Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Demi Melindungi Leon


__ADS_3

“Om!” panggil Hara saat  ia sudah turun.


Piter berhenti dan menoleh ke belakang, Hara berlari kecil dan menenteng tas.


“Sudah? Kita pulang, iya”


“Kita serapan dulu iya, kepalaku pusing, mungkin  masuk angin, Om gak mau berlama-lama di sinin Hara, kamu serapan di mobil” Pinta piter berjalan buru-buru.


Akibat kehujanan dan kurang istirahat  membuat tubuh Hara lemah, ia merasa pusing.


“Aku beneran pusing, Om”


“Piter membalikkan badannya, melihat Hara yang hampir tumbang, “Apa kamu beneran sakit ?” Hara mengangguk


Hal yang paling di takutkan Piter melihat Hara sakit, ia berjongkok mengarahkan punggungnya kearah Hara. “Naiklah, aku akan menggendong ke mobil”


“Om ada-ada saja, ini tempat kerja om, bisa-bisa mereka semua menertawakan,”ucap Hara matanya sudah mulai meredup dan wajahnya  pucat.


“Naiklah Hara kamu sudah pucat, kita akan kerumah sakit”


“Aku malu om, masa uda tua di gendong,” Hara menolak, ia berjalan.


Tapi Piter punya sikap tegas, ia menarik Hara dan menggendongnya dipunggungnya, Lagi-lagi Leon hanya bisa menonton dari jauh.


Ia merasa iri pada piter yang bisa mengendong Hara  tanpa ada penolakan


“Om apa aku berat?” tanya Hara menutup wajahnya  dengan tas, biar bagaimanapun ia seorang artis bagaimana kalau ada wartawan yang melihat, ia akan merasa malu saat berita gosip di gendong sama om- om.


“Tidak, kamu enteng"


“Om aku pusing bangat,"ucap Hara, mulai merasa kepalanya semakin berat.


“Tidurlah, Om akan membawamu ke dokter ,”


“Terimakasih iya Om, karena selalu menjagaku, tidak perlu ke dokter, aku serapan dalam mobil minum obat sudah sembuh.” Ucap Hara percaya diri .


Tapi baru juga ngomong seperti, Hara sudah terkulai lemas dan pingsan, tentu saja hal itu membuat piter panik. Melarikan ke rumah sakit di mana Hara biasa kontrol  kesehatannya.


                       **


“Apa yang terjadi Dok? Apa ia baik-baik saja?” Piter terlihat panik.


“Pak Piter saya sudah pernah bilang, luka di bagian kepala Hara itu belum sembuh total, jadi kepalanya tidak bisa terkena benturan keras, terkena air hujan,  air dingin, tidak boleh kepalanya  berkeringat banyak,  bapak harus ingat itu, tapi di sini aku lihat Hara mencuci kepalanya dengan air dingin atau barang kali kehujanan” ucap Dokter melihat Piter penuh penyelidikan .


“Kehujanan ? tadi malam dia masuk shift malam "


Hara tidak bisa terkena air hujan, jangankan air hujan bahkan mandi dan keramas Hara mengunakan air hangat untuk mencuci  bagian kepalanya, itupun masih di batasi dokter. Sejak melakukan pengobatan   untuk kesembuhan matanya, saraf - saraf di kepalanya masih sangat dijaga, jika terkena air dingin, bisa menyebabkan pusing.

__ADS_1


Dokter sudah sering sekali memperingatkan Hara,  agar tidak menggunakan air dingin  untuk mandi, tapi sepertinya ia lupa akan nasehat itu, karena saat di kamar Leon,  Hara mandi menggunakan air dingin.


           


BI Ina dan Vikki datang, wajahnya keduanya panik begitu juga dengan   Piter, apalagi hingga  saat itu Hara belum juga bangun.


“Apa yang terjadi pada Non Hara, Mas Piter” BI Ina  panik.


“Tidak tahu Bi”


“Apa ia tadi malam bekerja di luar gedung saat hujan ,” tanya Vikky.


Kedua lelaki itu keluar, membahas tentang Leon yang berusaha mendekati Hara lagi, kedua lelaki itu terlibat pembahasan serius, tentang hidup Hara selanjutnya.


            


Setelah hampir dua  jam,  akhirnya Hara bangun juga, saat membuka mata ketiga orang itu menatapnya dengan tatapan was -was. Takut Hara tidak bisa melihat lagi.


“Non sudah bangun. Apa bisa melihat Bibi?" Wanita paru baya itu sampai menahan napas.


" Bisa, BI"


"Alhamdulillah."Bi Ina mengusap dada dengan ekspresi lega.


“Apa yang terjadi Hara? Apa kamu kehujanan tadi malam?” Mata Piter menatapnya dengan tatapan memburu.


