Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Berjanjilah jangan lagi berkorban untukku


__ADS_3

Toni akhirnya menemukan rumah Hara.


Dan menemui Bu Ina.


“Ya Allah , ini beneran Toni?”Bi Ina memeluk Toni dengan erat.


Tiba-tiba tubuh  bergetar dengan tangisan.


“Mbok, maafkan Toni, maafkan … karena aku  tidak bisa menjaga Hara,” ujarnya menangis pelukan Bu Ina.


“Iya ampun Le, kamu  sudah menjaga Nona dengan baik dengan mengorbankan nyawa kamu untuknya.” ujar Wanita itu dengan tangisan.


“Aku merasa bersalah pada Ibu Hara mbok, dia pernah memintaku menjaga Hara tetapi aku malah menyerahkannya pada orang lain, aku pikir lelaki itu akan  bisa menjaganya. Harusnya aku mendengar ucapan Mbok malam itu, harusnya aku bawa saja kabur Hara ke tempat jauh, maafkan aku Mbok, aku menyesal,” ujar Toni ia menangis  di pelukan bu Ina seperti bayi besar.


“Sudah, sudah Le, jangan salahkan dirimu, Hara lagi tidur siang, mari kita makan, Mbok akan masak makanan kesukaanmu saat kecil,” ujar Bi Ina.


Wanita itu sangat mengenal  masa kecil keduanya.  Bi Ina pengasuh Hara dari kecil dan jadi asisten  rumah tangga  saat Hara dan kedua adik kembarnya sudah besar, sedangkan Toni teman masa kecil Hara,  karena ibu mereka berdua sahabat.


Ibu Hara dan Toni  wanita keturunan Tionghoa yang  yang tinggal di Kalimantan, menurut cerita ibu Hara pada  Mbok Ina.  Mereka anak-anak jalanan yang akan di bawa pedagang China yang akan di jual sebagai budak dan saat kapal pedagang itu ingin menyebrang,  kapalnya rusak dan terdampar di laut Kalimantan dan selamatkan polisi lalu diserahkan di panti.


 Begitu ceritanya dari kisah hidup orang tua Hara,  sebenarnya  kisah orang tua mereka berdua sudah menyedihkan dan kisah menyedihkan itu terulang lagi pada anak- anak mereka, Toni dan Jovita Hara.


Tidak Heran kalau Hara dan Toni bisa bahasa Mandarin karena diajarin  orang tua mereka.


“Bi, aku tidak  makan, tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk Hara sebelum aku pergi,” ujar Toni  matanya memerah menahan tangisan.


“Apa Le?” Tanya Bu Ina menatap dengan serius.


Bu Ina selalu memanggil Toni dengan panggilan Tole atau Le artinya anak laki-laki, Bu Ina atau Samina wanita  Jawa yang  gaya bahasanya yang masih medok. Ia wanita  yang baik dan  tutur bahasanya lembut  seperti wanita Jawa pada umumnya.


“Aku sangat  merasa bersalah  dan menyesal karena tidak bisa menjaga Hara malam itu hingga saat ini, aku minta maaf Mbok,’ ujar Toni  lagi- lagi air matanya tumpah. Ia merasa  bersalah pada Hara dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Hara saat itu.


“Aku ingin menyumbangkan mataku untuk Hara Mbok lalu aku akan bertemu dengan temanku di Kanada,” ujar Toni terlihat putus asa.


Bu Ina terkejut.


“Aduh … Le,  Kamu ngomong apa, to? Gak boleh seperti itu Nak, apa yang akan Non Hara katakan nanti jika dia sudah pulih dia akan merasa bersalah karena merampas hidupmu”


“Aku tidak tahu bagaimana caranya membantunya saat ini Mbok”


“Kita akan buat dia sembuh kembali,  jangan khawatir. Piter dan Vikky lagi berusaha mengumpulkan uang agar Hara sembuh,”ujar Bu ina.

__ADS_1


Ternyata Hara  mendengarnya.


Tiba-tiba Hara datang menggunakan tongkat.


“Hara?”


“Kakak?”


Toni  berdiri dan menjatuhkan kedua lututnya bersimpuh di lantai dan  kepalanya  menunduk ia berlutut di depan Hara, ia menyesal karena Leon ternyata menolak Hara.


“Hara maafkan aku”


“Ka- Kak apa yang kamu lakukan ?” Hara meraba-raba ke bawa dan menyentuh pundak Toni. Meraba wajah Toni memegang kedua pipi,  ia  bisa merasakan telapak tangannya menyentuh luka bakar di sebelah kanan wajah Toni.


