Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Buku sesat


__ADS_3

Khawatir Okan salah jalan, Hara  berencana  mengantarnya ke sekolah yang ada asramanya.


“Tapi aku tidak mau tinggal di asrama Bu, aku janji akan memperbaiki sikapku, beri aku kesempatan lagi,” ujar Okan .


“Maaf Nak, Ibu tidak bisa melakukannya lagi, kali ini …  kesempatan yang ibu berikan sudah berahir,” ujar Hara dengan tenang.


“Ayah, aku tidak ingin ke sana, janji akan berubah.” Okan menatap Leon.


Leon tidak ingin  jauh dari anak-anaknya, tetapi jika ia membela, itu sama saja ia membiarkan anak itu bersikap buruk, ia tidak mau Okan hidup dengan sikap yang seperti itu.


“Okan jikan kamu sudah berubah nanti , Ayah sama Ibu akan menjemputmu dari sana, ini kami lakukan agar kamu berubah Nak, demi kebaikanmu, itulah tugas kami sebagai orang tua,” pungkas Leon dengan tegas.


                            *


Malam itu, jadi malam yang paling  berat untuk untuk kedua orang tua si kembar,  bagaimana tidak Hara bertarung dengan hati dan otaknya, hatinya bilang kasihan anaknya bila jauh, bagian hati yang lain bilang itu semua akan ia lakukan kerena perubahan sikap Okan yang tidak bisa terkendalikan,  mereka berdua,  tidak bisa memejamkan  mata.


“Ibu, apa kita terlalu kejam dia dengan semakin kesepian di sana,” ujar Leon masih belum tega mengantarkan Okan ke asrama.


“Tidak, justru itu, dia harus didik dengan benar, agar ia tahu tidak semua yang ia inginkan semuanya harus  terjadi, aku tidak bisa mengendalikan sikap Okan, terkadang aku berpikir apa dia benar anakku, cara dia menatapku seakan-akan aku ini musuh besarnya, itu menakutkan untukku”


Malam itu Okan hanya diam dalam tempat tidurnya berpisah pada keluarganya hal yang paling ia takutkan dalam hidupnya,  terlebih jauh dari ibu dan kembaranya.


 Di sisi lain, Leon tidak bisa memejamkan matanya, karena ada rasa bersalah pada Okan,  tetapi ada keinginan besar untuk mengubah sikap anaknya, mimikirkan ini itu otaknya jadi buntu.


Lalu ia keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Okan sudah larut malam Okan  belum tidur dengan mata yang sembab ia membaca buku.


Tetapi saat Leon masuk,  ia kaget dan menyembunyikan buku yang ia pegang tentu saja Leon curiga.


“Buku apa yang kamu baca?” tanya Leon meminta buku itu dari tangannya. Ia ingat buku yang di bicarakan Hara malam itu.


“Ti-ti-tidak ada Ayah,” ujar Okan dengan  semakin menyembunyikan buku yang di baca.


Okan semakin curiga, ia menyalahkan  lampu.


Leon merebut buku itu dari tangan Okan,  betapa terkejutnya lelaki  bapak dua anak itu,  ternyata Okan membaca buku yang seharusnya tidak ia baca, sebuah buku yang berbahaya jika di baca anak seumuranya, sebuah  buku yang berjudul  ‘Forax’  semacam buku  ajaran sesat.


“Hara, kemarilah!” panggil Leon dengan suara tinggi, memanggil Hara yang saat itu  kebetulan belum tidur juga.


“Ada apa?”


“Coba lihat ini, apa kamu pernah melihat buku ini?”


Leon memberikanya pada Hara, mata Hara melotot  karena kaget,

__ADS_1


“Buku dari mana ini?”


Mendengar suara ribut si cantik Chelia bangun.


“Okan Putra Wardana …. Buku dari mana ini!?” Tanya Hara marah.


“Okan yang membacanya, Bu.” ujar Chelia, ia sering melihat kembaranya membaca diam-diam.


“Apaaa? I-ini buku sesat!” ujar Hara marah.


“Sekarang  berdiri kamu apa yang kamu sembunyikan lagi?” Hara menyeret tangan Okan dan Hara mengeledah bawah tempat tidur,  betapah terkejutnya  mereka berdua,  saat menemukan barang-barang ritual sesuai petunjuk buku yang di baca Okan, sebuah boneka  berwarna putih.


“Ya Tuhan ada apa semua ini?” Hara sangat kaget dengan apa yang ia lihat.


“Okan berdiri dengan wajah pucat.


“Dari mana kamu mendapatkanya?” tanya Leon dengan wajah tegang.


Tapi Okan diam tidak mau membuka mulutnya.


“Okan ....! Jangan sampai ayah marah, kamu dalam bahaya jika ayahmu sampai marah,” ujar Hara.


“Bakar semua ini!” Leon memungut semuanya.


Leon emosi, tetapi tidak mau menyakiti putranya,  ia mengingat tangan Okan ke belakang dan menutup matanya, agar tidak bisa melihat apa yang mereka temukan.


