalam pot bunga di luar, aku keluar dulu takut tasku hilang, permisi pak”
Hara keluar dengan sikap buru-buru, tapi semua itu hanya alasan untuk kabur dari ruangan Leon
“Hara! Ada apa denganmu?” Leon ingin mengejarnya.
“Aku tidak akan menceritakan tentang masalah pribadiku denganmu” ucap Hara, menekan lift keluar.
“Apa ada masalah di otaknya, karena memaksa mengingat masa lalu?”
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1