Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kehidupan baru anak-anak mereka


__ADS_3

Seorang pria tampan bertubuh tinggi,  baru saja keluar dari bandara.


Sementara Leon dan Hara beserta putra bungsu mereka menunggu di luar Bandara.


Tiiing ….!


Sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya.


[Ibu sama ayah, tunggu abang di pintu keluar]


[Ya Bu, Aku sudah keluar] balasnya.


Pria  berambut  coklat itu,   menyeret koper miliknya berjalan menyusuri koridor  bandara, langkahnya tegas menuju pintu keluar bandara tidak berapa lama ia mendengar namanya di panggi,  Lucas melambaikan tangannya ke arahnya.


“Bang Okan!” Teriak Lucas Wardana, ia putra bungsu Leon dan Hara.


Ia memutar badan dan menghampiri keluarganya, lelaki tampan itu memeluk ibunya.


“Bagaimana perjalananmu Nak?” Tanya Hara memeluk putranya.


“Baik Bu, ibu harusnya tidak usah ikut menjemputku, aku bisa pulang sama supir,” ujar Okan.


“Jangan khawati Nak, hanya flu biasa,” ujar Hara melepaskan pelukannya.


“Bagaimana keadaan Om Toni, Jagoan?” tanya Leon.


“Jangan khawatir ayah dia baik-baik saja, para sapi -sapi ternaknya,  akan menangis jika dia ikut,” ujar Okan di balas tawa mereka semua.


Enam tahun yang lalu, setelah Kikan dan Juna menolak Toni, ia memutuskan pergi dan tinggal di Jerman, menggurus peternakan sapi  milik  mereka berdua dengan Leon.


“Apa dia tidak ingin pulang lagi ke Indonesia?” Tanya Hara.


“Dia selalu menolak setiap  kali diajak ikut pulang Bu, apa lagi sejak mendengar kabar tentang Juna dan Danis, Om semakin berat hati untuk pulang ke Jakarta,” keluh Okan.


“Abang apa membawa pesananku?” tanya bocah  tujuh tahun itu merentangkan telapak tangannya.


“ Tentu adik kecilku, tapi nanti saja  di rumah, ada di koper,” balas Okan langsung menaikkan Lucas ke pundaknya .


“Kakak Chelia tidak bisa ikut, dia lagi tidur,” ujar Lucas.


“Baiklah jagoan, abang sudah tahu dia tadi sudah kasih kabar ke abang.”


“Apa abang mau tinggal selamanya  bersama kita apa kembali lagi ke Jerman?” Tanya Lucas lagi.


“Hmmm … bagaimana ya …? Nanti kalau aku di sini … kamu akan selalu nakal,” ujar Okan menahan semyum. Sementara Leon dan Hara berjalan bergandengan tangan di belakang kedua putra mereka.


“Okan, apa kamu sudah makan? Apa kita mampir dulu restoran?’


“Apa ibu lapar?”


“Tidak, ibu hanya khawatir sama kamu”


“Tidak Bu kita pulang ke rumah saja, aku kangen masakan ibu,” ujar  Okan

__ADS_1


Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan parkiran bandara, sepanjang jalan Leon memilih banyak diam, ada begitu beban banyak beban di pikiranya.


“Bu, bagaimana kedaan Cheli?” Tanya Okan setelah beberapa lama mereka berkendara.


“Jangan khawatir nak, hanya luka kecil itu resiko pekerjaannya”


                                              *


Saat tiba di rumah, Leon berjalan menuju taman di samping kolam renang.


“Tolong bawa koperku ke dalam kamar,” pintah Okan pada Pak Arman.


“Baik Mas Okan,” jawabnya patuh.


“Oh ya Pak, aku juga membawa oleh-oleh untuk Om ada di koper,” ujar Okan ramah pada Pak Arman ia tidak pernah lupa pada supir yang selalu menggantarnya ke sekolah dari mulai SD.


Pak Arman supir Okan dan Chelia menikah dengan Ana, wanita berrambut keriting itu  pengasuh mereka dari bayi.


“Sudah sana ….! Bicara dengan ayahmu ibu mau masuk duluan dengan lucas,” ujar Hara.


“Baik Bu,” jawab Okan.


Berjakan menghampiri ayahnya.


“Bagaimana Yah?” Tanya Okan.


“Kamu benar Nak … kita tidak tahu apa tujuannya, tetapi ayah punya firsat kalau dia memamanfaatkan Danis, ayah berharap kamu tidak terlalu keras,” ujar Leon.


Leon berhasi menjadi seorang ayah yang baik dan suami yang yang  baik di masa lalu, rumah tangga mereka harmonis dari dulu sampai saat itu,  hingga Okan putra sulungnya menjadi orang yang sukses.


Okan mendapat gelar sarjananya di salah satu universitas di Jerman,  kalah itu Okan bahkan menjadi salah satu  mahasiswa terbaik di jurusannya  bisnis.


Karena kepintaran Okan Leon mempercayakan  bisnisnya untuk Okan.


“Aku  meminta abang kembali ke Jakarta agar bisa mengurus perusahaan dengan baik,” ujar Leon.


Hubunganantara mereka berdua sangat akrap dan hangat.


“Aku tahu ayah, aku juga tidak akan melakukan sesuatu tanpa persetujuan ayah,” ujar Okan.


Saat Leon duduk di salah satu kursi taman, Okan memijit-mijit pundak ayahnya, Hara yang melihat keakrapan ayah dan anak ia hanya tersenyum bangga pada putranya. Okan menjadi anak kebanggan di keluarganya,  selain ia pintar dan tampan ia juga sangat sayang pada keluaraga.


“Tapi apa yang di katakan Cheli, Yah?”


“Dia bilang, bukan Danis yang melakukannya, salah satu rekannya yang melakukannya”


Okan menhela napas panjang,  ia tahu kalau kembarannya menyembunyikan sesuatu.


“Kan ….!”


“Ya”


“Apa  dulu adikmu dengan Danis baik-baik saja?”

__ADS_1


“Biasa saja, apa mereka  bertemu Ayah?”


“Noah bilang dia baru bertugas di rumah sakit dengan adikmu, aku memintanya  mengawasi adikmu di rumah sakit”


“Apa ayah  yakin mereka tidak pernah bertemu?”


“Ibu selalu mendidik kita untuk bicara juju kan? Jadi, Ayah yakin adikmu   tidak pernah menemui Danis di belakang ayah tapi berkirim pesan aya tahu pastia ada,” ujar Leon.


“Baiklah, aku berharap seperti itu juga ayah, aku tidak mau Danis dekat-dekat dengan Chelia”


Leon hanya bisa menghela napas panjang, biar bagaimanapun Danis anak  dari  sahabatnya, bukan hanya sebagai sahabat, ia sudah menganggap  mereka bertiga sebagai adik sendiri, itu artinya anak-anak mereka juga sudah seperti anak-anak Leon.


“Ayah  hanya berharap mereka bertiga sadar Nak”


“Itu sudah  susah ayah, bagaimana mungkin, Thiani, Juna, Danis mengangap kita musuh mereka, padahal  dari dulu kita baik-baik saja, hanya keluarga mereka berantakan, lalu kenapa menganggap ayah yang mempengaruhi”


“Ayah juga tidak tahu apa yang mempengaruhi  mereka seperti itu”


“Thiani, kenapa  ikut membenci Chelia, itu yang aku bigung, padahal  kita semua sayang dan menganggap dia sebagai keluarga,” ujar Okan.


Saat mereka berdua lagi  duduk, Chelia turun dari kamarnya.


“Bang Okan ….!” Panggilnya dari belakang dan memelul Okan.


“Eh … kenapa turun bagaimana lukanya?” Okan melihat  perban di leher Chelia.


“Jangan khawatir Bang, hanya luka kecil resiko pekerjaan,” cicit Chelia tersenyum .


“Kamu bukan tentara perang yang harus terluka saat bertugas,” desis Okan.


“Tidak apa-apa Bang, jangan membahasnya lagi kasihan si ganteng ini jadi sedih,” ujar Chelia mendaratkan bibirnya ke pipi ayahnya.


“Baiklah, nanti akan bahas lagi, alu lapar,” ujar Okan  mereka bertiga  bergegas masuk ke rumah.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


__ADS_2