Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Biar Selalu dekat Denganmu


__ADS_3

Setelah Leon tidak memperbolehkan Hara bekerja lagi,  ia di rumah bingung mau melakukan apa agar punya kesibukan yang tidak di cemburuin Leon.


“Apa ibu sakit?” tanya Okan saat duduk di meja makan, untuk makan malam itu.


“Oh, tidak sayang …. Kenapa? Apa itu terlihat seperti orang sakit?” tanya Hara di depan si kembar ia tidak boleh menunjukkan wajah sedih maupun kecewa


“Soalnya ibu kebanyakan diam malam malam ini,” balas Chelia.


“ Apa kamu merasa sakit?” tanya Leon. Ia tidak tahu istrinya pusing karena sikap cemburunya yang berlebihan dari dulu sampai saat itu, ia tidak pernah berubah.


“Tidak hanya lelah saja, tadi Om Piter membawaku ziarah ke makam  nenek kalian .”


Setelah makan mengobrol dengan keluarganya dan tentang kegiatan anak kembar,  mengajak mereka untuk bercerita tentang sekolah, itulah cara Hara membangun  hubungan yang baik dengan kedua anaknya.


Leon masih menunggunya  untuk bicara, kedua alisnya berkedut membentuk lipatan, matanya mengikuti kemanapun Hara melangkah. Tidak berapa lama kemudian ia duduk.


“Baiklah, aku akan bicara, kalau boleh jujur dengan kamu menutup ruangan itu aku sedih, tetapi sudahlah kamu sudah memberikan alasan untuk menutupnya dan aku mencoba menerimanya, Begini …. Aku memutuskan akan memberikan pada orang lain yang profesional untuk mengelolanya. JADI,  aku ingin menjadi sekretaris pribadimu saja.”


“Apaaa ….” Leon terkejut dengan ucapan Hara.


Hara akhirnya mengambil keputusan, ia tidak mau selalu berselisih dan selalu menekan apa yang jadi keputusan Leon, Tetapi ia ingin mencoba apa yang dinginkan suaminya.


Setelah berpikir keras akhirnya ia memutuskan untu  berhenti lagi dari gedung olah raga milik ibunya, ia berhenti dari sana demi kebaikan. Karena Leon selalu mencurigainya, jadi ia memutuskan tetap membuka  semua  lantai termasuk ruangan senam lelaki.


Hara menyerahkan pada orang yang ia percayai lagi. Tetapi bukan berarti ia jadi diam di rumah, memutuskan menjadi sekretaris dari Leon.


“Apa kamu  yakin?” tanya Leon menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Tidak, aku ingin mencobanya.”


“Tapi, kamu, kan,  belum pernah jadi sekretaris, Bu.”


“Iya itu benar, tetapi segala sesuatu itu harus di coba baru tahu hasilnya,” ujar Hara dengan tenang, ia mencoba  berdamai dengan diri sendiri.


Walau menjadi seorang sekretari bukanlah keahliannya, tetapi ia akan mencobanya dengan baik.


“Apa ini karena kemarahan?” Leon meletakkan  ponsel yang ia pegang tadi, lalu ia duduk di sofa melirik Hara yang sudah selesai memakai segala perawatan di wajahnya.


“Kemarahan tidak ada hubungan dengan ini, mulai besok aku akan menempel padamu setiap saat,” ujar Hara memiringkan  tubuhnya di ranjang, “Mari kita tidur aku sudah mengantuk,” ujar Hara.


Melihat sikap Hara yang  terlihat jelas kecewa, Leon  menyesali tindakan nya.


Tetapi membahas semua itu saat ini, akan  memperkeruh masalah.


Leon ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya, menatap Hara yang tidur memunggunginya.

__ADS_1


              **


Pagi tiba, Hara bangun lebih awal pagi ini, ia berpenampilan sangat berbeda.


Mengenakan kemeja blazer celana bahan berwarna toska.


“Eh, ibu mau kemana?” Mata kedua anak  menatap heran.


“Ibu mulai saat ini akan bekerja dengan ayah di kantor, ibu ingin membantu ayah bekerja,” ucap Hara dengan senyuman kecil.


“Apa Ayah sangat membutuhkan ibu?” tanya Okan matanya memindai antara ibu dan ayahnya.


Kedua anak itu seakan-akan tahu ibu mereka merasa kesal.


