
Rumah Leon akhir-akhir ini sudah seperti neraka bagi semua, karena pertikaian Leon dan Jovita Hara. Sudah hampir sebulan lebih lamanya keduanya dalam situasi genting
Bahkan kali ini ….
Jovita baru saja selesai mandi dan tiba-tiba sebuah berita gosip artis kembali menyangkutkan tentang keterlibatan ibunya dalam Penggelapan dana pembangunan bandara. Mental jovita kembali terguncang.
“Kenapa ini lagi yang mereka bahas” Riko dan bawahan Leon lain ikut menonton berita pagi itu.
“Kasihan Non Hara kalau melihat ini lagi.” Iwan ikut menimpali.
Kelima lelaki tampan ini merindukan Jovita Hara yang dulu, sejak muncul kasus orang tua Jovita, wanita cantik itu berubah 180 derajat.
Sudah hampir beberapa minggu Jovita tidak pernah menyapa mereka ke pos keamanan, tidak pernah lagi mengajak mereka bercanda, bernyanyi dan main gitar dan membagikan cemilan hasil buatan tangannya.
Jovita tidak pernah kelihatan lagi kalau siang hari, karena wanita cantik itu sudah berubah seperti kelelawar. Keluar di malam hari, karena ia pada saat malam hari akan beraksi keluar dari jalur rahasia di bawa tempat tidurnya, saat lampu di matikan itu artinya ia sudah kabur dari kamar .
Saat siang hari maka ia akan tidur,karena itu anak buah Leon jarang melihatnya lagi.
“Aku merindukan Nona Hara yang dulu,” Ujar Ken lelaki pendiam itu menatap layar telivisi.
“Aku takut hal ini, akan mengguncang kejiwaannya.” Toni memegang batang lehernya.
Apa yang ditakutkan Toni akhirnya terjadi. Suara Teriakan terdengar nyaring memecah kedamaian pagi itu.
“AAAAA …! AAAA!” Jovita naik ke atas tembok balkon yang menghadap ke laut. Bukan untuk bunuh diri melainkan, meluapkan rasa sesak di dalam dada.
Toni dan anak-anak yang lain berhamburan mendengar teriakan jovita. Ia berdiri di tepi balkon berteriak dengan sekuat-kuatnya melepaskan kepenatan dalam hatinya.
“AAAA ….! IBUKU TIDAK BERSALAH!” Teriaknya mengeluarkan semua tenaganya.
Pundaknya naik turun ia meluapkan semua kemarahan yang ada di dadanya.
“Bertahanlah sayang, bibi ada bersama mu,” ucap seorang wanita paruh baya, ia adalah Bi ina dia wanita yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah Jovita sebagai pengasuh Jovita sekaligus jadi asisten rumah tangga. Saat kejadian tragis itu Beny memintanya pulang kampung bersama suaminya. Jadi ia tidak tahu apa persisnya yang terjadi pada keluarga majikannya, saat Piter menemui mereka menyebut Hara masih hidup. Ia bersedia bekerja di rumah Leon, walau ia nyawa yang jadi taruhannya.
Bukan hanya wanita yang menatap Jovita dengan khawatir suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun, menatap Jovita dengan gugup.
“Jangan lakukan hal yang membahayakan nyawamu Non,” bisik lelaki itu memohon agar Jovita tidak melompat.
Melihat Jovita melakukan hal yang berbahaya Toni berlari ingin menyelamatkannya. Tetapi saat ia tiba Leon terlebih dulu ingin menolong Jovita.
“Kemari lah jangan melakukan hal yang berbahaya, jika kamu jatuh belum tentu kamu langsung mati bisa saja kamu hanya patah tulang terbentur batu besar di bawah itu,” ujar leon merentangkan tangannya meminta jovita memegang tangannya.
“AAAA …. ! IBUKU TIDAK SALAH!” Bukannya berhenti Jovita kembali berteriak ke arah laut.
__ADS_1
Leon tidak tega melihat wajah wanita malang itu begitu menderita karena tertekan dengan berita yang menjelek-jelek kan kedua orang tuanya.
Leon juga tidak menduga beritanya akan terus diulang-ulang seperti itu, sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja melakukannya.
Melihat Jovita semakin marah, Toni memberanikan diri , Toni menangkap tubuh Jovita membawanya turun dan memeluk tubuh Jovita yang bergetar, ia tidak perduli dengan tatapan tajam sang bos padanya.
“Tenanglah Princes …. Semua akan baik-baik saja. Aku percaya ibumu tidak bersalah ,” ucap Toni dengan suara bergetar .
Kepala Jovita mendongak menatap wajah tampan Toni saat menyebutnya dengan panggilan ‘Princes’ Itu panggilan sayang dari ayahnya.
“Apa Kak Toni percaya padaku?”
“IYa”
“Terimakasih Kak Toni, setidaknya di dunia ini masih ada yang percaya padaku,” ucap Jovita melepaskan tangannya berjalan meninggalkan Leon . Leon mengepal tangannya dengan kuat, ia ingin melampiaskan kemarahannya pada Toni.
