
Hara terlalu banyak memikirkan hal termasuk tentang orang jahat yang memberinya uang sepuluh juta, yang dikatakan Bu Ina padanya, memikirkan Toni yang meninggalkannya, memikirkan Bu Atin yang tidak bisa ia temui. Hara menyimpan semua itu di dalam hatinya .
Saat mereka selesai ziarah, Hara hanya tiduran di dalam mobil, wajahnya pucat ia hanya diam tidak mengatakan apa-apa pada Bi Ina.
“Non, kamu tidak apa-apa?” Bi Ina menyentuh dahi Hara , badannya panas.
“Pak Non Hara sakit.” Bi Ina panik.
“Jangan panik Bu, kita bawa ke dokter.”
Dokter yang biasa yang menangani Hara, yang tahu tentang semua tentangnya ada di rumah sakit di dekat rumah mereka di daerah Depok di mana Leon juga di rawat di sana karena di begal preman saat mencari Hara. Piter juga langsung terbang dari Medan, Vikky yang mengurus pekerjaan.
*
Karena itulah Leon bisa bertemu Hara siang itu di rumah sakit yang sama dengannya. Sementara Bram belum menemukan informasi tentang Hara.
Bram tidak punya pilihan lain, ia terpaksa bertanya tentang Jovita pada manager hotel, minimnya informasi yang di berikan Leon padanya membuatnya berusaha sendiri untuk mencari tahu.
Leon menelepon Bram .
“Kamu dimana?”
“Maaf Pak, saya berada di hotel, kata Hilda barusan ibunya datang mengambil barang- barang wanita itu kesini.”
“Apa Hara ikut?” Tanya Leon berharap wanita yang ia lihat sekilas di taman rumah sakit, bukanlah Jovita.
“Hanya ibunya yang datang dengan suaminya Pak.”
“Baiklah kamu kembali ke sini .”
“Baik Pak”
Bram meninggalkan Hotel dan melajukan kendaraanya kearah rumah sakit ditempat Leon di rawat.
**
Di sisi lain, Jovita terpaksa di sembunyikan Piter, karena tiba-tiba melihat Leon juga ada di taman bersama Jovita.
Piter akan bertemu dengan seorang dokter dari Jepang, mereka janjian bertemu di rumah sakit tentang pengobatan Jovita.
__ADS_1
Baru juga Jovita melakukan pemeriksaan pertama dan menunggu giliran pemeriksaan kedua, tidak diduga, bertemu Leon di taman, tentu saja Piter menyuruh perawat mendorong Jovita untuk masuk.
Ia juga memerintahkan rumah sakit agar tidak memberikan informasi tentang Jovita pada siapapun, karena itu menyangkut keselamatan Jovita, Piter yang mantan Tentara tentu menyamarkan semua bukti termasuk rekaman cctv.
“Belum waktunya kamu menemui Jovita, tapi tenang… nanti suatu saat aku akan buat setiap hari kalian dua bertemu tetapi dengan situasi dan rasa yang berbeda” ucap Piter mengintip kamar Leon. Melihat lelaki itu berbaring di ranjang rumah sakit karena terluka.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan di rumah sakit, Piter membawa Jovita ke Batam, karena teman piter seorang dokter ada di Batam. Dari dari sana nanti, mereka akan melanjutkan ke Singapura karena rencananya Jovita Hara, akan mendapatkan perawatan pertama di Singapura.
Piter tahu, kalau Leon mencari tahu dan memantau Jovita selama ini, ia akan membuat lelaki angkuh itu hidup dalam pencarian, rasa penasaran akan menyiksanya, maka itu Piter berangkat ke luar negeri tanpa meninggalkan jejak.
Piter masih marah, karena Leon berjanji kalau ia akan menjaga Jovita seumur hidup, karena ia mencintai Jovita, itu janji diucapkan Leon dua tahun lalu padanya, tapi saat ini, ia seakan membuang wanita malang itu dari hidupnya, karena ia kehilangan anak yang di idam-idamkannya, tapi kehilangan itu bukan karena Jovita tidak mampu menjaga, tapi karena kecelakaan.
“Tenang Hara, kamu akan pulih kembali, kamu akan tertawa seperti sedia kala lagi Om piter berjanji,” ucap Piter mengelus rambut Jovita yang tertidur pulas di pundaknya.
Bi Ina selalu mendampingi Jovita, pak Darma yang mengurus rumahnya dan vikky yang meneruskan pekerjaan proyek mereka.
Piter memulai pengobatan untuk Hara.
Piter punya banyak teman dimana-mana, baik saat ini, seorang teman lamanya saat di Tentara dulu menawarkan tempat tinggal untuk mereka tempati saat di Batam, jadi tidak perlu menyewa Hotel saat mereka berada di sana selama beberapa hari .
