
Kesabaran Leon benar- benar sangat di uji, saat Hara bekerja di hotelnya Leon sangat bersemangat, setiap pagi datang ke hotel.
Namun. Sudah lima hari juga Hara selalu menghindar darinya, bahkan mereka berdua seperti main kucing-kucingan, saat Leon ada di lobby maka Hara akan memilih lewat belakang , jika Leon menunggu di belakang Hara akan lewat depan. Ia mendengarkan nasihat keluarganya kalau Leon lelaki yang jahat, maka Hara yang lupa ingatan melakukan apapun yang dikatakan keluarganya, karena ia tahu semua itu demi kebaikannya.
Karena itulah Leon dibuat pusing sama Hara.
“Berjuanglah Bos,” ujar Ken memberi dukungan kembali pada Leon.
“Dia sebenarnya mengingatku atau bukan sih, kenapa dia jadi menghindar dan membenciku?”
“Bos, anggap saja non Hara itu wanita yang terlahir kembali. Tugas Bos mengisi ruang hatinya dengan cinta,” ujar Ken bersemangat.
“Anggap saja si Bos ingin memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu, jadi, harus sabar,” ujar Bram kedua lelaki casanoa tersebut memberi pengarahan pada sang bos,, yang notabene hanyalah kulkas dua pintu yang tidak tahu apa-apa tentang kata romantis dan cinta.
Selama ini di mata Leon sosok wanita itu di gambarkan hanya teman ranjang dan teman bersenang -senang, tidak ada romantis dan cinta dalam listnya. Tetapi setelah mengenal Hara dua tahun lalu, ia mengerti tentang cinta. dan cinta itu hampir padam saat Hara dinyatakan meninggal, kini Leon akan berusaha kembali memperbaiki dirinya.
Maka saat kedua lelaki itu memberi Leon masukan-masukan, ia mau mendengarkannya kalau biasanya Leon cuek. Tetapi kali ini ia mau mendengar. Tetapi Zidan untuk urusan romantis ia juga tidak tahu apa-apa maka itu, ia hanya diam.
“Baiklah Bos, selamat berjuang kami akan kembali dua hari lagi,” ujar Ken.
Ken dan Zidan berangkat ke Surabaya untuk mewakili Leon menghadiri undangan pembukaan hotel rekan bisnis Leon.
Leon merasa badannya sakit belakangan ini.
Setelah selesai makan dan meminum vitamin barulah ia merasa tenaganya pulih, ia turun, niatnya hanya ingin melihat-lihat, Leon masuk ke lift umum yang biasanya padat merayap kalau sudah waktunya makan siang, karena semua pegawai akan naik ke lantai dua ke pantry tempat makan siang yang disediakan khusus semua pegawai, Hotel dan Mall.
Leon memperhatikan kebaikan para pegawainya, bukan hanya tempat tinggal atau Mes yang ia sediakan untuk para pegawainya , ia juga menyediakan tempat makan khusus untuk semua pegawai yang bertugas di Hotel, restaurant semua semakin membaik saat Hara bekerja sebagai pegawai hotel di sana.
Saat Leon masuk, tadinya hanya tiga orang penghuni, saat lift mulai turun tiba-tiba beberapa masuk ke dalam Lift, salah satunya Hara, ia baru tiba di hotel karena ia juga barus selesai pemotretan di mall, letaknya di sebelah hotel Leon, bahkan wajahnya masih menggunakan riasan, hanya pakaiannya sudah berganti jadi seragam hotel.
“Eh…bapak , maaf pak soalnya sempit,” ucap Hara tubuhnya yang kecil seakan tengelam di dada Leon, karena tubuh lelaki itu tinggi tubuh mereka berdua saling berhadapan.
Tubuh Leon lagi-lagi ingin tumbang melihat Hara ada lagi bersamanya, ia bersandar di dinding lift, tapi penghuni lift bukanya berkurang makin bertambah , membuat tubuh Jovita semakin tergencet, kini menempel di dadanya . Hara mendongakkan kepalanya menatap wajahnya ” Maaf ...” ucapnya berulang kali, kini tubuh mereka berdua sudah menyatu, Leon menutup matanya membiarkan jantungnya berdendang kuat.
__ADS_1
Aku merindukanmu Hara karena bisa memelukmu seperti ini nanti malam aku akan ber-mimpi indah, tolong jangan menghindariku lagi' ucap Leon memeluk pinggang Hara.
