Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bandara


__ADS_3


Saat petugas mendorong kursi roda melewati lorong bandara.


Jovita melihat seorang petugas bandara, menggunakan alat komunikasi di kuping dan tato nomor seri di punggung tangannya, gelagatnya, postur tubuhnya yang tinggi tegap. Ia yakin kalau lelaki yang bekerja di bandara ini, anak buah Leon. Menjadi seorang petugas keamanan bandara, hanyalah samaran untuknya.


Jantung semakin berdebar, saat ia melihat lelaki itu menyelidiki, setiap orang yang melewatinya.


'Aduh ... bagaimana ini?"


Melihat seorang lelaki berjalan disampingnya, ia tiba-tiba meraih tangan sang pria pura-pura meringis.


"Ibu tidak apa-apa?" Pria itu berdiri di depan Jovita, lalu berjongkok menjajarkan tubuhnya menatap Jovita. Tidak diduga yang ia pegang tangan seorang lelaki muda berwajah tampan.


'Gila ... tampannya oppa Korea' Otak cantik masih sempat-sempatnya mengagumi pria tersebut.


Ia menggoyangkan kepala untuk menormalkan otaknya kembali.


"Aku suka gugup jika naik pesawat, boleh aku memegang tangan bapak agar aku tidak gugup?"


"Oh ...baiklah Mbak," ujar pria merasa tidak enak menolak, ia melirik tompel Jovita yang Segede bagong itu. Jovita menunduk dan terhalang tubuh si lelaki tampan.


Mereka bertiga berjalan melewati petugas keamanan.


Jovita berhasil  keluar dari  bandara walau tujuannya jadi  berubah haluan . Aturan dari Kalimantan tujuan Jakarta.Tetapi kali ini, jadi  menuju Surabaya. Anak buah Leon terkecoh, ponsel Zidan yang ia bawa Jovita tadi, sengaja ia nyalakan dan ia masukkan ke tas wanita yang pingsan  di kamar mandi.



 Saat pesawat Jovita terbang menuju Surabaya dan wanita itu sadar, anak buah baru tahu, kalau mereka semua tertipu.


“Sial! Kita terkecoh dia sudah menghilang," ujar Sam merasa sangat kesal


“Ia tidak akan bisa naik pesawat Sam, karena  dia tidak punya indentitas. Coba periksa setiap sudut bandara,” pinta Rikko, wajah mereka semua semakin panik, karena kehilangan Jejak Jovita.


Kinan  bekerja keras mencari ke semua jaringan   dan meretas semua cctv bandara, hotel, halte bus. Namun ia tidak menemukan jejak Jovita lagi.


 Tenyata tujuan Jovita dekat dengan anak buah Leon, untuk mencari informasi  keamanan  anak buah Leon.


“Kenapa dia mengetahui banyak tentang keamanan kita? Ini melukai harga diriku. Darimana dia tahu kalau  kita punya alat pendeteksi wajah dan subuh tubuh? Siapa yang membocorkan?"Kinan marah.


Iwan baru ingat, ia pernah  menceritakan pada Jovita


tujuannya ..... Agar wanita itu takut melarikan diri. Tetapi kali ini, bukannya takut, malah melakukanya.


“Lalu bagaimana sekarang. Apakah kita akan melaporkan pada bos, ini sudah jam delapan pagi.” Rikko menatap mereka semua bergantian.


“Laporkan saja Ko, gadis bodoh itu dalam bahaya di luar sana, padahal aku sudah memberitahukannya,” ucap Toni terlihat sangat khawatir.



“Bagaimana menurutmu Wan?” Tanya Rikko. Tetapi Iwan mematung.


“Harusnya .... Aku  mengawasinya tadi malam, saat ia duduk di luar, padahal sudah pagi, kita akan mati . Bos akan menghajar kita sampai habis,” ujarnya ketakutan.


“Apapun yang terjadi kita harus melaporkanya. Kita tidak mau jadi sasaran kemarahannya, kan” Toni memberi saran.


Akhirnya mereka sepakat melaporkan kepada Leon


Rikko   mengetuk kamar Leon, tidak ada jawaban,  karena Leon meminum obat tidur.


Rikko terus mengetuk dan Salsa keluar dengan tubuh  hanya di balut selimut.


“Apa sih ketuk-ketuk? Kalau tidak di sahut itu artinya  orangnya sedang tidur. Sana, sana!” Wanita sombong itu mengusir Rikko.

__ADS_1


“Dengar iya! Saya mau melaporkan  hal yang sangat penting, jika bos nanti marah karena terlambat melapor, aku tidak mau tanggung jawab,” ujar Rikko  menggertakkan giginya. Salsa dengan Rikko memang tidak pernah akur.


“Iya sudah masuk! Bos  baru saja minum obat tidur, karena dia satu malam, tidak  bisa tidur, aku sangat lelah, aku juga butuh  istirahat ,” ujar Salsa memungut pakaiannya yang berserak di lantai.


Rikko terdiam di samping sang Bos kini ia bingung membuat keputusan. JIka ia tidak melapor pada Leon, ia akan semakin  marah.


Salsa memakai pakaiannya di depan  Rikko, wanita   itu, memang sudah putus urat malunya, ia keluar  dari kamar Leon menuju kamarnya.


