Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Jika Cinta Maka Harus Saling Percaya


__ADS_3

Hari ketiga Leon di rumah sakit, ia  baru saja di dorong dari ruang operasi, setelah   sebutir peluru di keluarkan dari tubuhnya, ia  diterbangkan dari rumah sakit  menuju Jakarta.  Hari ini Leon  juga  baru  dioperasi karena ring  yang dulu dipasang di jantung Leon  baru diganti.


Dalam ruang perawatan saat bius itu hilang,  Leon mengerang kecil menahan rasa sakit  di bagian  dada, ia  mencoba  membuka mata, ia merasa ada yang aneh, ia tidak bisa mengerakkan  satu tangannya ternyata ada seseorang yang  menjadikannya bantal,  ia menoleh ke samping, Hara tertidur dengan pulas di lengannya.


‘Apa aku mimpi? Hara ada di sini bersamaku?’


Leon masih merasakan rasa sakit yang luar biasa, tetapi  melihat Hara tidur di ranjang yang sama  dengannya membuatnya menahan diri agar tidak meringis, ia mencoba menahan rasa sakit,  matanya masih menatap wajah wanita bumil itu, wajahnya saat tidur begitu tenang,  seperti bayi   yang sedang terlelap,  kebiasaan unik itu sudah menjadi bagian dari hidup Hara,  ujung jempol tangannya menyempil diantara bibir.


‘Wanita yang paling cantik,  apa putriku nanti secantik ibunya’ leon masih menatap wanita yang mengandung anak tersebut.


Saat  Hara terbangun Leon pura-pura menutup mata.



Hara duduk dengan  mata yang masih sangat ngantuk, melihat Hara masih mengantuk Leon tidak tega.


“Tidurlah lagi kalau kamu masih mengantuk,” ucap Leon dengan suara lemah ban bibir terlihat kering dan pecah-pecah.


“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Hara menyentuh pipih Leon.


“Kerongkonganku kering,” ucap Leon menutup mata menahan rasa sakit di tubuhnya.


“Tunggu aku panggil dokter,” ucap Hara ingin turun dari ranjang Leon.


“Hara tidak usah tetap di situ, kamu kenapa kesini? harusnya istirahat di rumah saja, jangan kemana-mana tetap duduk di situ nanti kamu terjatuh,” ucap Leon, ia memegang lengan Hara,  agar ia tidak pergi,Lalu Tangannya menekan tombol di samping ranjang untuk memangil dokter.


“Kamu sakit tidur di situ, kemari lah berbaring di sampingku.”


“Apa kita muat di ranjang kecil itu?”


“Iya  tidurlah di sisiku agar rasa sakit yang aku rasakan berkurang, aku merindukanmu Hara, tidak melihatmu beberapa hari saja, rasanya sangat lama.”


Leon meminggirkan tubuhnya agar Hara muat di ranjang rumah sakit. Hara tidur  memeluk Leon dan.


“Aku juga merindukanmu, aku sempat marah padamu karena aku berpikir kamu melupakanku. Kenapa tidak memberitahukan, kalau kamu sedang di rumah sakit?”


“Aku tidak ingin kamu banyak pikiran,” ujar Leon, ia hanya bisa mencium telapak tangan Hara, ia masi belum bisa  mengerakkan seluruh tubuhnya.


Tidak berapa lama dr. Billy datang dengan seorang perawat.


“Eh,  Non Hara kenapa  naik keranjang? awas hati-hati,” ucap dr.  Billy khawatir  melihat Hara naik keranjang Leon.


“Aku hanya ingin menemaninya Dok, aku juga mengantuk,” kilah Hara.


“Ranjangnya kecil, tidak muat menampung kalian semua, untung gak roboh.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, badanku kecil kok, Dok” jawab Hara menutup mulut menahan tawa, karena perawat  yang datang bersamanya ikut   tertawa.


Hara  turun dari  ranjang dengan bantuan tiga orang dokter, perawat dan Bimo, Bimo meletakkan satu kursi untuk  pijakan kaki dan Dokter Mike  dan suster itu memegang tangan Hara, memapahnya turun, naik gampang turun susah.


