
Saat memberikan Kaila pil pencegahan kehamilan itu, Hara sedikit merasa lega. Namun, tidak lantas membuat hatinya tenang.
Di satu sisi, Kaila telah menyelamatkan Leon kalau saja tidak membangunkan Leon, mungkin hal buruk terjadi, tetapi melihat Kaila dalam rekaman itu sangat menikmati tubuh suaminya ia menggeleng.
‘Kamu akhirnya menunjukkan siapa dirimu Kaila, tetapi tenang, aku tidak akan menunjukkan kemarahanku padamu'
Hara memukul kepalanya, menyalahkan otaknya yang terus memikirkan bagaimana Kaila melepaskan pakaiannya sendiri lalu duduk di atas tubuh suaminya, sebagai seorang istri tentu ada rasa terluka.
“Hara kamu harus kuat,” ucapnya kemudian.
“Lebih baik aku bertemu Leon, aku ingin melihat keadaanya,” ucap Hara. Walau Leon sudah memintanya tidak usah datang lagi, tetapi Hara tetap saja datang.
Di sisi lain di kamar hotel di mana Leon dirawat, di hari ketiga dapat perawatan , Leon sudah bisa duduk, bahkan , ia memaksa untuk bisa berjalan.
“Bantu aku masuk keruangan ku,” pinta Leon meminta Bimo membawanya ke lantai atas ke ruang kerja.
“Ta-tapi Pak untuk apa?”
Leon menatap tajam saat Bimo bertanya lagi.
“Baik Pak.” Bimo menunduk takut saat Leon menatapnya dengan tatapan tajam, ia kembali jadi sosok yang sinis dan menakutkan belakangan ini, tepatnya setelah kejadian yang ia alami.
Bimo membantu Leon untuk menyamarkan penampilannya, agar ia bisa naik ke ruangannya, pakai topi masker dan kaca mata hitam dan jaket hody lalu ia naik ke atas.
“Tunggu di sini, berjaga di luar saja,” ucap Leon lalu ia masuk, tujuannya hanya satu, ingin menyingkirkan kamera pengawas yang ia pasang di ruangannya.
Apa yang dipikirkan Hara benar terjadi, Leon menghapus rekaman cctv itu. Leon tidak menyadari kalau Hara sudah memasuki ruangan kerjanya sebagai seorang pencuri Profesional.
Lalu setelah menghapusnya dan menyingkirkan semua. Leon turun kembali ke kamar rawat. Namun, saat membuka pakaiannya, saat itu juga Hara datang membuka pintu dan berdiri melihat Leon melepaskan pakaiannya.
Ia diam dan mata bulat itu, menatap Leon dengan mata bingung.
“Hara? Bukannya aku sudah bilang jangan ke sini,” suara Leon terdengar kesal.
“Kamu dari mana, sayang? Bukanya kamu masih sakit?”
__ADS_1
“Aku hanya naik ke ruanganku, menyimpan beberapa berkas penting.”
“Memang tidak bisa orang-orang mu yang melakukanya kenapa harus kamu, bagiamana dengan lukanya?”
“Aku sudah bilang aku tidak apa-apa , justru aku ingin bertanya padamu kenapa kembali ke sini? Sementara ponsel kamu sudah diantar ke rumah”
‘Haaa, ponselku sudah diantar ke rumah?’ Hara terlihat bingung, karena ia belum pulang ke rumah dari rumah sakit ia langsung menuju hotel.
“Aku ingin melihat kamu ingin menemani kamu ingin men-“
“Hara. Aku sudah bilang tadi , kan, aku tidak butuh kamu merawat ku di sini.” Potong Leon dengan marah, garis wajahnya saling bertarikan.
Hara terkejut mendengar ucapan Leon, mata itu berkaca-kaca.
“Apa salahku? Aku hanya menghawatirkan kamu, kenapa kamu melarang ku?
Hara melihat Leon sangat berbeda. Leon kehilangan kendali, ia tidak sadar telah menyakiti hati wanita yang ia cintai ,
Hara mundur ia sangat kecewa dengan sikap kasar Leon.
Terlambat. Hara membuka pintu dan keluar dari ruangan.
