Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pilihan Berat


__ADS_3

Melihat Leon membawanya ke Bandung dengan cara menipu, Hara sadar, kalau  ia masih tetap bekerja di hotel, Leon akan tetap mengikutinya dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.


‘ Jika aku  kembali pada Leon ada banyak hati yang terluka, Om Piter, Bi Ina, Toni, Maxell dan keluarganya, mereka  akan merasa  dikhianati. Aku lebih baik menerima lamaran pernikahan Maxell dan meninggalkan Indonesia, melupakan semua kenangan yang buruk’ Hara  bermonolog.



“Hara  kenapa hanya diam?” Tanya Leon yang memegang kemudi setir.


“ Saya harus bicara apa Pak?”


“Apa kamu akan diam sepanjang perjalanan? Itu membuatku mengantuk,” ucap Leon  mulutnya menguap.


“Saya  tidak tahu haru bicara apa dengan bapak saya takut salah bicara,  nanti bapak salah paham”


“Tidak akan ada salah paham, kalau kamu salah bicara juga saya tidak akan marah”


“ Saya lagi malas bicara Pak, bagaimana kalau putar musik saja  biar tidak mengantuk,” ujar Hara, ia memikirkan banyak Hal.


Leon menurut apa kata Hara, ia selalu merasa nyaman,  memutar beberapa  lagu dari dalam negeri tetapi Hara hanya dia sesekali hanya menggoyangkan kaki  mengikuti alunan musik, lalu tersenyum kecil,  jalanan  menuju Bandung kalau hari Sabtu akan selalu macet, karena banyak warga Jakarta yang biasanya menghabiskan liburan di kota Hujan itu.


Terjebak macet Hara sudah mulai mengantuk,   matanya sudah mulai mengecil dan beberapa kali menguap. Tiba-tiba matanya terbuka Lebar saat melihat seorang Ibu keluar dari mobil mengendong anak umur dua tahun yang sedang rewel.


Air mata Hara menetes, melihat anak tersebut mengingatkan dengan calon bayinya yang meninggal, tanpa sengaja Leon melihat air mata Hara, ia juga merasa dadanya sangat  terasa sesak.


“Maaf iya Bu, Pak,” ujar sang ibu anak tersebut menangis meminta  berdiri di depan mobil yang dikendarai Leon.


“Oh tidak apa-apa,” ujar Leon dengan syarat tangan.


‘Mungkin jika ia masih hidup, akan seumur anak itu’ Hara membatin.


“Apa kamu mau permen?” Tanya Leon mencoba mencairkan suasana tersebut, ia juga sangat merasa  sedih sama seperti yang di rasakan Hara.


“Tidak. Saya mengantuk Pak,  saya tiduran sebentar, Hara menitip matanya dengan  tas miliknya dan ia menangis. Leon tahu kalau Hara menangis  Tetapi Leon   juga  merasa sesak di dada tetapi ia mencoba menahan diri. Menyandarkan kepalanya di Jok  dan menutup dengan lengannya.


Tidak lama kemudian macet panjang itu mulai mencair, mobil sudah mulai berjalan perlahan, tetapi Hara masih menutup mata.


“Kalau  kamu tidur, saya akan ikut merasakan ngantuk Hara, bangunlah temani aku,” ujar Leon


Kini hanya Leon yang terfokus pada kemudi mobil, sesekali ia membuka jendela dan memandang arah jalanan, tetapi kalau biasanya ia  setiap kali berpergian  dengan situasi sepi sunyi seperti itu,  ia akan merasa hampa,  tapi saat ini,  saat ada Hara di sampingnya,  tidak ada merasakan sedikitpun rasa sendiri.


Tidak lama kemudian.

__ADS_1


Leon, mengarahkan mobilnya kearah Hotel dan berhenti di halaman. Memikirkan satu alasan yang tepat, agar Hara tidak berpikir,   ia mencari kesempatan membawanya ke Hotel.


