Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mendapat Pengawalan Ketat


__ADS_3

Melihat Jovita Hara marah, Leon tidak ingin  suasana bertambah buruk, ia langsung bertindak memeluk Hara.



“Tidak apa-apa, ayo kita pergi nanti kita kesiangan,” ucap Leon mengajaknya pergi ke hotel .  Piter dan bu Atin hanya diam tidak bisa berkata-kata.


“Hara … kenapa jadi seperti ini?”  tanya Bu Atin, ia masih mematung melihat Hara dan Leon yang berjalan meninggalkan  mereka berdua dengan Piter.


“Sejak kapan dia seperti itu, Bu?” tanya Piter menatap punggung Hara yang semakin jauh dan masuk ke dalam mobil.


“Sejak kehamilannya memasuki jalan  tujuh bulan, ibu sangat khawatir , takut ia mengungkit masalah yang lalu dan mereka akan sama-sama terluka kalau Hara membuka kejadian tersebut."


“Jangan khawatir Bu, aku yakin Leon akan menjaganya dengan baik, lelaki sudah berubah.”


“Leon tidak berdaya kalau ini tentang Hara Nak, karena terlalu mencintai dan takut Hara terluka, Leon selalu menjaga sikap di depan Hara, tetapi cintanya pada Hara, justru melemahkan Leon,” ujar Bu atin.


 “Baiklah, sekarang aku paham kondisi Hara, Ia dalam kondisi tidak baik, kalau kita tidak bekerja sama, aku yakin kondisi itu akan mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungannya. Bu, aku pamit dulu, ada wanita bunting juga yang ikut aku awasi.”


“Ha?” siapa?” Tanya Bu Atin belum konek.


“Hilda sebenarnya minggu ini perkiraan akan melahirkan. Tetapi wanita yang satu itu sangat susah di bilangin,” ujar Piter.


“OH Benar. Hilda … bulan ini! Clara dan Hara hanya beda beberapa minggu.” Bu Atin tidak sabar melihat melahirkan anak dan suasana rumah besar mereka akan berubah.


“Iya Ibu benar. Tapi bagaimana dengan Toni Bu, aku dengar dia akan menikah dengan perawat?” Tanya Piter melirik Kikan yang sedang berada di taman.


“Itu dia Nak, tadinya bulan ini kami akan melamarnya … tapi melihat kondisi kesehatan Hara. Toni menunda. sampai kondisi Hara baik.”


Wanita itu menghela napas panjang.


“Leon beruntung dia dikeliling orang -orang yang setia dan baik seperti anak buahnya,” ujar Bu Atin lagi.


“Baiklah Bu, aku pamit dulu.” Piter pamit, ia akan  ikut menjaga Hara  dan sekaligus menjaga istrinya yang masih bekerja walau kehamilannya sudah bulannya untuk melahirkan.


"Baiklah pergilah bujuk istrimu untuk cuti, akut di brojol saat bekerja," ujar Bu Atin.


*


Dalama mobil perjalanan ke hotel, Leon tidak ingin ada masalah, ia mencoba menjelaskan pada Hara.


“Hara, aku dan om piter hanya duduk mengobrol, kamu jangan salah paham.”


“Baiklah aku mengerti,” ucap Hara dengan  santai.


“Terus tadi kenapa kamu bicara seperti itu di depan om Piter?” Leon mengarahkan pandangan matanya dari ponsel ke wajah Hara, ia ingin tahu jawaban istrinya.


“Aku hanya kita cepat-cepat pergi dari rumah.”


Leon terkejut dengan jawaban Hara.


“Ok, baiklah.”


Mobil  berwarna merah maroon itu  menyusuri jalanan di ibu kota, Mata Hara menatap dengan serius kearah  jendela mobil, memandang serius  kearah jalanan, seakan-akan ia baru keluar dari penjara.


“Aku merasa banyak berubah jalanan ini.” Ujar Hara memandangi keramaian jalan.


“Tidak ada yang berubah Hara, jalanan masih tetap macet, trotoar masih di kuasai para penjual , apanya yang berubah?” ujar Leon.

__ADS_1


“Apakah bangunan itu sudah ada?” Tanya Hara menunjuk  gedung perkantoran yang sudah berdiri sejak jaman belanda.


“Sayang .... bangunan itu sudah ada sebelum kamu lahir,” jawab Leon dengan sabar.


“Benarkah, kenapa aku tidak pernah melihat, iya?”


“Apa kamu merasa lelah? Di sini  tidur di pangkuanku,” ucap Leon menepuk pangkuannya


“Tidak, aku tidak lelah, aku hanya ingin melihat jalanan itu, aku sudah bertahun-tahun tidak melihatnya.”


‘Bertahun-tahun bagaimana Hara …  baru bulan kemarin saat kita ke dokter melewati itu’ ucap Leon dalam hati, ia memilih diam.


Leon, membuka botol mineral memberikannya pada Hara.


“Ini minum dulu, biar  segar.”


Meneguk  beberapa tegukan dan kembali matanya  menatap keluar mobil, sekarang sikapnya semakin aneh, ia  bersikap seakan-akan ia baru pertama melihat gedung-gedung   tinggi itu dengan noraknya ia beberapa kali berucap kagum dengan kata’ Waoo’


“Wao, tinggi bangat, apa itu sampai ke langit?" tanya Hara ingin membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepala.


Satu tindakan yang sangat berbahaya,


“Hara, jangan lakukan itu,  nanti kamu masuk angin”  Leon menutup jendela mobil, tetapi Hara membuka lagi, sikap yang keras kepala.


