Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku ingin bicara


__ADS_3

Setelah melewati rintangan yang sangat berat, Jovita akhirnya bisa bernapas lega. Ia tiba di Villa  Leon di puncak Bogor, penjagaan di sana lebih ketat,  Rikko menempatkan rekannya  di berbagai tempat di area Villa. Setelah mandi makan Jovita duduk menunggu Leon.


“Non  istirahat saja, nanti kalau Bos sudah datang aku kabarin,” ujar Rikko yang melihat wajah Jovita terlihat pucat.


“Tidak apa-apa Kak, hanya kurang istirahat saja,”ucap Jovita ia menahan napas ia  tidak sabar lagi menyambut Leon pulang.


“Apa aku minta bibi buat susu hangat?”


“Tidak usah Kak. Tapi di mana tasku ranselku yang dibawa kak Iwan ?”


“Oh itu  ada di rumah”


“Kak Iwan dimana, Kok dia  tidak ikut.”


Sesuai permintaan Leon, Rikko menyembunyikan tentang yang terjadi pada Iwan. Leon tidak ingin Jovita merasa bersalah dan bertambah ketakutan, jadi, mereka semua tidak ada yang  berani menceritakan  penusukan itu pada Jovita.


“Ada di rumah “


“Kok gak ikut?”


Rikko berdiri dan mengalihkan pembicaraan,  menghiraukan pertanyaan Jovita. Tetapi wanita cantik itu langsung tahu ada yang tidak beres saat ia melihat wajah Rikko yang terlihat gelisah.


“Aku mau minum kopi, apa kamu mau  Non Hara?”


Jovita diam matanya  menyelidiki sikap Rikko yang terlihat gelisah.


“Ada apa Kak Rikko?”


“Tidak ada apa-apa. Hei Hendra tadi bagaimana?” Rikko menghampiri anak buah Leon, ia tahu itu salah satu jurus menghindar dari pertanyaannya.


‘Apa kak Iwan terluka parah saat menyamar  jadi diriku?’Tanya Jovita dalam hati.


Tetapi setiap kali ia mendekati Rikko dan anak-anak yang lain pasti mereka menghindarinya.


                           *


Tidak lama kemudian Leon akhirnya datang, lelaki itu sepertinya benar- benar kelaparan  saat datang,   ia  menuju dapur dan makan.  Jovita tidak ingin menganggu acara makan Leon, jadi ia memutuskan  untuk menunggu Leon selesai makan . Ia   beberapa kali menarik napas  berat, Jovita seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu sangat penting pada Leon.


Saat Leon selesai makan Jovita sudah ketiduran.


“Kenapa dia malah tidur di sini.”?


Leon mengangkatnya ke dalam kamar dan menidurkan di dalam ranjang,  Leon turun dan bicara serius dengan anak buahnya sikap Leon terlihat sangat buru-buru.


“Tidak ada harapan buat, dia biarkan saja,” ujar Leon pada Rikko.


 Tidak lama kemudian Jovita terbangun, ia menghampiri Leon yang sedang  mengobrol serius Zidan dan Rikko

__ADS_1


“Pak Leon saya ingin bicara serius.” Ia terlihat sangat tegang , seolah- olah ingin mengungkapkan hal yang sangat  menggemparkan. Terlihat dari wajahnya yang sangat tegang dan beberapa kali menarik napas panjang. Mata bulat itu,  menatap Leon sendu dan wajahnya terlihat memerah. Melihat pemandangan itu Leon terlihat sangat tenang. Ia melirik Iwan.


“Hara, bicaranya nanti saja, Ok”


“Tapi ini penting bangat Pak Leon, tidak bisa di tunda”


Leon meminta Rikko dan Zidan meninggalkan mereka berdua.


“Hara. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatanmu saat ini. Apapun yang kamu ingin sampaikan ….  aku sudah tahu itu, tidak penting bagiku. Aku hanya ingin kamu selamat, hanya kamu,” ucap Leon dengan wajah memelas.


Jovita meremas ujung jarinya saat Leon berkata seperti itu, ia menelan savilanya dengan begitu susah payah.


“Ba-bapak sudah mengetahuinya?”