Ia bisa merasakan tubuh Hara semakin mepet di tubuhnya, Leon mencoba melindunginya dari tubuh-tubuh yang lebih besar yang mendorong.
Jovita terjebak diantara lelaki bertubuh kekar, ia baru ingat di hotel hari itu , ada acara pernikahan, salah satu anggota TNI mungkin orang –orang yang ada di lift saat ini, adalah rekan-rekan pengantin pria.
Jovita berusaha mendorong tubuhnya ke belakang, berharap ia bisa sedikit dapat ruang gerak, tapi apakah ini sebuah takdir atau hukuman alam untuk Leon, ia tidak bisa bergerak, dengan sikap pasrah ia merangkul pinggang Leon ”Maaf aku menginjak kakimu pak” ucap Jovita lagi.
Leon hanya diam tanpa kata, hatinya senang namun tubuhnya seakan membeku rasa rindu Selama dua tahun terobati.
Bahkan Leon bisa mengendus wangi dari rambut jovita, bau harum dari tubuhnya yang dulu mengisi ruang hatinya, ia menutup matanya membiarkan tubuh mereka berdua menyatu layaknya sepasang kekasih.
Leon menutup mata dan memohon dalam hati.
‘Roh Para leluhur, aku ingin wanita ini menjadi milikku selamanya’ ucapnya dalam hati.
“Pak, bisa melepaskanku sekarang?” ucap Jovita setengah berbisik.
Wajah Hara memerah menahan malu, tapi tidak untuk si manusia kutup utara, ia balik menatap tajam kearah orang yang melihat mereka.
“Maaf iya pak saya tidak sopan” ucap Hara menundukkan kepalanya, ia agak maju kedepan menekan pintu lift saat pintu terbuka. Ia buru-buru keluar dari Lift.
‘Hadeh … ini sangat memalukan’ ucap Hara, ia menghempaskan kakinya ke lantai.
“ Mudah-mudahan tidak bertemu lagi dengannya lagi,” ujar Hara.
Ia melihat kanan kiri, ternyata ia turun ditempat yang salah, aturan turun, ia malah naik kelantai paling atas.
Leon tahu kalau Hara asal turun, ia juga turun satu lantai di bawa Hara, naik lagi mengunakan lift khusus, berharap Hara masih di sana,
Tapi tidak ada, Hara turun menggunakan tangga darurat, Leon menoleh kanan kiri tidak ada orang, matanya tertuju pada pintu tangga darurat, Leon menoleh kebawa, benar wanita itu berjalan dengan malas menuruni tangga.
“Aku lapar, tadinya ingin makan, kenapa aku memepet tubuh Pak Bos, pasti berpikir aku wanita yang gatal, wanita penggoda.” Hara mendumal sendiri menuruni tangga demi tangga.
__ADS_1
Hingga akhirnya dengan kaki terasa mau patah, Hara akhirnya tiba di pantry ruangan makan khsus karyawan , ia berdiri menatap sekeliling berharap ia menemukan satu meja kosong untuk tempatnya untuk duduk untuk mengisi perut.
Melihat lambaian tangan memanggilnya, Rara dan dua anak bagian divisi lain sedang duduk satu meja.
“Mbak Hara sini duduk”
“Makasih Ra, aku lapar bangat,” ucap Hara menyantap makan siangnya tanpa jedah, setelah pemotretan tadi, Piter memintanya makan, ia menolak karena shift jam kerjanya di hotel akan mulai.
“Mbak kesurupan?” tanya lelaki berkulit putih padanya, walau di bagian-bagian lain, mereka semua yang bekerja dalam Hotel terlihat sangat akrap sama Hara karena Hara seorang artis juga.
“Aku lapar lapar bangat,” ucap Hara menyantap dengan lahap, tidak menoleh kanan-kiri, sesekali ia memukul dadanya agar makanan yang ia kunyah bisa cepat turun.
“Mbak kenapa sih masih mau bekerja padahal sudah model top,"ujar Risky.
“Ceritanya panjang intinya karena ingin mendapat banyak uang,” ujar Hara kembali bersikap ceria. Walau ia sudah jadi model terkenal ia masih mau makan dengan siapa saja dan selalu bersikap baik sama semua orang itulah kelebihan Hara. Karena kebaikan hati Hara Leon berpikir akab berjuang keras untuk merebut cinta kembali dari Maxell.
Selamat berjuang Pak Leon semangat.
Bersambung....
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1