“Hara! Leon ingin mengejarnya, tetapi tiba-tiba luka di perutnya terasa sakit, ia meringis memegang bagian perutnya. Leon terlalu banyak bergerak dan ia juga beberapa kali berjongkok, di ruangannya tadi , maka itu , luka itu kembali berdarah jahitan nya terlepas dan mengeluarkan darah.
“Bos, hati-hati.” Bimo membantu berbaring kembali di ranjang .
“Tolong kejar Hara, dia pasti kaget karena aku marah padanya. Gila! Kenapa aku membentaknya tadi.” Leon memaki dan menyalahkan kebodohannya ia tahu Hara sangat kecewa dan marah atas sikapnya yang kasar dan beberapa kali menolaknya.
Hara keluar dari hotel, ia lewat belakang memakai selendang untuk menutup kepalanya, ia keluar dari gerbang belakang hotel. Sementara anak buahnya berlari ke depan hotel ia berpikir kalau Hara berlari ke depan, tetapi ia kehilangan jejak.
Hara kembali menghentikan sebuah taxi, tetapi saat tiba dalam kendaraan itu, tiba-tiba saja ia tidak ingin pulang ke rumah.
“Aku tahu ini berat untukmu Leon, bertahanlah semua akan baik-baik saja,” ucap Hara, ia sangat sedih, ia mengerti apa yang dirasakan suaminya.
“Kamu pasti merasa kehilangan harga diri, baiklah kamu butuh waktu sendirian dan aku juga butuh waktu sendirian, tetapi ketahuilah aku tidak aka marah Leon.Kita akan buktikan pada mereka semua , kalau rumah tangga kita akan baik-baik saja,” ujar Hara.
__ADS_1
Ia memutuskan kearah Ancol taman wisata di pinggir laut di daerah Jakarta utara, Leon memiliki sebuah hotel juga di sana, hotel yang baru dibeli Leon tepatnya di pinggir laut Ancol, sebuah hotel bintang empat yang pimpin Hilda.
Saat Hara tiba, ia langsung ke meja resepsionis.
“Berikan aku kamar lima kosong sembilan,” ujar Hara saat berdiri di meja resepsionis.
“A- a-Ibu?” ucap seorang wanita berseragam safari bermotif batik. Kedua wanita itu mengenalinya.
Memberikan kunci pada Hara, sebuah kamar presidential suite, kamar yang menghadap pantai yang bisa memanjakan mata setiap penghuninya, memberikan kesejukan pantai Ancol dan keindahan lampu-lampu kota Jakarta Utara saat malam dan fasilitas yang lengkap yang akan memanjakan dirinya selama di hotel.
“Oh iya … jangan beritahukan , kalau ada yang bertanya tentang saya, baik pada Ibu Hilda sekalipun.” Ucap Hara , ia ingin menangkap siapa penghianat di bawahan Leon.
“Baik Bu,” ucap kedua resepsionis itu dengan patuh.
Melihat ada istri bos menginap di hotel kedua wanita berwajah cantik itu terlihat sangat hormat.
Hara menata mereka lagi, “Dengar! jangan katakan pada siapapun saya di sini, saya ingatkan sekali lagi … jika ada yang tahu saya di sini, berarti kalian berdua yang membocorkan,” ancam Hara tegas.
“Ba-baik Bu”
Hara naik ke kamar yang lima kosong Sembilan ada di lantai lima, ia juga menutup kepalanya agar pegawai yang lain tidak mengenalinya. Saat tiba di kamar seketika pikirannya tenang saat Hara membuka gorden kamar dan menatap kearah laut.
Leon panik dan ketakutan saat Hara pergi tanpa pengawal, belum lagi ia pergi karena kemarahan Leon.
Leon memutuskan pulang ke rumah dan dirawat di rumah,
Leon semakin panik saat kedua bocah kembar itu menangis mencari ibu mereka.
“Ayah, aku mau ibu,” ucap Chelia dengan tangisan .” Ibu sudah beberapa hari tidak bertemu kami.”
“Iya sayang nanti ibu datang masih ada urusan sebentar, sabar iya sayang.” Leon menenangkan si cantik Chelia tetapi Okan diam tidak bilang apa-apa tetapi air matanya mengalir bagai anak sungai.
Di sisi lain Hara bekerja keras untuk menyelidiki, ia ingin menemukan bukti. Apakah Kaila terlibat dengan rencana Bianca.
Bersambung ….
__ADS_1
jangan lupa vote dan like iya kakak.