“Bos!” Panggil Rikko, tetapi lelaki  itu masih tertidur terlelap.


Rikko keluar dari kamar Leon dan kembali bergabung dengan rekanya


“Bagaimana?” Tanya Iwan panik.


“ Bos baru tidur, baru minum obat tidur,” ujar Rikko dengan wajah pucat.


Mereka semua juga kurang tidur pesta meriah yang dibuat Leon  membuat mereka bersenang-senang tadi malam. Tetapi hari ini, semua anak buah Leon, sangat tegang.


Rikko dan Iwan  sibuk menelepon semuanya, tetapi nihil. Toni memeriksa cctv berulangkali sampai otaknya panas. Akhirnya, ia melihat Jovita masuk ke dalam bagasi mobil Zidan di saat mereka bertiga sedang dapat giliran tugas berjaga.


“Oh, mati kita aku tidak mengecek mobil Zidan” Toni memegang kepalanya semakin panik, Jovita lolos saat mereka bertiga berjaga.


“Ada apa?” Rikko melihat layar .


“Bukankah itu mobil  Zidan?” Mata semua terbelalak.


“Aku yang membuka gerbang.” Iwan mengigit kepala tangannya.


“Aku yang meminta rokok sebelum dia keluar,” ujar Rikko.


“Apa kita  bertiga akan mati?” Tanya Iwan dari semua orang, ia terlihat paling gelisah.


Bagaimana tidak gelisah mereka bertiga yang bertugas  berjaga  pagi itu.


Saat telepon yang mengangkat seorang ibu yang sedang berada di rumah sakit di Kalimantan.


Anak buah Leon terbang ke rumah sakit dan mereka sadar kalau mereka semua di kerjain Jovita.


“Pak Zidan tidak ada di bar,  dari tadi malam dia tidak pulang ke apartemennya,"ujar salah seorang yang memeriksa Zidan.


Suasana semakin  kacau saat Zidan tiba-tiba menghilang , mereka berpikir kalau Zidan membantu Jovita keluar dari rumah Leon.


                            *


Tepat saat jam satu  siang Leon akhirnya bangun. Tentunya ia terbangun karena ia mengalami mimpi buruk


Dalam mimpinya Jovita berubah menjadi pembunuh seperti dirinya , wajahnya terlihat mengerikan, karena wajah dan tubuhnya di penuhi darah dan Jovita tampak memerah dalam mimpi Leon.


“Ah, ah sialan …,” ujar Leon ia memegang kepalanya ingin ingin meledak karena sangat pusing, ia meraih botol obat lagi dan meminum obat  pusing dua butir.



Wajahnya  terlihat berantakan, karena kurang tidur, ia duduk di sisi ranjang memijat kepalanya .


“ Kamu bisa mengalami gagal jantung jika terus-menerus mengonsumsi  obat ini Pak Wardana,” ucapan dokter yang  memeriksanya beberapa hari lalu, suara itu terngiang di kepala Leon.


“Aku tidak bisa tidur kalau tidak bantuan obat ni Dok,” ujar Leon lemah saat itu.


“Lakukan  hal alami seperti yang beberapa bulan belakangan ini, bapak lalukan.” ujar Dokter.


 “Itu bukan alami dokter, itu hanya sebuah jimat tidur yang sombong,” ujar Leon .


                           *

__ADS_1


Saat ia duduk menenangkan  tubuhnya, ketukan pintu terdengar.


“Masuk!”



RIkko datang dengan wajah pucat, bahkan pakaian yang ia pakai tadi malam saat bertiga berjaga masih  ia pakai.


“Ada apa?” Tanya Leon melihat wajah pucat Rikko ada hal besar yang terjadi.


“Bos …. Itu, Non  Jovita melarikan diri.” Mendengar itu mata Leon tiba memerah dan wajah mengeras,  ia berdiri sempoyongan dan jatuh.


“Panggilkan dokter!” Teriak Rikko panik.


Leon  kehilangan kesadaran setelah menkonsumsi banyak obat dengan perut kosong.


Saat di periksa dokter apa yang ditakutkan dokter benar, ia mengalami serangan jantung ,  karena terlalu banyak  mengkomsumsi obat tidur  dan banyak minum alkohol dan tidak  istirahat dengan baik. Dokter memasang infus di tangannya membantunya mendapat tenaga dan memberinya asupan gizi melalui suntikan.


*


Pukul 07: 00


Leon bangun pagi itu, saat ada panggilan masuk ke ponselnya.



“ Ya halo”


“Bos, apa orang- orang kita yang melakukan?"


“Melakukan apa?”


“Nyalakan telivisi Bos," ujar seseorang di ujung telepon.


“Toni dan Riko dan Iwan datang ke kamar Leon saat mendengar sang Bos siuman.


“Nyalakan tv-nya Ko”


Breaking news!


Berita penembakan seorang pengusaha kontraktor bernama Firmansyah dan dua orang mantan karyawan Santoso Kontraktor.


Beredar isu yang menyebutkan penembakan ketiganya ada hubungannya dengan meninggalnya Satu keluarga bernama Iwan Santoso.


Menurut saksi mata, ada seseorang keluar dari apartemen mereka malam itu, kasus ini masih dalam penanganan polisi.


‘Jovita, jangan bilang itu kamu’ Toni membatin.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2