
Perlahan mobil berwarna hitam itu menyusuri jalan Ibu Kota.
“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu Hara, aku akan menjagamu semampuku, maaf, dulu aku sempat menyerahkanmu padanya, aku pikir dia akan menjagamu, ternyata tidak, dia malah menyerah, dia tidak mau merasakan rasa sakit lagi, dia berusaha membuang masa lalunya.
Leon tidak tahu, masa lalu tidak akan bisa di buang dan dilupakan begitu saja, karena masa lalu itu bagian dari perjalan hidup, dia tidak mengerti tidak akan ada, masa depan, tanpa ada masa lalu,” ucap Piter panjang lebar, ia terlihat sangat kecewa pada Leon, bagaimana tidak. Piter mempercayakan Jovita padanya 2 tahun yang lalu, tapi ia mendapat kabar kalau Hara korban kebakaran.
Bahkan sekarang pria itu sepertinya tidak ingin mengingat masa lalunya menyakitkan itu, ia mengusir Jovita dari hidupnya.
‘ Dasar lelaki lemah’ Piter membatin.
“Tidak , aku tidak akan takut Om, aku yakin om orang baik,” ucap Jovita tersenyum kecil, terlihat sangat putus asa, menjalani hidup tanpa bisa melihat warna dunia.
“Kamu tahu, saat dia meneleponku saat kalian di Kalimantan, aku sudah mempersiapkan semuanya, aku menolak rumah pemberian Leon , apa kau tahu kenapa? Aku tidak ingin kamu di anggap murah, kamu masih punya banyak uang, kamu bukanlah orang yang kekurangan seperti yang dipikirkan lelaki itu,” ucap Piter.
Jovita terlihat diam, hanya mendengar ocehan Piter sepanjang jalan, dia tidak tahu kemarahan Piter ditujukan untuk siapa, karena Hara tidak ingat tentang Leon.
Setelah berhasil melewati kemacetan Ibu Kota, mobil Piter tiba juga di rumah besar di daerah Depok, di sana sudah ada Pamannya dan Bi Ina yang siap mengurusnya.
Baru juga mobil itu berhenti di depan, wanita itu setengah berlari menghampiri mobil Piter.
“Iya ampun Non kamu masih hidup?” wanita paru baya itu merangkul tubuh Jovita ia menangisinya,
“Kenapa jadi seperti ini Non? Iya, Allah! kasihan sekali hidupmu, kehilangan anak, kehilangan penglihatan, dan kehilangan ingatan juga’ Ia membatin dan menangis memeluk erat tubuh Hara. Hara masih diam karena ia tidak mengenal mereka semua yang ia ingat dalam hidupnya hanya Toni dan Bi Atin.
Vikky tidak bisa menahan rasa senangnya, saat keponakan yang ia sayangi masih hidup, saat menerima kabar Jovita ikut dalam kebakaran itu. Vikky menyesali banyak hal dan yang pasti saat itu sangat marah pada Leon, saat ini juga, ia merasa kemarahannya muncul lagi, saat lelaki itu melepaskan Jovita begitu saja, saat Jovita dalam keadaan terpuruk.
Jovita hanya mematung saat suara lelaki paruh baya itu menangisi dirinya, ia mencoba menimang dan terlihat takut saat bertemu dengan orang asing.
“Jangan takut Non, aku bibi Ina wanita yang selalu menjagamu waktu kecil, kita semua tidak akan menolakmu,” ucap Bi Ina.
Saat malam tiba, bagi Jovita, rumah itu semua sangat asing, ia mau kemanapun tidak tahu kemana, ia harus mengunakan bantuan orang lain baik ke kamar mandi, kalau dulu di Panti kamar mandi ia sudah sangat hapal dan ia bisa pergi sendiri. Tapi malam ini, ia meraba kesemua tempat, ingin ke kamar mandi tapi tidak berhasil, untung Piter masih bangun mendengar suara pecah, ternyata hal yang memilukan terjadi, Jovita menginjak serpihan gelas pecah melukai tangan dan telapak kakinya.