“Oh, Iya ampun, apa ini?” tanya Hara saat membuka lemari pakaian Okan, ada kain putih yang dibungkus kecil ada beberapa buntalan.


Leon terdiam, ia sangat kaget.


Apa yang mereka khawatirkan sekarang  benar.


Ada orang jahat yang ingin merusak pikiran Putranya dengan cara seperti itu.


Mendengar kehebohan yang terjadi Bu Atin datang, dengan kursi rodanya di bantu suster yang merawatnya


“Ibu, lihat ini, apa ibu tahu ini apa?”


Saat melihat semua yang ditunjukkan Leon, Bu Atin lebih terkejut lagi.


”Siapa yang melakukan hal gila seperti ini, ini berbahaya, sejak kapan dia memegangnya, berikan pada Ibu biar kita kembalikan efeknya pada orang yang memberikan pada Okan,” ujar Bu Atin membawa ke dupan pembakaran ke tempat sembayang yang biasa  mereka berdoa.


“Apa yang  terjadi sebenarnya, aku hanya tahu kalau buku ini buku ajaran sesat, ayah pernah memperlihatkan padaku” Hara semakin bigung.

__ADS_1


“Itu buku yang berbahaya yang berasal dari pedalaman, buku yang biasa di pakai seorang dukun besar untuk mengunai-gunai orang lain,” ujar Leon.


“Itu artinya ada yang memperalat Okan?” Hara memegang dadanya, dia terlihat sangat shock.


“Iya, sikap buruk yang Okan perlihatkan belakangan pengaruh ajian dari buku ini dan siapa orang yang memberikan buku itu padanya, kita tidak tahu sejak kapan dia memiliki dan mempelajari buku sesat itu, aku pikir dia sudah belum lama membacanya.” Leon masih masih terkejut.


                       *


Malam itu juga Leon meminta Bimo menjemput pemuka adat.


Leon dan Bu Atin memanggil seorang yang mereka kenal yang mengerti tentang buku dan jimat- jimat yang disimpan Okan dia seorang ketua adat dan pemimpin agama Leon.


“Jauhkan anakmu dari sini, bawa dia pergi dari rumah ini, kamu juga dan istrimu, sebaiknya  pergi dari sini, biarkan saya dan ibumu yang melakukan ritualnya,” ucap Lelaki  beruban itu pada Leon.


“Pergilah Nak,  biarkan ibu yang melakukanya, ibu sudah tua.” Bu Atin memintanya pergi.


“Tapi apa ibu masih kuat?” tanya Leon ia sangat kawatir.


“Tidak apa-apa ibu masih kuat, bawa mereka jauh dari sini bawa ke hotel saja .”


“Baik Bu”


Leon  ingin meninggalkan rumah.


“Tunggu! mandikan anakmu sebelum pergi tidak usah ia berpakain pergi, agar tidak bisa mengikuti jejaknya,” ujar lelaki tua itu pada Leon.


Leon melakukan semua yang diperintahkan, ia sudah tahu tentang  caranya melakukannya karena ini bukan pertama ia melakukannya dan melihatnya, lahir dan besar di hutan pedalaman hal seperti ini sudah terbiasa baginya,


“Sayang pergilah duluan, bawa Chelia ke hotel,  nanti aku menyusul ke sana,  aku akan memandikan Okan dulu,” ujar Leon ia menarik lakban dan menutup mulut Okan, ia takut ia membaca ayat-ayat ajian yang di berikan orang jahat itu, ia juga menempelkan heardpon ke kuping Okan untuk menghilangkan konstrasinya dan mengalihkan pikiranya.


Okan di pengaruhi ilmu hitam yang di lakukan seseorang yang punya ilmu tinggi yang mereka yakinin musuh lama dari pedalaman.


Setelah Okan dimandikan dengan ramuan, lalu ia di bawa menggunakan pakaian Leon,  karena pakaian yang di miliki Okan semuanya sudah berbauh mistis.


Bu Atin dan kakek tua yang membantunya membakar semua pakaian Okan membakar jimat-jimat jahat yang ia berikan pada Okan,  mereka ingin mengembalikan pada pemiliknya, itu semua kepercayaan Leon dan ibunya.


Bagi orang yang tidak percaya mistis tidak akan tahu apa yang terjadi.  Tetapi Bimo yang belakangan memilih  menganut kepercayaan yang sama dengan bosnya. Ia tahu, saat dupan itu dibakar ada sebuah pertarungan mistis yang terjadi.


 Bimo yakin  antara kekuatan ilmu hitan dan kekuatan pemuka agama yang di panggil Leon sedang bertarung, ia merasakan angin di sekitarnya  berhembuas kencang dan dingin menusuk Kulit.


Mampukah Leon menyingkirkan siapa pelaku yang mencoba mencelakai keluarganya?


Bersambung

__ADS_1


Bantu Vote dan like ya kakak


__ADS_2