Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ulang tahun palsu


__ADS_3

Mohan Maaf kakak tadi jaringan di rumah, lagi eror baca ulang lagi.



Di Kabinet dapur mewah bernuansa putih itu, Kelima lelaki tampan. Seorang Bos mafia dan ke empat anak buahnya, masih berkutat dengan semangat yang berkobar menyiapkan menu serapan pagi untuk Nona Hara.


Mereka bekerja sama membantu sang Bos menaklukkan hati wanita yang dicintai.


Lalu  bos Leon memotong wortel. Namun, wortel yang dipotong tidak dikupas terlebih dulu, ia hanya mencucinya sebentar, lalu memotongnya dengan potongan segede ibu  jarinya.


Hara dan bayinya akan tetanusan,  jika memakan masakan Leon.


Lalu Zidan juga tidak bisa membedakan mana tomat dan mana paprika  merah, ia malah memotong tomat .


Di sesi eksekusi terakhir, hal tidak biasa tejadi. Leon memasukkan semua bahan- bahan sekaligus.


"Bos .... Bahanya dimasak sekaligus?" Tanya Zidan.


"Iya" Jawab Leon ekspresinya tenang.


"Astaga! "


" Salah?"


"Iya Bos, Harusnya wortel dulu"


"Baiklah ganti." Leon menuangkan langsung ke tempat sampah.


"Eh, jangan dibuang Bos, dipisahkan saja," ujar Rikko.


"Aduh, kebuang - buang jadinya sayurannya," ucap Bi Atin masih duduk memantau mereka, wanita itu duduk di kursi di jendela layaknya seorang pengawas.


"Bu, tadi pak Leon tidak kupas wortel," ujar salah seorang asisten rumah tangga itu.


"Tadi Bang Ken pakai kepala ayam untuk daging ," ujar satu orang lagi melapor pada Bu Atin juga.


"Padahal pilet ayam masih ada di freezer yang baru aku beli Bu," ujar salah seorang lagi.


Kuping Bu Atin panas juga mendengar laporan mereka, ia berpikir akan banyak bahan bahan yang dibuang sia- sia.


"Astaga. Aku tidak tahan lagi melihat mereka," ucap Bu Atin ia berdiri.


Masuk ke dapur benar saja setelah di dekati betapa hancurnya dapur itu, telur pecah beberapa butir, tempat sampah penuh dengan sayuran.


"Bos jangan di buang dulu," Ken mendekat.


"Sudah masuk tempat sampah," ujar Leon mengarahkan pandangan ke tempat sampah.


Praktek pertama gagal, sekarang rencana kedua, bahan yang sama dan cara yang sama.


Mencoba kedua kali namun setelah setelah matang rasanya dan tampilannya jauh dari kata layak.


Pada percobaan ke tiga kalinya, pria -pria maskulin itu, akhirnya menyerah, Mereka meminta bantuan Bi Atin yang sudah berdiri di dekat mereka.


Wanita paru baya itu terlihat seperti juri dalam acara talk show memasak.


" Loh, tadinya katanya capcay telur puyuh, lalu mana telur puyuhnya?"


" Tadi telur puyuhnya tidak ada, jadi kita ganti telur ayam itu lagi direbus," jawab Iwan.


Bu Atin menggeleng melihat masakan hancur itu.

__ADS_1


" Ini masakan hancur tidak layak di makan manusia, rasanya asin bangat. Kalian coba gak pas masak?"


Mata mereka semua tertuju pada sang bos.


" Tidak," jawab Leon.


" Ini, coba dulu"


Leon mengambil sendok dan mencicipi " Uaaak ..." Ia mengeluarkan di wastafel.


Bagaimana Bos?" Tanya Bu Atin dengan nada merasa jengkel.


" Benar tidak layak. Sudahlah kita menyerah saja, ini sudah ke tiga kali," ujar Leon.


Memasak tidak seperti yang mereka  pikirkan, tidak gampang.


Mereka tidak bisa, sampai –sampai tangan Leon dan Zidan melambung karena terkena jepretan minyak.


"Tidak coba lagi," ujar Rikko.


Dari mentari mengintip malu-malu,  sampai  beranjak naik keatas, Leon dan rekan-rekan masih berkutat dengan bersusah payah menyiapkan serapan pagi, saat ini sudah berganti jadi menu hidangan makan siang.


Tetapi percobaan pertama, kedua, ketiga gagal. Hingga akhirnya  menyerah pada percobaan ke empat.


“Bagaimana Bi?” Tanya Iwan putus asa tangannya sudah mulai kapalan karena bolak  balik memotong sayuran.


Wanita itu kembali  melepeh sayuran  itu dari mulutnya.


“Maaf, para lelaki tampan. Belum berhasil, pertama sangat parah potongan kepala ayam segede itu dalam masakan capcay akan membuat yang makan akan kabur. Jangankan untuk memakan melihatnya saja orang sudah takut duluan. Itu tomat bukan Paprika, Zidan"


Ke empat anak buah Leon sebenarnya belum mau menyerah, tidak mau mengecewakan bos. Tetapi Leon menolak meneruskan.


