
Setelah marah-marah pada Leon Hara merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia masih merasakan bagian intinya terasa nyeri, ia bukan gadis perawan, tetapi ia tidak pernah melakukan dengan pria manapun.
Leon lelaki terakhir menyentuhnya itupun sudah lama tepatnya tiga tahun yang lalu saat villa Leon yang di puncak, saat Leon salah meminum, ia meminum obat perangsang.
Hara memegang bagian bawahnya dan mendumal kesal.
“Kamu pikir tidak sakit apa? Coba kamu pikirkan …. Badan kamu sebesar itu, wajarlah aku kesakitan,” ucapnya lagi. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
‘Aku pipis sakit tidak iya ….? Perih tidak ya?’ Hara berdiri di depan kloset dengan menimang- nimang rasa sakit yang ia rasakan .
Leon sangat khawatir Hara melakukan hal yang berbahaya di dalam kamar, ia meminta petugas hotel membuka kamar yang dikunci Hara.
“Terimakasih Bro,” ujar Leon pada petugas hotel tidak lupa juga ia menyelipkan lembaran uang berwarna merah ke tangan lelaki petugas hotel tersebut.
“Baik Pak sama-sama,” ujarnya mengangguk sopan.
Ia menekan alat komunikas di kupingnya dan terhubung.
“Zidan ….”
“Iya Bos saya sini”
“Bagaimana?”
“Saat ini situasi aman terkendali Bos, Pak Piter sudah mengantar ke kekeluargaannya. Apa lukanya parah?”
“Tidak Bos hanya luka tembak di lengan”
Ternyata Maxell mendapat satu tembakan saat di jadikan sandera saat itu.
“Bagaimana pernikahannya Bos?” Tanya Zidan dengan suara tertahan.
“Sudah selesai”
“Maksudnya Non Hara sudah istri Bos?” Tanya Ken di alat komunikasi yang lain karena komunikasi yang mereka pakai saling berhubungan.
“Iya, Tapi … sudahlah.” Leon tidak melanjutkan kalimatnya.
“Bos … Hati-hatilah aku dan Ken menuju hotel tempat Bos menginap, kami akan mengawasi dari jauh”
“Baiklah”
Leon melirik kanan-kiri lalu ia masuk ke kamar.
“Kemana dia?” Leon mencari Hara dengan panik karena tidak ada dalam kamar, ia berjalan menuju kamar mandi.
Tidak suara karena hara duduk di kloset, saat ia duduk ....
“Hara apa kamu di dalam?” Teriak Leon membuka pintu.
“Hara kaget karena ia mengunci pintu kamar tadi, tetapi tiba-tiba Leon bisa masuk.
“Apa yang kamu lakukan di sini?’ Tanya Hara panik.
“Melihat kamu …”
__ADS_1
“Intuk apa?” Hara menatap wajah Leon dengan tajam.
“Aku pikir kamu melakukan hal yang aneh-aneh di kamar mandi”
“Hal aneh apa?” Hara menyudutkan Leon dengan tatapan sinis.
“Hara jangan melihatku seperti itu … baiklah aku salah, ayo kita makan malam pasti lapar Leon meraih tangan Hara. Tetapi Hara menepisnya dengan marah.
“Salah apa. Katakan padaku kesalahan kamu apa ….!?” Hara ternyata masih marah.
“Hara jangan marah seperti itu, tolong, aku juga tadinya tidak ingin melakukan hal itu ”
“Tidak, kamu memang niat ingin melakukan itu Leon, kenapa tidak melakukannya sekarang ….? Kamu bisa menikmati tubuh ini sekarang,” ujarnya ingin melepaskan pakaiannya lagi.
“Hara, hentikan”
“Bukan kamu ingin sekali menikmati tubuh ini Pak Leon wardana”
“Aku suamimu sekarang Hara”
“Baiklah …. suamiku bukankah kamu ingin menikmati tubuhku? Sampai kamu tidak tahan lagi dan melakukannya di hutan?"
Leon sampai menutup mata mendengar kalimat Hara yang selalu memojokkan dan menuduhnya.
Leon mengangkat tubuh Hara di wastafel, mensejajarkan tinggi badan mereka dengan begitu Leon bisa melihat langsung ke dalam mata Hara.
