
Leon menghabiskan waktu bersama kedua anaknya, melakukan hal yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya, menangkap ikan, naik kapal, satu pengalaman untuk mereka berdua dengan Leon, baru kali ini keduanya bisa bermain bebas.
Matahari sudah kembali ke peraduan, meninggalkan goresan warna jingga di cakrawala, kedua bocah itu masih berlarian sepanjang bibir pantai, Hara yakin sebelum jam tujuh malam nanti, kedua bocah kembar itu sudah mengantuk, kalau biasanya kakak-beradik itu akan tidur siang, tetapi kali ini tidak tidur.
“Mereka berdua tidak sedikitpun merasa capek, kakiku sudah pegal butuh pijatan nanti,” ucap Leon melirik Hara yang duduk atas pasir.
“Boleh saja, bisa diatur,” ujar Hara bergurau.
*
Hingga malam datang menyapa, akhirnya kedua bocah itu menyudahi permainan.
Seperti janji Leon, ia melakukan tugasnya dengan baik, memandikan kedua bocah kembar menyuapi mereka berdua, menemani tidur.
"Aku mau tidur dengan ayah dan ibu," ujar Chelia.
"Aku juga." Okan ingin tidur bersama mereka juga.
Hara hanya jadi penonton, membiarkan Leon kerepotan sendirian, saat memberi mereka makan malam. Dugaan Hara benar, Chelia mulai menguap dan matanya sudah mulai meredup begitu juga dengan Okan.
“Mereka berdua pasti sudah kelelahan tidurkan di sini,” ujar Hara.
Leon membaringkan di atas ranjang.
“Apa aku terlalu membebaskan mereka bermain tadi, sampai kecapean seperti ini, makanannya saja belum habis,” ucap Leon melihat piring makan kedua bocah yang masih tersisa.
Saat dikasih makan, sudah terkantuk-kantuk.
“Tidak apa-apa, itu akan jadi pengalaman yang sangat menarik bersama ayah mereka, ini pertamanya kalinya kamu melakukan untuk Okan sama Chelia.”
“Iya aku tahu itu.”
“Mereka akan mengekor pada ayah mereka kembali, setelah satu tahun jarang waktu bermain.”
Membiarkan kedua kembar itu tidur, mereka akan tidur nyenyak malam ini karena bermain lama siang hari.
“Ibu … mau makan apa? Aku mau pesan.” Leon meninggalkan ranjang si kembar dan ia mengajak Hara duduk di balkon hotel, salah satu tempat yang paling di sukai Hara karena menghadap ke laut.
__ADS_1
“Aku ingin makan yang segar-segar malam ini, rasanya perutku gembung kelamaan bermain air tadi,” ujar Hara menjatuhkan panggulnya di sofa.
“Baiklah, aku pesan soup daging sama nasi dan steak?”
“Boleh, makanan berat saat malam, sebenarnya aku tidak suka, tapi, malam ini, aku mau.” Hara mengibaskan rambutnya ke belakang mirip seperti bintang iklan shampo.
“Apa kamu menurunkan berat badan? Tapi tunggu … aku melihat ada yang berbeda tapi apa, iya?” tanya Leon meneliti tubuh Hara.
“Kita belum berbaikan pak Leon, kemari lah, kita akan tuntaskan apa yang kita belum selesaikan tadi,” ujar Hara mengacuhkan pertanyaan Leon.
“Apa kita akan membahasnya lagi?” Leon menggaruk kepala belakangnya, jelas sekali ia terlihat ia tidak suka, setiap kali menyinggung tentang kenangan masa lalu.
“Leon, begini … jangan pernah membiasakan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, apa lagi itu tentang hati.”
“Hara … dengar, baiklah kamu ingin mendengar yang mana?”
“Semuanya yang tidak pernah kamu beritahu padaku, semuanya ….”
Leon menarik napas panjang.
Leon, menjatuhkan tubuhnya di samping Hara.
“Pada saat tinggal di hutan pedalaman, aku pernah menemukan mahluk yang menyeramkan bertubuh besar, tingginya hampir menyamai tingginya pohon dan warnanya putih berbulu.”
"Aku sudah pernah mendengarnya," ujar Hara.
"Tapi kamu tidak mendengar dariku langsung, ini pengalaman pribadiku," ujar Leon.