                    *


Melihat Hara ikut ke rumah sakit Leon memutuskan di rawat di rumah.


“Aku yang akan merawat mu di sini,” ucap Hara mengaduk-aduk bubur di mangkok ingin menyuapi Leon.


“Hara, apa kamu tidak merasa capek? biarkan suster yang merawat ku,  kamu cukup merawat bayi yang ada dalam kandungan mu.”


“Tidak apa-apa, mereka baik-baik saja,” ucap Hara.


Hara meletakkan mangkok buburnya yang tersisa hanya berapa suap.” Leon  berusaha ingin cepat sembuh, jadi apa yang di berikan Hara,   ia tidak pernah membantah, apa yang dianjurkan dokter untuknya Leon menurut.


“Sini deh tanganmu” Hara meminta telapak tangan Leon menyelipkannya  masuk ke pakaiannya, telapak tangan Leon menyentuh perut Hara,  “Coba rasakan sudah ada gerakan dari dalam walau masih halus,  kalau kamu sudah sehat kita akan melihat mereka nanti,”


“Hara. Maksudnya mereka,  menendang dari dalam?”


“Bukan hanya menendang , bahkan beberapa hari ini mereka sudah main bola.” Hara tertawa.


“Apa mereka berat sayang?”


“Untuk saat ini belum, mungkin  beberapa bulan lagi akan terasa. Satu saja  sudah merasa begah. Apa lagi dua, ya itu  hebat jadi memilki anak kembar, sekali datang sekali dua orang dan hamil mereka tidaklah mudah.


“Iya,  kamu benar,” ucap Leon mengarahkan wajahnya, memeluk  perut  buncit Hara mengelusnya dengan lembut.


”Harus kuat ya sayang, Kamu tidak takutkan?” tanya Leon ragu, ia tahu tubuh Hara mungil  mengandung anak kembar membuatnya sedikit khawatir.


“Tidak apa-apa, jika ibuku bisa, aku juga bisa”Hara yakin saat itu.


Ada kebahagian yang luar biasa terpancar di wajah Leon saat  dulu Hara mengatakan kalau anak yang di kandung ada dua.


“Aku berharap mereka perempuan.”


“Sayang, jangan! laki-laki saja biar temanku.”


“Tidak perempuan saja,  cukup satu laki-laki   di rumah tangga kita nanti kalau di laki-laki kayak kamu lagi sifatnya.”


“Oh, Baiklah satu cewek dan satu cowok.”


“Oh sepakat, jawab Hara seakan-akan mereka bisa menentukan jenis kelamin anak-anak  itu.


Leon berusaha agar cepat pulih,  kehamilan Hara menjadi semangat untuknya, apa lagi saat mendengar, kalau Piter dan Toni menyelamatkan hidupnya. Mereka berdua kompak  membantah pertunangan yang di lakukan orang tua Hara dan orang tua Toni.

__ADS_1


*


Disisi Lain Toni tidak ingin menunda, Ia pulang ke rumah Leon dan menemui sang kekasih dan membicarakan keinginannya.


Hari itu juga, Toni mengajak Kikan untuk menikah.


“Ayo kita menikah,” ujar Toni tanpa basa-basi.


“Kamu bercanda? aku mengenalmu baru beberapa bulan,” ujar Kikan tertawa kecil.


“Untuk apa-apa lama-lama? Toh juga kita saling cocok. Ajak aku menemui keluargamu,” ujar Toni sangat berani dan gentelemen.


Kikan hanya melongo, tadinya ia pikir Toni hanya bercanda.



Toni dan Kikan.


“Kamu yakin mau menikah denganku?” Tanya Kikan lagi.


“Iya,” ujar Toni dengan mantap.


“Baiklah aku akan mengabari keluargaku,” ujar Kikan menelepon keluarganya


Itu artinya dari semua anak buah Leon  kisah cinta Toni yang tidak banyak drama.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2