“Aku sudah tahu saat kita di hutan, kamu juga beberapa kali ingin menanyakan itu kan? Saat kita di hutan. Hara ...! Aku hanya ingin kamu selamat, hanya itu. Aku hanya ingin  kamu tidak butuh orang lain,  tidak perduli siapapun,  aku hanya butuh kamu seorang. Jadi tolong mengerti aku … Jadi apapun yang aku lakukan hanya untuk keselamatanmu. Ok!”


“Baiklah Pak Leon.” Jovita meremas ujung jarinya dengan kuat.


‘Aku hamil Pak Leon, tetapi kamu menolaknya’


Leon terdiam, tiba-tiba mulutnya terkunci dan lidahnya terasa kaku.


“Baiklah kembali ke kamarmu dan istirahat”


“Baik Pak Leon”


Leon meninggalkannya yang masih bengong menatap punggung Leon yang melangkah jauh meninggalkannya.


Leon menghampiri Zidan dan Rikko lagi terlibat pembahasan yang sangat serius lagi . Jovita kembali ke dalam kamar  dan membuang alat testpek itu ke tong sampah. Padahal tadi saat perjalanan  ke Villa, ia sudah menyempatkan mampir ke apotek untuk membeli alat itu.


Jovita duduk di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat sedih, Hara mengusap perutnya dengan lembut.


“Dia tidak menginginkanmu,  dugaanku benar,” ucap Jovita mengusap perutnya dengan sedih . Tiba-tiba air matanya tumpah mengalir begitu deras.


Tok … Tok …!


Jovita buru- buru menyingkirkan air di ujung matanya.


“Iya”


“Ini aku Non, Rikko”


“Oh iya Kak” masuk”


Rikko masuk dengan wajah ragu-ragu,


“Ada apa Kak?”

__ADS_1


“Bos memintaku menyampaikan kalau  dia ingin Ke Malaysia untuk menemui orang penting. Bos naik Helikopter,  Bos memintamu tetap  di sini lebih aman dari pada di Jakarta”


“Oh baiklah Kak. Tapi bisa kak Rikko pinjamkan aku ponselmu sebentar?”


“Untuk apa?”


“Saya ingin menelepon Om Piter”


“Maksudmu body guardmu itu?”


“Kok Kak Rikko tahu?” Jovita menatap Rikko dengan panik.


“Kan dia  yang kasih tahu bos kamu dalam bahaya”


“A-a-apa yang terjadi  dengan omku”


“Kan, dia di tangkap anak buah Bokoy, apa Bos tidak memberi tahu kamu?”


“APAAA!?”


“Apa aku salah bicara?” Rikko keceplosan.


“Maksud Kak Rikko Om-om-omku ditangkap Bokoy?” Tanya Jovita gelagapan.


“I-Iya.” Rikko juga sangat gugup.


“Jadi yang kalian bahas tadi tidak bisa diselamatkan lagi …  itu adalah omku?”


“Iya,” jawab Rikko lebih panik lagi.


“Pak Leon  membiarkan  begitu saja Omku ditangkap.” Wajah Jovita  benar- benar panik.


“Non Hara dia hanya bodyguargmu  banyak pengawal yang mengorbankan nyawa demi majikan mereka. Bos tidak akan mengorbankan anak buahnya,  hanya untuk menyelamatkannya, lagian percuma. Mungkin Bokoy sudah mencincangnya jadi makanan  binatang peliharaanya,” ucap Rikko.


Mata Jovita melotot panik.


Sebenarnya mereka semua marah dengan Piter, baik dengan Leon dan  semua anak buah Leon. Karena ia orang yang membantu Jovita melarikan diri dari rumah Leon. Jadi mereka menyebut Piter sebagai penghianat.


Hal yang tidak mungkin bagi Leon mengorbankan anak buahnya yang berharga untuk menyelamatkan seorang yang ia anggap sebagai penghianat. Lalu bagaimana Jovita mengatasi semua itu?


Bersambung …


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI.,  SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.


LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA.


Terimakasi untuk kakak  @Junae uju dan @syalala yang memberikan hadiah berupa tips  berupa koin.

__ADS_1


Dukungan kakak semua membuatku semakin semangat untuk  update cerita ini setiap hari.


 Terimakasih kakak semua.


__ADS_2