“Eh, kamu mau menakut-nakuti ku, iya!” ujar Hara mengibaskan tangannya. Tetapi wajah Leon tidak berubah, ia tetap menatap Hara dengan serius. “Apa kamu serius?” tanya Hara menatap serius juga.
“Dia, memakan orang, tepat di depan mataku.”
“Apa maksudmu dia binatang buas?” tanya Hara mengusap bulu tangannya yang bergidik.
“Hara apa kamu ingat, sungai menuju rumah rahasiaku di hutan?”
Hara mengangguk,
__ADS_1
“Aku mengingat, ada banyak hal menyeramkan saat itu.”
“Di atas bukit tepatnya di tengah hutan, itu adalah rumahnya, dia dipercaya warga setempat sebagai penjaga hutan, dia mahluk mitos, matanya bersinar menyeramkan, tidak banyak orang yang bisa melihatnya hanya orang yeng tertentu yang bisa melihatnya, jika orang bertemu degannya dan melihatnya maka ada hal buruk akan yang terjadi pada orang yang melihatnya, malam itu, saat aku ingin menikahi mu, aku melihatnya, ia menarik sesuatu dari atas pohon lalu memasukkan ke mulutnya.” Leon menarik napas panjang sebelum meneruskan kalimatnya. “Saat pernikahan kita saat itu, ha yang buruk yang aku terima karena bertemu dengannya, ada seorang penghianat dalam suku kami saat itu, mereka ingin menangkap mu dan menjadikanmu tumbal, pada mahluk yang menyeramkan itu. Hara … itulah salah satu penyebab kenapa aku melakukan hal yang memalukan saat itu, apa kamu merasakan ada hal mistis saat aku melakukannya padamu saat itu?”
"Aku sudah mendengar dari Ibu kalau soal itu," ujar Hara.
"Tapi bukan kamu dengar dari aku kan, kamu diam dengarkan saja," ucap Leon.
Melihat wajah serius Leon Hara diam dan mendengarkan.
"Apa kamu ingat saat itu?" Tanya Leon.
“Aku tidak mengingatnya karena aku panik, marah, terkejut dan merasa kesakitan , karena kamu melakukannya dengan paksa,” ujar Hara mengedikkan pundaknya mencoba mengingat di mana Leon memaksanya menikah.
“Iya ada suara auman kekecewaan karena aku menggagalkan rencana mereka, bukan hanya itu Hara, hal besar yang tidak aku ingin ungkit padamu tentang pekerjaanku di masa lalu. Aku seorang killer bayaran Hara. Aku tidak tahu berapa banyak nyawa orang yang aku hilangkan demi ambisi dan kemarahanku, hal itu yang tidak ingin aku ungkit lagi Hara, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin penyucian diri, aku tidak ingin anak-anakku menerima karma karena perbuatan buruk ku di masa lalu. Kamu tahu salah satu syarat penyucian diri itu Hara?”
Hara menggeleng.
“Melupakan masa lalu, tidak mengungkit masa lalu lagi, agar kita tidak terjerat lagi kedalamnya. Aku seorang iblis di masa lalu Hara, aku keluar dari dunia gelap itu, karena cinta yang aku terima darimu, aku akan terjatuh kembali ke sana kalau kamu meninggalkanku, itulah alasan kenapa aku tidak mau menceritakan masa laluku, aku ingin hidup baru denganmu dan anak-anak.”
Leon akhirnya menceritakan semua tentang masa lalunya membuat bulu kuduk Hara bergelidik, akhirnya Hara paham kenapa Leon tidak mau menceritakan semuanya padanya.
“Maaf, aku tidak tahu,” ujar Hara merasa bersalah.
“Jangan pernah meninggalkanku Hara, percayalah, aku tidak akan pernah berniat menyakitimu,” ujar Leon menarik nafas panjang, lengah perasaanya, karena akhirnya bisa memberitahukan semuanya pada Hara.
"Mendengar cerita mistismu lagi aku jadi merinding, ayo masuk." Hara mengajak Leon masuk kembali ki dalam kamar.
"Apa hukuman saya masih berlanjut?" Leon menatap Hara.
"Mau minta jatah ranjang? "
"Iya." Leon melirik anak-anak yang sudah tidur terlelap.
"Baiklah ceritakan semuanya tentang cerita masa lalu keluarga dulu," ujar Hara.
Bersambung..
__ADS_1