
“Baiklah, aku mau ke kamar dulu. Kamu istirahat saja”
"Itu satu sifat jelekmu padaku, aku selesai ngomong uda main pergi aja," gumam Hara pelan.
Leon keluar dari kamar Bu Atin, wajahnya benar-benar mengeras urat-urat lehernya kembai saling bertarikan, sebelum meninggalkan kamar Bu Atin.
Leon berdiri sejenak di balik pintu kamar Bu Atin, wajahnya kembali mengeras bagai adukan semen, terlihat dari tangan yang masih dikepal dengan kuat, tetapi ia tidak tahu marah untuk siapa, lalu berjalan dengan langkah tegas menuju kamar miliknya.
Leon masuk ke dalam kamar dan langsung menuju kamar mandi, melampiaskan kemarahannya pada dinding berlapis marmer di kamar mandinya terebut.
Leon menonjok dinding kamar mandi beberapa kali. Hingga tangannya sampai terluka, Leon meluapkan kemarahannya pada dinding yang tidak bersalah itu.
Andai dinding itu bisa bicara, ia akan berteriak dan berkata seperti ini; ‘ Apa salahku Pak Naga …. ? Kenapa kamu tega memukuliku! ?
Sayangnya, ia hanya tembok, jadi, hanya bisa diam saat Leon melampiaskan kemarahan itu padanya.
“Aku memang bodoh, menyelamatkan satu nyawa saja tidak bisa,” ujar Leon Ia memaki dirinya sendiri.
Ia duduk di lantai kamar mandi dengan tangan terluka.
Leon menangis dengan pundak bergetar.
“Sial! Aku sempat berharap akan menjadi seorang ayah,” ujarnya mengusap air di ujung matanya dan beberapa kali memaki diri sendiri.
Lelaki berwajah tampan itu, sudah beberapa kali menangis, karena Hara. Tetapi selalu menyembunyikan semua kesedihannya di balik sikap dinginnya, menyimpan rasa sedih itu dengan rapi dan menikmatinya sendirian.
Leon selalu bersikap seolah-olah, ia tidak merasakan apa-apa.
Hal itulah yang selalu di lihat Jovita, ia melihat Leon tidak pernah merasa sedih atas apa yang ia alami dan menganggap lelaki dewasa itu terlalu cuek untuk semua masalah.
Bu Atin baru selesai diperiksa sama seorang perawat, di rumah Leon, ada satu ruangan kesehatan yang di jaga dua orang perawat cantik Clara dan Susan dan salah satunya kekasih Rikko yang bernama Susan dan Clara seorang wanita yang menggilai Zidan.
Namun, Zidan bersikap dingin, sikap dingin Zidan sebelas dua belas dengan Leon.
Leon belakangan ini sudah mulai banyak berubah, buktinya, ia sudah memperbolehkan anak buahnya memiliki kekasih.
Saat bu Atin keluar dari sana , ia melihat Leon berjalan dengan wajah mengeras lagi.
Bu Atin hanya bisa menghela napas panjang.
‘Aku yakin kamu pasti langsung menyerah Leon, aku tahu itu’ ucap bu Atin membatin , ia hanya bisa menggeleng melihat sikap kaku sang majikan.
“Tidak boleh seperti ini terus menerus aku harus melakukan sesuatu,” ucap Bu Atin. Ia datang kembali ke kamarnya. Jovita sedang menonton telivisi.
__ADS_1
Ia duduk di sisi ranjang menatap Jovita dengan bibir tersenyum kecil.
“Bibi benar, kan, kamu hanya salah paham?”
“Entalah Bi, aku yang salah atau ia yang tiba-tiba berubah pikiran”
“Lalu tadi ... dia kenapa lagi”
“Aku aku bilang kalau anaknya tidak ada lagi”
“HA! Non Hara, bukankah itu terlalu kejam?”
“Tidak Bi, itu tidak kejam. Kejam itu kalau saya benar- benar menghilangkannya”
“Lalu dia masih ada, kan?”
“Ada. Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Ibuku bilang sesuatu yang didapatkan dengan usaha keras, akan di hargai dan dipertahankan dengan susah payah. Sama seperti ayahku, berjuang keras mendapatkan cinta ibuku. Bukankah cinta harus di perjuangan Bi?"