“Hara apa yang terjadi?” Piter mengangkat tubuhnya ke sisi ranjang.
“Bi…!” Panggil Piter wanita itu berlari dengan wajah panik.
“Iya Gusti! Kamu tidak apa -apa, Non?”
“Hanya ingin mau ke kamar mandi bu, maaf merepotkan,” ucap Jovita merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Non, maaf bibi harusnya memberitahukan mu, iya ampun semua terluka, pasti sangat menyakitkan” Bi Ina membersihkan beling kaca yang berserak di lantai. Piter mencabut serpihan kaca yang masuk kedalam kakinya.
Jovita tidak menangis ataupun mengeluh sakit, tetapi justru mereka semua yang meneteskan air mata, tergambar jelas di wajah Jovita ia seakan tidak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya.
“Dengar Non… kalau kamu perlu apa-apa panggil bibi saja, tadinya bibi mau tidur sama kamu, tapi aku melihat Non masih sangat canggung sama kami semua, jadi saya urung tidur di sini,” ucap Bi Ina.
__ADS_1
Jovita Hara nyonya di rumah itu, tapi karena keadaanya yang buta, ia tidak ingin merepotkan orang di sekitarnya, ia takut di tinggalkan dalam kegelapan , ia takut kalau orang-orang itu meninggalkannya sendiri, maka itu ia selalu bersikap baik.
Saat membungkus luka di kakinya, Piter terlihat mengepal tangan dengan sangat kuat, urat lehernya menegang saling bertarikan, rasa marah itu ia tujukan pada seseorang.
“Dengar Hara…! Kami ada untukmu jangan pernah merasa kalau kami akan meninggalkanmu, tidak akan pernah, aku ingin memberitahu satu hal, Bibi Ina yang menjagamu dari sejak kamu kecil , aku yang selalu menjagamu dari dulu, sekarang, bahkan nanti.
Paman Vikky adalah Paman kandungmu, kita adalah keluargamu, jangan pernah sungkan iya,” ucap Piter merangkul tubuhnya lagi, tadinya Jovita selalu menolak, tapi saat di jelaskan ia luluh.
**
Ini sudah satu Bulan, Jovita sejak tinggal bersama keluarga barunya di daerah Depok, pagi ini seperti keinginan Jovita yang ingin mereka serapan bersama dan makan bersama layaknya keluarga, bercengkrama ada suara tawa dan canda, akhirnya sedikit demi sedikit mulai tersenyum dan mulai menerima Piter dan dan Bibi Ina
“Om, Dinar mau Gitar” pungkas Jovita pagi itu,
“Hara! Om sudah bilang, kamu bukan Dinar, kamu Hara,” kata Vikky.
“Baiklah Om, tapi berikan aku gitar iya, aku ingin mencari kesibukan,” baiklah jawab Piter dan Vikki serentak.
Tiba-tiba Jovita tertawa mendengar kedua lelaki itu menjawab serentak.
Itu pertama kalinya Jovita tertawa senang sejak datang kerumah itu. Mereka semua saling melihat satu sama lain saat Jovita tertawa.
“Menjawab kompak bangat”
“Iya, kamu tidak menyebut nama, jadi kami menjawab serentak, kamu harus memberikan kami inisial nama misalkan A atau B ,” ujar Vikky.
“Ayam,” jawan Piter.
“Ha … ha kok ayam sih,” ujar Hara, tidak diduga lelucon kecil seperti itu saja bisa membuat Jovita tertawa.
“B, apa?” Ia bertanya lagi.
“Black”
“Om Piter hitam orangnya?”jawab Vikky.
“Iya sangat hitam, seperti pantat penggorengan gosong,” timpal Piter lagi.
Hara tertawa lagi, Jovita akan cepat pulih jika keluarganya berusaha membuat yang terbaik untuknya. Piter yang menganggapnya seperti keponakanya sendiri, walau Jovita pernah mengajak menikah, tapi melupakan hal itu, baginya paling utama kesembuhan Jovita, kedua lelaki itu berjanji akan menjaga Hara selamanya.