Hara tidak ingin ada masalah pada Leon, kalau ia cerita kalau ia makan malam bersama bos lelaki yang ia anggap sebagai lelaki baik.


“Tadi malam hujan  datangnya tiba-tiba, aku dan teman-teman siangnya menjemur perlengkapan Hotel, tapi kita membiarkannya di di luar tidak  berpikir datang hujan  secara tiba-tiba, saat datang hujan kami  berlarian mengambilnya,” kata Hara, ia terpaksa berbohong demi melindungi Leon agar ke dua omnya tidak bertambah membenci Leon.


Piter membaca ada kebohongan di ceritanya Hara. Lelaki yang satu itu, memang tidak bisa di bohongi , matanya menatap Hara dengan ragu, bertemu Leon pagi itu di Loby hotel ,  ia berpikir ada hubungannya dengan sakitnya Hara saat itu.


“Hilda pasti tahu semua apa yang terjadi,” ujar Piter dengan marah menyambar kunci Mobil meninggalkan rumah sakit. Baginya kesehatan Hara jauh lebih dari apapun.


Hara tidak  ingin menambah masalah, apa lagi pada Hilda, Hara mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirimnya pada Hilda.


             


“Bisa kita bicara  sebentar?” tanya Piter pada Hilda di ujung telepon.


“Baiklah aku akan turun kita bicara di taman di samping Hotel,” ucap Hilda,  ia menarik nafas berat,  berpikir akan ada masalah besar, mendengar nada suara Piter.


Piter sudah duduk dengan tangan terlipat  di dada, Hilda datang.


“Aku datang,” ucap Hilda suaranya lembut sangat berbeda dengan sikap yang tadi pagi di kantornya.


Ia mendudukkan panggulnya di samping lelaki yang ia sukai, Bertemu dengan Piter beberapa kali  berawal dari rasa benci lama-lama menjadi cinta, itu yang dirasakan Hilda padanya.

__ADS_1


Ia dan  Piter saat ini dalam satu hubungan . Boleh di bilang Hilda lah yang suka pertama sekali pada lelaki berbadan Tegap tersebut, tetapi sepertinya hatinya akan terluka lagi kali ini karena bagi Piter Hara jauh lebih penting daripada perasaan pada Hilda.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Piter tanpa menoleh ke arah Hilda.


“Tentang apa?” tanya Hilda mencoba bersikap tenang.


“Apa Hara mengerjakan sesuatu di luar hotel, apa ia menemui seseorang ?”


“Tidak. Hara bekerja  sebagai kepala divisi yang menyediakan   segala perlengkapan hotel, dia yang bertanggung jawab atas semua tentang hal yang paling sering dibutuhkan di hotel ini, pulang malam, pulang terlambat, untuk bagian seperti itu,  sudah hal biasa, kenapa jadi masalah besar , kalau  hanya mengantikan shift temannya.” Kata Hilda.


Mendengar itu tidak diduga Piter menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa kamu tidak punya sedikitpun rasa empati padanya? aku sudah bilang dari awal padamu, kalau dia sakit, kesehatan dan keselamatannya jadi prioritas utama bagiku, apa kamu sengaja melakukan hal itu padanya atau apa ada hubungannya dengan atasanmu?  Apa Leon yang menyuruhmu?” Piter langsung menuduhnya


“Kok jadi menuduhku seperti itu”


“Ini bukan menuduh ibu Hilda, saya hanya ingin memastikan apa anda bekerja sama dengan Leon Wardana?”


“Apakah kamu memikirkan sedikit perasaanku, apa artinya aku bagimu?” Wajah Hilda memerah menahan amarah.


“Orang yang berarti bagiku, orang yang mau melindungi orang –orang yang aku ingin lindungi , maaf... sepertinya kamu tidak masuk dalam daftar itu,"ujar Piter.


" Kamu marah hanya karena Hara pulang malam? "Wajah Hilda menegang.


" Aku benci penghianatan, dan benci kebohongan, kamu mendekatiku agar Leon bisa mendekati Hara, kan? Lupakan semuanya."Piter berdiri ingin meninggalkan Hilda.


“Tunggu! Apa kamu memutuskan ku karena hal ini?”


“Hal ini, hal besar untukku. HARA MASUK RUMAH SAKIT karena ulah kalian dan kamu sudah membohongiku, dan aku tidak suka itu, lupakan saja semuanya” Piter pergi.


Hilda berdiri mematung, baru  tadi pagi mereka bertengkar dan berbaikan lagi, tapi tidak diduga karena membantu Leon, ia akan di putuskan seperti itu.


Hilda harus merelakan hubungannya kandas, karena ingin membantu Leon.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2