Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ada apa dengan Nona Hara?


__ADS_3

Walau Hara  sudah dilarang untuk  kembali bekerja di hotel, tetapi pagi ia bersikap keras untuk tetap  masuk kerja di hotel hari itu.


Besok pagi Hara masuk lagi bekerja, tenyata ia lupa kalau Wardana group  melakukan  acara famili gathering ke Puncak hari itu, ia memilih tidak ikut.


Dua hari kemudian, semua kembali seperti biasa, Hara pagi ini, datang lebih  awal dari biasanya, sudah pasti ingin bicara dengan Leon.


“Kenapa Mbak Hara tidak ikut?” Tiara  mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


“Aku belum bisa bepergian jauh tanpa pengawasan kedua lelaki tampan di rumahku,” ujar Hara.


“Iye, kayak anak  kecil dah” Rizki menimpali  mencolek pinggang Hara.


Ia memang  tidak pernah tahan  kalau di colek bagian pinggang,  ia membalas sampai lelaki engap-engap mendapat serangan dari Hara, saat bercanda seperti itu tanpa di sadari Leon datang dengan  hal yang paling ia benci,  mulai saat ia mengenal Hara, paling tidak suka kalau  ada  yang menyentuh wanita itu.


“Apa kalian pikir ini tempat bermain?” Leon berdiri di belakang mereka.


Hal yang sepele sebenarnya pada semua orang,  karena Hara bercanda di lobby Hotel di luar jam kerja, itupun di luar Hotel. Saat itu juga keempat orang itu terdiam dan tertunduk dengan takut, tapi tidak untuk Hara alisnya menyengit tidak terima.


“Apa yang salah,  kami tidak menggangu siapapun pak , apa kami menganggu tamu? Kami hanya menikmati pertemuan kami. Apa  yang salah dengan itu?” Tanya Hara seperti mengajak Leon perang.


Wajah mereka semua kaget, Leon sampai menyengitkan alisnya .


‘Apa ingatan Hara sudah pulih?’ Leon membatin.


“Ada apa dengan  Nona Hara?” Tanya Ken terkejut.


Leon tidak ingin berdebat, ia hanya menggeleng, lalu melewati Hara dan teman-temannya.


“Tidak, saya hanya menjelaskan keadaan sebenarnya pak Leon Wardana!”  Alis Leon langsung menyengit matanya penuh penyelidikan,


‘Apa Hara sudah mengingatku?’


“Kamu salah minum obat?” bisik Leon.


Kaila sampai melotot untuk menghentikan kelancangan Hara, tapi Hara tidak gentar karena ia bicara dengan benar.


“Mbak Hara sudah, jangan dilawan apa kamu baik-baik saja?” bisik Tiara


“Tidak  sama sekali Pak Leon, terkadang apa yang di lihat mata, bukanlah kebenaran sesungguhnya, bahkan terkadang orang yang  kelihatan baik juga, bisa jadi seorang penipu dan pembohong, karena itu perlu ada penjelasan dan kejujuran” Ucap Hara


Leon terdiam tidak bisa menjawab, ia seakan tertembak dengan omongan Hara, matanya menatap Hara dengan tegas mencoba mencari apa yang di pikirkan Hara, tapi wanita itu tidak merasa gentar, ia malah menantang menatap mata  Leon tanpa berkedip.


“Ada apa  denganmu.” Leon mendekat.

__ADS_1


“Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan apa yang ada dalam hatiku,” ujar Hara. Ekspresi wajahnya susah ditebak.


Ken dan Bram sampai bingung dengan sikap marah-marah Hara.


“Apa dia kesurupan?” Tanya Bram. Tetapi Zidan  hanya diam ia menatap Hara begitu dalam .


“Aku tidak tahu apa yang membuatmu  marah-marah tidak jelas Nona Hara,” ujar Leon berjalan meninggalkan Hara.


“Hidup itu dinikmati jangan dibuat tegang” ucap Hara lagi.


Leon tadi sudah berjalan , ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik, menatap Hara lagi dengan tegas.


“Kamu keruangan saya!” Pintanya tegas. Kupingnya panas juga melihat Hara meneriakinya di depan  anak buahnya dan di depan tamu.