“Iya, Ibu ingin membantu Ayah mengerjakan pekerjaannya  biar cepat selesai, kamu tahu kan, kalau pekerjaan dikerjakan dua orang akan lebih ….?”


“Ringan,” jawab Chelia.


“Lebih lama karena lebih banyak mengobrol ,” ujar Okan.


“Itu pemikiranmu bang, kalau aku senang di kerjakan bersama, aku senang ayah sama ibu,” ujar Chelia.


“Ini kemauan Ibu apa Ayah yang minta?” Okan  melirik ayahnya.


“Baiklah.” Chelia anak penurut.


“Abang bagaimana?” tanya Hara menatap putranya.


“Naik motor sendiri,” ujarnya dengan sikap acuh, lama-lama sikap dan wajahnya mirip Leon.


“Abang sikapnya semakin hari semakin acuh, ibu pikir dalam keluarga jangan ada seperti itu harus terbuka dan saling mengerti,” ujar Hara.


“Iya  baiklah kita berangkat bersama,” ujar Okan dengan  dengan wajah datar.


“Tidak ... kalau abang tidak suka,  ibu tidak akan melakukanya.”


Suasananya langsung hening, Leon menatap Hara dengan tatapan mendominasi, ia tahu kemarahan itu di tujukan padanya tetapi Hara melampiaskannya pada anak-anaknya.


“Ibu … Okan meminta maaf ujarnya kemudian dengan wajah bersalah, matanya  mengerjap-erjap menahan mendungan.


“Iya, ibu tahu, tetapi jangan bersikap acuh lagi terutama pada adik mu."


Mata mereka semua  menatap Okan  merasa kasihan karena ibunya  menekan nya.


“Nak, biarkan ia menghabiskan serapan dulu,” ujar Bu Atin melihat Hara yang   terlihat marah.

__ADS_1


“Baiklah, habiskan makananmu, jika kamu masih bersikap tidak perduli pada adik mu dan kedua orang tuamu seperti tadi, ibu akan pergi dan menghilang selamanya,” ujar Hara berdiri meninggalkan meja makan.


Mendengar hal itu, Okan menunduk,  ia tahu kalau ibunya sedang marah.


Leon tidak bisa berkata- kata mulutnya seakan-akan terkunci rapat, ia tahu kenapa Hara marah, itu semua karena Leon yang bersikap kekanak-kanakan.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Bu Atin, seiring  berjalannya waktu, wanita itu sudah tua dan duduk di kursi roda, tetapi ia selalu  merasa semangat dan bahagia kerena ke dua cucunya sangat baik dan perhatian padanya.


“Tidak ada apa-apa Bu, Hara hanya ingin dia punya sikap perduli dan tidak acuh  dan bersikap cuek seperti itu, aku tidak ingin dia seperti Zidan nantinya. Zidan dari dulu pendiam, ia tidak tahu sikap diamnya itu telah menyakiti hati  istri.”


“Anakmu masih terlalu muda Hara  untuk kamu paksa mengerti apa yang kamu rasakan,” ujar Bu Atin menatap ke dalam matanya, membaca apa yang ia lihat di dalam mata yang sedang marah itu.


“Okan sudah remaja Bu.”


“Jangan jadikan anak-anakmu, menjadi pelampiasan mu Nak, itu tidak bagus.”


“Itu tidaklah pelampiasan Bu, aku hanya menasehatinya agar tidak melakukan hal seperti itu lagi.”


“Ibu, tahu kamu seorang ibu yang bijak dan wanita yang terpelajar, kamu tidak pernah memperlakukan anak-anakmu seperti dalam hal menasehati dan mendidik, kamu selalu menggunakan hatimu untuk menasehati anak-anakmu, tetapi kali ini,  yang ibu lihat kamu tidak bisa menahan kemarahan, jangan dipaksa Hara, kalau tidak ingin melakukanya jangan lakukan, kan.”


“Maafkan Hara Bu, membuat ibu jadi khawatir, aku hanya tidak ingin Okan memiliki sikap seperti Zidan, Toni, Ken yang menyakiti hati wanita yang mendampinginya kelak.” ujar Hara manarik napas panjang menetralkan hatinya.


“Hara … buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, ayahnya Leon dia otomatis mewarisi sikap ayahnya Nak.”


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2