Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hamil I


__ADS_3

Jovita terpaksa dikurung karena ingin melarikan diri. Saat ia tidur pulas, Bu Atin keluar diam- diam, ia ingin menelepon Leon.


"Bagaimana?" Tanya Bu Atin pada Iwan, setelah ia mengunci Jovita di kamar itu lagi.


"Zidan sedang menjemput Bos di bandara, Bi"


"Baiklah"


"Bi Atin ke dapur menyiapkan makanan untuk Jovita, lalu meletakkan di atas nakas dan ia keluar dan mengunci kamar, menunggu Leon datang.


*


Jovita terbangun saat mencium ada bau bawang goreng, ternyata Bu Atin menyajikan 'makanan untuknya.


Jovita bangun dan menuju pintu.


" Bi, aku juga mau keluar!" Teriak Jovita. Tetapi tidak ada sahutan.


Ia mencari tas miliknya, tetapi tidak menemukannya, duduk di samping nakas, melihat ada buku catatan.


Saat ia membaca, ada nomor Toni.


" Oh. Kak Toni ...." Wajahnya langsung ceria.



"Halo Kak Toni"


"Hara!?"


Cerita panjang lebar, akhirnya Jovita bisa bernapas lega.


Karena Toni berjanji akan menyelamatkan Piter.


"Hara .... Jangan lakukan apapun pada bayimu, bersabarlah, tunggu aku. Aku menjaga kalian berdua, aku akan membawamu ke tempat aman"


"Kak Toni kok tahu ....?"


"Hendra bercerita, kamu menangis katanya, karena bos menolaknya. Hara, aku akan menikahi mu. Apa kamu mau?"


"Baiklah Kak"


"Sekarang tutup teleponnya dan hapal nomorku"


"Baik Kak Toni"


Toni datang di waktu yang tepat, saat wanita cantik itu, butuh sandaran ia memberi bahunya, Toni unggul selangkah di depan dari pada Leon.


*


Mendengar Jovita meninggalkan Villa Leon  langsung meniggalkan Penang.


Malaysia.


“Apa yang kamu pikirkan Jovita Hara? Apa lagi yang salah saat ini,”? ujar Leon .


 Untungnya pengusaha kaya asal Indonesia,  mantan Jaksa itu meminjamkan Jet Pribadinya mengantar Leon kembali ke Indonesia. Di bandara Rikko sudah menunggunya menggunakan helikopter.


“Maafkan saya Bos, karena Non Hara bisa lolos  dari pengawasan saya,” ujar Rikko ia menunduk merasa bersalah.


“Lalu di mana Posisinya?”


“Di Jakarta Bos”


“Kok bisa?” Leon menatap mereka bergantian.


“Dia naik helikopter yang  kami gunakan mengambil barang. Tapi Iwan sama Bibi sudah menguncinya dalam kamar”


Leon menarik napas lega mendengar itu.

__ADS_1


“Baiklah nanti kita bicarakan di Villa mari  naik,” pinta Leon. Rikko dan kedua rekannya saling menatap. Karena Leon tidak marah, ini pertama kalinya untuk mereka tidak mendapat tatapan  tajam dari Leon dan tidak menunjukkan raut marah.


‘Kenapa Bos tidak marah?’ Rikko membatin.


Perjalanan dari bandara, Leon memilih tidur, karena beberapa hari ini, tubuhnya  sangat lelah ke sana kemari.


 Tidak berapa lama helikopter berwarna putih itu akhirnya tiba di Jakarta, Iwan dan Bu Atin  sudah berdiri di sana  menyambut Leon.


“Eh Bi, sudah sembuh?” Leon memegang legan Bu Atin.


“Sudah”


“Di mana dia?”


“Saya mengurungnya di kamar Bibi, Bos," ujar Iwan.


“Sini bicara dengan Bibi berdua," ucap wanita itu dengan raut wajah serius.


Alis Leon menyengit saat wanita itu membentaknya terdengar marah.


“Apa benar kamu menolaknya?” Tanya Bu Atin dengan wajah menegang.


“Iya Bi, aku menolaknya”


“Haaa!? Kenapa?” Wajah bu Atin menahan kemarahan pada sang  majikan.


Iwan dan Rikko yang hendak turun menoleh kearah Bu Atin yang sedang marah.


“Bia biar aku yang bicara dengannya nanti”


“Bibi pikir .... Kamu sudah berubah!”


“Itu urusan aku dengan dia, Bi”


“Akan jadi urusan Bibi Pak Leon! Kamu sudah berjanji padaku untuk menjaganya dan  kamu bilang kamu mencintainya. Tapi bagaimana mungkin kamu tega  menolaknya”


“Bibi, kenapa lebih memilih  membela  dia dari padaku”


“Haaa ….! Maksud Bibi?”


“Kenapa kamu menolak kehamilan Non Hara?”


“Ha! Hamil? Siapa yang hamil?”


“Tunggu .... Kamu belum tahu kalau Hara hamil?”