Saat Piter membuat petunjuk yang membantu Jovita bisa berjalan keliling rumah. Vikky membuat panggung kecil di halaman depan untuk ia pakai main gitar, karena Jovita suka dengan wangi-wangian bunga, kedua suami istri itu menanam aneka bunga seperti bau yang di Panti, bunga yang disebutkan Jovita.
“Aku berharap matanya sembuh, tapi biarkan ia tetap lupa ingatan” Ucap Piter
“Kenapa?” Vikki menatapnya dengan serius.
__ADS_1
“Aku tidak ingin, dia mengingat hari yang menyakitkan itu, biarkan lelaki itu tersiksa sendirian dengan masa lalunya, tapi untuk Hara, biarkan Hara mendapat kehidupan yang baru, aku pastikan lelaki itu menyesali perbuatanya karena sudah meninggalkan Hara,” ucap Piter dengan raut wajah serius.
Piter menolak semua bantuan Leon, ia tidak menerimanya, mereka berjuang sendiri untuk biaya pengobatan Hara.
Jovita memetik gitar di halaman depan, dalam pendopo yang di bangun Vicky untuknya, ia selalu di sana setiap sore sedangkan bibi Ina dan suaminya sibuk di dalam rumah beres-beres dan kedua pamannya masih di kantor.
Sudah sebulan Jovita tinggal di rumah keluarganya di daerah Depok, ia sudah mulai terbiasa dengan lingkungan rumahnya, kedua pamannya membuat petunjuk di setiap rumah untuk Jovita Hara bisa berjalan berkeliling rumah tanpa di bantu orang lain.
Sore ini, ia duduk di pendopo, jari-jari lentiknya mulai memetik senar gitar yang akan menemani sore ini, ia sudah cantik dengan dress berwarna putih, rambutnya yang panjang hanya dijepit di tengah, rumah Jovita di pinggir jalan yang berpagar tidak terlalu tinggi, hanya setinggi badan orang dewasa yang memudahkan orang bisa melihatnya dari pinggir jalan,
Jovita selalu konser di sana, ada beberapa pedagang yang jadi nongkrong di depan rumahnya, awalnya satu orang tukang ketoprak karena Hara sering beli, tukang bakso ikut nongkrong sekarang, bahkan sudah ada beberapa gerobak ikut menjajakan dagangannya di depan rumah Jovita.
“Non Hara lagu merindukanmu donk Non. Rindu berat ni sama istri!” kata tukang ketoprak.
Dengan senang hati menyanyikan lagu yang di request bapak itu dan diikuti pedagang yang lain, begitulah keseharian Jovita menghabiskan waktunya jadi artis tanpa bayaran, di depan halaman. Tapi sore ini ada yang berbeda.
Satu Mobil mewah berhenti di depan rumah itu, awalnya mereka pikir mau pesan salah satu jualan para pedagang, tetapi sudah sepuluh menit hanya diam melihat ke arah Hara, lelaki rupawan bertampang dingin, Leon Wardana melihat Jovita yang sedang menyanyikan sebuah lagu dan memetik sebuah gitar, ia tidak turun dari mobilnya hanya membuka sedikit kaca mobilnya dan melihat Hara.
Ternyata bu Ina melihat Leon dari jendela rumah.
“Jangan khawatir Pak Leon, Nona kami akan baik-baik saja walau kamu menolaknya, kami semua akan menjaganya,” ujar Bu Ina.
“Apa Bu ?” Pak Damar suaminya penasaran.
“Itu Pak Leon ia mengawasi Hara, mungkin ia memastikan kalau Nona baik”
Tida suka melihat Leon, Bu Ina mengajak Hara masuk ke rumah.
“Aku berharap kamu baik-baik saja dan menemukan jodoh yang terbaik untukmu,” ujar Leon. Mobil itu meninggalkan rumah Hara.
Bersambung…
KAKAK. JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing