Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hara dijaga ketat di rumah sakit.


__ADS_3

 Kepala Hara tidak bisa terkena air dingin, apa lagi air hujan,  niat Leon hanya ingin memberikan kejutan untuknya, tidak diduga malah mengantar Hara ke rumah sakit.


Hara masih berbaring lemah di ranjang, ia merasa bersalah pada ketiga orang  yang masih menunggunya dengan setia, ada Piter yang duduk sibuk dengan ponselnya dan Vikki menjadikan rumah sakit jadi kantornya, ia bekerja di ruangan itu, memegang kertas-kertas besar di tangannya dan di depannya terbentang sebuah laptop.


Matanya menatap dengan serius lembaran-lembaran itu  dengan serius dan jari-jari tangannya sesekali menari dengan lincah di papan keyboard laptop. Bi Ina  sibuk memotong buah untuk  Hara makan.


“Om, aku sudah tidak apa-apa lagi, ayo kita pulang, bau rumah sakit ini membuatku pusing.” Hara  mengerakkan badannya dengan perlahan.


“Kamu harus menahannya Hara, tunggulah tubuh kamu pulih, Om yakin kalau kamu berdiri pasti merasa pusing lagi nanti, tunggu habis infusnya,” ucap Vikky mengalihkan matanya dari kertas-kertasnya  dan menatap Hara.


“Tapi apa Om akan bekerja di sini juga?”


“Apa om begitu mengganggumu?” Tanya Vikki dengan tawa kecil.


“Mengganggu tidak sih, tapi dengan adanya kalian semua di sini justru aku tidak bisa istirahat om, bisa  tidak jangan memperlakukanku seperti pasien sekarat, biarkan aku mandiri”


Piter, Vikky, Bi Ina semuanya  menatap Hara, “Apa maksudnya,  itu karena kami  sangat menyayangi kamu” ucap Bi  Ina tersenyum kecil.


“Om cobalah untuk berbaikan dengannya,” ucap Hara pada Piter.


“Siapa?”


“Bu Hilda, dia tidak salah, dia hanya menjalankan perintah atasan dan ia hanya melakukan peraturan-peraturan yang berlaku dalam hotel”


“Lupakan, jangan ungkit dia” ucap Piter terlihat acuh wajahnya tidak terpengaruh sedikitpun saat Hara menyebut Hilda.


Melihat wajah Piter yang  terlihat marah,  Hara tidak ingin membahasnya, ia  tidak mau Piter bertambah marah .


“Om Vikky apa masih jalan sama perawat yang sering merawatku dulu?” sama halnya dengan Piter, pamannya yang satu ini juga terlihat cuek dan bodoh amat,  saat ia menyinggung wanita yang pernah ia ajak kencan.


‘Apa mereka tidak memikirkan kebahagian mereka sendiri? Kenapa hanya sibuk mengawasiku’ Hara membatin.


“Lupakan saja Hara, kamu fokus pada kesehatanmu dan banyak istirahat  jangan memikirkan hal yang lain,” ujar Piter lagi.


“ Om aku ingin hidup seperti  orang dewasa pada umumnya.” Ketiga orang itu menatap serentak.


“Memang siapa yang memenjarakan kamu Hara? kita hanya menjagamu demi kebaikanmu, tunggu  kamu benar-benar sehat , kita baru membiarkanmu  baru bisa pemotretan lagi”


“Om sampai kapan? umurku akan semakin bertambah , kalian berdua juga  harus memikirkan diri kalian juga ” Hara menatap mereka bergantian , Aku tidak tahu kapan pastinya aku pulih, tapi yang ingin aku katakan biarkan berjalan apa adanya om, pikirkan juga masa depan kalian.” ujar Hara.


“Sudah  lupakan tentang jodohku, aku tidak akan menikah kalau kamu belum pulih, kamu cepat pulih, agar kita bisa memikirkan  apa yang terbaik untukmu, Hara ”


“Jalan terbaik apa?”


“Kita akan mempercepat pernikahanmu, dan satu hal lagi, berhentilah  bekerja dari Hotel, itu bukan  bidang kamu,  kamu itu lulusan arsitek  dengan nilai terbaik, Hara.  Ayahmu dulu sangat mengandalkan mu dalam perusahaan , aku ingin kamu kembali pada profesi kamu yang dulu, kalau tidak kamu teruskan  saja jadi model. Kita akan ganti nanti biaya  pembatalan kontrak kerja di hotel itu.” Vikky  juga mengawasi Hara dengan ketat.

__ADS_1


“Om, tidak pernah bilang kalau aku lulusan Arsitek"


“Om hanya menuruti apa nasehat Dokter, otak kamu belum bisa diajak kerja keras.”


“Tapi sekarang  kamu sudah  mulau pulihkan,kan? jadi kita akan segera kembali perusahaan ayahmu”


“Iya, aku akan memikirkannya Om, tapi setidaknya  biarkan aku kembali ke Hotel, pamit baik-baik , tunggu ada yang mengantikan posisiku baru aku keluar dengan begitu tidak akan ada masalah lagi.”


