
Ken selalu menjadikan suasana ramai dan ceria. Kali ini pun ia sengaja memesan bingkisan Bunga yang ukuran besar untuk bos Leon dan Zidan.
"Ini untuk Bos." Menyodorkan keranjang bunga ukuran besar.
"Ini gede amat, ini cocok untuk pembukaan gedung."
Ken
Kenzo
"Tidak Bos, itu pas," ujar Ken nyengir kuda.
"Itu untuk kamu Juga Bro," Bram memberikan keranjang bunga yang lebih besar untuk Zidan.
"Gilaaa .... gede banget, Kok aku paling besar?"
Zidan protes, mereka hanya tertawa lalu masuk kembali ke dalam mobil.
*
Tiba di rumah Hara dan Bu Atin sudah mempersiapkan meja makan di taman samping di taman yang di penuhi bunga.
“Selamat datang para lelaki tampan,” ujar Hara.
“Ini oleh-oleh dari kelima lelaki tampan Non,” ujar Ken memberikan buket bunga besar. Hara tertawa sangat bahagia saat Leon juga memberinya bunga.
"Wah ....! Kak Zidan gede bangat," Hara tertawa Lebar melihat bunga bawaan Zidan.
"Ini dari saya Non." Ken memberikan wine.
Sementara Bram dan Vincent keranjang buah.
"Oh terimakasih, Kalian berlima emang keren ...,"ujar Hara.
Suasana yang sangat Indah, ke empat anak buah Leon tidak begitu canggung karena Hara memperlakukan mereka semua seperti keluarga.
'Andai Toni di sini, akan lebih lengkap rasa kebahagiaan ini' Bu Atin membatin.
Saat mereka sedang duduk Hara masuk lagi dan datang bersama Clara membawa kue ulang tahun untuk Zidan dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Zidan.
“Selamat ulang tahun Kak Zidan.”
“Clara …. kamu tahu hari ulang tahunku?”
“Iya.”
Wajah Zidan berubah merah antara malu senang bercampur jadi satu.
“Terimakasih,” ujarnya tersenyum, matanya berembun, ia tidak pernah menduga kalau ia akan mendapatkan kejutan ulang Tahun. Tadinya ia Sudah pasrah tidak ada mengingat hari lahirnya, karena Zidan sendiri tidak pernah merayakan ulang tahun.
“Kamu ulang tahu? selamat ulang tahun,” ujar Ken mengoleskan kue tart di wajah Zidan di ikuti yang lainnya.
Tawa bahagia terpancar di wajah mereka semua, semua itu karena Hara, Kecuali Leon, Ia hanya menatap wajah sumringah sang istri.
'Aku ingin kamu tetap tersenyum bahagia seperti ini Hara, karena aku sangat senang setiap kali melihatmu tersenyum, ucap Leon dalam hati.
Setelah makan malam selesai, Hara mengutarakan keinginan mereka.
“Kami ingin jalan - jalan, ada yang mau ikut?”
__ADS_1
“Tidak Non, bos sama Non saja.”
“Ibu, Bagaimana kalau ikut saja," ujar Hara.
“Tidak Nak, Ibu tidak kuat perjalanan jauh lagi. Kenapa tidak ajak Pamanmu saja?"
"Hilda lagi ngidam Bu, tidak boleh sama om Piter," ujar Hara sedih, itu juga yang membuat Hara beberapa hari ini sedih, ia yang duluan nikah tetapi Hilda yang baru berapa bulan langsung hamil.
"Oh...,", ujar Bu Atin ia. melirik Leon, Leon memberi tanda ke Bu Atin agar tidak membahas tentang Hilda.
" Kak Zidan sama Kak Clara mau ikut?"
" Tidak Non, saya di sini saja bekerja. "
" Tapi Ken sama Bram ikut saja"pintah Leon.
"Baik Bos. Liburan ke Eropa siapa yang nolak?" ujar Ken.
" Baiklah kalau begitu .... Aku mau minta tolong sama Clara selama kami pergi untuk merawat ibu di sini, aku sudah bilang sama dr. Billy, bagaimana? "
Itu cara Hara untuk memberi kesempatan untuk mereka berdua, mungkin dengan Clara ada tinggal di rumah, hubungan mereka bisa diperbaiki lagi, karena Clara sudah memutuskan hubungan dengan dokter Reza.