“Apa gedung itu sampai ke langit?”


“Tidak lah,  itu hanya beberapa ratus meter Hara.”


“Kalau itu sampai ke langit, aku mau naik  dari sana ketemu ibu dan ayah,  aku rindu mereka,” ucap Hara tiba-tiba diam,  lalu menangis .


“Tidak apa-apa sayang, ibu dan ayah pasti melihat kamu dari atas, mereka  meminta kamu tetap semangat ,” ucap Leon, mencoba bersikap tenang ia  mengirim pesan  dr. Billy menanyakan kondisi Hara.


[Sebaiknya dia istirahat dan kasih minum air putih yang banyak, situasi seperti itu bisa berbahaya, apa lagi kalau dia tidak bisa tidur malam,  tetap awasi.] pesan dari  dr. Billy.


[ Kami dalam mobil apa yang harus aku lakukan, apa yang terjadi padanya?]


[Mungkin peningkatan hormon dalam tubuh , bisa jadi dia mengalami serangan kekhawatiran yang berlebihan, dalam kasus  yang biasa aku tanganin ada kadang yang sampai berhalusinasi,  bawa ia segera istirahat  agar otaknya tenang, jangan biarkan ia melewati keramaian] balas dr. Billy.


Hara , bersikap aneh  beberapa hari ini,  dalam usia kandungan yang masuk tujuh bulan,  Hara mengalami baby blues di mana dia berhalusinasi. Menurut Bu Ina ibunya Hara saat mengandung adik kembarnya Hara sempat mengalami hal demikian.


Kalau biasanya wanita mengalami penyakit seperti saat ini usai melahirkan, tetapi menurut dr. Shena  ada juga mengalami pada saat hamil.


Hara mengalami banyak kekhawatiran dalam pikirannya, menurut dokter.  Hara memiliki hormon yang berlebihan bisa jadi karena Hara pernah mengalami trauma di masa lalu dan ditambah saat itu, ia mengandung anak kembar. Hara butuh penjagaan khusus dari keluarga terdekat, kalau saja keinginannya tidak dituruti dan ia mengalami kekhawatiran bisa memicu depresi dan gangguan kejiwaan.


Leon sangat khawatir saat membaca artikel dan postingan yang di kirim dr. Shena.


Leon memeluk Hara dengan erat, memberinya kepercayaan dan pelukan hangat.


“Sayang …. Apa kamu ingin sesuatu yang sangat kamu inginkan? Misalkan makan escream?” tanya Leon menyentuh pipi Hara.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hara matanya teralihkan dari jalanan.


Saat Hara mengalihkan wajahnya dari kaca Dengan cepat Ken menutup kaca mobil ,  karena dari tadi Hara ingin kaca mobil itu tetap terbuka agar ia bisa melihat leluasa ke arah jalanan.


Akhirnya  semua anak buah Leon paham, kalau Hara tidak dalam kondisi baik.


‘Kasihan Boss, ia pasti sangat khawatir melihat keadaan Non Hara, mudah -mudahan dia tidak apa-apa kalau sampai istrinya terjadi hal buruk, aku yakin bos akan hancur’ Ken membatin.

__ADS_1


“Hara, aku sangat mencintaimu, aku berjanji aku akan selalu bersamamu, percayalah,” ujar Leon membisikkan  ke kuping Hara.


“Apa telah terjadi sesuatu? Kenapa kamu terlihat sedih, kita hanya ke hotel, kan, menemani kamu kerja. Kenapa harus khawatir,” ujar Hara.


“Aku tahu,  aku hanya ingin mengucapkannya, aku ingin kamu percaya padaku Hara, membuang rasa khawatir yang menganggu pikiranmu belakangan ini,” ujar Leon dengan sabar.


Hara masih berdiam,  ia mencoba mencerna setiap ucapan Leon, benar kata dr. Shena, ia  akan susah merespon kalau otaknya lelah.


“Boleh aku tidur dipangkuan mu Hara?” Tanya Leon lagi.



Leon meminta hal itu bukan ingin  bermesraan, ia hanya ingin pandangan Hara beralih dari jalanan ke arahnya, dengan melihat jalanan ramai ia takut otaknya bertambah lelah dan pikirannya  bergentayangan.


“Baiklah,” ucap Hara meluruskan punggungnya  mengizinkan Leon tidur di pangkuannya.


“Hara boleh kamu mengurut-urut kepalaku dengan pelan? aku mengalami sakit kepala,” ucap Leon saat Hara menoleh ke jendela lagi.


“Oh baiklah.”


Leon selalu mengganggunya setiap ia menoleh ke luar.


“Hara jangan  berpaling dari wajahku, kamu tetap melihat ke arahku” Leon memegang tangan Hara.


Setelah  hampir dua puluh lima menit,  mobil   yang di supiri Bimo akhirnya tiba.


[Kami sudah  tiba siapkan penjagaan. Non Hara sudah mau turun dari mobil.] Ken  mengirim pesan pada Zidan yang berjaga di hotel.


Lelaki botak itu berbicara pelan, pada semua rekan-rekan, lewat alat komunikasi yang mereka pasang dalam kuping.


[Ok, sudah siap] balas Zidan dan Toni,  lalu Ken mengangguk pada Leon sebagai tanda sudah siap.


Tiba di lobby hotel, dengan hati-hati Leon membantu Hara turun.


“Sayang hati-hati iya, kita sudah tiba di hotel,” ujar Leon.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2