
Leon sangat sibuk belakangan ini, sebenarnya ia juga hanya mengalihkan pikirannya dari perasaan bersalah yang membebaninya.
Setelah melakukan pertemuan penting dengan seorang pebisnis sukses dari Kanada . Leon berinvestasi dalam bisnis kapal pesiar bersama rekan-rekannya dari Singapura,. Bahkan ia punya rencana akan mengajak Hara dan ibunya untuk jalan-jalan naik kapal pesiar tersebut nantinya.
Setelah melakukan banyak kegiatan hari itu, Leon pulang tepat pukul 23:00
Saat tiba di halaman rumah matanya kaget dengan pemandangan di halaman rumah.
“Waoooh cantik ….!” Mereka semua menatap taman dengan takjub rumah itu berubah.
Tetapi tidak untuk Leon, ia terlihat tidak suka, ia melihat tanaman kesukaan Bu Atin ikut di rusak, ia merasa ada yang salah dengan pekerjaan istri hari ini . Leon diam, lalu ia masuk untuk menemui Bu Atin mengetuk kamar.
“Apa aku menganggu tidur, Ibu?”
“Tidak, mataku tidak bisa tidur, aku sedang menonton.” Ia menunjuk televisi yang menyala di kamarnya. "Ada apa Nak?"
“Apa Ibu baik-baik saja?”
“Karena apa? Karena tanaman hias milik Ibu?" Tanya Bu Atin tetapi Leon tahu kalau wanita paru baya itu sedih, karena tanaman hias miliknya rusak karena Hara. Setidak itulah yang dipikirkan
“Tidak apa-apa, dia hanya ingin mencari kesibukan, Leon tidak usah diperpanjang Nak," ujar Bu Atin ia tidak Leon bertengkar.
“Bukan berarti merusak tanaman ibu Bukan?”
“Nak, biarkan saja dia melakukan apa yang di mau, ibu tahu dia pasti bosan.”
“Bu aku tidak melarang Hara melukis, aku hanya meminta tunggu dia pulih, tapi bagaimana pulih pagi-pagi saja dalam keadaan perut kosong dia sudah minum wine.”
“Nak, itu salah ibu karena menyimpan minuman itu di atas meja di dapur.”
“Bu Hara bukan akan kecil lagi kan, dia harus bisa menjaga kesehatan sendiri,” ujar Leon.
“Bu, aku ingin kita semua merasa nyaman satu sama lain, jika ibu tidak suka dengan apa yang Hara lakukan ibu bilang, jangan Ibu pikir, karena dia istriku Ibu tidak mau menegurnya, Ibu sudah seperti ibuku sendiri, Jadi Hara harus menghormatimu sebagai ibu mertua, itulah seharusnya Bu."
“Tidak ….Tidak. Leon jangan salah paham, Hara wanita yang baik, justru dia sangat menghormati Ibu Nak, , ibunya mendidik dia sangat baik “
“Tapi tanaman ibu di rusak demi membuang rasa jenuhnya.”
__ADS_1
“Leon, ibu tidak menegurnya, apalah semua arti tanaman, perasaan Hara jauh lebih berharga,” ujar Bu Atin.
“Bu, bukan hanya dia yang sedih, aku juga, tetapi Hara tidak boleh begini terus menerus Bu, dia harus di kasih tahu, bukan hanya dia yang mengharapkan seorang anak aku juga, ibu juga,” ujar Leon terlihat putus asa.
“Apa kamu tadi habis minum dengan rekan kerjamu?”
“Aku tidak mabuk Bu, aku hanya minum sedikit.”
“Leon .... kamu bau alkohol, jangan katakan apapun pada istrimu saat kamu keadaan mabuk, Jangan Nak ….”
“Aku tidak mabuk, aku naik Bu.”
Bu Ati merasa sangat khawatir melihat Leon, bau alkohol.
Leon masuk ke kamar, ternyata Hara belum tidur padahal sudah hampir jam dua belas, ia melukis di buka gambar.
“Sayang, sudah pulang?” Hara berdiri, ia membantu Leon melepaskan jas.
Wajahnya Hara terlihat ceria seperti biasa.
“Kenapa, belum tidur?” Tanya Leon, ia duduk si sisi ranjang, matanya melirik buku gambar hasil karya sang istri. Ia menggambar pemandangan saat mereka jalan-jalan bulan lalu.
