
Setelah Leon keluar dari kamar, Jovita mulai berani mengeluarkan barang-barang pribadinya. Ia berpikir kalau ia berhak bebas karena Leon tidak berhak menahannya lagi.
“Lelaki sejati akan menepati janji, si ular naga itu sudah berjanji akan melepaskan ku jika aku bisa membuktikannya dan aku bisa melakukannya,” ujar jovita menarik tas ransel yang ia simpan di bawah tempat tidurnya.
Saat ia dan Piter masuk ke apartemennya Beny, ia juga membawa barang-barang berharga milik ibunya dari apartemen Beny.
Jadi jika Leon melepaskannya, ia juga bisa hidup dengan menjual perhiasan milik ibunya yang ia ambil dari rumah Beny , ia juga mengambil kartu milik Beny dan Lestari.
Jovita berpikir ia hanya mengambil haknya yang pernah dicuri Beny, dan Lestari dari keluarganya.
Ia juga mengeluarkan sebuah Iped lama milik sang ibu yang ia ambil dari apartemen, ia membongkar tas, untungnya di dalam tas ada cargeran, ia menghidupkannya.
Melihat Ipad itu masih hidup Jovita sangat senang, ia merasa sudah bertahun -tahun tidak memegang ponsel, apa lagi saat ia menghidupkannya benda itu masih berfungsi, bahkan paket internetnya masih aktif.
“Ibu memang wanita yang sangat hebat,” ujar Jovita. Ia tahu ibunya selalu membayar paket internetan pertahun, jadi saat Ipad yang ia gunakan untuk berlatih senam itu masih berfungsi walau sudah tidak dipergunakan berbulan-bulan.
Dunia jovita kembali serasa hidup. Ia berpikir Leon tidak melarangnya menggunakan ponsel, ia juga berpikir kalau sebentar lagi ia akan membiarkannya bebas, jika ia membuktikan kalau ayahnya bukan pembunuh dan ia berhasil melakukan itu, ia sudah membayangkan bisa menikmati udara bebas .
"Pekerjaan menyingkirkan lelaki bangkotan itu butuh kerja keras aku percaya pada Om Piter"
Jovita tidak perduli , walau Leon melihatnya menggunakan Ipad, ia tahu Leon mengawasinya, Leon tidak akan berani melarangnya lagi menggunakan Ipad milik ibunya untuk mengakses berita tentang Bokoy. Namun saat ini, ia merasa sudah berani mengangkat dagunya pada Leon dengan percaya diri.
“Aku sudah bilang aku percaya pada ayahku"
Di sisi lain Leon terlihat seperti orang gila, ia melemparkan semua barang dalam kamarnya harga dirinya terluka karena ia merasa kalah dari Jovita, bukan hanya merasa kalah dari Jovita . Ia sangat shock dengan pelakunya.
“Bagaimana mungkin lelaki tua keparat itu membohongiku selama ini. Bagaimana mungkin dia mempermainkan hidupku,” ujar Leon dengan berjalan sempoyongan.
Ia marah karena Bokoy membohonginya, Leon merasa sangat terpuruk, ia tidak pernah menduga akan terpuruk seperti ini,
“Ada yang terjadi, kenapa jadi seperti ini?” Leon menuangkan alkohol itu lagi kedalam gelas.
Ini pukulan terberat untuk Leon, selain ia merasa malu pada Jovita ia juga merasa dirinya sangat bodoh. Karena orangnya yang memaafkannya orang yang ia anggap berjasa dalam hidupnya.
Satu hari itu setelah pengakuan jovita dan bukti yang diberikan padannya, ia merasa dunianya runtuh ia tengelam dalam keterpurukan.
“Apa yang sudah aku lakukan. Sial! Keparat!”
Barrr ….!
Melempar botol minuman ke dinding. Saat Leon merasa hancur, Jovita justru kebalikannya, ia berniat meninggalkan Indonesia, menyerahkan kasus Bokoy pada Piter dan Leon, maka ia berpikir sebelum pergi ia ingin ke Ziarah ke makam keluarganya.
Ia mulai mengumpulkan barang-barangnya dan hanya menunggu waktu untuk keluar dari rumah Leon.
Ia mencoba menghubungi Piter.
“Halo Hara”
__ADS_1
“Om Bagaimana?”
“Hara tetaplah di sana, lelaki tua itu sudah mengetahui tentang kamu, hanya Leon yang bisa melindungi mu untuk saat ini jangan keluar, aku juga akan berusaha membawamu ke luar negeri."
“Apa? Aku tidak mau tetap di sini Om. Carikan aku tempat tinggal”
“Hara Om minta maaf untuk saat ini, tetaplah di sana, ini demi kebaikan kamu, jika situasinya sudah baikan Om akan mengabari kamu”
“Baiklah Om”
Jovita kembali merasa sangat kesal, ketika kebenaran sudah terungkap, tetapi hidupnya tetap tidak bisa bebas.