Jovita baru di beri obat, ia sudah tidur saat itu, Piter duduk di balkon rumah berlantai dua. Bi Ina datang dengan wajah bersalah.
“Mas Piter … bibi benar-benar meminta maaf karena non Hara bekerja,” ucapnya merasa bersalah.
“Iya Mas…saat aku membaca pilihan itu, entah kenapa non Hara memilih Hotel Leon, dan anehnya selama dia bekerja disana Leon tidak pernah muncul di Hotel, itu yang membuatku tidak tahu kalau itu miliknya”
“Iya Bi, aku berharap Hara lupa ingatan selamanya, biarkan Leon menanggung kenangan buruk itu selamanya, itu hukuman atas ketidak setianya pada Hara,” ucap Piter.
Beberapa hari di Batam Jovita melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan sebelum di terbangkan Ke Negara Singapura.
Piter akan membuat putusan, apakah mata Jovita akan di angkat dan diganti dengan mata baru, menunggu pendonor yang cocok atau menggunakan pilihan kedua yaitu dengan cara Lasik.
Piter memutuskan mengunakan cara yang lebih aman yaitu Lasik, ia tidak ingin Jovita kehilangan mata indahnya miliknya, walau biayanya lebih mahal dua kali lipat. Namun, resikonya lebih ringan.
LASIK atau Laser Assisted In situ Kerotomileusis
Atau alat yang menggunakan laser atau Computer, tanpa harus melakukan operasi, hanya akan memperbaiki jaringan kornea dan menyalurkan kemata .
“Karena kebutaan Hara bukan karena bawaan dari lahir, jadi kemungkinan besar besar bisa disembuhkan,” ujar dokter yang mendampingi Piter nanti ke Singapura.
Kepala Jovita terbentur benda keras mengakibatkan beberapa saraf tidak berfungsi. Piter punya alasan kuat kenapa ia tidak ingin melakukan tindakan operasi mata untuk Jovita, walau dokter menyarahkan tindakan operasi untuk memulihkan ingatannya.
__ADS_1
Tapi justru Piter meminta agar dokter membuang sebagian dari memori ingatannya.
“Kenapa kamu melakukan itu?” Tanya teman dokternya pada Piter.
Dokter bingung mendengar permintaan Piter tetapi setelah mendengar alasan yang di berikan Piter mereka mengangguk setuju.
“Baiklah kami mengerti pak Piter, kami akan melakukan yang terbaik tapi… Tuhan yang punya kuasa, walau kami melakukanya, kalau takdir dan Tuhan memulihkannya, kami bisa apa? tapi kami tetap akan melakukan yang terbaik” ucap Dokter senior melihat Jovita dengan tatapan iba.
“Aku tahu Dokter, kalau sudah takdir Tuhan, aku juga harus menerimanya, tapi sebagai penjaga dan pengasuhnya aku melakukan apa yang menurutku baik untuknya,” ucap Piter.
Mata Piter berkaca-kaca saat melihat wajah Hara yang tertidur tenang di ranjang rumah sakit.
Dokter yang mendampingi Piter ke Singapura, ia mendekati Piter.
“Hai Bro kenapa jadi seperti ini,? gadis cantik ini akan lupa ingatan selamanya,” ujar dokter itu padanya.
“Itu yang aku harapkan Dok, aku ingin dia memulai kehidupan yang baru, karena itu aku ingin menjodohkannya dengan keponakanmu dr. Methew, tapi kok gak ada kabar?”
“Dia bilang gadis cantik ini yang tidak mau mengangkat teleponnya, kan? Lalu kenapa kamu kasih ke orang lain. Kenapa kamu tidak nikahi saja, sayang dikasih ke orang,” ujar Teman Piter.
“Dia sudah seperti anak dan adik bagiku, Dok, aku hanya ingin dia bahagia,” ujar piter sedih.
“Ok lah kalau begitu, nanti kita atur pertemuan dia dengan Methew kebetulan dia juga akan pulang ke Indonesia, mereka serasi sama-sama masih muda. Methew tampan Hara sangat cantik,” ujar dokter menatap Piter.
“Iya aku berharap pengobatan mata Hara berjalan lancar.” Piter mengusap matanya yang berembun.
‘Baiklah Leon kalau kamu ingin melupakan masa lalu dengan Hara akan aku kabulkan …. akan aku buang semua memori di otak Hara, agar dia melupakanmu selama-lamanya. Dia akan memulai kehidupan yang baru. Kamu benar …. Iblis sepertimu tidak pantas berdampingan dengan malaikat cantik seperti Hara’ Piter benar- benar marah pada Leon. Karena ia benci pada laki-laki yang mengingkari janji.
Bersambung ....
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing