
“Non tolong istirahatlah sebentar, aku akan membawakan bubur” Bi Atin ingin bergegas.
“Bi, aku sangat membenci bubur, kenapa bibi selalu memberiku bubur,” protes Hara , ia marah pada Bu Atin menganggap Bu Atin tidak menepati janji karena memberitahukan kehamilannya pada Leon.
Bi atin melirik Leon yang duduk masih dalam kepanikan “Itu untuk kebaikanmu Non, lambung non itu suka sakit, jadi aku memberimu bubur, lagian ini aku ganti ini isi buburnya, kali ini akan aku buat dari parutan buah campur susu di makan iya Non.” Bu Atin susah payah memasak itu untuk Hara.
“Bi, jangan berikan itu padaku, aku ini bukan kakek atau nenek, aku masih punya gigi yang kokoh untuk mengunyah makanan yang masuk ke mulutku,” ucap Jovita terdengar sangat marah.
Bi Atin menarik napas berat tidak tahu mau berkata apa lagi.
“Bibi tidak tahu apa kesalahanku Non yang membuatmu tiba-tiba marah. Tapi jika Bibi punya salah, tolong maafkan,” ujar bu Atin, dia melakukan itu untuk meredakan kemarahan Hara, bahkan ia menundukkan sedikit kepalanya wanita itu sangat berharap Jovita Hara tidak marah lagi.
Melihat Bu Atin menunduk minta maaf, Leon menarik napas berat.
‘Aku yang salah Bu Maaf ‘ucapnya menatap bu atin dengan tatapan sedih.
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar.
Tok … Tok ….
“Masuk,” pinta Leon.
“Dokternya sudah ada Bos,” ucap Rikko membawa seorang, tetapi bukan dokter Billy , dokter Billy lagi ada tugas di luar kota.
“Kenapa bawa dokter lagi Bi, aku bilang aku tidak apa-apa” Jovita kesal wajahnya masih marah, tidak suka dengan perhatian semua orang pada kehamilannya.
“Selamat siang Ibu Wardana,” sapa dokter cantik itu basa-basi, ia berpikir kalau Jovita istri Leon Wardana, dokter mengenal Leon sebagai pemilik cafe yang tidak jauh dari gedung prakteknya.
“Namaku Jovita Hara dokter, bukan Wardana,” ucap jovita terdengar ketus.
“Oh maaf Bu”
“Aku bukan ibu-ibu, aku belum menikah,” ucapnya lagi.
Leon menarik napas berat.
Wajah dokter langsung memerah merasa tidak enak melihat Leon, ia langsung diam. Leon menatap tajam melihat Jovita, baik Bi Atin merasa tidak enak melihat reaksi Leon.
“Baik mba, kandungannya masih sangat mudah masih sangat rawan untuk keguguran, tidak boleh banyak bergerak dulu, jangan turun dari tempat tidur dulu, berbahaya jika kamu banyak bergerak, nanti bisa keguguran aku kasih vitamin penguat rahim dan penambah napsu makan, sepertinya mba mengalami ngidam iya? itu hal yang wajar untuk wanita hamil, tapi, cobalah untuk makan sesuap saja yang penting jangan sampai kosong lambungnya, agar bayinya juga tidak kekurangan gizi,” ujar dokter menjelaskan panjang lebar, tapi Jovita Hara seakan tidak perduli dengan penjelasan Dokter.
Pikirannya jauh berkelana keujung kulon, ia melamun.
‘Bagaimana aku melakukan menghukum Bokoy apa ayah menyimpan sesuatu darinya? Dimana Om Piter aku tidak bisa menyelesaikan semua ini sendirian, aku butuh bantuan om Piter tetapi dimana dia? Aku benci melihat wajah Bokoy tadi’ Hara melamun matanya menatap penuh amarah.
__ADS_1
Ia tidak mendengarkan pertanyaan dokter yang memeriksanya, saat pakaiannya di disisikan keatas, ia hanya diam dengan mata seakan menerawang jauh.
“Apa mba mengalami sakit di bagian ulu hati?” Dokter bertanya, tapi dihiraukan oleh Jovita Hara.
“Mba, apa mendengar saya?” Dokter menepuk bahunya dengan lembut,
“Ya …?” jawab Jovita “Dokter bilang apa?” tanya lagi.
“Apa ulu hatinya suka sakit?”
“Tidak”
“Apa ada penyakit maag?”
“Tidak” jawabnya lagi wajahnya benar-benar tidak peduli.