“Tapi kamu tidak akan menyakiti bayimu kan, Nak”
“Tidak Bi dia masih ada. Apa yang aku lakukan saat ini. Tidak ada apa-apanya dengan apa yang di lakukan Leon padaku selama ini. Dia merenggut kesucian ku Bi, menuduh orang tuaku penjahat”
“Non Bibi hanya-”
Tetapi Bi penderitaan yang aku alami selama ini, belum cukup dengan apa yang Leon berikan padaku. Aku akan jadi manusia yang paling munafik, jika aku bilang sudah memaafkan semua perbuatan Leon di masa lalu, butuh waktu Bi ....
Aku bukan malaikat yang bisa memaafkan semuanya dengan begitu mudah, rasa sakit terkadang masih menyapa hatiku"
“Maafkan Bibi sayang . Bibi mengerti apa yang kamu rasakan. Baiklah mari kita beri dia sedikit pelajaran agar sikap dinginnya itu hilang. Kita lubangi hatinya, lalu kita kasih perasan asam, agar ia merasakan perihnya luka hati,” ujar Bu Atin memposisikan dirinya di pihak Jovita.
Ia ingin menjadi jembatan untuk kedua pasangan yang memiliki sikap bertolak belakang itu.
“Lalu apa rencana mu?”
Bu Atin terpaksa mendukung rencana Jovita, ia mengerti apa yang dirasakan Jovita, ia tidak ingin wanita cantik itu merasa sendiri. Baik Leon dan Hara mereka berdua korban dari permainan takdir hidup yang kejam yang diperankan Bokoy.
“Bibi mau menolongku?” Wajah cantik itu kembali mereka bagai kuncup bunga yang baru mekar dan bibir mungil berwarna merah darah itu, tersenyum lebar.
“Ya tetapi kamu harus berjanji pada Bibi, apapun terjadi, jangan menyakiti bayimu. Berjanjilah padaku untuk menjaga Leon Junior kami. Baru Bibi akan membantumu membuat Bos Leon sampai nangis darah, lalu bertekuk lutut di depanmu”
“Ok,” ujar Jovita tersenyum.
“OK”
Bi Atin menggunakan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian, kali ini wanita paru baya itu bersikap seperti yang Jovita mau. Itu semua ia lakukan agar Jovita tetap mempercayainya dan wanita itu mau tetap tinggal di rumah Leon. Mereka berdua berjanji akan saling bekerja sama.
“Baiklah begini rencanannya,” ucap Jovita membisikan rencananya.
__ADS_1
“Baiklah aku terima,” Bu Atin tersenyum.
*
Saat Leon keluar dari kamar Bu Atin dan naik menuju kamarnya, anak buahnya melihat Leon dengan wajahnya yang menegang.
“Apa Non Hara menolak Bos?” Tanya ken, membuat situasi semakin tegang.
Rikko semakin merasa bersalah.
‘Apa karena ucapku non Hara marah’ Rikko membatin.
“Kita harus menolong Bos untuk untuk mendapatkan hati Nona muda,” ujar Ken bersemangat
“Kita melakukan apa? Memang Bos bakalan mau?” Iwan yang sudah paham sifat keras Leon ia tidak yakin akan menerima bantuan dari mereka.
“Dalam situasi ini, aku yakin Bos akan mau sih,” ujar Zidan, tidak biasanya lelaki tampan itu, jarang memberi pendapat.
“Lalu kita menawarkan bantuan apa untuk Bos?” Iwan menatap serius pada ketiga rekannya.
“Kok kamu diam saja?” celetuk Ken. Rikko mendadak tidak mau buka mulut saat kejadian di Villa itu.
"Kita bantu Bos memasak makanan Non Hara,"ujar Rikko
"Ide bagus" ucap mereka semua.
"Baik setuju," mereka berempat kompak.
Apa jadinya kalau bos Mafia dan anak buahnya membuat masakan untuk Hara? Biasa pegang senjata tiba- tiba memegang sendok penggorengan. Apa masakannya layak makan?
Bersambung
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI., SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.
LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1