Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dipaksa diurut


__ADS_3

Hubungan Leon dan Jovita begitu sulit disatukan, karena ego Leon yang begitu tinggi. Semua orang tahu kalau ia mencintai Jovita, tetapi ia enggan mengaku.


Ia selalu bilang pada hatinya  kalau perhatian yang ia berikan pada Jovita hanya ingin melindunginya dari para penjahat yang  akan menyakitinya. Lalu bagaimana kali ini. Apakah Jovita akan selamat?


Dalam kamar memijit keningnya yang berdenyut dan pinggang yang terasa sakit.


“Apa wanita  dewasa seperti dia tidak bisa berenang?Apa benar dia tidak pernah berenang? Apa karena itu tadi ia bersikap seolah itu kolam renang?” Saat Leon duduk, suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya.


Tok …Tok


Bibi Atin datang dan dua orang therapist, dua orang wanita muda lengkap dengan segala Peralatannya.


“Pak, mau di sini apa di tempat biasa?” tanya Bi atin.


“Sini saja Bi." Leon ingin mengganti pakaiannya di kamar mandi.


“Bi tolong panggilkan Jovita”


“Baik  Pak”


Bi atin mengetuk kamar Jovita dan melihat wanita cantik itu  lagi mengurut pundaknya dengan minyak gosok.


“Kebetulan ... sini. Ikut Bibi, aku sudah membawa tukang urut untukmu”


“Aku gak biasa diurut Bi, geli, aku tidak mau”


“Tapi Non, Bos yang minta”


“Gak,  dia saja yang diurut Bi, aku gak mau.” Jovita keluar dan bermain dengan kucing.


Dua laki- laki pekerja terapis membawa alat-alatnya di teras kamar Leon, mata mereka berdua terlihat sangat waspada.


'Menikmati pemandangan laut dan mendapat pijatan akan sangat meyenangkan' Leon membatin.


Bu Atin kembali ke kamar . “Maaf Pak Leon Non Hara tidak mau."


“Loh kenapa Bi? Bukannya dia juga minta diurut sama Bibi?”


“Iya tapi kali ini dia tidak mau, dia tidak biasa diurut katanya”


“Eh. Wanita ini”


Ia meraih ponselnya dan menelepon Rikko.


“Bawa Non Hara ke sini”


 “Baik Bos”


Rikko mematikan ponselnya dan menatap Jovita yang sedang mengendong kucing berwarna putih berbulu lebat itu.



‘Apa lagi sekarang?' Rikko menghampiri Jovita.


“Non Hara Bos meminta Non,  menemui di kamarnya.”


“Biarkan saja Kak, aku tidak mau diurut.” Jovita malah masuk ke kamar.


Merasa diabaikan Leon datang ke kamar Jovita.


“Apa kamu harus bersikap seper itu?”


“Saya tidak biasa di urut”


Leon mendekat tatapan matanya mendominasi lalu ia mengangkat lengan Jovita.


“Kamu akan terbiasa, apa kamu ingin Toni yang mengurut? Bukannya kamu tadi memintanya memijit lehermu?”


‘Apa hubungannya apa Toni sih sadar ular naga’


"Apa Bapak mau melihat saya berteriak- berteriak di sana, saya tidak biasa di urut. Saya lagi sibuk ngurusin mereka." Menunjuk kucing yang ia pungut di jalan

__ADS_1


"Jovita Hara, saya pikir saya sudah cukup baik , saya tidak suka kucing, tapi saya membiarkan kamu mengurus mereka, kalau saya marah nanti kucing kamu saya buang. Bagaimana?


“Isss ... baiklah"


Karena mendapat ancaman ia mau di urut.


“Iya Non, katanya pundaknya sakit, kan?”


Bi Atin membawa ke arah  balkon.


“Tapi aku tidak biasa di urut Bi, apalagi di tempat rame –rame seperti ini,”


“Tidak apa-apa  Non dari pada, sakit”


“Sudah  di sini  saja,” tempatnya siapkan  di sini saja pintah Bi Atin.


“Baik Bu.”


 Dua orang  laki-laki menyiapkan peralatannya termasuk ranjang  lipat yang dibawa lengkap dengan semua alat-alatnya.


‘Hadeh repot bangat si, tinggal pergi saja ke  tempat therapist sudah cukup, kenapa harus menyuruh membawa peralatannya segala satu mobil’ Jovita membatin.


Saat  mempersiapkan yang di perlukan, Bi atin tahu yang di pikirkan Jovita,


“Pak Leon, tidak suka pergi ke tempat seperti itu, dia akan  memanggil  ke rumah apa-apa yang di perlukan,” kata Bi Atin menjawab apa yang dipikirkan Jovita.


“Iya, tapi begini kan repot bangat Bi.”


Leon sudah berganti pakaian, menggantikannya dengan handuk. Di lilitkan pinggangnya.


Ia tidur di ranjang terapis, dengan tubuh telungkup memperlihatkan otot- otot tangannya keras, otot perutnya juga berbentuk kotak-kotak


Jovita terlalu sibuk mengkritik sikap dinginnya dan sikap kasarnya Leon selama ini, sampai-sampai dia melupakan yang indah dari tubuh Leon saat ini, matanya menatap tubuh kekar Leon.



'Ternyata si Ular Naga ini, memiliki tubuh kekar juga' Jovita membatin, memicingkan bibirnya dengan acuh


“Apa kamu akan berdiri di sana satu  harian ini?” Leon melirik Jovita hanya berdiri


Jovita  masih berdiri menatap Leon.