“Aku  menyesal Hara ak-”


“Sttt … jangan katakan apapun kak Toni, bukankah itu nama Kak, aku belum  mengingat Kak Toni sepenuhnya,  tetapi percayalah kak. aku akan  berusaha lebih keras untuk  bisa sembuh”


“Tapi aku menyesal karena kamu Buta Hara, aku ingin memberikan mataku untukmu”


“Jangan lakukan itu Kak, tanpa  bisa melihat pun aku bisa  merasakan kebaikan dan ketulusan hatimu Kak. Aku berjanji akan berusaha sembuh dan akan melihat kakak kembali. Maaf aku tidak bisa mengingat siapa kamu di masa laluku, dokter bilang aku tidak boleh berusaha keras untuk mengingat masa lalu, tapi bibi Ina bilang kalau Kak Toni  sudah seperti kakak laki-laki bagiku. Aku sayang padamu kakak Toni.”  Hara memeluk leher Toni yang  berlutut di hadapannya.


“Aku hanya ingin kamu bisa melihat dunia Hara, hanya itu …. Aku bahkan rela memberikan mataku padamu,” ujar Toni membalas pelukan Hara.


“Tapi bagaimana kamu menjalani hidup seperti itu Hara, aku tidak tega melihatmu”


“Aku akan sembuh Kak, jangan lagi berkorban apa-apa untukku, aku tidak akan sanggup membayarnya. Tunggulah aku Kak, aku akan mengumpulkan uang yang banyak  kita  akan menyembuhkan luka di wajahmu,” ujar Hara ia masih  duduk  di depan Toni yang ikut duduk di lantai.


“Hara aku-”


“Tenanglah Kak aku kuat dan aku akan menjalani hidupku dengan baik.  Mulai saat ini, aku tidak akan sedih, dengan begitu Kakak tidak perlu marasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Penderitaanku  tidak berbeda dengan kakak Toni dan Ibu, kita sama-sama  terluka karena kebakaran,” ujar Hara.


‘Tidak Hara, penderitaanmu   tidak ada apa-apanya dengan apa yang aku alami’ ucap Toni dalam hatinya.


“Terimakasih karena kamu kuat Hara,” ujar Toni.


“Aku akan tambah kuat jika Kak tinggal bersama kami, berjanjilah padaku jangan pernah lagi kamu berkorban untukku” ujar Hara dan memberikan jari kelingkingnya. Wajah Toni langsung menegak itu kebiasaan mereka waktu kecil  ‘janji kelingking’


“Baiklah  aku berjanji, tapi maaf aku harus pergi , aku akan pergi ke Kanada,  minggu  lalu ada seorang teman yang memintaku datang, tetapi aku ragu karena memikirkan kamu, tetapi melihatmu saat ini, aku yakin kita akan sama-sama kuat”


‘Bawa aku bersamamu Kak’ Hara membatin tetapi ia tidak berani berucap langsung.

__ADS_1


“Hara, kalau aku sudah menemukan  temanku di sana,  aku akan berkabar padamu. Dengar …  aku akan mengumpulkan uang yang banyak”


Hara mengangguk setuju,  walau hatinya sebenarnya sangat sedih di tinggal kakak yang ia cintai.


Akhirnya Toni juga meninggalkan Indonesia, hati Hara begitu sedih tetapi dia memilih diam menyimpan dalam hati, ia takut Bu Ina meninggalkannya juga.   Dua malam ia libur manggung di hotel dengan alasan sakit.


Pada malam berikutnya Hara barulah  datang ke hotel karena  hari itu ada undangan khusus dari seorang pengusaha untuk  Hara tampil di hadapan para pengusaha tajir termasuk Leon.


“Pak,  nanti malam  Mbak Hara sudah bisa  manggung,” ujar Hilda di ujung.


“Apa kamu bertanya kenapa dia tidak manggung dua hari ini?” Tanya Leon.


“Dia bilang  hanya kurang enak badan Pak, tetapi  nanti malam dia  bersedia”


“Baiklah, nanti malam saya akan datang siapkan jamuan yang bagus untuk  mereka. Orang-orang itu tamu VVIP”


“Baik Pak”


Leon bergegas  pulang ke Jakarta,  karena saat itu, ia lagi kunjungan bisnis di Bandung. Leon ingin melihat pertunjukan Hara bernyanyi untuk pertama kalinya.


Akhirnya  Leon tiba di hotel, ia tampak gugup duduk di bangku para tamu. Leon  beberapa kali menarik napas panjang saat menunggu Hara  bernyanyi.


Bersambung


Terimakasih aku ucapkan dari hati yang paling dalam pada kakak yan memberi tips tambahan untuk saya, saya merasa terharu dan bertambah bersemangat untuk menulis ceritanya. Terimakasih banyak untuk;


Kakak @Leksi Anastasia, @yalala Love sekebun untuk kalian.


 JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2