
Di lingkungan Hotel beredar gosip kalau Leon lebih memilih Hara, daripada Bianca calon istrinya. Hara bagai melangkah di atas kaca yang retak, salah melangkah sedikit saja akan terjatuh dan berantakan, karena mata semua orang masih menatapnya dengan tatapan menuduh, menjadi orang ketiga antara Leon dan Bianca. Mereka tidak tahu kalau Leon sudah pernah melamar Hara.
Hara tidak menghiraukan Permintaan Leon datang ruangannya, Hara memilih mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, padahal Leon menunggunya dengan gelisah dalam ruangannya, bahkan ia tidak berselera makan, saat mendengar Hara ingin menjemput Maxell ia merasa ingin gila.
‘Tunangan apaan? tidak ada tunangan. Saya yang calon suaminya’ ucap Leon dalam hati, ia bangun dan berdiri menatap ke taman Hotel, tetapi mata melihat sosok wanita yang membuat menunggu.
Hara sudah kembali dari bandara sejak tadi, tidak menemui Leon, ia buru-buru menyelesaikan pekerjaan hari itu, agar ia bisa cepat pulang, berada di hotel bersama Leon membuat Hara tidak nyaman karena gosip -gosip yang beredar.
“Hara…? Bukanya dia pergi, kenapa gak datang padaku, ia bersikap semuanya baik-baik saja saat aku merasa sesak napas karena menunggunya, dia malah bersikap tidak perduli," Leon kesal.
Tangannya dengan cepat menekan nomor Nina memarahi wanita itu habis-habisan, melampiaskan kemarahannya pada Nina lagi, menuduh Nina tidak mematuhi perintahnya. Hari ini akan jadi hari yang paling buruk untuknya, karena dua kali dalam satu hari dapat kemarahan dari sang bos besar.
“Saya sudah meminta Hara tadi pak, tadi ia bilang akan menemui Bapak. Maaf Pak … saya pikir sudah ke ruangan bapak tadi,” ucap wanita itu mengusap ujung matanya, kata-kata Leon menyakiti hati, Leon jarang mengeluarkan suara, tetapi kalau sekali bersuara orang sampai menangis dibuatnya.
“Suruh sekarang ke ruangan saya!”
“Baik Pak,” ujar Nina menutup teleponnya.
Nina memegang jantungnya dan menyeka air matanya lagi.
“Pak Leon lebih menakutkan dari setan kalau lagi marah,” ujar wanita bertubuh gemuk itu dengan wajah pucat.
Kabar kedatangan Maxell sampai juga ke telinga Zidan, seorang rekannya yang bekerja di bandara melihat Piter bersama Maxell.
“Lu … yakin Bro?” Tanya Zidan wajah menegang, saat itu mereka berdua masih berada di Bandung untuk mengikuti rapat penting mengantikan bos.
“Ada apa?” Ken melihat wajah Zidan yang panik.
“Maxell sudah datang”
“Lah? bukannya Minggu depan?” Suara Ken meninggi karena panik.
“Piter mempermainkan kita …. Bos akan mengamuk lagi. Sial! Lagi-lagi Piter membuat kita tertipu,” ujar Zidan marah.
“Wah, pak Piter benar keren bangat, dia membuktikan dirinya pengawal Nona Hara yang hebat, aku kagum padanya,” ujar Ken, ia bukannya marah atau memaki Piter seperti yang di lakukan Zidan. Tetapi dia mengangumi mantan tentara tersebut.
"Sial ... gua ketipu lagi, keparat lu Piter!" Maki Zidan lagi.
“Aku yakin Bos, sudah mengetahui ini, hanya dia tidak ingin memberitahukan kita.” Zidan sibuk dengan ponsel di tangannya , sementara Ken matanya sibuk melihat wanita-wanita cantik yang lewat dalam hotel.
Mereka berdua masih di sana sampai sore.
*
Ichiro Hara Hotel,
Nina meminta Hara menemui Leon.
“Apa, apalagi yang dia inginkan ... aku berharap dia lupa ingatan Tuhan ..., supaya tidak mengingat apa yang aku lakukan kemarin,” ujar Hara pelan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
“Mbak Hara, tolong menemui Pak Leon”
“Bu Ina aku tidak mau jadi bahan gosip di hotel ini, kupingku panas mendengar mereka menyebutku perebut tunangan wanita lain. Bagaimana kalau begini saja Bu … pecat saja aku kalau tidak kita sudahhi saja kontrak kerjaku, aku ingin fokus ke karier modelku, Bu”
“Itu bukan wewenang saya Mbak Hara, tolong temui dulu Pak Leon bicarakan dengan beliau tentang kontrak kerjanya,” ujar Nina,
Nina tidak tahu kalau Leon ingin Hara kerja selamanya di hotel, agar ia bisa mengawasi wanita cantik itu tiap saat.
‘Baiklah aku akan hadapi’ Hara akhirnya memutuskan menemui Leon.