Bi Atin menarik napas dan menghembuskan dengan kasar
“ Dia sakit maag ,Dok.” Ucapnya kemudian.
Tatapan mata Leon menajam melihat sikap tidak peduli Jovita pada bayi dalam kandungannya.
“Apa benar mbak punya penyakit lambung.
“Bisakah, kita cepat menyelesaikan Dok, kepalaku sakit aku ingin tidur”
Dokter berparas cantik itu membaca situasi yang tidak enak antara leon dan Hara, ia juga tahu sikap Jovita Hara yang menolak diperiksa.
Tidak mau ikut campur, ia menyudahi pemeriksaan “Baiklah saya harap mba bisa menjaga kesehatan,” ucap dokter menatap Jovita Hara dengan senyum ramah, Jovita Hara hanya membalas dengan anggukan. dokter membereskan peralatannya dan pamit keluar.
“Mari Dok, saya antar pulang.” Bi atin mengantar dokter keluar dari kamar Jovita.
Diluar kamar dokter masih bersikap sungkan pada Bi Atin. “ Maaf iya bu tadi aku pikir mbak cantik itu istri pak Wardana,” ucap dokter.
“Jangan pikirkan mereka hanya bertengkar kecil, maklum orang hamil banyak tingkahnya,” ujar Bi Atin di balas anggukan setuju dari dokter.
Di dalam kamar Leon menatap putus asa kearah Hara, ia duduk di salah satu kursi di samping ranjang, tangannya melipat di dada, ia menatap Jovita dengan diam.
Leon hanya duduk diam, ia tidak tahu harus berkata apa dalam situasi yang sangat genting ini, ia takut nanti salah bicara lagi. Diam sebentar hal yang tepat dalam situasi yang canggung ini.
Terlihat jelas ada kekecewaan di wajah Leon, ia ingin marah tetapi ia tidak tahu marah pada siapa. Melihat penolakan yang di lakukan Jovita Hara membuat Leon kehabisan kata-kata.
Kali ini ia ingin duduk, saat Leon ingin menolongnya wanita itu menepis tangan Leon yang mencoba membantunya duduk, Leon mengalah.
__ADS_1
“Aaaa ….” Hara mematung setengah badan membungkuk dan mulut menganga menahan rasa sakit, tangan memegang perut.
Leon hanya bisa tertegun dengan diam, melihat sikap keras kepala Jovita Hara kali ini, padahal tadi dokter sudah memperingatkannya agar jangan bergerak dulu, karena rahimnya lemah.
‘Kamu kenapa keras kepala sekali Jovita Hara’ ucap Leon dalam hati.
Tangan Leon mengepal kuat menahan luapan kemarahan di dadanya, ia tidak bicara apa-apa, ia hanya diam melihat Jovita meringkuk dan berbaring, badannya lagi, karena merasa kesakitan.
“Kenapa badanku jadi lemah seperti ini sih? ini sangat menjengkelkan,” ujar Hara, kembali berbaring satu tangan di letakkan di diatas kening.
Manusia kutup utara itu hanya bisa diam, ia bingung mau berbuat apa, ia juga tidak tahu kalau wanita hamil memilki sikap yang berubah-ubah.
Hara ingin minum , saat Leon membantu mengambil lagi-lagi Hara marah.
“Bapak duduk saja, saya bisa melakukan sendiri, orang aku punya tangan lihat. Lihat ...! aku ada tangan kan!”
“Baiklah.” Leon membiarkannya mengambil minum itu sendiri, ia hanya duduk di sampingnya Leon sangat pantas di sebut manusia kutup utara, ia tidak tahu bagaimana cara membujuk. Benar saja air dalam gelas itu tumpah.
Leon menarik beberapa lembar tissu untuk melap pakaian Hara yang basa lagi -lagi sikap keras bumil ini membuat Leon mati gaya.
“Tidak usah, tidak usah repot, aku bisa sendiri.” Leon menutup mata. Tidak tahan menghadapi sikap Hara dan ia juga tidak tahu cara membujuk Hara, ia keluar berdiri di depan balkon.
“Wanita hamil sikapnya memang begitu. Itu terserah Pak Leon bagaimana menghadapinya , demi kebaikan kalian bertiga. Jika perlu bapak berlutut di hadapannya”
Kedua alis Leon terangkat, ia kaget saat di minta berlutut di di harapan Hara. Lalu usaha apa yang akan di lakukan manusia kutup utara ini menghadapi sikap keras kepala bumil itu?
Bersambung ....
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1