“Berhenti menatapku seperti itu, atau saya akan menggendong mu untuk berbaring di sini,” kata Leon menatapnya .


Jovita merengutkan bibirnya “Tapi saya malu buka baju di depan banyak orang.”


“Kamu malu sama siapa , aku sudah melihat semuanya, jadi tidak perlu malu lagi,” Leon mendekat dan setengah berbisik ke kuping nya. Wajah Jovita seketika memerah bagai tomat.


“Dasar tukang paksa,” rutuknya kesal kesal, ia memonyongkan sambil merepet kesal.


“Tapi pundak ku sudah sembuh, bisa aku tidak usah diurut?” Jovita mencoba mencari alasan lagi.


“Ckk buruan lah, apa perlu saya yang membuka pakaianmu?"Ujar Leon lagi.


Bibi dan kedua wanita pegawai therafist hanya tersenyum, melihat tingkah, jovita.Tingkahnya yang enggan diurut, membuat Leon harus beberapa kali menarik nafas panjang dan membuang kasar.


Ia datang dari kamar mandi hanya mengenakan kain yang terlilit di atas dada, berjalan dengan sikap malu-malu karena tubuhnya hanya di balut kain tipis.


Leon sudah berbaring, saat wanita cantik itu datang ke arahnya, ia melirik Jovita, matanya mengawasi dari atas kepala sampai ke ujung kaki dan matanya berhenti di bibir mungil berwarna merah itu.



'Dia sangat cantik' Leon membatin.


Ia mengalihkan wajahnya dan mulai diurut,  kedua wanita berseragam abu-abu itu sudah siap memanjakan tubuh mereka berdua,


“Kesini Mbak” panggil seorang seorang terapis.


Mereka berdua berusaha senyum ramah dan tampil sangat cantik, setangkai bunga tampak diselipkan di belakang kuping kedua therapist sebagai  ciri khas mereka. Namun, ada sesuatu yang mereka sembunyikan di balik senyum mereka terselip sebuah ketakutan.


Leon sudah mulai di urut, tapi Jovita masih berdiri terlihat ragu, dalam ruangan itu hanya mereka berempat.

__ADS_1


“Duduklah jangan pakai lama,” perintah Leon bernada tegas, ia bisa melihat Jovita berjalan ragu dari pantulan kaca di depannya.


“Tapi… tidak mau di urut , saya gelian orangnya,”


“Ckk, banyak alasan, jangan sampai saya memaksamu,” kata Leon lagi-lagi nada  memaksa.


Jovita  merebahkan tubuhnya mengikuti instruksi therapist, kini, tubuhnya dibaluri dengan minyak jaitun  di campur rempah-rempah  wanginya relaksasi.


Ia suka wanginya lembut dan menyegarkan  otak, ia menutup matanya dan menikmati wangi, Leon sesekali melirik ke arahnya.


Tapi saat tangan wanita itu mulai memberi pijatan ke tubuhnya, ia mulai bereaksi menggeliat merasa geli.


“Auhhh geli,” ia tertawa menggeliat-liat seperti orang di kelitik


“Kamu diam, agar pundak mu yang sakit itu bisa di urut” ujar  Leon memiringkan lehernya dan menatapnya.


“Saya  sudah bilang, saya  orangnya gelian, makanya  tidak mau  diurut,” kata Jovita , ia menggeliat  seakan banyak semut menggerayangi ke badannya.


“Apa kurang kuat, Bu? saya bisa menambahnya,” tanya wanita berwajah cantik itu.


“Tidak, aku memang tidak biasa di urut.”


“Ibu pejamkan mata itu hanya awalnya saja, nanti juga enak lama-lama,” kata wanita berparas Ayu itu dengan sabar.


Ia mulai mengerakkan tangannya, tapi lagi-lagi Jovita tertawa merasa geli.


“Ih, kamu membuat kupingku sakit." Leon kesal.


“Oh ya ampun geli,” kata Jovita, wajahnya sudah memerah menahan tawa.


"Sini ranjangnya rapatkan kesini.Saya pegang tangannya dan urut dia dulu. Satu pegang kakinya, mbak  mulai dari  yang sakit saja, bagian pundaknya,” pinta Leon menahan tangan Jovita dan mbaknya memegangnya kakinya.


“Ini pemaksaan. Pak Leon!” teriak Jovita.


“Diam dan terima saja,  Pundak kamu kalau tidak diurut akan biru nantinya dan membengkak,” kata Leon menahan tangannya dengan kuat.


 “Ayo urut mbak”  Leon memberi instruksi pada kedua wanita terapis, keduanya saling menatap karena baru kali ini mereka mendapati  pelanggan di pegangin  dan dipaksa.


“Auh sakit,”Teriak Jovita saat wanita itu mengurut bagian pundaknya yang terkilir. Leon memegang tangan Jovita.


Lama kelamaan ia diam, ia merasa kelelahan dan mulai merasa sedikit enak, Leon melepasnya


Benar saja, awalnya saja ia merasa geli tapi lama-lama tertidur.


“Pak, istrinya  tertidur. Tapi, bagian perutnya dan bagian dadanya belum ke pegang,” apa kami melanjutkan?”


“Tidak usah urut bagian yang sakit”


Jovita akhirnya mulai tidur.



Leon mulai merasa mengantuk, tetapi ia tidak sadar bahaya yang sedang mengincar nyawa Jovita, kedua lelaki pekerja terapis itu mengincar nyawa Jovita.


Apakah Leon akan menyadarinya atau Jovita terluka kali ini?


Bersambung ....


jANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2