Tok … Tok …
“Masuk!” suara itu terdengar sangat tegas.
“Selamat siang pak Leon, saya datang,” ucap Hara suaranya bergetar.
Leon masih diam, matanya terlihat serius menatap kertas-kertas di depannya, Hara seakan di hukum, karena dibiarkan berdiri di depan pintu, ia didiamkan.
“Pak, apa Bapak menyuruh saya datang tadi ke ruangan bapak?” Leon masih diam, terlihat wajahnya tidak terusik sedikitpun, “Apa ada yang ingin bapak sampaikan? Kalau tidak ada saya keluar Pak” Hara membalikkan badannya ingin keluar dari ruangan Leon.
“Berhenti di situ!” Pintah Leon tegas, ia berdiri dari kursinya mata bulat Hara menatap dengan panik saat Leon bangun dari kursi.
“Dengar Nona Hara …. Saya adalah Bos di sini, kalau kamu pergi kemana, harusnya meminta izin padaku, kamu paham”
Tidak ingin melihatnya bertambah marah Hara mengangguk patuh.
“Baik Pak”
Hara terdiam, ia bingung harus menjawab apa,
“Ok baiklah, Om saya memintaku menemaninya, untuk menjemput teman”
“Siapa?” Wajah Leon mulai memerah menahan amarah.
“Apa harus perlu iya, itu bukankah terlalu pribadi, Pak?”
Leon mengepal tangannya, Leon berpikir kalau itu orang lain, ia tidak akan mengurusi, tapi ini Hara, wanita yang pernah ia lamar akan menjadi istrinya.
“Tidak Hara, antara kamu dan aku tidak ada hal pribadi dan rahasia”
Leon berdiri.
“Jangan dekat-dekat tetap di situ. Saya tidak mau jadi bahan gosip di hotel ini," ujar Hara mengarahkan telapak tangannya tanda stop.
“Kenapa? Kamu takut tidak bisa mengendalikan diri saat melihatku?”
Wajah Hara memerah seketika.
“Oh … tidak hanya aku tidak mau ada gosip jelek tentangku di hotel ini, biar bagaimanapun saya seorang artis, orang terkenal,” ujar Hara.
__ADS_1
“Bagaimana kalau orang terkenal itu justru melakukan hal yang memalukan. Mabuk misalnya?”
‘Ya ampun, apa dia punya rekaman yang lain’ Hara membatin
“Tidak apa-apa, toh juga aku akan meninggalkan kota ini,” balas Hara lagi.
“Kamu mau bilang, kalau kamu ingin melarikan diri?”
“Lebih tepatnya meniti jalan kehidupan baru,, Pak Leon” ujar Hara.
“Aku sudah bilang Hara, kamu tidak boleh pergi dari sisiku, kamu adalah tunanganku dan ibu anak-anakku. Tidak boleh siapapun yang mendekatimu.” ujar Leon mulai emosi jiwa.
“Itu dulu Pak Leon, sekarang berbeda, aku tidak mau terlibat diantara kamu dan Bianca, aku dengar tunanganmu itu masuk rumah sakit jiwa karena kamu putuskan, aku tidak mau terlibat, aku juga ingin memulai hidup yang baru”
Mendengar itu wajah Leon langsung menghitam urat-urat lehernya saling bertarikan. Hara masih berdiri di dekat pintu jika Leon mendekatinya karena marah Hara sudah membuat ancang-ancang untuk kabur, karena itulah Leon menahan diri, tetapi sepertinya ia tidak tahan lagi.
“Dia bukan kekasihku Hara. Jangan coba-coba memancingku marah. Kamu milikku,” ujar Leon menatap Hara dengan tatapan tajam.
“Tidak, jangan memaksa, bukan jamannya lagi untuk memaksa,” ujar Hara, kakinya mundur sedikit dan tangganya memegang gagang pintu, jika Leon mendekat makan Hara akan melarikan diri.
“Aku akan menghabisi lelaki itu jika perlu,” ancam Leon lagi.
“Kamu bukan mafia lagi Pak Leon, sekarang namamu di kenal semua orang sebagai Leon Wardana, salah seorang pengusaha yang sukses, kamu salah satu miliader di negara ini bahkan masuk ke majalah forbes. Kenapa gak kamu nikmati saja kesuksesanmu dan kehidupan mewah itu,”ujar Hara
“Apa artinya semua ini bagiku, kalau kamu tidak ada bersamaku, aku hanya ingin menikmatinya bersamamu. Apa kamu mengerti itu?” Leon ingin mendekat tetapi pintu sudah terbuka Hara siap melarikan diri.
“Maaf aku tidak bisa”
“Hara …!?”
Buuur ....!
Saat Leon ingin mendekat Hara melakukan jurus kaki seribu, ia membuka sepatu kerjanya dan kabur. Leon tidak mengejar karena gengsi ada Kaila di sana bersama seorang pejabat menunggunya di luar ruangan. Mereka hanya melihat Jovita Hara berlari seperti anak kecil.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)