Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ayah porsesip


__ADS_3

Di sisi lain Leon.


Leon khawatir pada Hara setelah ia marah tadi, saat gedung tempat kerja di tutup olehnya, ia menelepon Hara,  tetapi ponselnya tidak aktif.


‘Dia marah karena aku menutup gedung itu’  Leon menggaruk kepalanya.


Saat ia berdiri di depan  gedung dengan  gelisah sebuah mobil berhenti di depannya. Piter dan  Hara keluar dari mobil.


“Pak Piter sama Hara?”


“Iya, aku  mengajak Hara tadi ziarah ke makam ibunya ke Bogor dan ke makam Bu Ina aku  hanya kangen sama mereka.”


“Ponselmu tidak aktif?” tanya Leon menyelidiki.


“Ponselku mati, habis daya,” ujar Hara bersikap tenang.


“Baiklah Om pulang, terimakasih sudah mau menemaniku jalan- jalan hari ini, otakku jadi  lebih cerah sekarang” ujar Piter terpaksa berbohong, bilang kalau ia meminta Hara menemaninya padahal kebalikannya, Hara yang meminta Piter menemaninya.


 “Iya, iya Om.”


Supir Hara  mengantar Piter pulang ke rumah, sementara Leon masih berdiri dengan Hara.


“Apa  kamu sedang marah?” tanya Leon menatap wajah istrinya.


“Nanti saja kita bahas lagi di rumah, bagaimana dengan mereka?”  Hara  berjalan menuju mobil Leon yang di parker tidak jauh dari depan gedung.


“Entahlah … aku tidak mau ikut campur.”


“Leon …. Zidan, Ken, Toni mereka bertiga menganggap mu sebagai keluarga terdekat mereka, apapun yang kamu katakan pasti akan mereka dengar.”


“Lalu apa yang ingin aku katakan?” Leon bukan tipe orang yang suka memberi nasihat dan petuah-petuah pada orang lain. Karena ia merasa belum pantas, ia juga banyak kekurangan terlebih masalah rumah tangga.


“Katakan pada mereka, agar tidak  memelihara ego masing-masing terlebih Zidan.”


“Bu, kamu tahu, kan, Zidan memang sangat tertutup orangnya, kamu yang bilang dia balok es,” ujar Leon ia menolak menasihati Zidan.


“Sayang … kamu dulu balok es,  bongkahan es kutub utara malah … tetapi kam bisa berubah jadi suami yang hangat dan ayah yang perhatian,” ujar Hara tanpa sadar ia memuji  suaminya.


“Itu karena ada malaikat cantik berhati lembut di dampingi yang selalu mendampingiku,” ujar Leon tersenyum kecil pada Hara.


“Tetapi Clara juga wanita yang sangat baik Yah, dia selalu sabar setia di samping Zidan, rasanya tidak pantas ia mendapat perlakuan seperti itu, setelah dia memilih Zidan."


“Tetapi dia kencan dengan pria lain, mana ada wanita baik-baik seperti itu,” ujar Leon dengan wajah datar.


“Clara seperti itu karena dia ingin meminta perhatian Zidan, dia ingin tahu apa Zidan  masih mencintainya apa bukan, apa salahnya sih ngomong, suami istri itu harus saling jujur satu sama lain."


“Tetap saja seorang ibu tidak boleh berselingkuh,” ujar Leon.


"Leon, Clara awalnya wanita yang sangat baik penyayang, tetapi Zidane Lah yang memaksanya melakukan hal seperti itu."

__ADS_1


Sebagai Sesama wanita dan sesama istri, Hara mengerti kesepian yang Dirasakan Clara, tidak Mendapatkan nafkah batin dati suami tanpa alasan yang tidak jelas, tentu saja itu menyakitkan untuk seorang istri.


" Tetap saja tidak boleh, istri itu tidak boleh bicara dengan lelaki lain," ujar Leon.


“Aneh … jika para lelaki  selingkuh dan tidur dengan wanita lain, tidak terlalu apa-apa. Tetapi giliran wanita hanya  teman lelaki saja sudah dianggap hina dan pendosa, kayaknya tidak adil bangat untuk para wanita,” ujar Hara kesal.