“Tidak usah. Hara …."panggil Leon, wajahnya terlihat cemas.
“Iya, Hara mendekat dan duduk di samping Leon.
“Apa kamu yang mengerjakan taman itu?” Tanya Leon pelan.
“Iya, bangus tidak, sayang?”
“Hara, apa kamu bosan?”
Melihat raut wajah Leon, Hara mengerti, kalau Leon sedang dalam situasi hati yang tidak baik.
“Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Hara.
“Hara, walau kita bosan bukan berarti merusak untuk kesenangan kita.”
__ADS_1
“Apa aku merusaknya? Bukankah semakin indah?Padahal aku sudah bekerja keras melakukannya. Apa kamu marah?”
“Sayang, aku tidak marah, aku hanya memberitahumu. Untuk apa menyenangkan diri sendiri, jika harus menyakiti perasaan orang lain,” ujar Leon masih dengan sikap tenang.
“Apa maksudnya aku tidak mengerti”
“Hara …. Kamu merusak tanaman Ibu, Itu tanaman kesukaannya.”
“Tapi Ibu tidak bilang apa-apa padaku, dia mengizinkan ku” Hara membela diri.
Leon menarik napas panjang.
“Hara, jika dia menegur dia takut membuatmu sedih, tanaman bonsai itu pemberian almarhum anaknya, jadi ia merawatnya sangat baik, karena dia pikir ada arwah anaknya di pohon tersebut, kamu tidak lihat ibu setiap pagi akan mengajak pohon itu bicara?”
Hara sangat terkejut, ia tidak tahu kalau pohon yang ia bentuk, jadi gambar seorang anak itu, ternyata punya cerita yang mengharukan.
“Aku minta minta maaf Leon aku tidak tahu, sungguh,” ujar Hara merasa menyesal. “ Tetapi pohon bonsai itu aku tidak memangkasnya Leon aku hanya melilitnya ke kawat, besok akan aku buka,” ujar Hara ia merasa sangat menyesal.
“Sayang …. Apa kamu menginginkan liburan lagi?” Tanya Leon tetapi matanya menatap gambar di yang di lukis Hara.
“Jangan salah paham Leon, aku tidak menginginkan liburan lagi. a-a-aku hanya ingin cari kegiatan,” ujar Hara dengan suara bergetar.
“Hara … aku bekerja keras di luar sana, untuk kita."
“Leon … sayang . jangan menilai ku seperti itu, sungguh, aku tidak bermaksud merusaknya, aku tidak pernah berpikir macam- macam juga tentang kamu,” ujar Hara, ia merasa sangat bersalah.
“Hara, aku tahu kamu bukan anak yang manja dan aku tahu kamu anak yang kuat, aku percaya kamu mampu melewati semua ujian ini. Tetapi, aku dan ibu juga sudah melakukan semua yang terbaik semampu kami, apa itu tidak cukup?” ujar Leon dengan suara bergetar. “Aku hanya ingin tetap kamu sehat, karena itulah aku mengunci ruang kerjamu, bukan melarang tetapi tunggu kamu pulih.”
“Aku minta maaf sayang, aku tidak bermaksud membuatmu marah,” ujar Hara.
“Aku tidak marah Hara, aku hanya mau bilang …. sayang, aku bukan Tuhan yang bisa mengabulkan semua keinginanmu , tetapi setidaknya aku berusaha menjagamu dan menuruti semua keinginanmu semampuku, tapi, jangan biarkan aku berjuang sendirian ,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Leon, kenapa kamu bicara seperti itu? aku sudah meminta maaf, aku berjanji tidak melakukan seperti itu lagi, Aku berjanji, aku akan memperbaiki diriku,” ujar Hara air matanya mulai menganak sungai. Lalu ia meraih lengan Leon meletakkan telapak tangan Leon di pipinya, tetapi matanya tidak sengaja melihat luka bekas gigitannya di lengan Leon, ia melihatnya dan mengusap nya. Tiba-tiba wajah Hara panik, matanya melotot.
“Tidak apa-apa.” Leon menutupinya dengan lengan kemeja yang di pakai.
Tetapi wajah Hara, jadi pucat pasih, ia mengingat hal gila yang ia lakukan tadi pagi.
__ADS_1
Bersambung ….
Bantu like dan vote iya kakak.