“Dengar Hara”
“Kamu yang harus mendengarkan, Pak Leon “
“Kamu lelaki pemaksa, memaksa menikahiku, memaksa berhubungan …. Kamu selalu merendahkanku, kamu menganggapku hina,” ujar Hara ia kembali menangis.
Leon memegang pipi Hara dengan kedua telapak tangannya.
“Aku ti-”
“Sttt ….” Leon menempelkan jari tangannya di bibir Hara. “Dengarkan aku sebentar. Bagiku kamu wanita pintar, baik, cantik . Paket paling lengkap karena itulah aku matian-matian merebutmu dari orang itu, karena aku ingin ibu dari anak-anakku wanita terbaik.
Kalau hanya untuk hanya ingin melakukan hubungan badan seperti yang kamu katakan, dia luar sana banyak yang menyodorkan tubuhnya padaku dengan gratis Hara …. tetapi aku tidak menginginkan hal-hal seperti itu lagi, hal seperti itu sudah aku buang beberapa tahun yang lalu, aku hanya ingin kamu ingin menyelamatkanmu dari Bunox makannya aku menyusul mu dari Bunox”
“Siapa?”
“Bunox orang yang ingin membunuhmu”
“Maksudmu orang yang mengincar kami dibandara bukan orang suruhanmu?”
“Tidak Hara, itu anak buah Bunox yang kabur dai penjara dan Piter yang mengabariku kalau kalian di tangkap anak buah Bunox saat bandara”
“Benarkah Om di sini?”
Wajah marah Hara akhirnya hilang.
“Piter yang membawa Maxell pulang,” ujar Leon hati- hati, ia ingin melihat reaksi Hara.
“Harusnya kamu memberitahukannya”
__ADS_1
“Hara, tidak ada waktu untuk memberitahukan, semuanya secara mendadak, pernikahan, ritual pengantin di hutan semua dadakan”
“Dan di hutan itu sakit,” ujar Hara dengan refleks memegang bagian intinya. Leon tersenyum samar.
“Kamu menertawakan? Kamu meledekku …. Ini beneran sakit,” ujar Hara dengan wajah serius.
“Kalian kenapa sih para wanita sering sekali menyimpulkan segala sesuatu itu dengan cepat,’ ujar Leon dengan menahan tawa.
“Pak Leon aku benar- benar merasa sakit, karena kamu melakukannya dengan kasar,” ujar Hara masih mempertahankan pendapatnya.
“Baiklah Hara, aku meminta maaf karena melakukannya tadi dengan sikap buru-buru”
“Bukan buru-buru Leon memang kamu melakukannya dengan kasar, lihat tanda merah ini.” Hara memperlihatkan tanda ****** di dada yang di tinggalkan Leon.
Hara mengusap keningnya dan kali ini ia tersenyum atas sikap protes Hara.
“Hara …. kalau aku tidak memberikan tanda ****** di sana bagaimana caraku membangunkan juniorku dengan waktu kepepet seperti itu,” ujar Leon membela diri.
“Kamu kan bisa memberikan aku french kiss lebih dulu agar aku tidak kaget,” ujar Hara lagi.
“Baiklah, lain kali aku akan melakukan dengan lembut dan penuh sensasi, mari kita makan aku sudah lapar,” ujar Leon memegang pinggang Hara ingin menurunkannya.
“Lain kali, tidak ada lagi lain kali kamu tidak akan bisa melakukannya,” ujar Hara.
“Benarkah …. kamu menantangku,” ujar Leon dengan tersenyum kecil. Belum juga Hara menjawab Leon menerima tantangan Hara, ia meraih bibir Hara dengan lembut dan memulainya dengan french kiss.
“Hara memundurkan badannya,” Aku masih sakit,” ujar Hara menolak melanjutkan sesi kedua.
“Aku bisa menyembuhkan rasa sakit itu kalau kamu mau,” ujar Leon berjongkok menundukkan dan mengarahkan kepalanya diantara kedua sela kaki Hara.
“Leon apa yang akan kamu lakukan?” Pekik Hara panik, matanya melotot ke arah kepala Leon yang ada di antara kedua celah kakinya.
“Mengobati rasa sakit yang kamu rasakan,” ujar Leon santai.
“Kamu gila iya ….!”Hara ingin turun dari atas wastafel. Namun Leon menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.
“
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)