“Iya karena wanita itu pedoman untuk anak-anak mereka.”


“Lalu lelaki tidak pedoman?” Tanya Hara protes.


“Kok jadi kita yang marahan sih, kan mereka yang melakukannya bukan aku,” ujar Leon.


“Nanti ayah …. begitu juga tidak?” Hara melotot pada suaminya.


“Tidak akan sayang, rumah tanggaku terlalu berharga untuk di rusak dengan hal seperti itu, aku tidak akan menyakiti  hati kedua bidadariku,” ujar Leon.


Saat mereka lagi mengobrol di dalam mobil.


Tiba-tiba Chelia menelepon  dia anak gadis yang sangat cantik saat ini.


“Hai … Princes, ada apa?” Tanya Leon.


“Ayah dari mana …. katanya mau  jemput aku di rumah teman, latihannya sudah selesai,” ujarnya di ujung telepon.


“Ayah lagi jemput ibu sayang, Bang Okan tidak jemput?”


“Tidak mau sama  bang Okan, bawa motornya kayak orang kesetanan.”


“Yah … Chelia tadi sedang berduaan sama laki-laki,” ujar Okan mengadu.


Raut wajah Leon langsung berubah.


“Bohong …! Bohong! Abang apaan sih!” Chelia menangis di godain kembaranya.


“ Bohong ayah … abang bohong!” Teriak Chelia.


“Che … kita nanti bicara di rumah,” ujar Leon dengan suara datar.


Leon sangat  menjaga putrinya seperti  berlian sangat ketat dan perhatian, sejak si cantik Chelia beranjak remaja, Leon yang mengantar jemputnya ke sekolah dan ke tempat Les.


Ia tidak membiarkan putri cantik tersebut di dekati laki-laki.


“Abang … kamu bawa dede pulang, kita akan bicara di rumah,” pungkas Leon dengan suara tegas.


“Baik ayah.”


Lelaki berwajah tampan itu menutup teleponnya.


“Ayo dek … ayah marah,” ujar Okan menggoda kembaranya.

__ADS_1


“Bang Okan asal menuduh, dia teman  les aku, Bang.”


“Tetapi dia lelaki kan?” Tanya Okan santai, ia tidak tahu karena perbuatannya Chelia hampir menangis. Ia diam dan memesan taxi mobil online.


“Tadi ayah pesan, kita pulang bersama!” Teriak Okan.


“Tidak perlu,” ujar Chelia dengan wajah cemberut, ia meninggalkan Okan .


                       *


Sepanjang jalan Leon dan Hara sama-sama diam,  tiba di rumah, Hara mandi  ia tidak banyak bicara, Leon tahu kalau sudah seperti itu, ia berpikir kalau Hara sedang marah, Leon  memilih diam juga, karena diam jalan yang terbaik saat dalam ada masalah konflik batin seperti itu.


Tidak lama kemudian Okan dan Chelia tiba di rumah.


“Ayah, Ibu aku pulang!” Chelia  berdiri di depan Leon.


Leon menatap putrinya dan tidak mengatakan apa-apa, tetapi Chelia sudah tahu kode dari ayahnya.


“Yah, abang bohong … lelaki yang dia bilang Bang Okan teman satu les aku, kami hanya membahas tentang pelajaran tadi,” ujar Chelia.


“Tetapi dia lelaki kan?” Okan  baru tiba juga.


“Baiklah … lalu.” Leon  membenarkan posisi duduknya.


“Baiklah , namanya Yoga teman satu les denganku, rumahnya di komplek perumahan yang di sana,” ujar Chelia menunjuk ke arah kanannya.”


“Perumahan yang mana ? Boleh ayah menemui keluarganya?”


“Perumahan  Mutiara,” ujar Chelia menjelaskan semuanya pada Leon.


Leon bukan hanya  cemburuan pada istrinya, ternyata dia sangat posesif pada kedua anaknya terlebih pada Chelia, Leon bahkan mengenal semua teman- teman Chelia dan tidak ada  teman lelaki yang boleh mendekati Chelia.


Bersambung...


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2