“Hara … kita sudah sampai, bangun” Leon menepuk-nepuk pipinya dengan pelan.


Mata bulat itu terbuka, matanya memerah karena sudah sempat terlelap,  perlahan ia mengerjap-erjap melihat situasi.


, Hotel? dia membawaku ke hotel? ' Hara kaget


“Kita dimana?”


“Dengar… Toko yang ingin kita datangi  sudah tutup, kita istirahat dulu,” ujar Leon.


‘Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan pak Leon, tetapi maaf aku tidak bisa'


“Baiklah,  kita akan menginap di sini? Carikan saja kamarnya,  saya mengantuk bangat kepalaku juga pusing,” ujar Hara bersikap tenang



“Oh … baiklah,  kamu tunggu di sini, saya pesan dua kamar”


“Baiklah pak”


Tapi, karena hari ini weekend,  biasanya tempat penginapan  akan selalu ramai, hanya ada tersisa satau itupun kamar VIP.


'Wah kamarnya tinggal satu, ia pasti berpikir lagi kalau aku mencari kesempatan lagi, aku takut ia malah  kabur nanti, gumam Leon,  ia keluar  matanya menatap kearah jauh mencari Hotel yang  masih memiliki kamar lebih dari satu.


Hara sudah bangun, ia melihat Leon yang sedang bertanya pada petugas, Hotel terdekat.


Leon melirik ke arah Hara, saat kamar tersisa satu, karena Hara pura-pura tidur Leon mencari  hotel, akhirnya dapat juga hotel yang memiliki dua kamar.


“Hara aku di kamar sebelah istirahatlah dulu, nanti kalau ada hal lain panggil aku saja,” ujar Leon,  menatap Hara ia berharap mereka berdua satu kamar hari itu.


“Baik Pak” Hara masuk ke dalam kamar.


Tetapi tidak lama kemudian Hara keluar saat ia melihat  mobil rombongan menuju Bandara, ia ikut.


Sejak matanya sembuh, ia ingin sekali melihat  makam putranya yang di makamkan di dekat panti asuhan


 Jarak Hotel ke Bandara tidak terlalu jauh,  Hara  nekat, ia membeli tiket walau ia  akan menyambung  untuk tiba di sana. Leon belum menyadari kalau Hara pergi melihat makam Putra mereka.


                    **

__ADS_1


Setelah terbang beberapa lama  dan menyambung penerbangan, akhirnya Hara tiba di Kalimantan, ia memutuskan menginap di hotel dan besok pagi akan ke panti


Dengan pertimbangan yang sangat matang, Hara akhirnya memutuskan  memilih Maxell.


Hara meletakkan  cincin lamaran Leon di makam putra mereka.


“Maaf Nak ibu tidak bisa menjagamu, tetapi harus melupakan semua kenangan buruk dalam hidup Ibu, ibu akan melupakan ayahmu. Ibu harus tetap hidup Nak, Saya  berhak untuk bahagia,” ujar Hara mencabut rumput dan membersihkan  gundukan tanah  kecil tersebut. Hara juga menanam bunga kesukaan Hara di makam putranya.


“ Nak Ibu mau izin,  Ibu menerima lamaran om Maxell, doakan ibu bahagia dengan lelaki pilihan Ibu … suatu saat nanti ibu akan kembali ke Indonesia untuk menjenguk” ujar Hara  menangis  di gundukan kecil itu.


Setelah bersilaturahmi dengan pengawas panti dan anak-anak Panti, Hara kembali  ke hotel. Ia menelepon Maxell.


Ia  bersedia ikut Maxell kembali ke Jepang.


“Kamu yakin Hara?” Tanya Maxell tidak percaya.


“Iya Kak Axell aku bersedia mari kita menikah”


“Kamu di mana?” Tanya Axell.


“Aku baru selesai minta izin sama putraku, aku di hotel menuju bandara”


“Baiklah aku akan menunggumu di bandara, lalu kita akan terbang ke Jepang”


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2