Tapi tiba-tiba Jovita berbalik badan ia mengingat sesuatu.
“Kak Toni!”
“Iya” Toni menatap Jovita.
“Ayo kita makan bersama. Tolong temenin aku makan dari kemarin aku belum makan”
Jovita seakan-akan tidak perduli dengan Leon yang diam bagai patung. Ia berjalan dan menarik tangan Toni membawanya ke dapur ia akhirnya mengingat siapa lelaki itu.
“Hara ….”
“Jangan bicara apa-apa Kak,’ ucap Jovita membawanya duduk di meja makan.
Tiba-tiba Bu Ina datang membawa dua piring makanan, tetapi menu di dalam piring membuat mata Toni melotot kaget. Ia menatap wajah Bi Ina dengan panik.
“Mbok Ina ….!?”
“Selamat menikmati Den,” ucap Bu Ina pura-pura bersikap biasa saja.
Makanan dalam piring keduanya menu yang dibuat bergambar, itu bekal mereka yang selalu dibuat Bi Ina, jika keduanya berangkat ke sekolah saat masih kecil.
Jadi …. Toni adalah teman masa kecil Jovita. Toni dan Leon dua orang dari masa lalu Jovita yang datang dari dua sisi yang berbeda.
__ADS_1
Jika Toni datang dari sisi yang putih maka Leon datang dari sisi yang gelap alias kejahatan.
Ibu Toni dan Ibu Jovita sahabat akrap, sering sekali Toni saat kecil di titipkan di rumah Jovita dan di jaga seorang pengasuh iya itu Bu Ina. Maka saat Bu ina muncul pagi itu, Toni langsung mengenalinya.
“Selamat ulang tahun Kak Toni,” ujar Jovita, akhirnya mengingat teman masa kecilnya. Ia mengingatnya karena Bi Ina yang mengingatkannya.
“Hara …. Mbok.” Mata Toni akhirnya menumpahkan bendungan di matanya. Tetapi mereka hanya bisa sebatas saling menyapa, seperti itu.
“Maafkan aku karena tidak mengingatmu selama ini, Kak,” ujar Jovita juga menangis, tetapi ia tetap menyendok nasi dalam mulutnya. “Maafkan aku tidak menyadari mu selama ini. Sekarang aku mengerti kenapa kakak sampai mengorbankan nyawamu demi aku,” ucap Jovita bersikap biasa. Ia tidak ingin Leon mencurigai mereka.
“Hara maafkan aku karena tidak bisa membantumu,” balas Toni air matanya tidak berhenti menetes, ada rindu besar di hati keduanya yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan kata- kata. Namun keadaan memaksa mereka hanya bisa seperti itu, bersikap biasa demi keselamatan nyawa mereka, menyendok nasi ke dalam mulutnya walau mata tetap menangis.
Hara menggeleng”Kakak sudah melakukan banyak hal untukku. Kak Toni jangan lakukan apa-apa lagi mulai sekarang, aku tidak ingin dia menyakitimu. Sekarang aku lebih takut,” ucap Jovita dengan tangan gemetaran, ia ngin sekali memeluk Toni tetapi ia takut leon menyadari kalau ia sudah mengingat Toni.
Jadi yang membantu Jovita diam-diam selama ini adalah Toni, dia bekerja sama dengan Piter untuk melindunginya. Maka karena itulah Toni dalam bahaya besar saat ini. Kalau sampai Leon tahu, kalau Toni yang membantu Jovita keluar dari rumah.
“Kak Toni. jika suatu saat Leon mengetahui semua ini, lambat laun dia pasti mengetahuinya semuanya, itu sudah pasti. Katakan saja aku yang memaksamu dan katakan saja aku mengancam mu, limpahkan saja kesalahannya padaku” ucap Jovita. Ia semakin takut, karena orang-orang yang sayang padanya dalam bahaya.
Toni menggeleng.
“Hara bertahanlah, semua akan baik-baik saja, aku tidak ingin kamu dalam bahaya lakukan apa saja kata Bos Leon”
Jovita akhirnya sadar, kata-kata itulah yang selalu di ucapkan Toni, ia paham. Toni hanya ingin melindunginya, karena Toni sadar Leon bukan orang mudah di kalahkan.
“Aku tidak ingin kak Toni dalam bahaya, aku ingin kamu tetap hidup ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu kak. Kenapa kamu menghilang saat ibumu meninggal?” tanya Jovita.
“Hara suatu saat aku akan menceritakannya semuanya padamu, tetapi untuk saat ini, cukup segini dulu, aku tidak ingin bos mencurigai kita”
Jadi Toni rela berkhianat pada Leon demi Jovita, sahabat masih kecilnya. Apakah Leon akan melenyapkan Toni, stelah tahu ia berkhianat demi Jovita?
Bersambung ….
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)