“Baik,” balas Hara.


“Kalian pergi saja saya ingin bicara dengan Nona yang satu ini. Ayo kamu ikut keruangan saya, sekarang” ucap Leon  menatap Hara.


“Zidan kalian  bertiga tinjau lokasi saja, ajak sekalian Kaila, saya akan menyusul nanti” perintah Leon pada Bram dan asistennya.


“Baik Bos” jawab  lelaki itu dengan patuh. Hara melangkah  duluan di depan lift, sementara Leon  berdiri di depan lift khusus, tapi tangan Hara menekan lift umum.


“Saya menunggu di atas pak saya duluan” ucap Hara saat lift terbuka, dengan cepat ia menekan tombol tutup.


“Ada apa dengannya? Kenapa marah - marah” Leon mondar -mandir.


Hara berdiri di depan ruangan Leon, menunggu lelaki itu datang, jari-jari terlihat sibuk menggeser layar.


Tapi foto yang di kirim Piter seorang lelaki berkepala botak membuatnya tertawa  geli.


Leon datang dari Lift melihat Hara tertawa tanpa beban terlihat tidak memikirkan apapun,


Ia tidak mengingat hari yang buruk itu, tapi aku hampir tiap malam tidak bisa tidur memikirkannya, bagaimana wajah anakku apa ini masuk akal?' Ucap Leon dalam  hati, selalu merasa ada yang sesak di dalam dadanya.


“Kamu masuk” Pinta Leon terdengar tegas.


“Iyaaa”


Leon  menatapnya dengan tangan melipat di dada,  saat sudah masuk kedalam ruangannya.


“Ada apa?”


Tapi saat masuk kedalam ruangannya, Hara bukanya takut, malah menghiraukan mata menatap takjub melihat tanaman yang terlihat mekar dalam pot yang di letakkan di berbagai sudut ruangan.

__ADS_1


“Waaah bapak memang benar pencinta bunga iya. Iya ampun itu ada bunga anggrek hitam” Hara malah mendekati bunga yang berwarna hitam yang berasal dari semenanjung Malaya Kalimantan itu, dan melihatnya dan membelainya hidungnya sesekali mengendus kelopak bunga berwarna gelap itu.


“Hara, ini bukan tentang bunga”


“Tunggu Pak … kalau biasanya lelaki yang suka bunga itu lelaki yang lembut, tapi kenapa Bapak itu orang yang menyeramkan dan galak, kaku  seperti tiang jemuran, sampai semua anak ngatain  bapa itu si tuan bengis, kenapa sih bapak itu tidak menikmati hidup dan tertawa seperti  aku” Hara menempelkan  kedua jari telunjuknya di kedua sudut bibi, menariknya kearah luar  menggambarkan sebuah senyuman.


‘Apa kamu bisa tertawa sesenang itu jika kamu sudah ingat yang terjadi?’ Leon membatin.


“Terkadang  untuk sesuatu yang menyedihkan bukan selalu di tangisi apa lagi sampai kita gila,” ujar Hara lagi. Leon benar- benar bingung dibuatnya.


“Hara katakan sesuatu jangan mempermainkanku seperti ini. Katakan padaku apa kamu sudah mengingatku?”


Leon melihat  kearah Lehernya,  kalung  berhiaskan cincin itu keluar dari seragam kerja  bewarna abu-abu yang di kenakan Hara.


“Hara  jawab aku, jangan membuatku semakin gila?” ucap Leon matanya masih belum lepas  dari kalung.


“Oh, iya ampun karena  bapak marah tadi, aku melupakan tas rangselku, aku letakkan di dalam pot bunga di luar, aku keluar dulu takut tasku hilang, permisi pak”


Hara  keluar dengan sikap buru-buru, tapi semua itu hanya alasan  untuk kabur dari ruangan Leon


“Hara! Ada apa denganmu?” Leon  ingin mengejarnya.


“Aku tidak akan menceritakan  tentang masalah pribadiku denganmu”  ucap Hara, menekan lift keluar.


“Apa ada masalah di otaknya, karena memaksa mengingat masa lalu?”


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2