“Tidak,” jawab Leon dengan wajah  bingung.


“Lalu yang kamu tolak tadi apa?”


“Aku menolak menyelamatkan Piter bodyguardnya”


“Haaa?” Iwan ikut bersuara.


“Kamu dalam masalah besar Pak Leon, dugaan ku benar”


“Hara berpikir kalau kamu menolak anak yang di kandung . Lalu dia ingin mengeluarkannya hari ini”


“Ha-Hara Hamil ….?” Wajah Leon memerah  mata itu, berkaca-kaca.


“Apa kamu  benar tidak tahu?”


“Aku tidak tahu Bi.” Leon mengepal tangannya dengan kuat, lalu menggigitnya dengan kuat, ia kaget tidak percaya.


Leon memang lelaki yang kaku seperti  kaos kaki sebulan tidak di cuci. Di saat hati bahagia pun, ia tidak bisa menunjukkan rasa bahagianya, ia hanya bisa mengepal tangannya dengan kuat lalu menggigitnya  dan matanya berkaca-kaca, ia tidak bisa menunjukkan bagaimana cara orang menunjukkan rasa bahagia.


Ia takut Jovita  menolaknya ia takut gagal lagi.


“Kamu menginginkannya kan?”

__ADS_1


Tanya Bu Atin  ia menatap wajah Leon yang memerah menahan luapan perasaanya.


“Iya Bi,” jawabnya pelan  mengalihkan wajahnya dan mengerjap-erjapkan matanya  agar  bendungan dalam matanya tidak tumpah.


“Kamu dalam bahaya besar, ini lihat.” Kalau Bibi dan Iwan tidak menguncinya di kamar hari ini  dia akan ke rumah sakit”


Leon membaca kertas berwarna putih, meremasnya dengan kuat sebuah kertas persetujuan dari keluarga untuk menggugurkan kandungan.


Tangan Leon terlihat gemetar ia ketakutan.


“Maaf Bi”


“Pak Leon, Bibi sudah bilang sama kamu. Wanita itu butuh kepastian dan butuh kejelasan dan butuh perjuangan. Sekarang. Jika kamu memang mencintai Hara dan bayinya, berjuanglah untuk mendapatkan kepercayaan lagi, ubah sikap dinginmu, jangan bersikap kaku lagi. Jika kamu masih terus seperti itu, kamu tidak akan mendapatkan hati Hara sepenuhnya. Belajarlah untuk terbuka”


“Baiklah Bi”


“Sekarang temui di dikamarku, bicara dari ke hati padanya , bibi mau ke dokter dulu”


“Baik Bi”


Wajah Leon sangat tegang saat Iwan memberikannya kunci kamar.


“Ini Bos”


Leon  menerima kunci dari tangan Iwan, tetapi wajahnya semakin terasa panas. Leon turun  ke kamar  Bu Atin di depan  pintu kamar ia berdiri diam ragu untuk masuk.


Hal itu mengundang perhatian Zidan dan anak-anak lain.


“Ada apa dengan Bos”


“Bos sebentar lagi mau punya dede bayi," ujar Iwan.



Iwan, Rikko. Zidan, Ken keempat lelaki tampan itu berdiri menatap sang bos yang terlihat  masih berdiri di depan kamar Bu Atin. Mereka berempat  menahan tawa melihat sang Bos yang tiba-tiba seperti ayam sayur saat berhadapan dengan Jovita Hara.


Saat Leon melihat ke arah  mereka  ber empat semua ambil gaya masing-masing mengalihkan wajah dan pura-pura garuk kepala.


“Aku bisa tepak  jantung bos pasti deg, dug, dag …. saat ini,” ujar Iwan.


“Aku greget melihat tingkah Bos, kalau aku itu, melihat orang aku cintai mengandung anakku aku akan langsung berlari memeluk cewekku lalu akan aku ajak menikah,” ujar Ken lelaki yang banyak ngomong itu terlihat percaya diri saat bicara.


“Bacot ….,” Timpal Zidan. Ia lelaki yang tidak banyak bicara.


“Iya, gue serius Bro,” ujar Ken lagi.


“Kalian tidak tahu Bos itu dalam situasi yang sulit”


“Sulit apa?” Iwan dan yang lain menatap Zidan.


“Pertama, Bos, sudah pernah menolak menikah dengan Non Hara, kedua tuduhan pada orang tuanya, ketiga dia pernah bilang kalau dia tidak mau punya keturunan dari wanita manapun. Namun, saat ini Jovita hamil, dia akan menjilat ludahnya sendiri.  Kalau  bos ingin  Non Hara  jadi miliknya bos harus menikahinya," ujar Zidan.


Di sinilah, sang bos mafia, akan mendapat ujian cinta paling berat dalam hidupnya, mampukah ia berubah hidupnya, demi sang buah hati dan demi wanita yang ia cintai?


Bersambung ....


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI.,  SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.


LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2