“Hara, kamu  sudah bertemu sama pemilik Hotel, kan?”


“Sudah,” jawab  Hara dengan sura kecil, ia tidak ingin Leon di permasalahkan atas apa yang terjadi padanya.


“Hara, apa kamu tidak ingin menelepon Maxell?”


“Biarkan saja Om nanti kalau aku keluar dari rumah sakit  baru aku kabarin ,” ujar Hara, ia merasa bersalah  pada Maxell karena ia merasa mengkhianati tunangannya karena ia tidur dengan Leon.


“Maka kalau kamu masih bekerja  di Hotelnya hubunganmu dengan Maxell akan sulit,  menghindarlah dari pemilik hotel itu,  jangan dekat-dekat, kalau tidak, kamu dapat masalah besar” Vikki juga ikut-ikutan memprovokasi pikiran Hara , ia tidak pernah suka dengan Leon sejak dari kebakaran itu.


Dua hari kemudian.


Hara mulai sangat jenuh.


"Om, ayo pulang"


"Hara, ingat kita akan pulang tapi jang-"


“Baiklah aku akan mengurus semuanya."Piter keluar.


Hara hanya menghabiskan waktunya dua hari di rumah sakit . Mendengar Hara masuk rumah sakit, Leon meminta ketiga anak buahnya mencari ke semua rumah sakit dekat hotel, tetapi  tidak menemukannya, karena Piter tidak ingin mereka tahu. Mereka berpencar Hilda dan Bram dan Ken Sama Zidan.


Zidan mencari ke sebuah rumah swasta tidak jauh dari rumah Leon yang lama, tetapi saat ia masuk ke ruang administrasi, tiba-tiba Clara datang. Kini wanita cantik itu sudah jadi seseorang di sisinya, awalnya Zidan cuek dan bersikap bodo amat.


"Hai, Clara kamu tugas di sini?" Ken menyapa.


Clara tetap masih bersikap ramah walau melihat keduanya mengingatkan pada Susan sahabatnya yang mengalami nasib tragis bersama suaminya Rikko.


"Iya Kak, aku tugas di sini, apa yang bisa aku bantu?"


Ia membantu mereka berdua mencari nama Hara, tetapi sikap tidak perduli Clara pada


Zidan, membuat lelaki batu es itu terusik juga.


Ia menatap Clara diam - diam. Sayangnya, sudah terlambat. Wanita cantik itu sekarang sudah jadi kekasih seorang dokter tampan.


la bersikap baik walau Zidan tidak ada dalam daftar hatinya, bahkan ia berjanji pada dirinya tidak ingin terlibat perasaan dengan anak buah mafia lagi.

__ADS_1


"Makanya kalau ada kesempatan saat itu jangan disia-siakan." Ken meledek Zidan saat mereka jalan pulang. Ken hanya diam, tetapi sebenarnya dalam hatinya terusik juga. Mereka pulang tanpa menemukan tentang Hara.


Leon benar-benar dibuat pusing, karena ia tidak  bisa menemukan informasi tentang Hara, tidak menemukan data tentang Hara Piter kalau sudah marah apapun  bisa dilakukan.


Leon semakin merasa bersalah karena  ulahnya Hara sampai kehujanan  dan ia tidak tahu kalau Hara  keramas di pakai air dingin di kamar malam itu. Leon menelepon dr. Billy ingin mendengar kondisi Hara.


“Air dingin tidak boleh apalagi air hujan”


“Apa itu Parah Dok?’


“Mungkin Non Hara akan melakukan pemulihan di rumah sakit,”ujar Bily di ujung telepon.


Mendengar penjelasan dr. Billy Leon meminta Bram mencari informasi  tentang Hara ke setiap rumah sakit.


Setelah  Bram mencari dari pagi hingga malam , lelaki itu benar-benar gigit jari, di buat piter, anak buah Leon benar-benar jadi pecundang di buatnya.


 Hingga Malam  tiba, Leon  menunggu  kabar berita dari Bram tentang keberadaan Hara, ia merasa sangat stres karena dialah yang mengajak Hara,  untuk   menemaninya makan  malam dan menyebabkan kehujanan.


“Bagaimana?” tanya Leon .


“Saya minta maaf Bos , kami tidak menemukannya,” jawab Bram takut-takut di ujung telepon.


“Payah kamu Bram, tidak bisa diandalkan, masa nyari itu saja kamu tidak bisa , kamu sebenarnya  berusaha gak?”  suaranya terdengar tegas.


Membuat jantung pria itu kaget  takut dengan kemarahan Leon.


“Baik Pak saya akan mencari sampai dapat,


“Baik. Saya tunggu hasil  kerja kamu malam ini,” ujar Leon


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2