Semua mata melihat ke arah Clara, wanita berparas cantik itu tidak bisa menolak lagi.
“Baik Mbak, saya akan di sini jaga ibu,” ujar Clara.
"Makasih Mbak Clara, silahkan lanjutkan pestanya .... berdansa boleh sama yang ulang tahun."
"
" Dansa ... dansa!" Ken menarik tangan Zidan memaksa Berdansa dengan Clara. Acara ultah Zidan sangat berkesan.
Leon akhirnya berangkat bulan madu, negara yang pertama di kunjungi Hara dan Leon adalah negara Norwegia.
Negara penghasil ikan salmon itu jadi negara bulan madu mereka, di mulai dari ibu kota Norwegia, yaitu kota Olso.
Penerbangan dari Indonesia ke Norwegia lebih jauh karena melewati beberapa benua dan berbatasan dengan negara Finlandia dan Rusia.
Waktu yang mereka tempuh penerbangan dari Jakarta ke kota Olso Norwegia kira-kira 16 jam baru tiba, untungnya Leon memiliki jet pribadi waktu perjalanan yang mereka tempuh tidak begitu membosankan, karena mereka melakukan banyak kegiatan mulai dari karaoke, nonton film bahkan mandi makan tidur mereka lakukan seperti berada dalam rumah, Leon mengajak Ken dan Vincen juga untuk menemani mereka mengangkat barang-barang bawaan.
Setelah menempuh perjalan panjang akhirnya rombongan Leon tiba juga di kota Olso, kota yang bersih dan nyaman.
Baru tiba di hotel sudah menyuguhkan pemandangan danau yang sangat indah, dan air terjunnya yang sangat menakjubkan, hamparan rumput hijau dan udaranya yang sejuk.
“Kenapa kita harus ke negara ini? padahal banyak negara Eropa yang tak kalah bagus dari sini?” ujar Leon.
Hara mengeluarkan satu lembar kertas gambar.
“Ini lukisan ibuku, dulu dia punya keinginan ke kota ini dan aku mendatanginya,” ujar Hara.
“Baiklah, aku akan menurut apa yang ingin kamu lakukan,” ujar Leon.
“Sayang kamu harus kuat stamina,” ujar Hara tersenyum manis .
“Jangan khawatir, tenagaku tenaga kuat sampai tiga ronde malam ini,” ujar Leon.
“Bukan itu.”
__ADS_1
“Lalu ….?”
“Kata ibuku wisata alam di negara ini sangat menakjubkan,” ujar Hara.
“Oh, kamu lupa kalau aku Tarzan hutan Kalimantan,” ujar Leon merebahkan tubuhnya di kasur meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya, melihat Hara yang sibuk menata barang-barang bawaan mereka.
“Kamu harus sabar mengikuti kemauan ku selama liburan ini, karena aku akan menjelajahi kota yang pernah ibuku sebutkan,” ujar Hara. "Kita akan kesini."
"Hara menunjukkan gambar yang ia bawa.
“Apa ibu pernah ke sini?" Tanya Leon.
“Iya, Ibu datang bersama beberapa teman artis tetapi sebelum menikah dengan ayah. Kamu mau lihat fotonya?" Hara membuka resleting kopernya dan mengeluarkan foto lama ibu Hara dari koper.
“Baiklah aku akan menemani kamu kemanapun yang kamu inginkan,” ujar Leon .
“Apa kamu lelah?”
“Hmmm perjalanan panjang dari Jakarta ke sini sangat lama. Aku lelah, apa kamu tidak?” Tanya Leon membuka matanya.
“Baiklah istirahatlah aku akan melihat-lihat pemandangan hotel, " ujar Hara meletakkan jaket dan Memegang camera.
Leon menarik lengan Hara sampai jatuh ke atas tubuhnya.
“Loh … ada apa?”
“Jangan keluar, cowok bule itu tampan-tampan aku tidak mau kamu meliriknya, temani aku sebentar istirahat aku sangat lelah ,” Leon masih menutup matanya.
Hara tidak ingin membantah.
“Baiklah, aku akan mengekoloni sampai tidur,” ujar Hara tertawa, membawa kepala dang suami kedadanya dan hara menggaruk-garuk kepala Leon, dan sampai ia tertidur, lelaki menurut saja dan semakin menenggelamkan wajahnya di sela bagian tersebut di dada Hara.
“Hara, bau tubuhmu sangat wangi, aku sangat suka.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing