Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mata dibalas mata.


__ADS_3

Kedua lelaki yang melenyapkan kedua tua Jovita akhirnya di seret ke hadapannya.


"Apa wajahku tidak asing pada kalian?”


Tanya Jovita, ia jadi wanita berani saat ini. Tidak takut lagi pada namanya benda berbahaya, kini ia mengacungkan pistol pada lelaki itu.


“Aku tidak mengenalmu,” ujar lelaki itu tidak menunjukkan rasa takut, pada Jovita, saat pistol kecil itu diacuhkan ke kepala salah dari mereka.


“Bagiamana kalau aku menunjukkan sesuatu, apa kamu bakal ingat?”


Jovita memberikan kedua foto kedua orang tuanya yang terkapar dengan peluru bersarang di keningnya.


“Belum ingat juga? Bagaimana kalau bocah kembar ini?” mata keduanya langsung berputar ketakutan.


“Oke aku tahu kalian pasti tidak akan mau memberitahukan ku, aku juga tidak punya waktu banyak, jadi aku akan hanya bertanya satu kali saja. Katakan siapa yang menyuruhmu?”


Jovita memperlihatkan foto dua orang Bokoy dan seorang pejabat, keduanya bungkam.


"Jadi kalian berdua memilih dibolongi kakinya dari pada buka mulut"


Doorrrr...!


Piter akhir menembak kaki salah satu dari mereka, pistol tipe GLX9 tidak mengeluarkan suara letusan, ia sengaja memakai tipe tersebut agar tidak menimbulkan suara.


“Sekarang katakana padaku kenapa?"


"Tanya Jovita terlihat sangat tenang, seperti seorang bos yang sudah berpengalaman, ia tidak menunjukkan emosinya, karena terlihat emosi akan menunjukkan kelemahan, ia terlihat seperti kepala penjahat yang bersikap dingin, membuat lawan bicara ketakutan, ia meniru sikap Leon.


“Sekali lagi aku mau bilang aku tidak punya banyak waktu, aku harus kembali dalam empat puluh menit lagi, kalau tidak aku akan mati, jadi katakan untuk apa?” tanya Jovita menekan dengan sangat tenang seakan -akan jawabannya tidak penting, padahal demi apapun, ia ingin sekali tahu apa alasan keluarganya di lenyap kan, bahkan ia sudah merekamnya dengan diam-diam.


"Siapa pelakunya!?"Piter menembak kedua kaki mereka.


Saat diarahkan ke kepala ...


"Pak Ketua"


Jovita menutup mulutnya karena kaget.


"Haaa ...?"


"Kenapa? Apa alasannya?" Piter menggertak lagi.


“Karena Iwan Santosa, mengetahui rahasia besar pak Ketua yang akan mengancam keselamatannya,” kata lelaki yang bertubuh pendek


“Rahasia apa itu?” Jovita menatap dengan serius.

__ADS_1


“Aku tidak tahu," Tidak mau memberi jawaban dengan jelas.


Piter kembali menarik pelatuknya. memberi tanda kalau ia tidak punya waktu banyak.


“Iya-iya-iya baiklah, Lelaki itu mengetahui kalau bos pernah menyuruh orang menghabisi satu keluarga kira-kira empat belas tahun yang lalu, lelaki itu ingin mengungkapkan . Karena itu, biarkan aku hidup. Aku sudah memberitahukannya,” ungkapnya lagi.


“Aku bertanya lagi siapa?"


“Dia mantan anak buah bos, dia Tuan Naga”


Jovita menutup wajah dengan panik, Piter juga kaget dengan apa yang mereka dengar.


“Ok aku juga ingin memberitahukan rahasia besar ku, aku mau bilang aku adalah anak perempuan, dari orang yang kamu habisi. Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu hidup saat semua keluargaku kamu habisi dengan tidak manusiawi saat tidur? aku tidak perduli alasan kamu disuruh ataupun diperintahkan, bagiku kalian berdua orang yang perlu disingkirkan dari muka bumi ini.”



Jovita mengarahkan moncong pistol ke salah satu penjahat ”Ini untuk adikku yang saat itu, berulang tahun"


"Hara biarkan Om yang melakukanya, aku sudah bilang tidak akan aku biarkan kamu mengotori tanganmu"


Piter merebut pistol dari tangan Hara,tidak membiarkan wanita cantik itu jadi pembunuh.


Piter mengesekusi kedua penjahat yang membuat Jovita Hara yatim piatu.


Satu timah panas menembus tengkorak kepalanya lelaki bertubuh pendek .


“Tolong! aku hanya disuruh aku tidak tahu apa-apa.”


“Bagaimana kalau begini, berikan satu rahasia bos mu, aku akan membiarkan kamu hidup.” Kata Piter sikapnya tenang tidak ada rasa takut sedikitpun walau sudah menghilangkan banyak nyawa orang.


“Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa-apa…!”Lelaki meronta ketakutan.


“Baiklah kamu tidak punya apa-apa yang ingin kamu jual.” ujar Jovita ia ikut menekan.


“Baiklah, baik Bos menyimpan semua rahasianya, hanya aku dan dia yang di percaya bisa mengambil dan mengaksesnya, kamu harus membiarkan aku hidup, kamu bisa memanfaatkan ku,” katanya membuat penawaran pada Jovita tapi Jovita tidak mau terkecoh.


“Aku tidak yakin kamu bisa melakukannya, masa bos sekelas Bokoy memberikan anak buahnya untuk menyimpan rahasia hidupnya, buktikan padaku."Jovita layak di sebut penjahat cantik, ia mampu memprovokasi penjahat sekelas anak buah Bokoy.


“Berikan ponsel, di situ ada aplikasi bank aku ingin lihat kalau kamu benar bisa melakukannya, coba masuk ke bank ke penyimpan milik bos mu." Jovita memberikan ponsel Piter.


Dengan bodohnya lelaki itu menurut, ia memberikan kode aksesnya dan masuk ke bank penyimpanan dokumen Bokoy. Bukan penyimpanan uang tapi surat-surat penting.


“Apa hanya bisa diakses lewat ini, bagaimana kalau untuk mengambilnya?” Piter iku menekan.


“Aku ke bank dan menunjukkan identitas ku, dan memberikan kode aksesnya hanya itu maka kamu tidak boleh melenyapkan ku, agar aku bisa membantumu.”

__ADS_1


“Ok terimakasih,” kata Piter mengarahkan moncong pistolnya, tapi tidak diduga, tiba-tiba ikatan tangannya lepas dan ada pisau kecil ditangannya degan cepat menyabetkan pisau ke tangan Jovita, melukai otot lengan, ia melarikan diri.


Degan cepat Piter mengarahkan Pistol kecil kearah kepala, dua peluru bersarang di tubuh lelaki bertubuh tinggi tersebut,


“Bereskan dia jangan lupa ambil identitasnya,” pinta Piter pada orang bayarannya.


"Hara ... Hara kamu tida apa-apa?"


"Sepertinya dalam Om"



“Aku akan menutup lukanya"


Piter panik saat Jovita terluka dengan cepat berlari menggendong Jovita kesamping bangunan, di mana mobil, ia sembunyikan, mengobati tangan Jovita.


"Om, aku tidak mau kerja keras kita sia-sia"


“Tenanglah Hara, orang ku sudah mempersiapkan semuanya, aku hanya takut kamu terluka," Ia memeluk Jovita dengan panik.


" Tidak apa- apa Om aku kuat"


Tidak mau ketahuan, kedua penjahat yang sudah tidak bernyawa itu,di masukkan ke lubang bekas spiteng dan menyiramnya dengan larutan zat asam, bisa di pastikan sebentar saja, tubuhnya kedua akan lenyap


“Apa kamu sudah mengambil identitasnya?”


“Sudah Pak"


“Kita pulang Om… gawat ini, aku bisa ketahuan kalau sudah seperti ini, kita molor 10 menit, mudah-mudahan tidak ada masalah.


Besok pagi-pagi sebelum orang tua itu, menyadari, anak buahnya menghilang dapatkan berkasnya, pastikan jangan ada masalah, Leon soalnya sudah mencurigai ku,Om"


“Baik, Hara ....Lukanya akan terasa sakit saat kamu melewati gorong-gorong , apa tidak apa-apa?” Piter merasa sangat kasihan.


“Tidak apa-apa Om, aku akan menahan rasa sakitnya, aku berharap besok Om, mendapatkannya, kabari aku bila sudah berhasil. Bi Ina besok jadwal belanja bulanan berikan kabar padanya," ujar Jovita dengan sikap buru-buru.


“Baiklah hati- hati"


Jovita turun dan masuk kembali ke gorong-gorong dari belakang rumah Leon, saat ia masuk, ada dua orang membantunya, tukang kebun dan Bi Ina


Saat tangannya terkena air, Jovita meringis kesakitan, luka di tangannya lumayan parah, sepertinya butuh jahitan tapi ia menahannya, sampai ke rumah, kini ia sudah di dalam kamar mandi, ia duduk menahan rasa sakit, untung Leon tidak terjaga malam itu, ia melanjutkan tidur.


Maka itu jovita bisa dengan leluasa membereskan luka di tangannya di kamar mandi, karena tempat itu, tidak ada camera pengawasnya.


Hingga pagi bangun, ia bersikap biasa saja, padahal malamnya, ia sudah melakukan pekerjaan besar, membalas orang yang sudah melenyapkan kedua orang tuanya. Mata dibalas mata. Saat kamu menghilangkan nyawa orang lain maka harus bersiap kehilangan nyawa sendiri juga.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2