"Begini iya para lelaki! Sebelum memasak sesuatu .... Pastikan dulu bahan- bahannya sudah komplit barulah memasak. Lihat dapur ini, sayuran terbuang sia- sia," ujar Bu Atin


"Jadi bagaimana Bi sudah terlanjur." Iwan menggaruk kepala.


"Gini aja Mas Iwan. Kita masaknya lain kali saja. Bagaimana kalian mau menyajikan makanan seperti ini sama Non Hara yang ada di sakit perut"


Tiba- Tiba Hara datang ke dapur mau minum air hangat.


" Bi! Minta air ha ... Eh ramai bangat, ada acara apa?"


Keempat lelaki itu langsung berubah kayak cacing kepanasan, saat Hara datang, kecuali Leon, ia hanya menggosok ujung hidungnya.


"Eh, Non Hara." Ken cengigiran.


"Ada acara apa di dapur, Kak?"


"Oh .... Itu bantuin bibi di dapur," Iwan mencari alasan.


" Oh, astaga ada pencuri masuk dapur, Bi?"


"Eh ...jangan jalan ke situ Non, lantainya licin." Bu Atin menarik tangan Hara dan mendudukkannya di kursi.


Ia takut wanita hamil itu jatuh, perhatian berlebihan yang di tujukan Bu Atin sempat membuat Leon curiga. Tetapi Jovita menanggapi dengan santai.


"Ini kalian mau ngapain sih sebenarnya?" Tanya Hara.


"Oh ... sebenarnya Zidan ulang tahun jadi dia minta kita masak capcay ,tapi gagal," ucap Iwan. Menjadikan Zidan kambing hitam.


__ADS_1


" Kok, aku?" Lelaki tampan itu menyenggol kaki Iwan.


"Oh, Kak Zidan ulang tahun? Oh selamat Ulang Tahun Kak Zidan."


Hara menyalam tangan Zidan bahkan memberi pelukan hangat.


Semua orang menahan tawa, termasuk Bu Atin.


"Oh, jadi ceritanya kalian masak capcay telur puyuh, tapi gagal?"


" Ya. Non." Rikko terpaksa ikut-ikutan berbohong untuk menutupi rasa malu mereka.


"Gini saja, biar aku bantuin masak"


Mereka saling menatap.


"Tenang Kak Zidan ... aku bisa kok, kita kerjakan sama- sama biar cepat." Mereka masih berdiri diam, karena bahan sudah terbuang banyak.


Hara berdiri dan mulai mengeluarkan bahan- bahan yang ada dan meminta mereka membantu "Kak Zidan , ini potong paprikanya dan Kak Ken pisahkan pilet ayam, Bos ... Ngapain iya? Oh kupas telur puyuhnya dan Kak Rikko potong wortelnya dan jamur"


Mereka hanya saling menatap apa mereka lakukan tadi semuanya salah total. Hara melakukannya dengan begitu cekatan terlihat seperti koki profesional.


Tak ... Tak ...Tak ....


Cara ia memotong - motong sayuran membuat mereka terpukau.


'Dia cantik bahkan saat memegang pisau sekalipun' Leon menatap Jovita dari atas sampai ke bawah.


...Hara sadar dirinya di lihatin dengan tatapan misterius ala Leon, ia mendekati Leon...


"Dari pada diam melihatku dengan tatapan misteriusmu, lebih baik potong - potong ini Pak Leon,"bisik Hara menyodorkan bakso ikan dalam plastik.


Leon hanya mengangguk. Namun, saat ia merobek plastik bungkus bakso ikan tersebut, bau ikan meruak dan membuat Hara mual.


"Uaaak .... Uaaak .... Bau ikan ... uaaak" Ia muntah di wastafel.


Bu Atin dengan cepat menggosok ke hidungnya dengan minyak angin.



Tatapan mata Leon seketika menatapnya dengan tatapan serius penuh makna.


Ingatannya kembali saat Hara mual karena bau ikan saat di hutan.


Saat Leon melirik Bu Atin, wanita itu mengangguk dan mengangkat kedua alisnya, memberi kode yang Leon mengerti tidak mengerti.


'Bekerja keraslah Pak Leon di rahim wanita cantik itu, masih ada darah dagingmu ' Bu Atin membatin, ia berharap kode yang ia berikan Leon mengerti.


" Tidak apa- apa . Ayo lanjut." Hara melanjutkan masakan hingga selesai.



'Sulit rasanya menutupi kehamilanku darinya' Hara membatin


Mereka makan bersama, menikmati perayaan ulang tahun palsu Zidan. Namun, mulai saat ia mual. Leon mulai memburunya dengan tatapan curiga. Hara merasa tidak nyaman dengan tatapan Leon.


"Sekali lagi selamat ulang tahun Kak Zidan, aku ke kembali ke kamar dulu" Hara kembali ke kamarnya dengan memegang jantung.


Bersambung ....


Jagan lupa kasih Vote dan like dan komentar terbaik kalian iya kakak.

__ADS_1


__ADS_2