“Dari pada di sini, lebih baik aku menyusul paman di Amerika, nanti sudah ada perubahan aku akan kembali," ujar jovita mencari kontaknya dengan Pamannya.
*
Namun.sekeras apapun ia mencari tidak ada yang mengetahui nomor Pamannya Jovita. Sebenarnya Jovita masih punya satu keluarga lagi adik ayahnya . Namun, kehilangan kontaknya dengannya satu tahun lalu, saat ayahnya Jovita, mengetahui sang adik memiliki hubungan yang salah. Paman Jovita memiliki hubungan yang aneh yakni suka sama sesama jenis. Jadi jeruk makan jeruk.
Mengetahui hal itu, ayahnya mengusir adik lelakinya dari rumah, ia melarikan diri ke Amerika dengan kekasih prianya. Jadi Jovita Hara ingin menyusul sang paman ke sana menyerahkan urusan Bokoy pada Piter dan Leon. Kini ia mencari cara untuk bilang mau pergi.
Untuk pertama kalinya bagi Jovita setelah berbulan-bulan keluar, lalu datang ke ruang pos keamanan.
“Eh, Non Hara?”
Iwan dan Rikko kaget karena dua orang itu tahu apa yang terjadi. Toni dan Zidan, Ken sudah kembalikan ke Kalimantan. Karena Jovita sengaja meminta Toni ikut ke Kalimantan sebelum ia beraksi malam itu, ia berharap lelaki tampan itu tidak mendapat masalah dari Leon. Karena sejauh ini belum ada yang mengetahui keterlibatan Toni, anak buah Leon juga masih mengurung Bi Ina dan suaminya dan seorang supir.
“Halo Non Hara, apa kabar?” Tanya salah seorang anak buah Leon.
“Baik Pak"
“Kak Rikko aku bisa meminta tolong tidak?”
“Iya Non. Boleh sini masuk." Meminta anak- anak lain keluar.
“Saya ingin mengurus Visa dan beli tiket, bolehkan aku pakai identitas Kak Rikko?”
“Untuk apa Non, saya ingin pergi"
“Ha?”
“Mau kemana?”
“Saya ingin keluar negeri”
“Apa bos tahu ini Non?”
“ Dia tidak akan melarang ku pergi,” ujar Jovita dengan yakin.
__ADS_1
“Maaf Non aku tidak berani, semuanya harus persetujuan Bos”
Rikko menolak karena ia tidak berani. Jovita juga tidak bisa bepergian keluar negeri ataupun bepergian keluar kota, karena ia juga tidak punya indentitasnya, karena sudah dibekukan, ia sudah dinyatakan sudah meninggal. Ia kembali ke kamar.
“Aku ini bagai setan yang bergentayangan kemana-kemana tidak bisa, di bilang hidup iya, di bilang mati masih bernyawa”
Ia merasa tertawan lagi di rumah Leon, tetapi bedanya saat ini, ia sudah merasa lebih bebas.
Rikko melapor pada Leon kalau Jovita akan keluar negeri.
“Bos apa yang harus kami lakukan”
“Saya sudah kehilangan muka didepan Hara, bagaimana mungkin bisa melarangnya, saya tidak punya hak lagi untuk melarangnya pergi," ujar Leon terlihat sangat putus asa.
“Lalu apa yang kita lakukan Bos”
“Biarkan dia pergi,"ujar Leon dengan suara lemah.
“Bos! Justru dengan terungkapnya masalah ini, nyawanya semakin terancam?”
“Kalau begitu bantu dia pergi keluar negeri, biarkan dia menenangkan diri di sana. Biarkan saya yang menyelesaikan lelaki tua ini,” ujar leon sangat marah.
“Jadi Bos setuju dia pergi keluar negeri?”
“Saya tidak punya pilihan lain Rikko. Lelaki tua itu tidak mudah di kalahkan. Namun, walau dengan kehilangan nyawa saya akan membalaskan semua penghinaan ini"
Wajah Leon terlihat sangat berantakan, ia tidak ingin kehilangan Jovita tetapi ia sudah kalah telak di hadapan wanita cantik itu, semakin memikirkan kesalahannya dan memikirkan perbuatanya pada Jovita, ia semakin merasa gila.
Ia melakukan kesalahan yang besar, ia tidak berani lagi menatap wajah Jovita.
"Dia berhak bebas, biarkan saya mengurus hatiku sendiri" Rikko menghela napas berat tidak melihat Leon yang sangat berantakan.
Lalu apa membiarkan Jovita pergi keluar negeri meninggalkan dirinya pilihan yang tepat?
Bersambung ....
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)